
"Bunda, Ayah, Mbak Ara, untuk kali ini bolehkah aku menjadi anak pembangkang? Aku ingin menikah dengan pria yang aku sayangi." Wajah Bu Sari dan juga Pak Khorun menatap iba pada Niar.
"Dirga maksud kamu?" tanya Ara dengan nada sedikit tinggi. Hanya anggukan yang menjadi jawaban dari Niar.
"Kamu ghi La, dia sudah beristri Niar," sentak Ara dengan wajah tidak suka.
"Kamu mau disebut pelakor, Nak," imbuh Bu Sari.
"Maaf karena telah membuat Niar terluka. Dulu, saya hanyalah pria lemah seperti kerbau yang dicocoki hidungnya oleh kedua orangtua saya. Dan untuk pernikahan yang kalian bilang itu, saya resmi bercerai di malam pertama pernikahan saya. Dan wanita yang menjadi mantan istri saya adalah Wulan, istri dari Jicko," sanggah Dirga.
Semua orang yang berada di sana sangat terkejut mendengar pengakuan Dirga. Karena Dirga tahu, keluarga Niar tidak akan langsung percaya Dirga langsung menghubungi Kenan.
Tak lama Kenan masuk ke dalam rumah Niar dan menyerahkan sebuah amplop cokelat. Dirga menerima amplop dari Kenan dan langsung memberikan kepada kedua orangtua Niar.
__ADS_1
"Itu bukti jika saya sudah resmi bercerai dengan Wulan. Dan di situ juga tertulis jelas tanggal dan tahunnya."
Pak Khorun langsung membuka amplop cokelat itu dan dia melirik ke arah Bu Sari dan juga Ara. Ara yang tidak percaya meminta amplop itu kepada sang ayah. Matanya melebadr membaca setiap kata demi kata yang tertulis di kertas itu.
"Selama ini saya mencari Niar, namun sangat sulit. Saya meyakini ada orang yang sengaja menutupi keberadaan Niar," jelas Dirga.
"Selama lima tahun saya sibuk mencari Niar dan juga membangun perusahaan saya sendiri. Meskipun banyak wanita yang menghampiri saya, tapi saya tidak bisa membuka hati saya untuk wanita lain. Kata orang, waktu akan merubah segalanya. Tapi, tidak dengan cinta saya untuk Niar." Dirga menatap lembut ke arah Niar dan menggenggam tangan Niar.
"Dan saya ingin melamar anak Om dan juga Tante untuk menjadi pendamping hidup saya." Kedua orangtua Niar sangat bangga kepada Dirga. Terlebih Bu Sari, dia yang tahu benar bagaimana hubungan Dirga dan Niar dulu.
"Saya sangat serius kepada putri Om dan Tante. Karena kekuatan cinta kita, maka kita dipertemukan kembali," ujar Dirga.
"Bunda ... aku tidak meminta apa-apa. Aku hanya ingin hidup bersama Dirga. Bunda dan Mbak Ara tau bagaimana depresinya aku ketika berpisah dengan Dirga, dia yang aku cintai bukan pria lain." Mata Niar berkaca-kaca mengucapkan semua itu kepada keluarganya. Tangan Dirga langsung merangkul pundak Niar.
__ADS_1
"Saya janji, saya tidak akan menyakiti Niar lagi. Saya akan berusaha semampu saya untuk membahagiakan dia. Jangan pisahkan kami lagi," pinta Dirga.
Keluarga Niar saling pandang, mereka tahu Dirga adalah pria baik. Tapi, mereka belum yakin tentang kesungguhan Dirga.
"Bunda, Ayah ... aku mohon restuilah hubungan kami. Dan biarkan hubungan kami melangkah ke jenjang yang lebih serius. Aku yakin, Dirga akan menjadi imam yang baik untukku dan keluarga kecilku," ucap Niar dengan berurai air mata.
"Bawa orangtua kamu untuk melamar putri saya secara resmi." Ucapan Pak Khorun seperti sambaran petir bagi Dirga.
Keluarga? batin Dirga.
*****
Happy reading ...
__ADS_1