
... Silahkan kamu nikmati surat bodong itu," ucap Deri.
Tubuh Septi melemah seketika mendengar penuturan dari Deri. Namun, dia tidak mempercayainya begitu saja. Sedikit banyak Septi mengetahui kelicikan Deri.
"Jangan membohongiku," bentak Septi.
"Bohong?" Deri mengambil surat-surat berharga di tangan Septi. Dengan santainya dia mensobek-sobek semua surat berharga yang dia miliki. Mata Septi pun melebar.
"Masih bisa mengatakan kalo aku ini berbohong?" ujar Deri dengan raut penuh kemarahan.
"Aku tidak bodoh, Septi. Aku sudah tahu kamu itu sedang terlilit hutang karena judi online," beber Deri.
Dirga, Niar serta Nindy terkejut mendengar ucapan dari Deri. Begitu juga dengan Bunga.
"Kamu kira aku tidak tahu bagaimana kamu di luaran sana? Judi dan arisan berondong pun kamu lakukan dengan para ibu-ibu sosialita yang tidak berakhlak. Aku tahu semuanya, Septi. Tahu!" seru Deri.
__ADS_1
"Aku diam karena aku sedang memantau kamu, ternyata semakin ke sini kamu semakin menjadi. Membuat masalah sendiri hanya karena gengsi," tambahnya lagi.
"Harusnya kata talak sudah aku layangkan beberapa tahun lalu ketika kamu membuat aku dibenci oleh putraku sendiri. Aku bertahan karena ibumu, ibumu melarangku untuk menceraikan kamu. Karena beliau tidak ingin hidup kamu kembali susah. Dengan susah payah aku mencoba meredam emosiku setiap melihat kamu. Lambat-laun aku mulai menerima kamu kembali, tetapi sekarang ... semua kebusukan mu sudah terbongkar. Tidak ada alasan untuk tidak menceraikan mu," terang Deri lagi.
Septi mematung di tempatnya. Dia hanya bisa menunduk dalam mendengar ucapan Deri. Apa yang Deri katakan semuanya benar.
"Aku ingin Nindy ikut denganku," ucap Septi memberanikan diri.
"Tidak, Ndy tidak mau," tolak Nindy yang sudah bermandikan air mata.
Mulut Septi pun terbungkam mendengar penuturan Nindy. Dia menatap nanar ke arah Nindy.
"Ndy, tidak membenci Mamah. Hanya saja Ndy kecewa sama Mamah. Wanita yang Ndy jadikan panutan malah sebaliknya," tutur Ndy.
"Mamah tidak perlu khawatir, Ndy akan hidup bahagia bersama Papa dan kedua kakak Ndy."
__ADS_1
"Kamu dengar sendiri 'kan. Nindy sudah dewasa, dia mampu melihat mana yang benar dan mana yang salah. Seharusnya kamu memberikan contoh yang baik untuk putri kamu sendiri. Supaya ketika dia memiliki suami dia mampu menjadi istri yang baik dan patuh kepada suami. Orang tua menjadi cerminan dari anak-anaknya."
Suara ketukan pintu terdengar. Beberapa orang berseragam aparat kepolisian mendatangi ruang perawatan Nindy dan juga Niar. Salah satu dari anggota tersebut menyerahkan sebuah surat kepada Deri. Kemudian, Deri memperlihatkan kepada Dirga.
"Tangkap lah! Berikan hukuman yang setimpal," imbuh Deri.
Septi tidak bisa berkutik karena sedari tadi dia sudah diapit oleh dua orang berbadan kekar. Serta tangannya diborgol.
"Tanpa aku melaporkan kamu pun, sudah banyak orang yang melaporkan kamu ke polisi. Aku masih punya hati meskipun kamu telah mencelakai putrimu sendiri."
"Aku pastikan perceraian kita akan segera terwujud. Biar kamu tenang berada dalam jeruji besi."
"Dan kamu, Bunga. Lupakan semua yang sudah dikatakan oleh ibu kandungmu. Kamu hanya dijadikan alat untuk mengeruk uang putraku, agar dia bisa membayar hutang judi."
...****************...
__ADS_1