Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Pria Bodoh


__ADS_3

Menjelang hari pernikahannya, Nindy meminta ditemani sang kakak ipar untuk pergi ke salon. Akan tetapi, Dirga melarang. Apalagi kondisi kehamilan Niar sudah memasuki bulan kedelapan. Sering sekali Niar mengalami kontraksi palsu.


"Kenan 'kan janji habis makan siang akan temani kamu," ujar Dirga yang tengah asyik mengusap perut sang istri.


"Mana cukup, Kak. Perawatan itu 'kan lama," sahut Nindy.


"Kakak gak bisa, Ndy. Perut Kakak kadang suka sakit dan mules dadakan. Kakak juga gak bisa jalan-jalan jauh," terang Niar.


Nindy pun harus mengerti dengan kondisi kakak iparnya saat ini. Dia melihat kakaknya sering meringis kesakitan menahan tendangan atau kontraksi-kontrakasi kecil di perutnya.


Malam ini, Dirga benar-benar begadang. Istrinya terus mengeluh kesakitan. Apalagi bagian pinggang belakanganya yang membuatnya terkadang merintih.


"Kita ke rumah sakit, ya." Niar pun menggeleng.


"Bentar lagi juga hilang kok." Keringat dingin mengucur deras di wajah Niar.


Dengan setianya Dirga menemani Niar dan terus mengusap lembut perut sang istri. Mengucapkan kalimat demi kalimat yang membuat anak di dalam perutnya mulai tenang.


Jam tiga pagi, Niar baru bisa terlelap membuat hati Dirga benar-benar mencelos.


"Jangan nakal ya, Nak. Kasihan Mamih," ucapnya pelan di perut Niar.


Pagi harinya, Dirga tidak tega membangunkan istrinya karena masih tidur dengan nyenyaknya. Merasa khawatir dengan keadaan Niar di rumah, dia meminta bantuan kepada ibu mertuanya untuk datang ke Jakarta. Untung saja Bu Sari tidak keberatan dan dengan senang hati dia akan datang.


"Aku berangkat, ya." Dirga mengecup kening Niar, kemudian turun ke perut buncit sang istri.


Dirga menitipkan Niar kepada Mbok Sum dan mengingatkan Mbok Sum jika terjadi apa-apa dengan istrinya harus segera menghubunginya.


Kenan sudah menjemputnya, tetapi Dirga terlihat sangat kurang tidur.


"Bapak begadang?" tanya Kenan, yang masih fokus pada jalanan.


"Hem."


Kenan tidak banyak bertanya lagi. Jika, sang atasan sudah seperti ini menandakan dia tidak ingin mendengar pertanyaan lagi. Dirga garang kepada para karyawan, tetapi lembut kepada istri tercintanya.


Tibanya di kantor mereka melakukan kegiatan seperti biasa. Bergelut dengan berkas dan juga meeting dengan para karyawan maupun rekan bisnis. Siang pun tiba, Kenan akan menjemput Nindy ke rumahnya. Namun, baru saja Nindy mengirim pesan kepadanya bahwa dia sudah berada di salon.


"Kenapa gak mau nurut sih?" dengusnya.


Kenan melajukan mobilnya menuju salon yang Nindy maksud. Benar saja, calon istrinya sudah selesai dengan rangkaian perawatannya.


"Maaf ya, kalau nunggu kamu akan lama," ucapnya. Kenan menghembuskan napas kesal, tetapi kepalanya mengangguk.


"Kamu udah makan siang?" tanya Nindy.


"Belum."


Nindy merangkul mesra lengan Kenan dan mengajaknya makan di sebuah restoran enak. Setelah semuanya dipesan, mereka menikmati makanan itu dengan lahap.


"Kamu sudah menyiapkan baju untuk akad?" Kenan menggeleng.


"Rencananya hari ini sekalia, mumpung kerja setengah hari." Nindy pun mengangguk.


"Kamu bisa gak panggil aku pakai embel-embel di depannya?"


"Embel-embel?" ulang Nindy.


"Iya, panggil Mas, Kak atau apalah. Biar gak kamu-kamu aja."


Nindy pun tergelak mendengar ucapan Kenan sedangkan Kenan menatapnya tajam.


"Iya, Mas Kenan."


Bibir Kenan pun melengkung dengan sempurna. Hatinya menghangat mendengar ucapan manis yang dilontarkan oleh Nindy. Selesai makan, Kenan dan Nindy menuju butik yang cukup terkenal. Nindy memilih kebaya putih modern. Dia masuk ke ruang ganti dan Kenan pun ikut mengganti pakaiannya. Mencoba memakai kemeja dan jas untuk akad besok.


"Pas sekali di tubuh Anda, Tuan," puji pegawai butik.


Tak lama Nindy keluar dari kamar ganti. Dia memanggil calon suaminya yang tengah membenarkan pakaiannya.


"Mas."


Kenan segera menoleh dan seketika dia terpana dengan apa yang telah dilihatnya.


"Cantik," gumamnya.


Mata Kenan yang memandang Nindy dengan tatapan kagum membuat Nindy menunduk malu. Dia tidak ingin berlama-lama dipandangi oleh Kenan.


Semuanya sudah selesai, kini Kenan mengajak Nindy ke apartment miliknya. Apartment yang sangat rapi. Nindy merebahkan dirinya di atas sofa, memandang sekeliling apartment milik Kenan.


"Diminum."


Kenan menyerahkan air mineral kepada Nindy dan dia mendudukkan bokongnya di sebelah Nindy.


"Kamu gak nyesel 'kan jika menikah dengan aku?" Nindy yang baru meminum air pun tersedak. Tangan Kenan sudah menepuk-nepuk punggung Nindy.


"Maksud kamu apa, Mas?" tanya Nindy tidak mengerti.

__ADS_1


"Aku 'kan duda," jelasnya.


Nindy meletakkan air minumnya dan menatap manik mata Kenan. Dia tersenyum hangat ke arah sang calon suami.


"Apa ada yang salah menikahi seorang duda? Cinta tidak mengenal status. Banyak 'kan orang yang mencintai pasangan orang lain? Malah rela jadi pelakor atau pebinor?"


Kenan pun tersenyum dan memeluk hangat tubuh Nindy.


"Makasih, ya." Nindy hanya membalas pelukan Kenan. Menenggelamkan wajahnya ke dada bidang Kenan.


Di kediaman Deri, sudah banyak orang yang tengah mendekorasi ruangan rumahnya. Bagaimana pun dia ingin pernikahan yang terbaik untuk putrinya meskipun hanya sederhana.


"Sudah beres semua, Pah?"


Dirga baru saja datang bersama Niar yang sedang merangkul mesra tangan suaminya.


"Kamu tenang saja, semuanya sudah selesai. Catering pun sudah Papa siapkan," jawab Deri.


"Loh, kenapa masih keluar? Bukannya di rumah aja," tanya Deri pada Niar.


"Bosan, Pah."


Dirga membantu Niar untuk duduk di sofa. Dia tidak ingin istrinya kelelahan. Apalagi kaki istrinya sudah mulai membengkak.


"Mau makan apa, Ni? Biar Papah suruh bibi masakin," imbuh Deri.


"Enggak deh, Pah. Nanti kalau aku lapar aku minta," jawab Niar.


"Jangan pernah merasa sungkan. Papah gak mau cucu Papah kelaparan di dalam sana." Niar pun tertawa.


"Sebelum ke sini mampir dulu ke tukang bubur ayam, makanya kenyang," terang Dirga. Deri pun terkekeh mendengarnya.


Selama di rumah sang papah mertua, perut Niar tidak merasakan kontraksi ataupun tendangan yang hebat. Malah Niar merasa sangat nyaman dan terlelap di atas sofa.


"Nginep aja di sini. Kasihan istri kamu dibangunin," ujar Deri.


Dirga pun mengangguk, dia tidak tega melihat istrinya tengah terlelap dengan damainya. Suara langkah kaki membuat Deri dan Dirga menoleh. Nindy baru saja tiba di rumah. Tatapan sengit Dirga tunjukkan kepada Nindy, hanya cengiran tak bersalah yang Nindy tunjukkan.


"Kenapa pulang jam segini?" hardik Dirga.


"Maafkan saya, Kakak ipar," ucap Kenan. Ternyata Kenan ikut bersama Nindy.


"Kamu masuk ke dalam, istirahat."


Ucapan Dirga tidak bisa Nindy bantah. Nindy lebih takut kepada sang kakak dari pada kepada ayahnya.


"Kamu diam di situ!" titah Dirga kepada Kenan. Dia akan memindahkan tubuh Niar ke kamarnya terlebih dahulu supaya tidak terganggu.


"Aku ke bawah dulu, ya. Nanti aku kembali lagi." Kecupan hangat mendarat di kening Niar.


Dirga menemui Kenan yang masih berbincang dengan Deri. Dia menatap tajam ke arah Kenan. Ada makna dari tatapan itu. Hanya Kenan yang mengerti.


"Maaf, Pak. Saya boleh bicara berdua dengan Pak Dirga?" Kenan berucap dengan sopan. Deri pun mengalah dan membiarkan anak dan calon menantunya berbincang berdua.


"Kamu sudah berterus terang kepada Nindy?" Kenan mengangguk.


"Tentang mendiang istri kamu?" Kenan pun terdiam. Jujur saja dia belum berani mengatakan akan hal itu kepada Nindy.


"Saya cuma tidak ingin adik saya kecewa dan salah sangka," ujar Dirga.


Helaan napas kasar keluar dari mulut Kenan. Dia hanya bisa menunduk dalam.


"Kamu tahu 'kan bagaimana saya sangat menyayangi Nindy? Saya tidak akan melepas Nindy pada orang yang salah," tuturnya.


"Maafkan saya, Pak. Saya akan berterus terang nanti," jawab Kenan.


Ketika di apartment-nya, Nindy sempat melihat foto yang mirip dengannya. Namun, Kenan mengalihkan pandangan Nindy dan membuat pikiran Nindy teralih begitu saja.


Wajah yang hampir sama dengan mendiang istrinya membuat Kenan jatuh cinta pada sosok Nindy dan berani melamarnya dengan sangat cepat.


"Saya harap kamu tidak pernah menyakiti adik saya. Kalau sampai itu terjadi, kamu tahu 'kan konsekuensinya apa?" Dirga benar-benar mengancam Kenan.


Dirga meninggalakan Kenan dan dia duduk di balkon kamarnya sambil menghisap satu puntung rokok. Pikirannya tengah berkelana ke sana ke mari perihal Nindy dan Kenan.


Dua bulan yang lalu ...


Dirga datang ke apartment Kenan tanpa memberi tahu dia terlebih dahulu. Dirga masuk dengan santainya karena dia tahu password apartment Kenan. Ketika baru masuk, dia disuguhkan foto yang mirip dengan sang adik. Selama ini Dirga tidak mengetahui bagaimana wajah mendiang istri Kenan. Pertama kali Dirga dan Kenan bertemu memang sudah dalam keadaan duda tak beranak.


"Nindy," gumamnya.


Namun, mata Dirga memicing ketika dia melihat nama yang tertera di foto tersebut.


"Kinanti," gumamnya.


Suara derap langkah terdengar, tenyata Kenan sudah berdiri di belakang Dirga.


"Siapa dia?" Dirga menunjukkan foto yang dia pegang kepada Kenan.

__ADS_1


"Dia ...."


Kenan tidak sanggup meneruskan ucapannya. Dia malah menunduk dalam.


"Siapa dia, Kenan?" desak Dirga.


"Mendiang istri saya."


Tubuh Kenan terlihat bergetar menandakan dia tengah menahan kesedihan.


"Kenapa kamu gak bilang kalau dia mirip adik saya?" tanya Dirga.


"Saya tidak ingin semua orang mengetahui bagaimana wajah istri saya. Cukup saya saja yang tahu," lirihnya.


Lebih dari lima tahu Kenan menyandang status duda. Dia memilih berbakti kepada Dirga dari pada harus menikah lagi. Tidak ada yang mampu menggantikan posisi istrinya di hatinya.


"Apa ini alasan kamu selalu memperhatikan adik saya diam-diam?" tanya Dirga.


Lagi-lagi mulut Kenan terbungkam. Dia tidak bisa menjawab apapun.


"Jika, kamu mencintai adik saya. Cintailah karena dia adalah Nindy bukan karena mendiang istri kamu."


Dirga berlalu meninggalkan Kenan yang membisu. Semua yang dikatakan oleh Dirga benar adanya.


#off.


Dirga membuang asap rokok ke atas. Kepulan asap terlihat jelas. Namun. ada yang menepis tangannya hingga membuat rokoknya terjatuh. Seseorang tengah menatapnya tajam.


"Aku gak suka lihat kamu ngerokok, Ay," bentak Niar. Dia meraih rokok di atas meja dan segera mematahkan semua isinya. Kemudian Niar buang ke tempat sampah.


"Maafkan aku, Sayang." Dirga mencoba memeluk tubuh Niar dari belakang. Namun, Niar menepisnya.


"Jangan menyentuh aku sebelum bau asap rokok itu hilang dari tubuh kamu!"


Dirga hanya menghela napas kasar ketika sang istri sedang marah seperti ini sulit untuk dibujuk. Namun, apa yang dikatakan Niar memang benar, dan dia juga sangat menentang jika Dirga kembali merokok. Jika, pikiran Dirga tidak sedang kalut. Dia tidak akan menyentuh satu batang rokok pun.


Setelah membersihkan tubuhnya. Dirga mendekat ke arah sang istri yang tengah memiringkan badannya ke arah kiri.


"Sayang."


Niat masih bergeming menandakan dia tengah marah. Tangannya terus mengusap lembut perut buncit sang istri dan kini mulai nakal menuju sesuatu yang akan membuat Niar melenguh nikmat. Hanya dengan cara ini Niar bisa memaafkannya. Sudah hampir seminggu ini Dirga tidak menyentuh Niar karena kesibukannya dan juga pulang dengan keadaan lelah.


"Boleh ya, tengokin baby-nya?"


Niar pun mengangguk lemah. Tidak dipungkiri dia merasakan kerinduan akan sentuhan lembut tangan sang suami. Baru saja memulai permainan, ketukan pintu membuat Dirga segera menyelimuti tubuh sang istri yang sudah setengah terbuka. Dia mendengus kesal dan berjalan ke arah pintu.


Ketika mulutnya hendak memaki, Nindy sudah berhambur memeluk tubuhnya dan menangis tersedu.


"Kamu kenapa?" Rasa khawatir memenuhi hati Dirga.


"Kak Kenan jahat, Kak."


Deg.


Jantung Dirga terasa berhenti berdetak. Apa yang dia takutkan pun terjadi.


"Dia mencintai Ndy karena wajah Ndy mirip mendiang istrinya bukan karena cinta sesungguhnya," lirih Nindy.


Di saat seperti ini Dirga pun merasa bersalah. Dia juga ikut andil dalam masalah Kenan karena dia menyetujui Kenan meminang adiknya. Padahal dia belum tahu hati Kenan sesungguhnya.


Kenan kini masih terduduk di sofa. Niat hati ingin menjelaskan semuanya malah Nindy jadi salah paham seperti ini. Dia juga masih bingung, apa memang dia benar-benar cinta pada Nindy? Atau hanya karena melihat rupa Nindy yang sama dengan Kinanti?


"Aku ingin pernikahan ini batal!"


Ucapan Nindy mampu membuat Kenan syok. Dia sangat terkejut dengan apa yang didengarnya.


"Enggak! Aku tidak akan membatalkan pernikahan kita," tegas Kenan.


"Untuk apa kita menikah jika aku hanya dijadikan fantasi mu karena aku mirip dengan mendiang istri kamu? Bukan karena kamu cinta sungguhan sama aku," tutur Nindy.


Kenan benar-benar tidak berkutik. dia menjelma menjadi pria yang sangat bodoh.


"Ijinkan aku untuk membuktikan perasaanku," balas Kenan.


"Sudah tidak ada waktu, Kenan!" seru Nindy.


"Besok sudah hari pernikahan kita. Hari di mana kamu yang menentukan tapi kamu juga yang membuat semua kacau," sungut Nindy.


Kenan mengerang kesal jika mengingat kebodohannya ini. Dia menjambak rambutnya sendiri dengan sangat keras.


"Aku tidak akan membatalkannya. Tidak akan!"


Kenan berlari menuju kamar atas di mana kamar Dirga berada. Hatinya terasa sakit ketika melihat Nindy menangis dalam pelukan Dirga.


"Ndy ingin membatalkan pernikahan ini. Ndy gak mau menjalani biduk rumah tangga dengan hati yang tersiksa."


Hati Kenan teriris mendengarnya. Dia mencoba melangkahkan kakinya mengahmpiri Nindy.

__ADS_1


"Aku tidak akan pernah membatalkan pernikahan ini. Besok kita akan tetap menikah. Berikan aku waktu untuk membuktikan bahwa aku benar-benar cinta kepada kamu. Sungguh aku pun tidak tahu hatiku yang sesungguhnya."


Dirga hanya menghela napas kasar. Baru kali ini dia melihat pria bodoh di hadapannya.


__ADS_2