
Setiap hari Dirga selalu kepikiran akan ibunya. Apalagi Kenan yang selalu menanyakan kapan mereka akan bertemu Septi. Kenan sungguh tidak tega melihat istrinya setiap malam.menanhis secara sembunyi-sembunyi.
Hembusan napas kasar keluar dari mulut Dirga yang tengah menyandarkan tubuhnya di kursi kebesarannya dengan mata yang terpejam.
"Apa Papah mengijinkan?"
Itulah yang Dirga takutkan. Dia sangat tahu bagaimana ayahnya. Akan tetapi, dia juga tidak ingin melihat adiknya terus bersedih. Bukan hanya dia yang sedih, Dirga pun merasakan hal yang sama ketika ibunya sudah tak lagi bersamanya. Dia ingin keluarganya utuh seperti sedia kala. Tidak ada tangisnya dan hanya ada kebahagiaan.
"Aku sudah memaafkan Mamah, aku juga yakin kalau Nindy pun sudah memaafkan Mamah juga. Kami d
rindu, Mamah," gumam Dirga dengan sangat lirih. Tidak dipungkiri rasa sayangnya sangatlah besar kepada Septi.
Seperti ada koneksi antara Dirga dan juga Septi. Dia yang sedang beraktifitas di lapaas pun terdiam sejenak. Dia teringat akan putranya. Suara putranya seakan dekat dengannya. Septi mencari-cari sosok putra pertamanya. Dia berharap Dirga menjenguknya. Namun, tak ada siapa-siapa.
"Mamah merindukan kamu, Nak. Mamah rindu Nindy juga," lirih Septi seraya menundukkan kepalanya.
Septi hanya malu jika putranya itu sering menjenguknya. Dia merasa tidak pantas untuk diperlakukan seperti itu oleh Dirga. Dia hanyalah ibu yang jahat, ibu yang hampir menjerumuskan putranya demi harta.
"Maafkan Mamah, Dirga. Mamah sudah jahat sama kamu juga istri kamu," lirihnya.
Bagi Septi, Dirga tetaplah putranya. Terlepas Dirga tidak lahir dari rahimnya. Septi menyayangi Dirga dengan sangat tulus begitu juga dengan Dirga.
Bukan hanya Dirga dan Septi yang memliki koneksi hati. Nindy yang tengah menggendong Arshen seperti mendengar suara mamahnya. Suara yang sudah tidak pernah dia dengar lagi setelah mamahnya masuk ke dalam jeruji besi. Suara yang sangat dia rindukan.
"Ndy, kangen Mamah." Batinnya berbicara sangat lirih. Wajahnya yang riang kini berubah menjadi sendu.
Ada kerinduan yang tak mampu diutarakan. Ada kerinduan yang hanya bisa Nindy simpan sendirian. Dia hanya tidak ingin orang lain melihat kerapuhannya. Dia tidak ingin orang lain mengiba kepadanya. Dia ingin terlihat kuat, pada nyatanya hatinya bagai tahu tanpa formalin.
Berkali- kali Niar sudah sering memancing Nindy perihal ibunya. Akan tetapi, Nindy enggan menjawabnya. Dia memilih bungkam atau bermain bersama Arshen. Terlihat banyak beban yang Nindy pikul di pundaknya. Ingi rasanya Niar mendesak adik iparnya itu. Namun, itu bukan kapasitasnya. Dia tidak ingin Nindy membencinya. Biarkan Nindy yang akan berbicara sendiri kepadanya. Melepaskan beban yang dia emban dengan keikhlasan bukan dengan keterpaksaan.
Kembali ke kantor Dirga. Dia masih menimbang-nimbang. Hatinya masih bimbang karena dia takut menyakiti ataupun menyinggung sang ayah. Dirga sangat menyayangi Deri. Dia tidak ingin melihat ayahnya murka ataupun bersedih. Sampai saat ini pun dia belum bisa membahagiakan Deri. Orang yang sudah berbaik hati mengangkatnya sebagai anak. Orang yang memberikan kasih sayang yang tulus kepadanya.
"Pak, sampai kapan? Saya kasihan sama istri saya," tukas Kenan. Dirga cukup terkejut dengan apa yang diucapkan Kenan. Apalagi, pikirannya yang tengah berkelana ke sana ke mari. Dirga masih bergeming, tidak ada satu patah katapun yang keluar dari mulutnya. Kenan harus bisa mengerti sang bosnya itu. Masalah ini bukanlah Maslah mudah, apalagi sudah menyangkut masalah hati dan keluarga. Hal yang sangat sensitif.
Sampai di rumah pun Dirga masih kepikiran tentang ibunya. Dia belum berani menghadap kepada sang ayah. Wajah Dirga pun terlihat berbeda, tidak seperti biasanya. Niar yang melihat wajah suaminya Seperi itu hanya bisa menghembuskan napas kasar. Dia bingung harus melaporkan perihal Nindy atau jangan. Dia terus menimbang-nimbang dan pada akhirnya dia membuka suara.
"Pih, tadi Nindy terlihat murung. Sepertinya dia teringat akan Mamah lagi deh," kata Niar dengan ucapan yang sangat hati-hati.
Hati Dirga akan sakit ketika mendengar adiknya bersedih. Nindy adalah adik yang sangat dia sayangi. Dia akan melakukan apapun untuk kebahagiaan Nindy seperti janjinya sewaktu kecil. Dia akan menjaga Nindy dan melindungi Nindy termasuk dari rasa sedih yang berkepanjangan.
"Cepat bicara sama Papah, Pih," titah Niar. Tangan Niar sudah menggenggam tangan Dirga. Dia juga menatap ke arah sang suami dengan sorot mata penuh cinta. "Apapun keputusan Papah harus kita hargai. Kita tidak boleh memaksa, yang penting kita sudah berusaha," tutur Niar. Dirga mengangguk mengerti. Dia harus menguatkan mentalnya untuk menghadap papahnya besok. Dia juga sudah tidak bisa menahan semuanya lagi.
Hari ini, Dirga berencana untuk berbicara dengan sang ayah perihal ibunya juga Nindy. Dia sudah tidak sanggup lagi menahannya, dia juga kasihan kepada sang adik yang terus bermandikan air mata, jika mengingat sang mamah. Walaupun Nindy tidak menunjukkan, orang terdekatnya pasti akan merasakan keanehan pada diri Nindy. Anak yang memang terlihat ceria, tetapi menyimpan banyak sekali derita.
"Mamih, malam ini Papih pulang sedikit telat, ya. Papih mau ke rumah Papah dulu," ujar Dirga, disela mengunyah makanannya.
"Mau berbicara perihal Mamah?"
Dirga mengangguk pelan. Istrinya sudah tahu semuanya, ini juga atas saran dari Niar apalagi beberapa hari kemarin papah mertuanya terlihat sangat kesepian dan memilih bermain bersama Arshen.
"Ya udah, salam sama Papah, ya."
Niar berharap, hati papahnya tidak sekeras batu dan bisa mengijinkan Nindy untuk bertemu dengan ibundanya. Biarlah Nindy yang terlebih dahulu bertemu dengan Septi. Setelah semuanya selesai dan kembali membaik, giliran Niar yang akan menemui Septi dengan membawa Arshen. Pasti ibu mertuanya itu sangat bahagia. Apalagi Arshen merupakan cucu pertama untuk Septi.
Selesai bekerja, Dirga segera ke rumah sang papah. Nindy sedikit mengerutkan dahinya ketika melihat kehadiran sang kakak di depan rumah.
"Tumben, Kak Niar mana?" tanya Nindy, setelah membukakan pintu. Niarlah yang Nindy tanyakan karena biasanya sang kakak tidak akan datang ke rumah Deri seorang diri.
__ADS_1
"Dia ada di rumah. Pulang kerja Kakak langsung ke sini," jawabnya. Nindu hanya menganggukkan kepalanya pelan.
Dirga mencari sosok papahnya, tetapi sang ayah tidak ada. Nindy tahu kakaknya ini mencari siapa. Tidak mungkin akan mencari suaminya. Kenan saja belum pulang.
"Jam segini Papah di ruang kerja. Ke atas aja," titah Nindy. Dia pun berlalu meninggalkan sang kakak. Dirga sedikit ragu, ruang kerja papahnya itu sangatlah privasi. Apakah dia boleh masuk? Itulah keraguannya.
Langkah kaki Dirga membawanya menuju ruangan kerja sang papah. Sebelum dia mengetuk pintu ruang, dia menghela napas kasar terlebih dahulu. Kemudian, barulah dia ketuk pintu ruang tersebut, ada suara yang menyahutinya dari dalam. Tangan Dirga menekan gagang pintu ruangan kerja papahnya. Dilihatnya
Deri yang tengah fokus pada lembaran-lembaran berharganya, menegakkan kepalanya ke arah lirih dan ternyata sang putra sudah berada di ruangan kerjanya. Dahinya sedikit mengkerut melihat kedatangan sang putra. Tidak biasanya Dirga datang ke rumahnya tanpa memberitahukan terlebih dahulu.
"Mana cucu Papah?" Beginilah Deri sekarang. Bukan anak yang ditanyakan malah cucu.
Dirga tidak menjawab, dia mulai mendekat ke arah sang ayah dan duduk di hadapannya. Dahi Deri sedikit mengkerut melihat tingkah laku sang anak.
"Ada apa?" sergah Deri.
Dirga menarik napas panjang terlebih dahulu sebelum dia membuka suara. Dia menatap ke arah Deri. Lama Dirga tidak menjawab membuat Deri mendesah panjang.
"Ada apa, Ga? Kedatangan kamu ke sini pasti ada maksud dan tujuan 'kan," sergah Deri.
Dirga bukanlah orang yang senang berbicara berdua dengan sang ayah, kecuali ada keperluan yang penting.
"Ini masalah mamah, Pah," jawab Dirga dengan sangat hati-hati.
Wajah Deri mulai berubah. Deri pun terdiam bagai patung. Melihat mimik muka Deri yang seperti ini membuat hati Dirga mulai tak karuhan. Dia takut jika sang ayah akan murka. Ucapan Dirga pun tak Deri balas sama sekali. Jantung Dirga pun sudah berdetak sangat cepat.
Keadaan seketika hening. Tidak ada yang membuka suara. Dirga pun tidak berani menatap wajah sang ayah. Dia takut papahnya akan murka. Dirga masih menunggu jawaban dari Deri dalam diam, sedangkan Deri menunggu Dirga untuk melanjutkan ucapannya. Mereka hanya saling tunggu.
Kelamaan hening, akhirnya Dirga membuka suaranya kembali. "Jujur, Pah, aku sering bertemu dengan Mamah," tukas Dirga.
Mata Deri pun melebar mendengar ucapan dari Dirga, dia sedikit tidak percaya dengan apa yang dikatakan oleh Dirga. Akan tetapi, sorot mata Dirga tidak menunjukkan kebohongan. Septi dijebloskan ke dalam penjara oleh Dirga dan Dirga masih menemui Septi di sana. Bagiamana bisa?
"Aku tidak bisa melihat Mamah menderita, Pah. Istri aku pun sudah memaafkan Mamah," lanjutnya. Sungguh Deri terkejut dengan apa yang dikatakan oleh putranya. Namun, dia masih menunjukkan ekspresi biasa.
"Tidak udah bertele-tele. Langsung ke inti saja," pungkas Deri dengan tatapan datar.
"Aku ingin Nindy bertemu dengan Mamah. Akau tahu, Nindy juga sangat merindukan mamah. Sejahat apapun mamah, beliau adalah ibu kami, Pah. Wanita yang menyayangi aku dengan sangat tulus. Wanita yang telah berjuang antara hidup dan mati untuk melahirkan Nindy. Nindy itu hanya kecewa, bukan benci kepada Mamah. Sama halnya seperti Mamah yang sangat merindukan Nindy," jelasnya.
Deri hanya terdiam, dia kira kedua anaknya sudah membenci Septi. Pada nyatanya tidak seperti itu. Ada kelegaan di hati Deri.
"Pah, aku mohon ... aku hanya ingin melihat Nindy tidak sedih lagi," pinta Dirga dengan sorot mata penuh permohonan.
Dalam hati kecil Deri dia sangat merasa bersyukur karena kedua anaknya memiliki hati yang lapang untuk memaafkan ibunya. Dia tidak menyangka bahwa menantunya akan dengan mudah memaafkan Septi. Deri benar-benar dikeliling malaikat tak bersayap, yaitu kedua anaknya serta menantunya.
"Setiap malam, Nindy selalu menangis karena rindu kepada Mamah. Apalagi ketika dia menikah, bohong jika hatinya tak menangis keras," tambah Dirga lagi. Deri masih lama terdiam dan Dirga tidak berani mendesak ayahnya. Dirga mengiranya bahwa Deri masih marah kepada Septi dan tidak mengijinkannya untuk bertemu dengan Septi.
"Kapan kamu akan mempertemukan Nindy?"
Mata Dirga melebar sempurna mendengar ucapan Deri. Dirga yang mengira papahnya akan marah malah sebaliknya. Dia sangat terkejut dengan apa yang dikatakan oleh Deri. Dirga hanya terdiam. Dia takut itu hanya halusinasinya saja.
"Kapan kamu akan membawa Nindy?" tanya Deri lagi.
Lagi-lagi Dirga masih membisu. Dia belum percaya dengan apa yang dikatakan oleh sang ayah. Dirga berdecak kesal. Dia melempar pulpen ke arah tubuh Dirga hingga Dirga sedikit terlonjak.
"Pa-pah gak bercanda 'kan?" sergah Dirga. Dia takut ayahnya hanya memberi harapan palsu. Padahal dia sudah sangat antusias.
"Sejak kapan Papah kamu ini suka bercanda?" balas Deri dengan tatapan tajam.
__ADS_1
Deri adalah orang yang tidak Suak bercanda ketika ada orang yang berbicara serius dengannya. Namun, Dirga masih merasa takut dan ragu.
"Apa benar Papah mengijinkan? Kenapa dengan mudahnya?" Begitulah batinnya.
Deri terlihat sangat kesal ketika melihat putranya kembali diam tdan terbengong.
"Kapan kamu dan Nindy bertemu Mamah kalian?" tanya Deri dengan sorot mata meminta jawaban.
"Se-secepatnya," jawab Dirga terbata.
Dirga ingin tahu respon dari ayahnya. Ternyata sang ayah mengangguk pelan dengan seulas senyum. Sungguh hati Dirga merasa lega.
"Sampaikan salam Papah kepada Mamah." Dirga mengangguk dengan mata yang sudah berlari. Sungguh hatinya bahagia sekali. Tidak ada penolakan ataupun negosiasi yang alot dengan sang ayah. Kali ini, Dirga hanya bisa mengangguk. Jika, dia tidak malu ingin rasanya dia menangis di hadapan sang ayah.
Setelah semuanya selesai dan ijin sudah didapat. Dirga pulang dengan hati yang sangat bahagia. Dia kira akan sulit untuk bernegosiasi dengan sang ayah. Nyatanya, ayahnya malah tidak mempermasalahkan semuanya. Haru bahagia yang Dirga rasakan. Dia benar-benar tidak menyangka.
Ketika dia tiba di rumah, Dirga segera memeluk tubuh sang istri dengan berlinang air mata. Niar sangat terkejut dengan ucapan sang suami.
"Kenapa Papih nangis?" tanya Niar. "Kalau Papah gak ngijinin nanti kita
usaha lagi." Niar sudah mengusap lembut punggung Dirga. Namun, Dirga masih tetap terisak. Isakannya malah semakin keras. Niar merasa sangat kasihan kepada Dirga, yang dia bisa lakukan hanya memeluk tubuh Dirga dan menguatkannya.
Tak lama Dirga mengurai pelukannya dan tersenyum ke arah sang istri tercinta.
"Papah ngijinin."
Sebuah kalimat yang membuat Niar tersenyum lebar. Dia sudah berpikiran buruk bahwa sang ayah mertua akan menolak permintaan Niar. Akan tetapi, semuanya salah. Rona bahagia tidak bisa Niar sembunyikan. Kini, dia memeluk tubuh Dirga dengan erat.
"Papah malah terlihat sangat bahagia," lanjutnya lagi. Senyum Niar semakin melebar.
"Alhamdulillah. Mamih udah takut duluan, takut Papah marah dengan rencana kita." Dirga menggeleng. Dia membalas erat pelukan sang istri.
"Makasih ya, sudah maafin Mamah," ucap tulus Dirga.
"Tidak perlu berterima kasih. Manusia seharusnya bisa saling memaafkan. Tuhan saja maha pemaaf," tukasnya. Dirga tersenyum mendengar ucapan sang istri tercinta.
"
"Mamih sudan memaafkan Mamah dari sebelum Arshen lahir. Mamih ingat ucapan Bunda, ketika akan melahirkan hilangkan semuanya. Semua rasa benci dan dendam hilangkan. Mamih harus belajar memaafkan setiap kesalahan orang lain, supaya jalan Arshen lahir lancar."
Dirga semakin sayang dan cinta kepada istrinya ini. Dia selalu menuruti perintah ibunya selagi perintah itu untuk kebaikannya. Niar adalah anak yang sangat penurut. Tidak pernah membangkang ucapan sang ibu. Niar berpegang teguh bahwa surga berada di bawah telapak kaki ibu.
"Papih sangat beruntung memiliki istri seperti Mamih." Kecupan hangat Dirga berikan di kening Niar. Niar hanya salat tersenyum.
Di kediaman Deri, pria paruh baya itu tersenyum manis. Hatinya merasa sangat lega, yang dia takutkan ternyata tidak benar. Sesungguhnya anak-anaknya tidak membenci ibu mereka. Hanya rasa kecewa yang perlahan hilang. Sekarang, mereka malah merindukan ibunya. Wanita yang sudah merawat mereka dari semenjak mereka kecil. Kedua anak Deri adalah anak-anak luar biasa, mampu memaafkan kesalahan sang ibu dengan tulus ikhlas.
"Setiap orang pernah melakukan kesalahan, Pah. Aku sudah memaafkan kesalahan Mamah. Istri aku juga sudah memaafkan Mamah. Jangan selalu melihat seseorang itu dari sisi buruknya. Sisi buruk setitik diingat selalu, tetapi kebaikan yang pernah diukirkan tidak pernah diingat. Jangan seperti itu, Pah. Orang baik memiliki masa lalu dan orang jahat memiliki masa depan."
Penjelasan Dirga membuat hati Deri benar-benar bahagia. Putra yang sangat dia sayangi sudah sangat dewasa. Putra yang selalu dia bawa ke kantor hingga menjadi pergunjingan karyawan lain kini menjadi anak kebanggaannya. Meskipun, Dirga bukan darah dagingnya. Dari didikannya lah Dirga tumbuh menjadi anak yang hebat. Deri sangat bangga kepada putra pertamanya itu.
Anak yang dia temukan di dalam sebuah kardus tak jauh dari rumahnya. Anak yang sudah membiru karena kedinginan. Anak yang membawa rezeki yang sangat banyak untuknya. Tidak ada alasan untuk Deri tidak menyayangi Dirga. Dirga adalah alasannya untuk bangkit dari setiap keterpurukan yang ada. Dirga adalah sumber energi untuknya.
"Pa-pah."
Kata itu yang masih Deri sampai sekarang. Anak yang baru bisa merangkak sudah bisa memanggilnya dengan sebutan Papah. Padahal, dia mengajarkan Dirga untuk memanggilnya Papih, tetapi Dirga kecil malah memanggilnya dengan sebutan Papah. Rasa haru bercampur bahagia jadi satu.
"Makasih, Nak. Kamu selalu menjadi pelipur segala lara di hati Papah. Kamu adalah anugerah Tuhan yang dititipkan Tuhan kepada Papah. Tanpa kamu, hidup Papah tidak akan seperti ini. Tanpa kamu, perusahaan Papah tidak akan sebesar ini. Makasih, Dirga Anggara," ucap Deri dengan suara yang bergetar. Dia berbicara dengan menatap foto sang putra yang tengah tersenyum bahagia di hari pernikahannya dengan Niar.
__ADS_1
"Papah juga yakin, Mamah Septi sangat menyayangi kamu dengan tulus."
Deri selalu berdoa agar Septi baik-baik di sana. Meskipun mereka sudah tidak bersama, ada anak-anak yang akan mengikat mereka berdua lagi.