Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Aku Di Sini


__ADS_3

Niar memberanikan diri untuk membalikkan badannya. Air matanya luruh ketika melihat senyuman manis itu.


"Aku di sini, Sayang."


Niar langsung memeluk erat tubuh Dirga, sangat erat. "Aku sangat takut, Ay. Takut kamu pergi tinggalin aku selamanya."


Dirga membalas pelukan Niar dengan sangat erat. Dia merasakan ketakutan yang sangat besar pada diri Niar.


"Aku masih hidup, Sayang. Ini aku calon suamimu."


Tangis Niar semakin keras dan tangannya semakin erat memeluk pinggang Dirga. Sangat Dirga rasakan kesedihan Niar, hingga bajunya pun basah karena air mata Niar yang tak berhenti menetes.


Dirga melonggarkan pelukannya, menangkup wajah Niar dan menatap dengan tatapan penuh cinta. Dia mencium satu per satu mata Niar, kemudian mengecup kening Niar sangat lama.


"Kamu jangan takut, aku sudah ada di sini. Dan yang di berita itu bukan aku. Aku tidak berangkat ke Jakarta, Sayang."


"Kamu sungguh membuat aku takut, Ay."

__ADS_1


Setelah Niar merasa tenang, Dirga menuntun Niar untuk duduk di sofa. Dia menarik Niar supaya duduk di pangkuannya.


Dirga tersenyum ke arah Niar dan mengecup lembut bibir merah Cherry Niar. "Aku membatalkan keberangkatan ku, Yang. Maaf, aku tidak mengabarimu," sesalnya.


"Ponsel mu ...."


"Ponselku dan juga Kenan low, jadi kami gak bisa menghubungimu siapa pun. Dan ada pertemuan mendadak di Surabaya makanya aku langsung ke Surabaya. Karena di sana sangat sibuk, aku dan Kenan sampai lupa untuk men-charger ponsel."


"Kamu jahat Ay, jahat," ucap Niar sambil memukul-muku dada Dirga.


"Lihatlah mataku, bengkak karena menangisi mu, Ay." Dirga pun mengecup bibir Niar agar Niar berhenti mengoceh.


Wajah Dirga pun berubah menjadi sendu. "Jam tangan itu memang milikku, Yang." Niar menatap Dirga penuh tanya.


"Alasan aku membatalkan keberangkatan ke Jakarta karena ada tetangga kosan Nindy serta anaknya yang terkena musibah. Mereka berdua ingin pergi ke Jakarta untuk melihat jasad terakhir istri dan ibunya. Karena aku tidak tega, aku memberikan tiket itu kepada mereka sekaligus jam tangan yang aku pakai. Aku berpesan, ketika sampai di Jakarta jual lah jam tangan itu. Harganya cukup mahal, bisa untuk bekal di Jakarta dan juga ongkos untuk pulang lagi ke Malang. Namun, takdir berkata lain," lirih Dirga.


Niar melingkarkan tangannya ke leher Dirga. "Aku sangat bahagia kamu baik-baik saja. Melihat jam tanganmu seakan dunia ku sudah hancur berkeping-keping. Tubuhku limbung dan tak mampu menopang tubuhku yang ringkih ini. Kemarin aku sangat ketakutan, Ay. Aku takut jika itu benar kamu. Aku gak tau, apa aku bisa hidup tanpa kamu?"

__ADS_1


Dirga pun tersenyum bahagia. "Aku gak akan meninggalkan kamu, Sayang. Aku akan selalu di samping kamu. Menjaga kamu dan juga keluarga kecil kita."


Dirga menarik dagu Niar, mendekatkan wajahnya ke wajah Niar. Niar pun memejamkan matanya.


"Ehem." Deheman seseorang menggagalkan kegiatan romantis yang akan mereka lakukan. Wajah Dirga sudah tegang, begitupun Niar. Apalagi Niar yang masih menggunakan handuk kimononya. Dia takut ibunya akan berpikiran yang tidak-tidak.


"Ay," ucap Niar pelan sambil melihat ke arah Dirga. Dirga mengangguk pelan mengisyaratkan jika, dia yang akan menjelaskan kepada Bundanya Niar


"Kalo mau bermesraan, ya ditutup dong pintunya," imbuh Bu Sari sambil menutup pintu kamar Niar.


Dirga dan Niar pun tertawa, mereka pikir Bu Sari akan marah ternyata malah memperbolehkan mereka melepas rindu.


"Boleh aku lanjutkan?"


****


Mon maap up-nya kemalaman. Lagi nulis ketunda terus karena orderan. Makasih yang udah suka sama cerita Dirga dan Niar.🙏

__ADS_1


Happy reading ...


__ADS_2