
Ketika Nindy sakit, Kenan yang terus mengurus Nindy. Istrinya ini adalah tipe anak yang manja jika sakit. Apapun harus dipaksa karena menurutnya semua yang masuk ke dalam mulutnya pahit rasanya.
"Sayang, kita ke dokter, yuk!" ajak Kenan.
Akan tetapi, Nindy menggelengkan kepala. Ini kali keempat Kenan mengajak Nindy untuk berobat. Sungguh sangat susah membujuk istrinya ini.
Pagi harinya Wajah frustasi Kenan sangat terlihat jelas. Deri tersenyum meledek ke arah sang menantu.
"Jangan dipaksa kalau gak mau berobat. Nanti kalau dia ngerasa gak enak banget juga bakalan ngajak berobat ke kamu," terang Deri.
Hembusan napas kasar yang keluar dari mulut Kenan. Dia benar-benar bingung kenapa istrinya bisa keras kepala seperti ini.
Malam hari, ketika Kenan baru saja tiba di kamar satu pertanyaan sudah terlontar dari mulut Nindy. "Mas, Arshen gimana kabarnya?" Wajah khawatir Nindy sudah sangat terlihat jelas.
Hari ini hari kedua Arshen dirawat di rumah sakit. Nindy sangat merindukan Arshen. Dia sangat sedih ketika mendengar Arshen sakit dan harus dirawat.
"Pasti Arshen kesakitan karena dipasang jarum infus." Nindy berbicara sendiri.
"Arshen sudah baik-baik saja. Sekarang waktunya kamu sembuh, biar kita bisa nengokin Arshen di rumahnya," balas Kenan sambil melepas dasi.
Jika, sudah mendengar nama Arshen hatinya pasti akan sangat rindu. Arshen sudah seperti anaknya sendiri. Setiap hari mereka pasti selalu bertemu.
Berkali-kali Kenan membujuk Nindy untuk berobat, tetapi selalu dia tolak. Padahal, kondisi Nindy semakin hari semakin memburuk dan lemah tak berdaya. Bukan hanya Kenan uang membujuk, sang papah pun sudah berusaha membujuk Nindy.
Tiga hari sudah Nindy terbaring lemah di tempat tidur. Dia tidak melakukan hal apapun, kecuali hanya tiduran. Jika, dipakai berdiri kepalanya akan pusing.
"Mas, kepala aku pusing banget," adu Nindy.
Kenan yang baru saja masuk ke dalam kamar menatap Nindy dengan tatapan sinis.
"Ngeluh pusing terus, berobat gak mau, makan gak mau," sentak Kenan. Baru kali ini Kenan berbicara sedikit keras kepada Nindy. Istrinya pun sedikit terlonjak mendengar ucapan Kenan.
Hari di mana dia bertemu dengan Dirga, di hari itulah dia marah besar kepada Nindy. Kesabaran Kenan sudah habis. Bagaimana tidak, baru saja dia masuk ke dalam rumah Diansyah mendapat laporan dari Mbak asisten rumah tangga bahwa Nindy tidak mau makan sama sekali.
"Mau kamu apa, Nindy?" Suara Kenan tidak keras, tetapi penekanan di setiap katanya mampu membuat Nindy menunduk dalam.
"Setiap hari aku selalu ajak kamu berobat. Selalu menyuruh kamu untuk makan supaya cepat pulih, tapi kamu malah semakin menjadi. Semakin susah diatur. Padahal itu untuk kebaikan kamu sendiri," geram Kenan.
"Aku lelah, Nindy. Setiap hari aku kepikiran kamu terus. Aku takut kamu kenapa-kenapa di rumah, tapi kamu malah menginginkan sakit lebih lama lagi." Kenan menggelengkan kepala.
"Diajak berobat gak mau, makan gak mau. Gimana mau sembuh!" seru Kenan.
Kenan memilih keluar kamar dan meninggalakan Nindy yang mulai terisak. Dia juga salah karena selalu memanjakan Nindy dan pada akhirnya malah seperti ini.
Deri yang baru turun dari anak tangga melihat Kenan sedang berada di meja makan. Deri mengerutkan dahinya. Tidak biasanya Kenan seperti ini.
"Ada apa?" tanya Deri seraya mengusap lembut pundak Kenan.
"Susah diatur?" sergah Deri. Kenan mengangguk pelan. Papahnya pasti sudah tahu permasalahannya dengan Nindy.
"Jangan terlalu memanjakan dia. Sesekali bersikap tegas juga boleh. Papah gak akan marah," ujarnya.
"Nindy bukan Niar yang jika dimanjakan tahu diri. Nindy semakin dimanjakan semakin ngelunjak. Papah harap kamu seimbang memperlakukan Nindy."
Ucapan Deri benar adanya. Nindy tidak boleh selalu dimanjakan. Sesekali dia harus bersikap tegas dan disiplin juga kepada Nindy. Kenan tidak akan pernah masuk ke dalam kamar sebelum amarahnya mereda. Jujur saja, otaknya masih panas. Dia hanya takut Nindy kenapa-kenapa karena Nindy tidak mau makan.
Secangkir kopi hanya dia tatap tanpa dia sentuh. Kenan tahu Nindy sedang menangis di dalam kamar sana. Namun, Kenan bersikap acuh. Dia ingin memberi pelajaran kepada Nindy bahwa yang memanjakannya tidak sepenuhnya akan diam saja ketika wanita yang dia sayangi melakukan kesalahan.
Malam ini, Kenan memilih untuk tidur di ruang kerjanya. Biarlah istrinya itu introspeksi diri.
Waktu sudah menunjukkan pukul sepuluh malam. Nindy masih terdiam dengan mata yang semangat. Tatapannya masih tertuju pada pintu kamar. Dia berharap suaminya akan kembali ke kamar.
Jam sebelas.
__ADS_1
Jam dua belas.
Kenan tak kunjung masuk ke dalam kamar. Meskipun kepalanya tengah pusing, Nindy memaksakan diri untuk turun dari tempat tidur dan mencari Kenan. Di dapur dan ruang keluarga suaminya sudah tidak ada. Lampu rumah pun sudah padam.
Hati Nindy berdegup sangat kencang karena dia takut Kenan pergi meninggalkannya malam ini. Pikirannya sudah tidak karuhan. Langkah lemahnya membawanya menuju ruang kerja sang suami. Dia menekan gagang pintu penuh dengan kehati-hatian. Dia mematung dia ambang pintu ketika melihat Kenan sudah berbaring di sofa panjang. Hati Nindy mencelos melihatnya.
"Kenapa kamu semarah ini kepadaku, Mas?" lirihnya.
Nindy meninggalakan ruangan itu dan kembali ke kamarnya. Dia menangis semalaman. Dia merasa sangat bersalah kepada Kenan. Pagi harinya, Nindy berusaha bangun lebih awal. Dia segera turun ke dapur. Dia ingin menyiapkan sarapan untuk suaminya. Namun, ketika sarapan itu sudah siap ternyata Kenan tidak ada di ruang kerjanya. Wajah lesu Nindy terlihat sangat jelas.
"Non nyari Mas Kenan?" tanya mbak asisten. Nindy hanya mengangguk pelan.
"Mas Kenan sedari jam setengah lima pagi sudah keluar rumah, Non. Dia juga masih memakai kemeja yang semalam," tuturnya lagi.
Tubuh Nindy lemas seketika mendengar pemaparan dari asisten pembantu rumah tangganya. Nindy mendudukkan dirinya dengan keras ke kursi yang berada di ruang makan.
"Jangan nakal makanya, kamu itu sudah punya suami," omel Deri.
Nindy mendongakkan kepala ke arah sang ayah yang sudah ada di dekatnya.
"Ada kalanya suami kamu itu lelah dengan sikap kamu yang sudah diatur. Suami kamu itu hanya ingin kamu cepat sembuh. Bohong, jika dia tidak kepikiran kamu yang lagi sakit," terang Deri.
Nindy menunduk dalam mendengar ucapan sang ayah. Apa yang dikatakan oleh ayahnya memang benar.
"Jangan egois, Ndy. Kenan sudah lelah mencari nafkah. Dia juga harus ngerawat kamu, belum lagi kamu ya g sering ngeluh pastilah pikiran Kenan terbagi-bagi," tutur Deri.
"Harusnya bersyukur punya suami seperti Kenan. Tidak menuntut kesempurnaan dari kamu. Mau menerima segala kekurangan kamu,$ tukas Deri.
"Mas Kenan ke mana, Pah?" tanya Nindy dengan suara lirih.
"Dia ke apartment ganti pakaian. Setelah itu dia langsung ke kantor," jawab Deri sambil mengunyah makanan.
Hati Niar sakit mendengarnya. Dia bagai istri yang tidak dianggap oleh Kenan.
"Aku mau berobat." Itulah yang dia tulis.
Namun, pesan itu tak kunjung ada jawaban. Dibaca oleh Kenan, tetapi tidak dibalas. Nindy benar-benar merasa sangat sedih. Sedari tadi dia menahan rasa lemas di tubuhnya. Rasa pusing pun tidak dia hiraukan.
"Mas, kenapa marah kamu sangat menyeramkan seperti ini?"
Kenan menghembuskan napas kasar ketika membaca pesan Nindy. Dia ingin memberikan pelajaran kepada istrinya itu.
"Kenapa?" tanya Dirga. Dia tahu asistennya ini sedang gelisah.
"Nindy baru mau berobat setelah saya diamkan," jawabnya.
Dirga tersenyum tipis, dia menatap Kenan yang terlihat frustasi.
"Dia istrimu, kamulah yang berhak atas dirinya. Bagaimana cara mendidik dia sudah saya dan Papah serahkan kepada kamu ketika kamu mengucapkan ijab dan kabul di depan penghulu." Kenan hanya terdiam mendengar ucapan Dirga
"Kamu boleh mendidik Nindy sedikit keras. Akan tetapi, saya akan mengambil adik saya ketika kamu melakukan kekerasan kepadanya," ancam Dirga.
"Saya tidak seringan tangan itu," kilah Kenan.
"Bawalah dia berobat!" titah Dirga.
Terselip rasa kasihan di hati Kenan kepada Nindy. Namun, dia juga masih sangat merasa kesal karena Nindy sama sekali tidak menurut kepadanya. Padahal, itu semua Kenan lakukan demi kebaikannya.
"Iya." Akhirnya Kenan membalas pesan dari Nindy.
Nindy yang membacanya sangat senang. Suaminya sudah tidak marah lagi. Setengah jam berselang, Mbak asisten rumah tangga mengetuk pintu kamarnya. Nindy sangat bahagia dan segera keluar kamar.
"Dia sudah datang?" tanya Nindy antusias.
__ADS_1
"Iya, Non."
Nindy segera turun dari kamarnya. Dia juga sangat hati-hati karena tubuhnya mudah oleng. Ketika di depan rumah, matanya nanar ketika melihat bukan Kenan yang menjemputnya. Melainkan sopir sang kakak.
"Ayo, Nyonya. Pak Kenan menyuruh kita untuk ke rumah sakit."
Sungguh suaminya sangat marah kepadanya. Ke rumah sakit pun Kenan tidak ingin mengantar Nindy. Ingin rasanya Nindy menolak, tetapi dia takut jika suaminya semakin marah kepadanya. Nindy pun terpaksa masuk ke dalam mobil. Disepanjang perjalanan Nindy hanya menatap kaca jendela samping. Raut kesedihan nampak di wajah cantiknya.
Tibanya di rumah sakit, Nindy tidak perlu mengantri. Ternyata Kenan sudah membuat janji dengan dokternya. Namun, itu tidak membuat Nindy bahagia. Dia iri kepada sepasang suami-istri yang selalu setia mendampingi pasangannya.
"Aku ingin seperti itu, Mas." Monolognya di dalam hati.
Setelah diperiksa dan menembus obat. Nindy meminta segera pulang ke rumah. Dia masuk ke dalam kamar dan sebelumnya minta dibuatkan sop tetelan kepada Mbak di rumah.
Nindy menuju ke lemari pakaian sang suami. Dia ambilkan piyama serta kemeja untuk besok dia pakai kerja. Lengkap dengan dasi serta kaos kakinya dan dia letakkan di ruang kerja Kenan.
Sayur sop pesanan Nindy pun sudah siap. Dia meminta tambahan berupa kentang goreng karena dia sedang tidak enak memakan nasi. Setelah selesai makan, Nindy meminum obat yang diberikan oleh dokter. Dia mulai merebahkan tubuhnya dan tak lama dirinya pun terlelap.
Nindy membuka mata ketika hendak menjelang Maghrib. Dia tidak akan menampakkan diri kepada Kenan. Kamarnya pun dia kunci.
Jam delapan malam Kenan baru tiba di kediaman istrinya. Dia melihat kamarnya dengannya sudah menyisakan cahaya temaram dari selah bawah pintu. Kenan mengembuskan napas kasar.
Dia terpaksa harus kembali ke ruang kerjanya. Di atas sofa sudah ada baju piyama serta kemeja untuk dia kenakan. Hati Kenan mencelos, apalagi di atas bahu itu ada secarik kertas.
Aku janji, aku tidak akan menampakkan wajahku di depan mata kamu sampai kamu memaafkan aku.
Sungguh teriris hati Kenan membacanya. Dia segera keluar dari ruang kerjanya dan menuju kamar. Namun, pintu kamarnya dikunci dari dalam membuat Kenan cemas. Tangannya ingin mengetuk pintu ini. Akan tetapi, hatinya melarang. Dia memilih kembali ke ruang kerjanya.
Keesokan paginya, Nindy sudah bangun dari matahari belum terbit. Dia menyiapkan sarapan untuk sang suami. Setelah semuanya selesai, dia membawa satu porsi untuknya makan di kamar. Sesuai dengan ucapannya, dia tidak akan menampakkan wajahnya di depan Kenan sebelum Kenan memaafkannya.
Kenan sudah rapih dengan kemeja yang disediakan oleh Nindy. Dia menikmati sarapan yang dibuatkan oleh Nindy. Matanya terus menatap ke arah anak tangga. Berharap Nindy ikut sarapan bersamanya.
Sepuluh menit berlalu, Nindy tak kunjung turun. Setelah selesai sarapan, dia menghampiri Mbak yang bekerja di rumah tersebut.
"Non Nindy belum keluar?" tanya Kenan.
"Sudah, Mas. Sarapan yang Mas makan itu adalah masakan Non Nindy. Hanya saja, ketika sarapan ini selesai, Non Nindy membawa satu piring sarapan ini ke kamarnya. Dia ingin sarapan di kamar," tutur Mbak asisten.
Kenan tercengang dengan apa yang diucapkan pegawai dari rumah Deri tersebut. Ada rasa bersalah di hatinya. Ingin dia mengahampiri Nindy, tetapi dia sudah telat.
Dirga memutuskan untuk ke kantor dan menyelesaikan semua permasalahannya dengan Nindy setelah pulang kerja.
"Maafkan Mas, Sayang," gumamnya seraya menghidupkan mesin mobil.
"Aku sudah terlalu keras kepada Nindy," tambahnya lagi.
Di dalam kamar, Nindy tengah memeluk lututnya. Air matanya menetes kembali. Suaminya sangat marah kepadanya hingga berangkat kerja pun tidak pamit sudah dua hari ini. Nindy asyik mengunci pintunya dari dalam.
Jam sepuluh pagi, pintu kamar Nindy ada yang mengetuk. Nindy tetap meringkuk dengan wajah yang sendu. Ketukan pintu itu semakin nyaring, tetapi Nindy tak bergerak sedikit pun.
"Anteu, apa anteu gak mau ketemu Arshen," ucap seseorang dari balik pintu.
Mendengar nama Arshen Nindy segera beranjak dari tidurnya. Dia segera mencuci wajahnya dan berlari ke arah pintu kamar. Ketika dia buka keponakannya sudah tersenyum ke arahnya.
"Anteu rindu Arshen."
Nindy menciumi pipi gembil Arshen dan keponakannya itu pun tertawa karena merasa geli. Niar mengusap lembut pundak sang adik ipar.
"Kamu kenapa?"
Nindy yang tengah asyik bermain dengan Arshen menatap ke arah Niar. Dia hanya tersenyum sembari menggeleng.
"Jangan sungkan jika kamu ingin bercerita kepada kakak. Anggaplah kakak ini adalah kakak kandung kamu," tukas Niar.
__ADS_1
Mata Nindy berkaca-kaca mendengar ucapan Niar. Niar memeluk tubuh adiknya yang sedang tidak baik-baik saja. Dia mengajak Nindy masuk ke dalam kamar agar Nindy bisa bercerita kepadanya.