
Kehadiran putra pertama DIrga dan Niar membuat keluarga besar Dirga merasakan kebahagiaan yang tak terkira. Dinar Arshen Anggara menjadi pelipur lara untuk semua keluarga Deri. Di kala Nindy ataupun Deri tengah memikirkan sesuatu, Arshenlah yang mereka cari. Sama seperti sekarang ini.
"Cucu Papah mana?" Niar sedikit tersentak dengan suara yang dia dengar. Ketika dia membalikkan tubuh, Deri sudah tersenyum ke arah Niar.
"Ya ampun, Pah. Kaget banget tahu," ucap Niar.
Deri tertawa dan mengusap lembut kepala sang menantu. "Maaf, Papah kangen sama cucu jagoan Papah," ujarnya.
"Arshen lagi tidur, Pah. Makanya aku bisa masak," balas Niar.
"Ada Mbok Sum, Ni. Kenapa gak Mbok Sum aja yang masak? Capek loh," imbuh Deri.
Niar tersenyum hangat ke arah papah mertuanya yang sangat menyayanginya. "Gak apa-apa, Pah. Asal suami senang," sahut Niar.
Deri menggelengkan kepalanya mendengar ucapan sang menantu. Sudah tidak mau memakai baby sitter, masak untuk suami pun dua lakukan sendiri. Terkadang dia tak habis pikir dengan tenaga yang Niar miliki. Mengurus anak itu capek, belum lagi memasak untuk suaminya yang menyita waktu. Deri hanya bisa menggelengkan kepalanya saja. Ketika bertanya kepada sang putra pun Dirga mengatakan bahwa istrinya tidak ingin anak dan suaminya diurus oleh orang lain. Dia harus bisa menjadi istri juga ibu yang baik untuk suami juga anaknya.
"Papah mau makan apa? Biar aku masakin, mumpung di dapur," imbuh Niar.
"Kamu masak apa?" Balik tanya Deri.
"Aku mah masak menu sederhana aja, Pah. Palingan lauk sama tumisan sayur. Papihnya Arshen juga gak pernah komplain, yang penting aku yang masak."
Penjelasan Niar membuat hati Deri bahagia. Putranya benar-benar luar biasa. Sedari kecil Dirga memang bukan anak yang memilih-milih makanan. Jarang sekali suami' yang sudah terbilang sukses mau makan makan masakan istri tercinta yang hanya masakan rumah sederhana. Pada nyatanya pengusahanya sukses sekilas Dirga sudah terbiasa dengan makanan lezat dan mewah. Namun, itu tidak berlaku untuk putranya. Jual, makan siang pun dia tidak ingin makan makanan yang aneh-aneh. Porsinya sedikit dengan harga yang menguras dompet itu sungguh tidak worted. Dirga akan ke restoran mewah jika bersama sang istri tercinta. Memanjakan lidah sang istri agar istrinya bahagia.
"Papah ikut kalian makan saja." Niar tersenyum mendengar jawaban sang Papah.
Dia segera memasak menu yang memang sangat sederhana. Hanya sayur sop daging, perkedel dan juga ikan gurame pedas manis. Sebenarnya Niar hanya tinggal mengolahnya saja, yang menyiapkan semuanya tentunya Mbok Sum.
"Papah ke kamar Arshen dulu, ya. Takut dia bangun," ujar Deri.
Niar hanya mengangguk karena dia tengah fokus pada masakannya. Deri menuju kamar Arshen yang terhubung ke kamar utama. Cucunya tengah tertidur pulas dengan empeng di mulutnya.
"Jagoan opa," gumamnya.
Melihat wajah Arshen seperti melihat sesuatu yang indah yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata. Wajah tampan Arshen seperti wajah putra angkatnya.
"Tumbuhlah seperti papihmu ya, Nak. Kuat dan selalu membanggakan."
Sebuah doa yang Deri panjatkan untuk Arshen. Cucunya ini bagai mood booster untuknya. Tangan Deri sudah mengangkat Arshen dari boks bayi. Dia meletakkan Arshen di kasur busa khusus untuk Arshen terjaga. Dia sendiri tiduran di lantai yang hanya beralaskan karpet bulu. Tangan Deri mendekap hangat cucu kesayangannya. Arshen pun merasa nyaman dengan dekapan itu. Cucu dan Kakek itu akhirnya terlelap bersama.
Selang satu jam, Niar sudah selesai dengan masakannya. Dia membuka celemek yang dia gunakan dan tak lupa mencuci tangannya. Kemudian, dia menuju kamar Arshen untuk menyuruh sang papah makan. Namun, Niar mengurungkan niatnya karena melihat sang papah mertua tengah terlelap dengan damainya bersama sang putra.
"Ya Tuhan," gumamnya.
Hati Niar mencelos melihat papah mertuanya bersama Arshen. Wajah damai mereka sangatlah mirip ketika memejamkan mata. Wajahnya ayah mertuanya sudah tidak muda lagi. Kerutan di ujung matanya terlihat jelas. Wajah lelahnya pun tidak bisa dipungkiri. Ketika Deri semua beban yang dia pikul muncul ke permukaan.
"Seharusnya Papah udah pensiun dari pekerjaannya," gumam Niar.
Di usia Deri yang sudah senja, seharusnya dia sudah berada di rumah. Menikmati masa tua bersama anak, menantu serta cucunya. Itulah yang Niar harapkan. Namun, papah mertuanya tetap kekeh ingin terus bekerja. Jika, di rumah saja dia akan merasa bosan dan juga malah menambah penyakit yang ada di tubuhnya.
"Panjang umur ya, Pah. Sehat terus biar kami sebagai anak Papah bisa membahagiakan. Papah. Meskipun, apa yang kami lakukan hanya seujung kuku Papah," batinnya.
Niar kembali menutup pintu kamar Arshen. Dia sangat bersyukur karena memiliki mertua pria yang sangat baik. Kasih sayangnya sama seperti kasih sayang terhadap putrinya.
__ADS_1
Niar mengambil ponselnya di kamar. Diam-diam dia mengambil gambar Deri tengah terlelap bersama Arshen dan dia kirimkan kepada Dirga. Hati Dirga mencelos melihat kiriman foto dari istrinya. Wajah lelah Deri terlihat sangat jelas.
"Maafkan aku, Pah. Belum bisa bahagiakan Papah," lirih Dirga.
Mimik wajah Deri tidak bisa berbohong. Dirga melihat bahwa ayahnya tengah banyak dilanda masalah. Arshen adalah penghubung untuknya. Itulah alasan ayahnya datang ke rumahnya.
"Pasti Papah kesepian," imbuh Dirga.
Setelah Arshen bangun, Deri pun ikut terbangun juga. Cucunya itu sangat pandai tidak menangis meskipun dia terjaga sendirian.
"Jagoan Opa keren ya, gak nangis kalau bangun bobo," ucapnya pada Arshen.
Anak bayi itu seakan tahu kakeknya tengah gundah gulana. Dia memberikan senyum termanis untuk sang kakek. Deri ikut tersenyum bahagia dan mencium gemas pipi gembul sang cucu.
"Kenapa kamu sangat menggemaskan sekali? Opa semakin sayang sama kamu," ucapnya sambil terus menciumi pipi Arshen.
Niar yang tengah di dapur karena ingin memasak makanan untuk sang ayah mertua terus melihat ke arah jam dinding. Hatinya mulai cemas karena sang putra belum terdengar menangis. Niar meninggalkan masakannya dan menyuruh Mbok Sum untuk melanjutkannya.
Gagang pintu itu Niar tekan dan senyumnya melengkung dengan indah ketika dia melihat Deri tengah tersenyum lepas bersama Arshen. Wajah sendu Deri hilang begitu saja. Diganti dengan rona bahagia yang tak terkira.
Dia tidak ingin mengganggu kebahagiaan Deri. Niar memilih untuk kembali ke dapur dan memasak menu lain untuk sang ayah mertua. Dia ingin Deri betah berada di sini. Niar berharap, Deri mau tinggal di sini. Jadi, bisa selalu dekat dengan putra serta cucunya.
Satu jam berselang barulah Arshen menangis keras. Bayi itu sudah kehausan. Deri membawa Arshen keluar kamar dan menuju dapur.
"Cuci tangan dulu, Ni. Baru pegang Arshen." Niar yang sudah membuka celemek mengangguk mengerti. Dia mencuci tangannya hingga bersih barulah mengambil alih Arshen.
"Uh, anak Mamih haus, ya. Udah puas main sama Opanya." Arshen seperti anak yang sudah seminggu tidak meminum asi. Sungguh sangat rakus hingga Deri terkekeh melihatnya.
Akan tetapi, Arshen tidak mengindahkan ucapan dari sang Opa. Dia terus menghisap susu dari sumbernya. Deri hanya menggelengkan kepala.
"Campur aja ASI-nya sama susu formula," imbuh Deri.
Niar menatap ke arah ayah mertuanya serta tersenyum. "Selagi asi aku masih banyak, aku tidak akan mencampurnya, Pah. Susu yang paling bagus itu adalah air susu ibu," balasnya.
Deri tersenyum dan mengusap lembut kepala sang menantu tercinta. Sangat beruntung sekali Deri memiliki menantu seperti Niar. Selain pintar memasak dan mengurus anak. dia juga mampu mengurus keuangan suami dengan baik. Deri sangat tahu bahwa menantunya bukanlah wanita yang hobi menghabiskan uang suami. Niar juga bukan wanita sosialita hanya karena gengsi semata. Itulah yang membuat Deri salut kepada Niar. Dia masih muda, tetapi pikirannya sangat dewasa. Padahal Dirga selalu memberikan uang lebih kepada Niar untuk sisa shoping. Namun, Niar memilih untuk menyimpannya saja.
Niar juga seperti wanita pada umumnya. Dia suka belanja dan juga barang branded. Namun, untuk sekarang dia tidak bisa melakukannya. Bukan tanpa alasan, dia tidak tega meninggalkan Arshen. Belanjanya Niar bisa dari buka mall hingga tutup mall. Jadi, untuk sekarang dia memilih untuk berdiam diri di rumah. Ingin ini itu cukup memesannya via aplikasi belanja online.
Semua makanan sudah siap, Deri pun sudah duduk di ruang makan. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat masakan rumahan. Dia sangat rindu akan masakan seperti ini. Selama Septi tidak ada, dia makan di rumah hanya di waktu sarapan. Selebihnya dia makan di luar saja.
Niar mengambilkan nasi untuk sang ayah mertua sambil menggendong Arshen dengan kain gendongan. Arshen pun anteng dengan empeng di mulutnya.
"Makasih," ucap Deri.
"Sama-sama, Pah. Makan yang banyak, ya," sahut Niar dengan senyumannya yang khas.
Deri menukikkan kedua alisnya ketika melihat Niar makan sambil menggendong Arshen. Sungguh wanita yang sangat luar biasa.
"Kamu sangat beruntung mendapatkan Niar, Ga. Seribu satu istri yang seperti ini," batinnya.
Di usia Niar biasanya mereka tidak ingin repot dengan urusan rumah serta anak. Apalagi suami adalah seorang pengusaha muda sukses. Semuanya bisa dengan mudah dia minta. Berbeda dengan menantunya ini. Dia tidak ingin memakai jasa baby sitter. Untuk makan suaminya pun dia tidak mengijinkan pembantu rumah tangganya yang membuatkannya. Makanan untuk suaminya hanya dia yang boleh memasaknya.
"Ni, kalau kamu mau pergi keluar, ke salon atau shoping titip aja ke Nindy," ucap Deri disela makannya.
__ADS_1
"Enggak, Pah. Aku gak ingin pergi ke mana-mana dulu sebelum Arshen besar. Aku inginnya Arshen ikut ke manapun aku pergi," jawab Niar.
Sudah sangat langka sekali menantu seperti ini. Deri snagat beruntung memiliki menantu seperti Niar.
"Takutnya kamu bosan dan jenuh di rumah," balas Deri. Niar pun tertawa.
"Tenang itu mah, Pah. Pengobatnya 'kan Arshen."
Deri pun tersenyum bahagia mendengarnya. Putranya tidak salah pilih istri. Inilah definisi istri sesungguhnya.
Ketika mereka tengah berbincang, suara derap langkah kaki terdengar. Niar menoleh, ternyata suaminya yang datang.
"Tumben?" tanya Niar. Tidak biasanya Dirga pulang masih sore.
"Ingin makan bersama kalian," jawabnya.
Niar pun tersenyum lebar mendengar ucapan dari Dirga. Dia segera mengambilkan piring dan mengambil langkah nasi serta lauk pauknya sambil menggendong Arshen dengan kain panjang.
"Kamu sungguh beruntung memiliki istri seperti Niar," kata Deri.
Dirga tersenyum mendengar. Dia menatap istrinya yang juga menatapnya. "Di adalah tulang rusuk aku, Pah."
Deri tersenyum sangat bahagia karena pada akhirnya putra sulungnya itu menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya. Dia bisa bersanding dengan wanita yang sangat dia sayangi dan kini mampu menjadi istri juga ibu yang baik.
Papahnya cukup lama berada di sana, Dia lebih menghabiskan waktu bermain bersama Arshen. Dirga dan Niar sangat merasa bahagia. Tidak biasanya papah mereka seperti ini.
"Arshen anteng banget sama Opanya," tutur Niar.
"Tangan Papah itu dingin. Setiap kali anak kecil bersama dengannya pasti akan terus lengket dan tidak mau lepas, contohnya saja aku."
Niar sangat tahu arah ucapan DIrga ke mana. Niar segera memeluk tubuh suaminya.
"PIh, walaupun Papih bukan anak kandung dan hanya angkat angkat. Jangan pernah merasa minder karena sesungguhnya Papah sangat menyayangi Papih. Papah adalah malaikat tak bersayap yang Tuhan kirimkan untuk menyelamtkan Papih. Papah juga telah banyak mengajarkan banyak hal kepadanya Papih. Rela mengorbankan nyawanya demi Papih."
Dirga mengangguk mendengar ucapan dari sang istri. Papahnya memang pahlawan untuknya. Tanpa papahnya sudah pasti dia akan menjadi anak gelandangan yang tak tentu masih depannya.
"Lihatlah kasih sayang Papah kepada Arshen. Papah selalu menganggap Arshen itu adalah Papih kecil, beliau sangat menyayangi Arshen dengan sangat tulus. Sama halnya dengan kasih sayang yang papah miliki untuk Papih."
"Sekarang, sudah waktunya untuk kita membahagiakan Papah. Menjadi anak yang berbakti kepada papah. Sesungguhnya Papah tidak memerlukan apapun dari kita, anak-anaknya. Papah hanya butuh waktu berkumpul bersama seperti sekarang ini untukku mengusir rasa kesepiannya," ungkap Niar.
"Walaupun PPah terlihat baik-baik saja, mamih yakin dalam hatinya beliau sedang tidak baik-baik saja. Apalagi, Papah harus menjalankan hari tuanya seorang diri tanpa istri di sampingnya."
Hati Dirga terdiri mendengar ucapan sang istri. Rasa bersalah itu kini menghampiri lagi. NIar tersenyum dan mengusap lembut undak sang suami.
"Jangan menyalahkan diri Papih atas perceraian Mamah dan Papah. Jika, mereka masih saling menyayangi tidak menutup kemungkinan bagi Mereka untuk rujuk kembali. Asalkan Papih dan Nindy setuju," jelas Niar.
Dirga hanya terdiam, dia akan setuju jika papahnya menginginkan ruuk kembali kepada sang mama. Namun, dia tidak yakin dengan Nindy. Adiknya itu sangat keras kepala. Sampai sekarang pun dia tidak pernah menemui ibunya di penjara. Sekedar menjenguk pun belum pernah dia lakukan.
JUjur saja, Dirga ingin menyatukan keluarganya untuk utuh kembali. Namun, dia juga tidak akan memaksa jika pada akhirnya mereka menginginkan jalan seperti sekarang ini. Setidaknya sudah ada tindakan dari Dirga.
Niar dan DIrg serius memandangi Deri yang tengah bermain bersama Arshen. Gelak tawa Arshen pun terdengar sangat keras sehingga kedua orang tuanya tertawa bahagia.
"Putra kita mampu membuat Opanya sedikit melupakan beban yang tengah papah emban," ujar Niar yang kini sudah meletakkan kepalanya di pundak sang suami.
__ADS_1