
Ketika Nindy bersikukuh dengan keputusannya, Dirga mengajak Nindy dan Kenan untuk keluar dari kamarnya. Istrinya sudah memakai selimut karena pakaian bagian atasnya sudah Dirga lucuti. Sebelumnya, Dirga menutup pintu kamarnya terlebih dahulu untuk berpamitan kepada Niar.
"Aku urus mereka dulu, ya. Nanti aku balik lagi," imbuhnya. Kecupan hangat pun Dirga berikan di bibir merah Cherry Niar.
"Cepat kembali," pinta Niar.
Dirga tersenyum dan mengangguk. Baru saja dia keluar kamar, hawa peperangan terasa sangat panas. Dirga membawa Nindy dan Kenan ke kamar Nindy. Dia berada di tengah-tengah antara Nindy dan juga Kenan.
"Nindy, apa kamu tega membuat Papah kecewa? Papah sudah sangat antusias mempersiapkan pernikahan kalian," imbuhnya.
Seketika Nindy terdiam sejenak, dia mencerna ucapan sang kakak yang memang benar.
"Anak Papah itu cuma kamu. Pasti Papah akan sangat bahagia jika menikahkan kamu dengan orang yang Papah percaya," tukasnya lagi.
"Tapi, dia tidak mencintai Ndy, Kak."
"Berikan aku kesempatan untuk membuktikan cintaku sama kamu," pinta Kenan.
"Aku tahu aku salah karena tidak berterus terang kepada kamu. Jujur, aku gak bisa memungkiri perasaan ini," jelasnya lagi.
"Ndy, Kakak tahu siapa Kenan. Dia tidak pernah main-main dengan ucapannya. Kakak menerimanya karena Kakak yakin dia bisa membahagiakan dan menjaga kamu," ungkap Dirga.
Akhirnya, Nindy tidak jadi membatalkan pernikahannya. Semuanya akan tetap berlangsung sebagaimana mestinya.
Keesokan paginya, Nindy sudah cantik dengan riasan serta kebaya modern yang menempel di tubuhnya. Berkali-kali Niar memuji kecantikan Nindy, tetapi Nindy seolah tak memiliki semangat.
"Ndy, Kak Niar percaya kalau Pak Kenan itu mencintai kamu. Jika pun dia belum mencintai kamu, apa salahnya jika kamu buat dia jatuh cinta dan bertekuk lutut terhadap kamu? Kamu harus bisa menyingkirkan bayang mendiang istrinya." Sebuah ide yang terdengar sangat jahat.
Nindy menatap ke arah kakak iparnya. Apa yang kakak iparnya katakan benar juga. Ya, dia harus bisa membuat Kenan bertekuk lutut mencintainya.
Nindy sudah Niar bawa ke ruang di mana akan diadakannya ijab kabul. Sesaat Kenan tertegun melihat kecantikan Nindy yang sangat luar biasa. Kesadarannya kembali pulih setelah Nindy duduk di sebelahnya.
Deri mulai menjabat tangan Kenan yang sudah sangat dingin. Meskipun, ini bukan yang pertama untuk Kenan. Tetap saja dia gugup dan takut.
"Saya nikahkan dan kawinkan Engkau Kenan Rhamdani dengan putri saya Nindy Putri Anggara dengan mas kawin dua ratus gram emas dibayar tunai."
"Saya terima nikah dan kawinnya Nindy Putri Anggara dengan mas kawin tersebut dibayar tunai."
Kata sah pun keluar dari mulut para saksi. Akhirnya resmi sudah Kenan dan Nindy menjadi sepasang suami-istri. Lengkungan senyum terukir di wajah Kenan. Hatinya benar-benar lega sekarang.
Nindy mencium tangan Kenan yang kini sudah menjadi imamnya. Begitu juga Kenan yang mencium kening Nindy dengan sangat dalam. Mereka berdua bersimpuh di hadapan Deri. Air mata Deri menetes begitu saja ketika Nindy meletakkan kepalanya di pangkuannya.
"Maafkan Ndy jika sering buat Papah marah. Anak Papah sekarang udah besar," ucapnya.
Deri menangkup wajah Nindy dan mengecup kening putrinya penuh cinta.
"Jadilah istri yang baik dan berbakti ya, Nak. Tugas Papah sudah selesai. Sekarang, waktunya kamu berbakti kepada imam pilihan kamu."
Nindy memeluk erat tubuh Deri. Sekarang saatnya Nindy berpelukan dengan sang kakak angkat, Dirga Anggara.
"Selamat ya, adikku."
Dirga memeluk erat tubuh adiknya ini. Adik kecilnya kini sudah dewasa dan malah sudah sah sebagai seorang istri.
"Jaga Nindy. Papah percaya sama kamu." Itulah yang Deri ucapkan pada Kenan yang sedang bersimpuh di hadapannya.
"Jangan pernah membuat dia menangis," ucapnya lagi.
Kenan hanya bisa mengangguk. Ketika dia mencintai seseorang pastinya dia tidak akan menyakiti perempuan itu.
Tamu undangan berdatangan, begitu juga dengan rekan serta sanak saudara. Tak henti-hentinya mereka mengucapkan selamat hingga Nindy kelelahan.
"Akad aja tamu sebanyak ini, apalagi resepsi," gumam Nindy.
Segelas air mineral diberikan Kenan untuk istrinya. "Maaf sudah membuat kamu lelah," sesalnya.
Nindy bingung sekarang, apa dia harus bersikap ketus atau baik kepada Kenan. Apalagi, dia belum tahu Kenan mencintainya atau tidak. Namun, ucapan Niar terngiang-ngiang di kepalanya.
"Makasih," balasnya lembut.
Kenan pun tersenyum bahagia. Nindy sudah tidak marah lagi. Sedari tadi pun Nindy memasang senyum yang sangat tulus.
"Mau makan gak? Mas suapin, ya." Kenan hendak beranjak dari duduknya, dicekalnya tangan Kenan.
__ADS_1
"Nanti saja di kamar," jawab Nindy.
Mendengar kata kamar, pikiran Kenan sudah berkelana. Dia ingin cepat-cepat melampiaskan puasa panjangnya selama lebih dari lima tahun ini. Namun, keraguan menghampirinya sekarang.
Semoga aku tidak lupa cara memuaskan wanita di ranjang.
Jam dua siang barulah tamu undangan sepi. Nindy dan Kenan naik ke lantai atas di mana kamar Nindy berada. Kamar pengantin itu dihias secantik mungkin.
Nindy mendudukkan diri di tempat tidur. Dia lepas heels yang membuat kakinya pegal. Serta pernak-pernik di kepalanya yang membuat pusing.
"Sini, Mas bantu," ujar Kenan.
Dengan sangat hati-hati Kenan membuka pernak-pernik yang menempel di rambut Nindy. Sesekali Nindy merasa kesakitan ketika aksesoris itu Kenan tarik.
"Pelan-pelan Mas, sakit pas dicabutnya."
Niar yang baru saja hendak mengetuk pintu mengurungkan niatnya mendengar suara Nindy dari dalam yang terdengar parau.
"Nindy dan Kenan mana?" tanya Deri kepada Niar.
"Lagi siang pertama, Pah. Namanya juga pengantin baru," sahut Niar.
Dirga pun tersedak mendengar ucapan Niar, sedangkan Deri tertawa. Deri bukanlah pria kolot dia membiarkan anak-anaknya berbicara santai kepadanya.
"Kamu ngintip?" sergah Dirga.
"Enak aja," dengus sang istri.
"Gak sengaja aja dengar suara Nindy dari dalam," terangnya.
Deri semakin tertawa pecah mendengar ucapan dari menantunya ini. Bukannya Deri tidak tahu semaniak apa Dirga terhadap yang namanya surga dunia. Malah, Dirga tak segan meminta referensi video untuk menambah kelihaiannya dalam memuaskan perempuan yang sangat dia cintai.
Kembali ke kamar, sepasang suami-istri baru ini tidak tahu bahwa di ruangan bawah mereka telah menjadi bahan gosip. Setelah pernak-pernik dilepas semua, kini Nindy membalikkan tubuhnya.
"Mas, bukakan resletingnya, ya."
Jantung Kenan berdegup sangat kencang ketika tangannya perlahan membuka resleting kebaya tersebut. Terpampang nyata kulit punggung Nindy yang sangat putih dan mulus. Kenan menelan salivanya, ingin rasanya dia menyentuh kulit putih itu. Akan tetapi, logikanya masih bekerja dengan semestinya.
Kenan menatap Nindy dengan gairah yang mulai menyala. Aliran darahnya mulai memanasi tubuhnya.
Di dalam kamar mandi Nindy terkekeh. Sebenarnya Nindy tahu bagaimana wajah Kenan ketika terpukau akan punggungnya. Mata yang sendu penuh gairah dia tunjukkan.
"Aku akan membuat kamu bertekuk lutut, Mas," gumamnya.
Nindy menepuk dahinya karena lupa membawa pakaiannya ke kamar mandi. Ide gila pun muncul di kepalanya. Mengesampingkan malu, dia keluar kamar mandi hanya dengan membalut tubuhnya dengan handuk. Bagian yang menonjol sengaja dia buka setengahnya. Dia sangat yakin, duda karatan itu pasti akan tergoda.
Benar saja, Kenan menatap Nindy tanpa berkedip. Tubuh putihnya mampu membuat mata Kenan meremang. Tubuhnya semakin panas dan ada yang semakin mendesak di bawah sana.
"Ya Tuhan ... kenapa dia selalu menggoda iminku." Begitulah batinnya.
Imannya masih kuat, tetapi si Imin yang sudah tidak tahan. Apa dia harus menerkam Nindy di siang bolong seperti ini?
Kenan menggelengkan kepala. Dia tidak ingin memberikan momen pertama yang tidak berkesan.
"Sabar Kenan ... ini adalah ujian."
Kenan memilih masuk ke dalam kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya sekaligus mengguyur kepalanya yang sudah panas.
"Sabar ya, Nak. Sebentar lagi laharmu yang membeku itu akan keluar," ucap Kenan ke arah si Imin yang masih belum mau tertidur.
Lima belas menit berlalu, Kenan keluar dari kamar mandi. Matanya ternoda kembali ketika melihat sang istri hanya memakai tank top dan hot pants. Kenan ingin menghindar, tetapi Nindy malah mendekat.
Tangannya sudah merangkul manja leher Kenan. Senyum manisnya pun tersungging di bibirnya.
"Ambilkan aku makan, ya. Terus suapin."
Sebuah kecupan hangat mendarat di pipi Kenan. Sungguh Kenan seperti patung saat itu. Dadanya berdegup sangat cepat. Gairahnya mulai on kembali. Namun, dia tidak akan memulai sesuatu yang melelahkan ketika istrinya tengah kelaparan.
Kenan keluar dari kamar dengan rambut yang basah. Sontak dia menjadi bulan-bulanan semua orang yang berada di bawah.
"Belah duren kayaknya," ledek Dirga seraya tertawa.
Kenan hanya mengerutkan dahinya mendengar ucapan dari Dirga. Apalagi wajah mertua dan kakak iparnya seakan mengejeknya juga. Dia tidak mempedulikan ocehan keluarga istrinya, yang dia pikirkan adalah perut istrinya yang tengah kelaparan.
__ADS_1
"Abis naik-naik ke puncak gunung ada yang kelaparan," ejek Dirga lagi.
Andai jika Dirga bukan atasannya ingin sekali dia menimpali ucapannya. Sayang seribu sayang, Dirga adalah bosnya sekaligus kakak iparnya. Jadi, dia sama sekali tidak bisa berkutik.
Kenan membawa makanan ke dalam kamar di sana Nindy sudah dalam posisi rebahan dengan memamerkan lekuk indah tubuhnya.
"Sayang, makan dulu," ujar Kenan.
Nindy segera bangun dari posisi semula. Dia tersenyum hangat ke arah Kenan dan mampu membuat hati Kenan menghangat.
"Kok makannya cuma satu? Buat Mas mana?"
"Sepiring berdua aja, Sayang. Biar lebih romantis." Nindy pun tergelak.
Di luar dugaannya, Kenan menyuapinya dengan sangat telaten. Seperti seorang kakak yang tengah mengasuh adiknya. Hati Nindy mulai menghangat. Namun, dia belum yakin bahwa Kenan benar-benar mencintainya.
Setelah selesai makan, Kenan membawa piring itu ke dapur. Mencucinya dengan bersih. Dia sudah terbiasa dengan hal seperti ini. Meskipun, asisten rumah tangga melarangnya Kenan tetap melakukannya.
Ketika kembali ke kamar, Nindy sudah tidak ada di sofa. Dia sudah tengkurap di atas ranjang.
"Mas, bisa tolong pijitin? Tubuh aku pada sakit," keluh Nindy dengan sura manja.
Kenan menghampiri Nindy dan duduk di sampingnya. Tak Kenan sangka Nindy membuka tanktop-nya dan hanya menyisakan penutup dada berwarna merah menyala. Lagi-lagi Kenan hanya bisa menelan ludah.
"Mas pengaitnya buka aja, tolong pijat punggung aku pakai handbody." Nindy sudah dalam posisi tengkurap. Sungguh sangat menyiksa imin Kenan.
Tangan Kenan mulai menyentuh punggung halus nan putih Nindy. Nindy hanya terdiam, dia tengah merasakan sensasi yang berbeda dari tangan seorang pria dewasa yang telah sah menjadi suaminya.
"Enak gak, Sayang?" tanya Kenan. Dia mencoba membuka suara karena sedari tadi keadaan hening. Apalagi Kenan yang tengah berjuang melawan napsunya yang menggebu.
"Hem."
Tangan Kenan terus memijat punggung Nindy, hingga tak sengaja dia menyentuh bokong gempal milik Nindy.
"Mas." Suara Nindy terdengar parau. Aliran darah Kenan semakin memanas.
"Yang ini perlu juga gak, Sayang?"
"Boleh."
Persetujuan yang membuat Kenan kegirangan. Dia menurunkan penutup kain bagian bawah. Deru napas Kenan mulai memburu ketika melihat bongkahan keindahan yang benar-benar surga dunia untuknya.
"Mas, pijat lagi. Kenapa diam?"
Kenan pun tersadar, tangannya ragu untuk menyentuhnya. Akan tetapi, perintah Nindy harus dia laksanakan.
"Ya Tuhan, aku sungguh tak tahan," erangnya dalam hati.
Tangan Kenan mulai menyusuri belakang kaki Nindy. Nindy membekap mulutnya dengan banyak agar tak terdengar suara yang membagongkan yang akan membuat Kenan menyerangnya. Sungguh kali ini Nindy hanya ingin mengerjai Kenan. Dia tidak akan memberikan mahkotanya secara langsung, tetapi harus dengan dicicil.
Kenan benar-benar sudah tidak tahan. Dia mulai membalikkan tubuh Nindya dengan perlahan. Untung saja penutup sesuatu yang seperti balon kembar tidak terbuka.
"Boleh, ya?" Dia benar-benar sudah tidak tahan. Deru napasnya terdengar sangat cepat. Matanya sudah penuh dengan napsu.
"Setelah pijatnya selesai, ya. Badan aku pada pegal semua, Mas," tolak Nindy secara halus.
"Baiklah," jawab lesu Kenan.
Nindy sudah memberikan tangannya untuk Kenan pijat. Tangan Kenan memang bekerja dengan sangat baik, tetapi matanya sama sekali tidak bisa dikondisikan. Balon kembar di depannya sangat mengganggu konsentrasinya.
Setelah tangan, beralih ke perut. Kenan sengaja memijatnya sampai atas perut. Sesekali dia menyentuh balon yang menjadi favorit pria. Nindy hanya bisa berpura-pura tertidur dan menahan gejolak yang kini dia rasakan. Dia berharap, Kenan tidak menyadari ada yang sudah basah di bawah sana.
Melihat wajah Nindy yang sedang terpejam, ingin rasanya Kenan menyerang bibir ranum itu. Namun, lagi-lagi logikanya masih bekerja dengan baik.
"Tidak boleh mengambil kesempatan dalam kesempitan." Itulah yang Kenan katakan dalam hati.
Tangannya terus menyusuri tubuh Nindy. Hingga tangannya berhenti di sebuah area yang selalu membuat pria dimabuk olehnya. Hati Nindy berdegup sangat cepat ketika dia merasakan tangan Kenan menyentuhnya. Untung saja, Kenan segera menyingkirkan tangannya. Memilih memijat kaki istrinya yang mengeluh pegal.
"Ya Tuhan, kenapa hanya bisa menyentuhnya tanpa bisa merasakannya?"
Lagi-lagi Kenan mengerang dalam hati. Sebenarnya, bisa saja dia menyerang istrinya. Dia memiliki kesempatan besar. Kenan tetaplah Kenan. Dia ingin mengukirkan kenangan yang indah dalam sebuah kenikmatan yang akan dia berikan.
Berbeda dengan Nindy, dia yang sedang mengerjai suaminya dia sendiri yang terangsang akan perbuatannya. Dia yang malah menderita disentuh oleh Kenan. Hingga bagian mahkotanya tidak sanggup menahan laju arus air yang ingin menyerobot keluar.
__ADS_1