Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Merajuk


__ADS_3

"Anak kandung?" tanya Dirga tak percaya.


Kenan mengubah panggilan telepon menjadi panggilan video. Dia memperlihatkan Septi yang tengah bersimpuh di hadapan Deri. Sedangkan Bunga sedang menangis sedih.


"Aku akan mengurus semua berkas perceraian kita," ujar Deri yang berlalu begitu saja.


"Biarkan saja mereka," kata Dirga melalui sambungan video. Dia tidak peduli dengan nasib rumah tangga kedua orang tuanya. Yang dia pentingkan hanyalah sang istri yang masih merajuk kepadanya.


Sedari tadi Niar tidur membelakangi Dirga. Membuat Dirga harus bersabar menghadapi Niar. Bukan salah Niar jika dia bersikap seperti ini. Ini semua karena Dirga yang tidak tegas. Dan karena diancam, akhirnya dia menuruti permintaan sang mamah.


Dirga memilih untuk tidur di sofa dari pada harus mengganggu istrinya. Meskipun, dia tidak bisa memejamkan matanya dan terus menatap tubuh sang istri yang tengah terlelap dengan damainya.


Jam dua dini hari Niar terbangun dari tidurnya. Perutnya terasa keroncongan. Dan malam ini dia ingin sekali memakan nasi goreng di pinggir jalan.


Dia menatap ke arah Dirga yang tengah terlelap. Dan dia pun masih merajuk kepada Dirga. Memilih memesan makanan di aplikasi online. Sepuluh menit hingga setengah jam berlalu. Belum ada juga driver yang menerima pesanannya. Perut Niar sudah mulai keroncongan dan sudah tidak tertahan.


"Kamu lapar, Sayang?" Suara khas bangun tidur seseorang membuat Niar sedikit terkejut.

__ADS_1


Dirga menghampiri sang istri, lalu bersimpuh di depan perut Niar yang sedikit membukit.


"Anak Papih lapar?" tanyanya pada perut Niar. Bibirnya melengkung tatkala anaknya merespon ucapannya.


"Tunggu ya, Papih cuci muka dulu," imbuh Dirga sambil mengecup perut buncit sang istri.


Tak lama Dirga sudah keluar dari kamar mandi dengan wajah yang segar. Tak lupa, Dirga memakaikan jaket ke tubuh Niar dan menggenggam tangan istrinya menuju lantai bawah.


"Mau makan apa, Yang?" tanya Dirga yang kini hanya berdua di dalam.


"Aku pengen nasi goreng pinggir jalan." Jika, sudah menyangkut makanan. Ibu hamil satu ini tidak bisa berlama-lama merajuk. Dirga tersenyum mendengar sang istri mau membuka suaranya. Dan menariknya ke dalam dekapannya.


"Jangan marah lagi, Sayang."


Pintu lift terbuka membuat mereka harus menyudahi adegan romantis yang belum terbalas oleh Niar. Dirga melajukan mobilnya dan mencari tukang nasi goreng yang masih buka di jam segini.


Dengan sabar Dirga mengitari sekitaran hotel dan setelah satu jam berselang, barulah dia mendapatkan tukang nasi goreng yang masih buka. Mereka berdua turun dari dalam mobil dan memesan apa yang diinginkan oleh ibu hamil.

__ADS_1


"Di dalam mobil aja ya, nunggunya. Dingin Yang," pinta Dirga. Dan Niar pun merasakan hal yang sama. Dan memilih mengikuti ucapan Dirga.


Dirga melengkungkan senyum ketika melihat sang istri begitu lahap dengan apa yang disantapnya. Tidak sampai sepuluh menit, nasi gorengnya habis. Dirga hanya menggelengkan kepala.


"Mau lagi?" tawar Dirga. Dia langsung menyuapi Niar dengan nasi goreng miliknya. Setelah dirasa kenyang, mereka kembali ke hotel. Dengan posesifnya Dirga menggenggam tangan Niar. Hingga langkah mereka terhenti ketika melihat Septi sudah ada di loby hotel.


Tangan Dirga semakin menggenggam erat tangan sang istri. Dia takut, jika istrinya akan kabur. Septi dalam keadaan kacau. Matanya sembab dan wajahnya terlihat memprihatinkan. Tetapi, itu tidak membuat Dirga iba.


"Mau apa kamu ke sini?" Pertanyaan yang terdengar sangat dingin dari seorang anak untuk ibunya.


"Tolong bilang ke Papah kamu, jangan ceraikan Mamah."


Mata Niar membola mendengarnya penuturan Septi. Antara percaya atau tidak dengan apa yang didengarnya.


...****************...


Yang minta aku UP tapi gak komen aku sentil nih🤧

__ADS_1


__ADS_2