Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Love You


__ADS_3

Hari ini Niar nampak tak ingin berpisah dengan suaminya. Sedari pagi tangannya memeluk tubuh Dirga terus.


"Kok manja sih?" Senyum kebahagiaan pun melengkung di wajah Dirga. Apalagi, dia bisa merasakan gerakan bayi mereka yang masih di dalam perut.


"Mamih boleh 'kan ikut ke kantor?"


Dirga pun tergelak mendengar ucapan sang istri. Apalagi dia menyebut dirinya dengan sebutan Mamih. Sungguh membuat Dirga merasa bahagia.


"Boleh dong, Mamih Sayang. Papih mandi dulu, ya."


Bukan hanya Dirga yang bahagia mendengar sebutan Mamih yang keluar dari bibir Niar. Hati Niar pun mencelos mendengar sebutan Papih yang Dirga ucapkan. Seperti menjadi keluarga yang sangat sempurna.


Dirga memeluk tubuh Niar dari belakang ketika Niar tengah merapihkan rambutnya.


"Jangan cantik-cantik," ucap Dirga yang kini meletakannya dagunya di pundak sang istri.


"Ya ampun, Mamih gak pakai bedak loh, Pih. Semenjak hamil Mamih malas dandan," terangnya.


Dirga pun tersenyum dan membalikkan tubuh sang istri tanpa melepaskan pelukannya.


"Dandan atau tidak dandan, Mamih akan selalu cantik."


Apa yang dikatakan Dirga benar adanya. Kulit putih Niar dan wajahnya yang mulus membuat kecantikan alami Niar terpancar. Hanya saja tubuh Niar yang sedikit berisi, tetapi tidak.memudarkan keseksiannya.


Dirga dan Niar sudah keluar kamar. Mbok Sum sudah menyiapkan sarapan untuk mereka berdua. Namun, sudah seminggu ini Niar sedang hobi meminum air kelapa hijau di setiap pagi dan malam. Serta bubur kacang hijau dengan roti tawar menjadi menu sarapan wajib untuk Niar.


"Emang kenyang cuma sarapan itu?" tanya Dirga.


"Kan ada karbohidratnya dari roti, lumayanlah buat ganjal perut. Lagi pula ibu hamil disarankan untuk mengkonsumsi ini karena bagus untuk kulit calon anak kita nanti." Niar menjelaskan sambil mengusap lembut perut buncitnya.


Dirga tersenyum dan mengusap lembut kepala Niar. Dikehamilan ini, berat badan Niar naik lebih dari sepuluh kilogram. Akan tetapi, Niar dan Dirga tidak mempermasalahkannya. Malah Dirga tidak ingin melihat istrinya kurus ketika tengah mengandung. Dirga lebih cerewet ketika Niar tidak mau makan. Ada bayi mereka yang memerlukan asupan makanan. Ketika Niar manja, Dirga akan mengikuti kemanjaannya. Dia teringat akan ucapan sang papah.


Semasa kehamilan istrimu, manjakanlah dia karena kita tidak pernah tahu apa istri kita akan bisa mengandung lagi nantinya. Jangan sampai kamu menyesal.


Dirga dan Niar masuk ke dalam mobil menuju kantor. Tangan mereka terus bertautan bagai dua insan manusia yang tidak ingin terpisahkan. Sesekali Dirga pun mencium tangan Niar juga mengusap lembut perut sang istri tercinta.


Kedatangan sepasang suami-istri ini menjadi bahan tontonan para karyawan di sana. Kemesraan yang abadi dan kecantikan Niar yang tak tertandingi. Begitu juga dengan kegagahan Dirga yang tak terbantahkan.


Kenan mendengkus kesal ketika melihat sang bos yang baru masuk ke dalam ruangan sudah menggandeng tangan istrinya. Kenan memperhatikan Niar dari ujung rambut dan ujung kaki. Niar yang kecil kini berubah menjadi besar. Namun, kecantikannya tetap terpancar luar biasa. Malah semakin cantik semenjak hamil. Kenan membayangkan bagaimana jika istrinya hamil nanti. Apakah akan seperti Niar? Untuk sekarang, Kenan hanya bisa mengkhayal.

__ADS_1


Dirga dapat melihat raut tidak suka yang Kenan berikan kepadanya. Namun, Dirga tidak menghiraukannya malah dia semakin sengaja. Sikap manja Niar tidak pernah Dirga permasalahkan. Malah, dia dengan senang hati mengikuti kemauan sang istri.


Ujung mata Kenan sesekali melirik ke arah bosnya yang tak pernah mengeluh ketika sang istri memanggilnya lagi dan lagi. Bolak-balik dari kursi kebesarannya ke sofa tempat di mana Niat berada. Pekerjaan banyak yang tengah Dirga hadapi tak membuat dia mengabaikan panggilan Niar. Dia masih mau menghampiri Niar yang sangat manja bagai anak kecil. Kenan dapat memaklimj karena Dirga pun sudah mengatakan kepadanya bahwa hormon ibu hamil utuh berbeda-beda. Niar malah semakin manja. Di situlah kesabarannya diuji. Namun, setelah papahnya menasihatinya, ternyata manjanya Niar bukanlah ujian. Malah sebagai kebahagiaan yang Dirga dapatkan.


Dari atasannya, Kenan banyak belajar bahwa wanita itu sangat bahagia jika diperlakukan spesial dan diprioritaskan. Perhatian kecil, kejutan kecil akan menjadi sebuah memori yang indah yang terukir di kepala wanita. Kenan sudah membuktikan bahwa hal kecil saja mampu membuat istrinya bahagia. Kebahagiaan tidak dapat diukur dalam bentuk apapun. Wajah bahagia Nindy itulah yang selalu ada di kepala Kenan.


Jam makan siang tiba, Dirga segera pulang bersama istri manjanya. Apalagi Niar sudah mengeluh lapar dan juga ingin berbaring di tempat tidur. Bibir melengkung dengan sempurna. Kini, bos sekaligus sahabatnya sudah menemukan kebahagiaannya. Penderitaan busnya lebih dari lima tahun kini berbuah manis. Wanita yang dia cari, wanita yang dia inginkan sudah berada di dalam dekapannya. Malah, sekarang tengah mengandung buah hati mereka berdua yang akan semakin memperkuat cinta mereka berdua.


Meliha perhatian Dirga kepada istrinya membuat Kenan memiliki inisiatif bagus. Siangn ini Kenan memilih untuk makan siang di rumah. Jika, istrinya tak masak pun tidak akan jadi masalah. Toh, mereka bisa makan di luar karena Kenan bukanlah pria yang ribet.


Sesampainya di rumah, keadaan nampak sepi, Kenan segera masuk ke dalam kamar. Namun, tak dia temui istri tercintanya. Ponsel Nindy ada di atas nakas. Barang yang tidak akan pernah ketinggalan yang Nindy bawa adalah ponsel. Kenan turun ke lantai bawah. Terdengar ada suara di dapur. Bibirnya melengkung dengan sempurna ketika melihat istrinya dengan memakai kaos gombrong dengan hotpants tengah memunggunginya. Kenan mengendap-endap menghampiri Nindy yang tengah fokus pada panci di depannya. Tangan Kenan pun melingkar di perut sang istri dan Nindy cukup tersentak dibuatnya. Namun, aroma parfum yang sangat dia kenali membuatnya tersenyum.


"Tumben pulang?" Nindy masih melanjutkan aktifitasnya tanpa menoleh.


"Kangen istri tercinta Mas," jawab Kenan. Nindy pun terkekeh.


"Gombal!"


Kenan malah semakin mengeratkan pelukannya. Dia melihat Nindy menuangkan mie rebus dengan toping sosis dan aneka bakso seafood serta bakso urat.


"Kayaknya enak tuh," ucap Kenan.


Kenan menunggu sang istri di meja makan. Padahal di meja makan sudah tersedia aneka sayur dan juga lauk buatan asisten rumah tangga di rumah Deri. Namun, tidak membuat Kenan berselera. Dia malah menginginkan mie rebus aneka toping yang istrinya buat.


Nindy sudah membawa mangkuk besar berisi masakannya. Dia juga mengambil mangkuk kecil. Akan tetapi, Kenan tidak mau memakai mangkuk tersebut.


"Semangkuk berdua enak kali, Sayang."


Nindy tertawa melihat sikap manja Kenan. Namun, Nindy malah suka dengan sikap yang jauh berbeda dari biasanya. Nindy menyuapi suaminya mie rebus buatannya. Padahal Kenan tidak suka dengan mie instan atau makanan cepat saji. Akan tetapi, menikmati makanan berdua dengan sang istri membuat rasanya sangat berbeda. Bukan hanya bumbu mie instan itu yang lezat, tetapi cinta mereka yang sedikit demi sedikit semakin kuat.


Kenan menyudahi makan siangnya dengan Nindy yang sudah menyeka ujung bibir sang suami.


"Nanti malam mau makan di mana?" tanya Kenan setelah meneguk satu gelas air putih.


"Aku sebenarnya ingin seblak yang lagi viral di Kota Bandung," ungkap Nindy.


"Setelah kamu selesai datang bulan, kita akan ke sana," balas Kenan.


"Kenapa harus nunggu selesai datang bulan?" Nindy berpura-pura tidak mengerti.

__ADS_1


Dirga berdecak kesal dan mendekatkan wajahnya di telinga Nindy.


"Biar gak sia-sia dan sekalian belah duren." Nindy menatap jengah ke arah Kenan, sedangkan Kenan terkekeh dan memeluk tubuh istrinya.


"Mas sudah 'kan dengan ucapan Mas tadi?" tanya Nindy sambil mendongakkan kepala tanpa melepaskan tangannya yang tengah melingkar di pinggang Kenan.


"Serius sayang," jawab Kenan sambil menangkup wajah Nindy. Kemudian, dia mengecup kening Nindy sangat dalam. Hati Kenan merasa sangat bahagia. Dia merasa bahagia Nindy sudah benar-benar membuka hatinya.


"Mas, ke kantor lagi, ya." Kenan menyudahi acara peluk memeluk. Kini, dua mengecup singkat bibir sang istri. Nindy mengangguk dan mengantar Kenan sampai depan rumah. Lambaian tangan Nindy membuat hati Kenan sangat bahagia.


Kebahagiaan yang telah lama hilang di dalam diri Kenan kini hadir kembali. Lima tahun hidup dalam kesendirian, kesepian, dan bergelut dengan kesedihan membuatnya lupa akan yang namanya bahagia. Setelah menikahi Nindy, hanya kebahagiaan yang Kenan rasakan. Dia berjanji pada dirinya sendiri bahwa dia akan berusaha membahagiakan Nindy dengan apa yang dia miliki.


Mengerjakan segala pekerjaan di kantor dengan hati bahagia akan membuat pekerjaan itu cepat selesai. Lengkungan senyum terus terukir di bibir Kenan. Sesekali dia mengirim pesan manis untuk sang istri yang nantinya akan dibalas lebih manis oleh Nindy. Benar-benar seperti anak ABG yang baru mengenal cinta.


Setelah pekerjaannya selesai, Kenan tidak memberitahu Nindy terlebih dahulu bahwa dia pulang lebih awal. Sang istri sedang rebahan di atas sofa dengan TV yang menyala. Namun, tangannya tengah menari-nari di atas layar ponsel.


"Suami pulang kok gak disambut."


Mendengar suara Kenan, Nindy segera menoleh ke arah suara. Dia tersenyum dan segera meletakkan ponselnya. Bangkit dari posisi rebahannya dan sedikit berlari menuju Kenan. Memeluk tubuh suami dan mengecup pipi Kenan kiri dan kanan. Sambutan yang membuat Kenan teramat bahagia.


"Aku siapakan air ...."


Ucapan Nindy menggantung ketika Kenan memberikannya sebuket bunga mawar merah.


"I Love You."


Nindy benar-benae terkejut dengan apa yang dilakukan oleh Kenan. Hal yang sangat romantis yang tidak pernah Nindy bayangkan sebelumnya. Nindy menerima bunga mawar merah segar tersebut dan langsung menciumnya. Dia menatap sang suami dengan mata yang nanar.


"Love you too, Mas."


Sungguh kalimat yang Kenan nanti-nanti dan akhirnya Nindy ucapkan. Kenan memeluk tubuh Nindy dengan penuh cinta.


"Makasih, telah menerimaku, Sayang." Kenan mengecup kening Nindy sangat dalam.


Mereka berusaha saling tatap dengan senyum yang sama-sama merekah di bibir mereka berdua.


"Hanya lihat aku, Mas. Jangan lihat masa lalumu. Hanya lihat masa depan kamu, Mas. Akulah masa depan kamu." Kalimat yang Nindy ucapkan dari lubuk hatinya yang paling dalam.


Hati Kenan mencelos mendengarnya. Ucapan itu terdengar penuh harap dan sangat serius. Masih ada ketakutan di hati Nindy perihal masa lalu Kenan. Padahal, semenjak memutuskan untuk meminang Nindy, tidak pernah sedikitpun Kenan mengingat masa lalunya. Ketika dia memutuskan untuk menikah dengan Nindy. Di situlah Kenan sudah melupakan masa lalunya.

__ADS_1


__ADS_2