
"Makanya, jangan marah melulu," sungut Nindy.
Tidak ada jawaban dari suaminya itu. Dia malah melangkahkan kaki tak tentu arah. Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Nindy.
"Cemburunya sangat menyeramkan," batin Nindy.
Nindy terus mengikuti langkah kaki suaminya yang tak tentu arah. Hatinya terus mengumpat kesal. Angin segar menghampiri Nindy. Matanya berbinar ketika dia melihat sang kakak dengan istrinya. Bagai penyelamat untuknya
"Kak Dirga!" panggil Nindy. Tak dia hiraukan orang-orang yang berlalu lalang menatap ke arahnya.
Sontak Dirga dan Niar pun menoleh, mereka tersenyum ke arah Nindy dan juga Kenan. Wajah Kenan masih saja ditekuk, Dirga menatap heran ke arah adik iparnya itu.
"Kurang sajen?" sindir Dirga.
Kenan meliriknya dengan tajam, Dirga malah mengusap lembut perut buncit Niar. Tak dia pedulikan tatapan tajam dari asistennya tersebut.
"Amit-amit jabang bayi. Jangan sampai mirip ke om kamu itu ya, Nak. Wajahnya udah seperti Gerandong," ucap Dirga pelan dengan tangan yang berada di atas perut sang istri.
Niar dan Nindy mengulum senyum mereka. Dua pria dewasa ini selalu saja saling mengejek jika bertemu. Tepatnya hanya Dirga yang dapat mengejek Kenan karena Kenan tidak berani mengejek atasannya tersebut.
Dirga mengajak Niar serta Nindy dan juga Kenan menuju restoran. Niar ingin makan malam di tempat ini.
"Tadi aku lihat Rico," ujar Niar yang sudah mendudukkan diri di restoran.
Mendengar nama Rico membuat mata Kenan mendelik kesal. Dirga pun berdecak kesal.
"Cemburu kamu kayak bocah," ejek Dirga kepada Kenan.
Dari tatapan dan mimik wajah Kenan pun Dirga bisa menebak apa yang tengah Kenan rasakan. Selama lima tahun bekerja bersama Kenan, Dirga hafal bagaimana wajah suka dan tidak suka Kenan.
"Udah dong Kak jangan ledekin suami Ndy terus," bela Nindy.
Ada kehangatan di hati Kenan karena sang istri ternyata perhatian kepadanya. Namun, Dirga malah berdecak kesal dan menatap nyalang ke arah suami dari adiknya ini.
"Siapa yang ledekin coba, emang suami kamu kayak bocah," tukasnya.
Nindy memilih untuk tidak berdebat dengan sang kakak, yang ada nanti Dirga semakin mengejek suaminya. Merkea menikmati makan malam dengan sesekali berbincang. Nindy terlihat bahagia berbincang dengan ibu hamil dan kakaknya. Momen yang jarang terjadi, Sebagai seorang suami pun Kenan sangat bahagia jika melihat istrinya seriang itu. Bibirnya sedikit demi sedikit mulai melengkung.
Waktu sudah malam, mall pun hendak tutup karena jam operasional sudah selesai. Tibanya di rumah, Kenan masih mendiamkan Nindy. Dari pada memancing keributan, Nindy memilih untuk membersihkan tubuhnya. Setelah selesai dari kamar mandi, dia menghampiri Kenan yang masih seperti patung.
"Mas, masih marah?" tanya Nindy dengan kelembutan. Kenan malah menatap tajam ke arah Nindy.
"Suami mana yang tidak akan marah jika istrinya disentuh oleh pria lain?" sergah Kena.
"Aku 'kan sudah mandi, Mas ku Sayang. Jejaknya pasti sudah hilang. Apa Mas juga masih gak mau menyentuhku?" Nindy mulai menggoda Kenan. Dia berharap Kenan akan luluh.
Kenan masih bergeming, Nindy memilih untuk mengalah dan naik ke atas tempat tidur. Membiarkan suaminya yang masih cemberut kepadanya. Cukup sekali mencoba agar tak naik darah.
"Bodo amatlah, suami keras kepala begitu," sungut Nindy di dalam hati.
Sesekali Kenan melirik ke atas tempat tidur. Dia melihat istrinya tengah guling-guling tidak jelas seperti orang resah. Sesekali dia mendengar rintihan kecil yang keluar dari mulut Nindy. Keingintahuannya mengalahkan egonya akan kondisi istrinya.
"Sayang, kamu kenapa?" Kenan sudah duduk di bibir ranjang. Terlihat Nindy yang sedang meringis dan memegang perutnya.
Kenan meletakkan punggung tangannya di kening Nindy. Suhu badannya normal.
"Kamu kenapa, Sayang?" tanya Kenan sekali lagi.
"G-gak kenapa-kenapa, Mas," jawab Nindy pelan.
"Sayang, jangan buat Mas khawatir. Katakan kamu kenapa?"
Wajah Kenan terlihat sangat cemas, dia mencoba mendudukkan istrinya yang tengah merintih kesakitan.
"Apanya yang sakit, Sayang?" tanya Kenan lagi.
"Mas, bisa tolong ambilkan ponselku?" pinta Nindy.
Kenan pun meraih ponsel Nindy yang berada di atas nakas. Matanya memicing ketika dia melihat sang istri membuka aplikasi ojek online.
__ADS_1
"Kamu mau pesan apa malam-malam begini?" tanya Kenan penasaran.
"Mau beli obat pereda nyeri haid, Mas."
Kenan segera merampas ponsel Nindy dan meletakkannya kembali di atas nakas.
"Kenapa harus meminta ojek online untuk membelikannya? Kamu anggap aku apa?" Suara Kenan sudah meninggi.
"Bukan begitu, Mas," balas Nindy yang masih memegang perutnya.
"A-aku ...."
Nindy tidak bisa melanjutkan ucapannya. Perutnya sungguh sakit. Melihat istrinya sangat kesakitan membuat Kenan sedikit ketakutan.
"Sayang, lebih baik kita ke rumah sakit, ya." Nindy pun menggeleng.
"Udah biasa Mas seperti ini, Mas," terangnya.
Tangan Kenan mengusap lembut perut Nindy. Dia pun mengecup lembut kening istrinya.
"Obatnya apa namanya? Biar Mas ke apotek sekarang," ujarnya. Tak dia pedulikan waktu sudah malam, ya v penting istrinya tidak kesakitan lahu.
Nindy meraih ponselnya dan menunjukkan gambar obat yang biasa dia minum ketika nyeri haid.
"Mas, bawa ponsel kamu ya, biar Mas gak salah." Nindy mengangguk. Padahal ada niat terselubung yang sedang Kenan susun.
"Mas, sekalian beli pembaloet yang ukuran empat buluh dua centi ya, yang ada sayapnya."
Kenan mengangguk, dia tidak akan pernah malu untuk membeli kebutuhan istrinya. Sebelum pergi dia mengecup singkat bibir sang istri.
"Mas pergi dulu ya, Sayang."
Nindy sangat bahagia, jarang sekali ada suami yang mau membelikan pembaloet untuk istrinya. Berbeda dengan Kenan yang malah menawarkan diri untuk membelikannya.
Sebelum keluar dari mobil untuk masuk ke apotek, Kenan mengecek ponselnya istrinya. Dia ketikkan nomor ponselnya. Dia ingin tahu Nindy menamai nomor ponselnya dengan nama apa?
"Kang Mas Sayang," gumamnya. Bibirnya melengkung dengan sempurna.
Kenan turun dari mobil dengan wajah yang berseri. Kedatangannya disambut hangat oleh pegawai apotik 24 jam.
"Ada yang bisa saya bantu?" tanya pegawai tersebut .
"Saya ingin obat ini untuk ISTRI saya," ucapnya dengan penuh penekanan.
Tidak Kenan hiraukan bisikan dari para apoteker tersebut. Tidak ada yang salah membelikan obat untuk istri sendiri.
Setelah mendapatkannya dan membelinya dalam jumlah banyak, Kenan melajukan mobil menuju minimarket 24 jam. Kenan membiarkan pandangan para pegawai minimarket tersebut. Dia membeli bukan mencuri. Tidak ada yang salah dengan apa yang dia lakukan.
Sekalian dia membeli camilan pedas dan minuman yang asam. Takut istrinya menginginkannya. Setahunya wanita jika datang bulan suka makan makanan yang pedas-pedas dan asam. Seperti orang yang tengah ngidam.
Kenan membawa barang yang dia beli ke kasir. Semua total yang disebutkan oleh kasir segera dia bayar dengan kartu debit.
"Pesanan pacarannya ya, Mas," tanya sang kasir.
"Bukan, itu untuk istri saya."
Kasir itu pun sedikit terkejut mendengar ucapan dari Kenan. Wajah yang tampan dan terlihat muda ternyata sudah memiliki istri. Sungguh kecewa rasanya. Kasir itu pun mengembalikan kartu debit milih Kenan setelah proses pembayaran selesai.
Tibanya di rumah, Kenan segera naik ke lantai dua. Dilihatnya Nindy tengah meringkuk layaknya anak bayi.
"Sayang." Kenan mencoba membangunkan Nindy dengan sangat lembut.
"Diminum dulu ya obatnya," ujar Kenan.
Nindy dibantu Kenan bangkit dari tidurnya, dia duduk dan bersandar di kepala ranjang dengan wajah yang masih menahan sakit. Kenan memberikan obat dan juga air mineral untuk sang istri.
"Sekarang kamu tidur, ya." Kenan membaringkan tubuh Nindy.
"Mas, pijitin telapak kaki aku, ya."
__ADS_1
Kenan harus terbiasa dengan ini semua. Akan tetapi, dia malah merasa senang. Apalagi ketika melihat Nindy merasa nyaman.
"Kalau lagi datang bulan seperti ini kaki aku pasti pegal-pegal," lanjutnya.
Keesokan paginya, Nindy sudah bangun dan berada di samping ranjang. Membangunkan suaminya yang masih terlelap dengan damainya. Semalam suaminya benar-benar begadang memijatnya.
"Mas, bangun. Udah siang," ucap Nindy.
Kenan hanya menggeliat dan tidak berniat untuk bangun. Terlalu nyaman baginya berada di bawah selimut tebal.
"Mas," panggil Nindy lagi.
"Sebentar lagi," jawabnya.
Nindy hanya tersenyum, dia yakin suaminya ini semalam begadang karena harus memijat kakinya yang terasa sangat pegal. Nindy juga tidak tahu jam berapa sang suami tertidur.
"Mas, nanti kak Dirga marah."
Mendengar nama Dirga membuat Kenan segera membuka matanya. Dia segera duduk dan memeluk manja tubuh istrinya. Padahal matanya masih sangat berat.
"Kamu sudah enakan?" Nindy mengangguk dan tersenyum.
"Mandi ya, terus kita sarapan." Nindy mengecup kening Kenan.
Seperti anak kecil, Kenan pun segera bangkit dan menuju kamar mandi. Seperti biasa mereka hanya sarapan berdua, Deri sedang ada tugas keluar kota.
"Kalau ada yang sakit, langsung telepon Mas, ya." Nindy hanya mengangguk.
Ritual sebelum berangkat kerja yaitu mengecup kening dan bibir Nindy. Barulah Kenan melajukan mobilnya menuju kantor.
Perlakuan manis Kenan membuat Nindy merasa sedikit lega sekaligus bahagia. Setidaknya Kenan telah membuktikan sebagian kecil cinta yang dia miliki untuk Nindy. Meskipun, Nindy masih ragu akan cinta yang Kenan miliki. Masih terselipkah bayang masa lalu mendiang istrinya.
Hari ini Nindy hanya membaringkan tubuhnya di tempat tidur. Jika, sedang datang bulan seperti ini Nindy tidak ingin melakukan hal apapun. Makan siang pun dia lewatkan karena mulutnya terasa hambar.
Kenan pulang cukup malam, dia tiba di rumah pukul delapan. Sang istri tengah tiduran di sofa sambil memegang remote tv.
"Serius banget sih Sayang. Sampai suaminya pulang gak disambut."
Mendengar suara Kenan, Nindy segera bangun dari posisi awal. Namun, Kenan menggeleng bertanda Nindy diam saja di sana. Biarlah Kenan yang mengahampiri istrinya.
Tanpa ada angin dan hujan, Nindy merangkulkan tangannya di leher Kenan. Dia mengecup bibir Kenan sangat lembut. Mata Kenan membola mendapat perlakuan seperti ini. Namun, dia tak menyia-nyiakan kesempatan ini untuk membalasnya. Andai saja Nindy tak datang bulan mungkin sudah Kenan serang. Ketika asupan udara sudah menipis, mereka berdua mengakhiri pergelutan bibir tersebut. Mereka saling pandang satu sama lain. Tangan Kenan sudah mengusap lembut bibir Nindy yang basah.
"Tumben?" tanya Kenan seraya tersenyum.
"Lihat film itu," tunjuknya pada layar televisi besar.
"Film apa Sayang? Mas gak ngerti," ujarnya.
"Adegannya penuh dengan silat lidah," terang Nindy.
"Wah, kalau begitu Mas harus ikut nonton." Nindy pun terkekeh melihat wajah antusias sang suami.
"Jangan di play dulu. Tunggu Mas,Mas mandi dulu," tukasnya. Kenan mengecup kening Nindy sebelum dia membersihkan tubuhnya.
Nindy pun tertawa dan menuruti perintah dari sang suami. Dahi Nindy mengkerut ketika melihat sang suami sudah menenteng camilan. Kenan duduk di samping sang istri dan meletakkannya di atas meja.
"Semalam Mas beli di minimarket, lupa mau bilang kamu." Nindy hanya tersenyum dan tak mempermasalahkannya. Makanan itu pun akan mereka makan berdua.
Tidak Nindy sangka, Kenan mematikan lampu dan menyisakan cahaya temaram.
"Biar lebih romantis."
Tangan Nindy pun merangkul lengan Kenan dan kepalanya dia letakkan di bahu sang suami. Sesekali Kenan pun mengecup ujung kepala Nindy. Ini momen pertama Kenan menonton drama Korea dan langsung disuguhkan dengan adegan panas. Tak segan mereka menirukan adegan yang ada di drama tersebut.
"Sayang, andai saja kamu tidak sedang kedatangan tamu," bisiknya. Nindy hanya tersenyum dan masih nyaman bersandar di bahu sang suami
Siapa yang tertidur duluan mereka pun tidak ingat. Ketika Nindy terbangun, dia sudah dipeluk oleh Kenan dan mereka berada di atas sofa. Menatap wajah Kenan dari dekat membuat Nindy tersenyum bahagia.
"Kamu beneran sayang dan cinta sama aku gak sih, Mas?"
__ADS_1
Tangan Nindy sudah menelusuri wajah Kenan. Tak Nindy sangka, tangannya dicekal oleh Kenan.
"Aku sungguh mencintai kamu. Sayang."