Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Aku atau Wanita Itu


__ADS_3

Kenan sudah menghubungi dokter umum sekaligus dokter kandungan. Tanpa Dirga meminta, Kenan sudah tahu apa yang harus dia lakukan.


Setelah dilakukan pemeriksaan oleh kedua dokter. Mereka semua dapat bernapas lega. Niar hanya stres dan kelelahan. Kondisi kandungannya pun sangat sehat. Dirga sangat merasa bersalah kepada istrinya sekarang ini. Wajah istrinya sangat pucat. Setiap kali Dirga menyentuh perut sang istri. Anak itu seolah tidak merespon sentuhan lembut sang ayah. Seakan anak itu tahu ayahnya telah membuat ibunya sedih dan kecewa.


Deri menghela napas kasar dan menyentuh pundak Dirga. "Janji adalah hutang. Dan ketika kamu menepati janji itu, ada dua orang manusia yang terluka. Tanpa tahu sebab dari awalnya seperti apa. Seperti terkena getah. Sedangkan kamu yang makan nangkanya," ujar Deri.


Mata Niar kemudian mengerjap. Perlahan dia membuka matanya dan menatap orang-orang di sekelilingnya. Dia mencoba untuk bangkit dari posisi tidurnya. Namun, ditahan oleh Dirga.


"Jangan bergerak dulu, Sayang," ucap Dirga.


Niar menatap Dirga dengan tatapan benci. Dia merasa dikhianati oleh suaminya sendiri.


"Aku mohon, kalian semua pergi dari kamar ini. Aku ingin sendiri," imbuh Niar.


"Nggak, Yang. Aku gak akan biarin kamu sendiri di sini. Aku takut kamu pingsan lagi," jelasnya.


"Apa dengan kehadiran kamu di sini menjamin hatiku akan kembali baik-baik saja?" sergah Niar.

__ADS_1


Dirga tidak bisa menjawab ucapan Niar. Sungguh perkataan Niar mampu membuat lidah Dirga kelu.


"Apa Papah boleh bicara dengan kamu?" tanya Deri. Niar hanya terdiam.


"Papah hanya akan bicara dengan kamu berdua. Empat mata saja. Dan mereka nanti Papah suruh keluar." Niar pun mengangguk pelan.


"Hargai istri kamu, turuti apa keinginannya. Jangan egois! Karena hati istri kamu ini sedang rapuh." Rasanya enggan untuk meninggalakn Niar. Dirga juga sadar sedari tadi Niar tidak pernah memandangnya. Serta menganggap dirinya ada.


Deri masih berada di dalam kamar Niar. Sedangkan yang lain, sudah keluar. Deri menatap nanar ke arah sang menantu.


Niar masih membeku, terlalu sakit menghadapi kenyataan yang ada.


"Hampir tiga tahun yang lalu, Dirga mabuk parah. Setiap kali dia gagal mencari keberadaan kamu, minuman alkohol yang menjadi pelariannya. Dan malam itu, Dirga baru pulang dari sebuah club malam. Pulang dengan kondisi mabuk dan kekeh ingin menyetir sendiri. Di tengah perjalanan, mobilnya menabrak mobil yang berada di depannya. Hingga mobil itu terbalik dan menewaskan dua orang dan satu selamat. Dua orang itu adalah orang tua Bunga," jelas Deri.


"Karena panik, ditambah Dirga juga sudah mulai tak sadarkan diri karena pengaruh alkohol berlebih. Mamah mertua kamu berdamai dengan Bunga tanpa sepengetahuan Dirga. Karena dia takut Dirga masuk penjara dan perusahaannya hancur." Niar tersenyum tipis mendengar penjelasan Deri.


"Dan ketika Dirga sadar dan mengetahui perjanjian yang telah dibuat oleh mamahnya. Dirga semakin murka dan membenci kami. Apalagi perjanjiannya itu menikah. Bukan menyangkut harta yang pastinya mampu Dirga berikan tanpa banyak perdebatan."

__ADS_1


"Jika, dari awal kalian sudah memiliki rencana seperti itu. Kenapa kalian malah merestui hubungan kami?" tanya Niar yang menatap lurus ke arah depan.


"Apa ini alasan Mamah sangat membenciku? Semua yang aku lakukan selalu salah di matanya," terang Niar.


Deri terdiam tidak bisa menjawab apa-apa. Hatinya terluka di sini. Melihat Niar yang sangat kacau.


"Kalian tinggal pilih, aku atau wanita itu? Jika, kalian bersikukuh memilih wanita itu dengan alasan perjanjian. Jangan salahkan aku jika aku akan pergi dari hidup anak kalian membawa serta anak yang ada di dalam kandunganku. Dan aku pastikan, kalian tidak akan pernah bisa untuk menemui anakku." Deri tersentak mendengar ucapan Niar.


"Jika, kalian memilih aku. Bawa pergi wanita itu. Karena aku bukan wanita lemah dan bodoh. Atau kalian ingin melihatku membunuh seorang wanita yang harusnya menjadi wanita baik, malah kalian ajari menjadi wanita perusak rumah tangga orang lain?"


...****************...


Komen lagi dong ... biar siang up lagi.


Warning!!


Jika, kalian membaca sebuah cerita dan di situ mulai ada konflik dadakan jangan selalu bilang cerita itu memaksa. Jika, yang sudah mengikuti tulisanku dari karya pertama pasti kalian tahu bagaimana aku memberi konflik. Jari kalian sangat mudah mengetikkan aku gak suka dan BLA BLA BLA. Apa kalian tahu bagaimana perasaan penulis itu? Coba telaah sama kalian, dari ide satu buah kata dijabarkan sedemikian rupa agar menghasilkan seribu kata apa itu mudah? Tidak, Sayang. Perlu waktu berjam-jam untuk menulisnya. Hargai setiap karya yang kalian baca, gak suka lebih baik di skip dan jangan meninggalkan jejak yang akhirnya membuat mental penulis down. Komen kalian itu sebenarnya membuat penulis semangat. Tetapi, bisa membunuh penulis juga. So, bijaklah dalam berkomentar. Suka lanjutkan tidak Suka mundur perlahan. Simple Kan.

__ADS_1


__ADS_2