
"Ada hubungan apa antara Nyonya Septi dengan almarhum Hari Pranoto?"
Semua orang tercengang mendengar pertanyaan dari Kenan. Mereka pun saling pandang.
"Apa jangan-jangan perempuan ini anak Anda Nyonya?" tuduh Kenan dengan seringainya. Mata Dirga dan Deri melebar mendengar tuduhan Kenan.
"Jaga ucapanmu, Kenan!" bentak Septi.
"Kenapa Anda marah, Nyonya? Kan saya hanya menerka-nerka," ejek Kenan.
Dirga memicingkan matanya terhadap Kenan. Karena dia tahu bagaimana Kenan bertindak dan berbicara. Dari gelagat yang Kenan tunjukkan ada hal yang masih Kenan rahasiakan.
"Ibuku bukan dia," jawab Bunga.
"Ya, siapa tahu aja kan. Yang meninggal itu cuma ibu angkat kamu," balas Kenan dengan santai.
"Apa maksud kamu, Kenan?" Kini, Deri angkat bicara.
"Jangan didengar, Pah. Dia asisten bodoh. Sama seperti anak kita yang bodoh karena telah mempertahankan istrinya yang gila harta," oceh Septi.
"Cukup, Mah!" bentak Dirga.
"Sekali lagi Mamah menjelek-jelekkan istriku. Jangan harap aku mau bertemu dengan Mamah lagi," tegasnya.
__ADS_1
Niar hanya bisa menghela napas kasar. Hinaan demi hinaan selalu saja mertuanya lontarkan. Membuatnya kadang merasa jengah.
"Kenan, antar aku pergi. Aku sudah muak dengan semuanya," ucap Niar.
Baru saja Niar hendak pergi, tangannya dicegah oleh Dirga. "Aku akan antar kamu." Dirga menarik tangan Niar dan memberi isyarat kepada Kenan. Dijawab anggukan kecil olehnya.
"Mau tidur di mana?" tanya Dirga. Tidak ada jawaban dari Niar. Dia masih memandang ke arah luar kaca mobil.
"Sayang, jawab aku," pinta Dirga.
Niar masih membisu. Dia masih marah dan juga kecewa. Apalagi suaminya tiba-tiba menjadi pria plin-plan. Karena tidak tahan dengan sikap diam sang istri. Akhirnya, Dirga menepikan mobilnya.
Dirga melepaskan seat belt dan turun dari mobilnya. Namun, Niar masih tidak bergeming. Hingga Dirga membuka pintu mobil sebelahnya membuat Niar tersentak. Apalagi, Dirga sudah bersimpuh di hadapannya.
"Maafkan aku, aku memang tidak tegas. Karena aku juga takut. Apalagi Mamah mengancam akan mencelakai kamu dan anak kita." Mata Niar melebar ketika mendengar kenyataan yang sesungguhnya.
"Aku takut, aku gak mau terjadi sesuatu sama kalian semua. Jika, itu terjadi sudah dipastikan aku akan gila," terangnya lagi.
"Aku janji, aku gak akan ninggalin kamu. Kamu boleh pukul aku, kamu boleh maki-maki aku. Tapi, jangan pernah diemin aku. Aku gak sanggup, Yang. Kamu dan anak kita sangat berharga untukku," imbuh Dirga.
Niar masih terdiam, tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulutnya. Hatinya masih kecewa.
"Sayang, jawab aku." Dirga menatap manik mata Niar. Hanya tatapan dingin yang Niar berikan.
__ADS_1
Karena suasana semakin malam. Akhirnya, Dirga memilih menyerah untuk membujuk istrinya. Dia melanjutkan perjalanan menuju sebuah hotel mewah. Dan dia sudah memesan president suite room. Agar memberikan kenyamanan kepada sang istri.
Tibanya di hotel, Dirga disambut hangat oleh pegawai di sana. Dan langsung dibawa menuju kamar yang sudah dipesan. Ketika masuk, suasananya sangat nyaman. Dan semua fasilitas lengkap.
Niar segera meninggalkan Dirga dan memilih segera ke kamar mandi. Dia ingin berendam, merelaksasikan pikiran dan hatinya. Dirga hanya menghela napas kasar.
Setengah jam berlalu, Niar tak kunjung keluar dari kamar mandi. Membuat Dirga sedikit khawatir. Dia memberanikan diri untuk membuka kamar mandi. Untung saja tidak dikunci. Matanya melebar ketika melihat istrinya yang tengah terlelap.
"Ya ampun, Yang." Dengan hati-hati Dirga membawa tubuh Niar yang tidak menggunakan sehelai benang pun menuju tempat tidur. Dengan telaten dia mengelap tubuh sang istri. Hingga bibirnya terangkat ketika melihat perut Niar yang bergerak-gerak.
"Halo anak Papih. Bantu Papih buat baikan lagi sama Mamih, ya." Anak yang masih ada di dalam kandungan itu pun seperti merespon dengan gerakan-gerakan kecil.
"Kamu sudah gak marah sama Papih." gumamnya sambil mencium perut sang istri yang terlihat membukit.
Dirga menutup tubuh sang istri dengan selimut tebal agar istrinya merasa hangat. Baru saja Dirga hendak mencium kening Niar. Ponselntq berdering dan Kenan lah yang menghubunginya.
"Hmm."
....
"Apa? Anak kandung?"
...****************...
__ADS_1