Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Ingin Pulang


__ADS_3

Niar menuju ke kamarnya dan hendak masuk ke dalam kamar mandi. Namun, suara ponsel Dirga menghentikan langkahnya. Dia pun melihat siapa yang menelpon kekasihnya ini di pagi hari.


"Wulan."


Dadanya bergemuruh dan pikiran-pikiran jelek berkeliaran di kepalanya. Dengan ragu Niar menerima panggilan dari Wulan.


"Nanti malam kita ketemu di cafe biasa. Ada Mamah dan Papaku juga."


Ponsel Dirga pun terjatuh begitu saja. Untung saja jatuhnya di atas tempat tidur. Mata Niar nanar dan hatinya sakit.


Niar langsung masuk ke kamar mandi dan menumpahkan tangisnya di dalam sana. Hatinya benar-benar sakit. Apakah yang dikatakan Dirga itu benar? Jika, dia sudah bercerai dengan Wulan. Tapi, kenapa Wulan mengatakan jika Mamah dan Papanya ingin bertemu Dirga. Apa mereka akan kembali lagi?


Isakan lirih bersahutan dengan suara shower yang Niar buka. Tubuhnya basah diguyur air sedangkan wajahnya basah diguyur air mata.


Sudah setengah jam, Dirga masuk ke dalam kamar. Namun, Niar tak kunjung keluar. Dirga mencari ponselnya yang dia letakkan di atas nakas. Namun, dia tidak menemukannya.


Dahinya mengkerut ketika ponselnya tergeletak begitu saja di atas tempat tidur. Dirga menatap pintu kamar mandi yang masih tertutup. Dan suara air pun masih terdengar.


Buru-buru Dirga mengecek ponselnya, feeling Dirga mengatakan jika ada yang tidak beres dengan Niar. Dirga mengecek panggilan. "Shit!"

__ADS_1


"Sayang ... Sayang ... Buka pintunya, Yang." Dirga terus menggedor-gedor pintu kamar mandi dari luar.


Tidak ada jawaban dari sana, hanya suara air yang terdengar. Dirga menekan knop pintu, ternyata Niar menguncinya dari dalam.


"Yang ... buka pintunya, Yang. Jangan buat aku panik," teriak Dirga.


Sudah berkali-kali Dirga menggedor-gedor pintu namun, tidak ada sahutan dari dalam. Akhirnya, Dirga melakukan sesuatu.


Dirga mendobrak pintu kamar mandi hingga rusak. Matanya melebar ketika Niar sudah tak sadarkan diri di bawah guyuran shower.


"Sayang ...."


Dirga menelepon dokter pribadinya. Namun, Dirga meminta agar dokter perempuan yang datang. Tubuh Niar sudah terbalut selimut tebal dan didekap erat olehnya. Dirga berharap, akan menghangatkan tubuh Niar. Tak lupa, semua AC dimatikan.


Setengah jam berlalu, dokter baru saja tiba di apartment Dirga. Dokter memeriksa keadaan Niar.


"Dia hanya kelelahan dan juga banyak pikiran. Makanya tubuhnya drop." Mendengar ucapan dari dokter Dirga benar-benar merasa bersalah.


Setelah menuliskan resep, dokter pamit pulang. Dirga masih memeluk tubuh Niar dan sesekali mendekatkan minyak kayu putih ke hidungnya supaya dia terbangun.

__ADS_1


"Sayang, bangun Sayang."


Dirga menggenggam erat tangan Niar dan mengusap lembut punggung tangan kekasihnya.


"Bangun, Yang. Jangan buat aku khawatir."


Tak berselang lama, Niar mengerjapkan matanya. Kepalanya masih terasa pusing. Melihat Niar sudah sadar, Dirga menciumi wajah Niar.


"Jangan buat aku khawatir lagi, Yang," lirihnya.


Niar tak bergeming dengan apa yang dikatakan oleh Dirga. Karena Dirga lah dia pingsan seperti ini. Tapi, seolah Dirga tidak merasa bersalah.


"Aku mau pulang," kata Niar.


Dirga masih terdiam dan menatap Niar dengan tatapan sendu. "Aku mau pulang ...."


****


Happy reading ...

__ADS_1


__ADS_2