
"Pria itu suami kamu," ucap Septi.
Seperti disambar petir di siang bolong. Terkejut dan tidak percaya jadi satu. Niar menatap suaminya, tetapi Dirga hanya menundukkan kepalanya. Tak berani melihat ke arah Niar.
"Aku hanya ingin Pak Dirga menepati janjinya," imbuh Bunga.
Pandangan Niar kini beralih kepada Bunga. Tatapan tajam seperti ingin. membunuh Bunga sekarang juga.
"Menepati janji? Apa kamu tidak bisa melihat di jari manis bos kanu sudah tersemat cincin pernikahan? Apa kamu tidak bisa melihat status pemilik DN Grup sudah menikah? Apa kamu buta?" Niar benar-benar emosi. Dan baru kali ini Niar berbicara kasar. Membuat Septi dan Dirga tercengang. Sedangkan Bunga sudah menunduk dalam.
"Jika, kamu sudah terikat janji kepada seorang wanita. Kenapa kamu menikahiku?" bentak Niar ke arah Dirga.
"Cukup kamu dan keluargamu menyakiti aku dulu. Memisahkan aku dan kamu karena sebuah pernikahan dadakan yang orangtua kamu siapkan. Apa belum cukup luka yang kalian torehkan kepadaku? Apa belum cukup aku menderita?" teriak Niar. Emosinya sungguh tidak tertahan.
Niar maninggalkan tiga orang itu. Langkah kakinya membawanya menuju dapur. Mengambil dua buah pisau yang ada di sana.
__ADS_1
Dia kembali ke tempat tiga orang itu berada. Memberikan pisau kepada Septi dan Dirga.
"Bunuh saja aku sekarang, hingga kalian puas!" seru Niar berapi-api.
"Bunuh aku dan anakku! Bunuh!" teriaknya.
Dirga segera memeluk tubuh Niar dengan bulir bening yang membasahi wajahnya. "Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku." Sedangkan Septi sudah terisak. Dibalik diamnya Niar menyimpan kegarangan yang luar biasa.
"Apa Kakak tidak kasihan sama aku? Aku anak yatim piatu, Kak." Bunga mencoba meminta rasa iba Niar untuknya.
Niar mendorong tubuh Dirga agar melepaskan pelukannya. Langkahnya mendekat ke arah Bunga.
"Aku sangat menderita, Kak. Orang tuaku tiada karena ulah suami Kakak." Bunga mencoba mencari simpati Dirga dan Septi dengan menitikan air mata.
"Ulah suamiku? Kepergian orang tua kamu murni karena TAKDIR. Apa kamu Tuhan yang bisa menentukan kematian seseorang? Apa kamu juga tahu, nantinya kamu akan meninggal dengan cara apa? Apa kamu bisa bernegosiasi dengan Tuhan tentang kematian?" sinisnya.
__ADS_1
Mulut semua orang terbungkam termasuk Bunga yang tidak bisa menjawab ataupun menyanggah ucapan Niar. Wanita yang dia kira lemah ternyata salah.
"Sekarang lebih baik kamu pergi dari sini. Sebelum dua pisau ini menusuk tubuh kamu," ancam Niar yang kini sudah merebut pisau di tangan Dirga dan Septi.
Mata Bunga melebar dengan sempurna apalagi Dirga dan Septi. Dirga ingin merebut pisau dari tangan Niar. Dengan cepat Niar mengarahkan pisau itu ke hadapan Dirga.
"Mau membela dia? Lepaskan aku sekarang juga," tegas Niar.
Dirga membeku mendengar ucapan Niar sedangkan Bunga sudah mulai menangis dan memeluk tubuh Septi. Membuat Niar jengah dan tidak bisa bersabar lagi.
"Pergi sekarang dari rumahku!" usir Niar dengan suara yang menggema.
"Ingat, aku bukanlah wanita baik yang akan mengijinkan suamiku untuk berpoligami," ujar Niar yang semakin mendekat ke arah Bunga dengan mengarahkan pisau ke wajahnya. Bunga pun memilih pergi karena dia benar-benar takut dengan ancaman Niar. Apalagi matanya sudah menyiratkan kemarahan seperti orang kesetanan.
...****************...
__ADS_1
Komen dong komen ....
Kalo komen banyak siang atau sore aku up lagi.