
Dirga pun mengatur kembali jadwal honeymoon-nya. Kenan hanya menghela napas kasar. Acara istirahatnya yang sudah dia rancang ternyata batal.
Siang hari, Niar merasa bosan. Dia meminta sopir untuk mengantarnya ke kantor Dirga. Ketika masuk kantor, dia disambut hangat oleh para karyawan Dirga. Siapa yang tidak tahu Niar, pernikahan Dirga menghebohkan dunia pebisnisan.
Dirga adalah pria lajang dan tiba-tiba menikah. Sungguh sangat mengejutkan. Desas-desus yang terdengar jika Dirga dijodohkan. Ada yang bilang juga jika wanita itu hanyalah istri bayaran.
Dirga dan Niar tahu akan hal itu. Tapi, mereka berdua mencoba untuk tidak mempermasalahkannya. Biarkan saja orang berkata apa. Mereka berdua tidak ambi pusing.
Niar menuju ke lantai paling atas. Di sanalah ruangan Dirga berasa. Sudah ada sekretaris wanita yang cukup cantik.
"Siang Mbak, apa Pak Dirga ada?" Wanita itu menatap Niar dari atas sampai bawah. Semua yang dikenakan Niar barang branded.
"Apa Anda sudah membuat janji dengan Pak Dirga?" Niar pun menggeleng.
"Pak Dirga sedang sibuk. Jika, ingin bertemu dengan dia harap mengatur janji terlebih dahulu." Niar menghela napas kasar. Dia mengeluarkan ponselnya.
"Ay, kamu sibuk gak?"
"Gak, Sayang. Ada apa?"
"Aku di depan ruangan kamu."
Mata wanita itu melebar dengan sempurna. Tak lama Dirga keluar dari ruangannya dan mengecup hangat kening Niar.
__ADS_1
"Kenapa gak langsung masuk?"
"Gak dibolehin sama sekretaris kamu." Sekretaris itu pun hanya menunduk.
"Kamu tidak tahu istri saya?" tanya Dirga.
"Kami lihat baik-baik. Jika, istri saya datang ke sini langsung suruh dia masuk," tegasnya.
Niar dan Dirga pun masuk ke ruangan Dirga. Sedangkan sekretaris itu mendudukkan dirinya dengan sangat lemas.
"Bodoh banget sih, kenapa gua gak ngenalin bini Pak Dirga," gumamnya.
"Ke sini gak bilang dulu?" ujar Dirga yang kini sudah duduk bersama istrinya.
"Pulang kerja kita belanja, ya." Dirga pun tersenyum lalu menganggukkan kepalanya.
Setelah smsemua pekerjaannya selesai, Dirga dan Niar pulang dengan tangan yang saling bertautan. Semua para karyawan menunduk hormat kepada mereka.
Mobil Dirga berhenti di sebuah supermarket. Mereka memilih-milih yang mereka butuhkan. Dari kebutuhan dapur, kamar mandi dan juga kebutuhan pribadi.
Niar mengambil satu bungkus pembalut. Dirga ikut mengambilnya sambil mengerutkan dahi.
"Ay, ini apa sih maksudnya? 28 cm sama 34 cm. Wings dan non wings." Para remaja yang sedang memilih pembalut di samping Dirga pun cekikikan melihat kepolosan Dirga.
__ADS_1
"Kamu ngapain sih megang-megang ini?" bisik Niar.
"Seneng banget jadi pusat perhatian cewek-cewek?" Niar berbicara sangat ketus.
"Ha?"
Dirga mengerutkan dahinya, dan dia melirik ke arah samping. Ada beberapa remaja yang sedang tertawa dengan menatap ke arahnya.
Dirga langsung memasukkan dua pak besar pembalut biasa, 2 pak besar pembalut ukuran 28 cm dan 2 pak besar pembalut ukuran 34 cm.
Dia langsung menggandeng tangan Niar lalu mendorong trolinya. "Ay ...."
"Lama kamu milih pembalut doang juga. Tuh, udah aku masukin ke troli." Niar membulatkan matanya.
"Kamu mau jualan?" Dirga tak mengindahkan ucapan Niar.
"Aku cuma gak mau bikin kamu cemburu. Kamu gak liat aku jadi pusat perhatian cewek-cewek tadi?" Niar menatap Dirga jengah.
Setelah selesai membayar, mereka kembali ke rumah. Niar sedang membereskan barang belanjaannya. Dirga melihat ke arah kantong plastik yang berisi semua pembalut.
"Yang, apa sih bedanya pembalut 28 cm sama 34 cm. Terus itu wings dan non wings." Niar hanya menepuk jidatnya.
****
__ADS_1
Happy reading ....