
Hari ini adalah hari pernikahan Dirga dan juga Niar. Seminggu sebelumnya mereka sudah melakukan pingitan. Di mana calon pengantin tidak boleh bertemu terlebih dahulu. Dan mereka boleh bertemu ketika hari H di acara akad nikah.
Akad nikah yang dilakukan sangat amat sederhana. Hanya dihadiri oleh para saudara dan kerabat dekat saja. Karena acara besarnya akan diadakan di Jakarta.
Dirga sudah menyewa satu buah pesawat untuk memboyong semua keluarga Niar yang berada di Malang untuk terbang ke Jakarta.
Hati Dirga benar-benar berdegup sangat kencang. Dia memang sudah menghafalkan ijab Kabulnya tapi, tetap saja gugup dia rasakan.
"Tenang, Nak. Kamu pasti lancar mengucapkannya," ujar Septi.
"Gak nyampe lima menit ngucapinnya, tapi gugupnya seharian," imbuh Kenan.
Kenan adalah seorang duda tak beranak. Dia ditinggal pergi untuk selama-lamanya oleh istrinya ketika usia pernikahannya baru menginjak satu tahun.
Tiba sudah mereka di kediaman Niar. Dirga sangat terlihat tampan mengenakan baju serba putih beserta kopiah. Dia diapit oleh Septi dan juga Deri. Disambut hangat oleh Pak Khorun dan Bu Sari.
Dirga sudah berhadapan dengan penghulu. Hanya tinggal menunggu Niar yang keluar dari kamarnya. Wanita berkebaya putih yang sangat cantik diapit oleh Ara dan juga Bu Sari membuat Dirga tersihir, tak berkedip menatap Niar. Niar hanya menundukkan kepalanya karena malu.
"Apakah saudara Dirga Anggara sudah siap?" tanya penghulu.
"Siap." Semua orang tersenyum bangga kepada Dirga.
Pak Khorun yang akan menikahkan langsung putrinya dengan Dirga. Pak Khorun mulai menjabat tangan Dirga.
"Saya nikahkan dan kawinkan engkau, Dirga Anggara bin Deri Prakarsa dengan putri saya Niara Andhiny binti Akhmad Khorun dengan mas kawin seratus gram emas dibayar TUNAI."
"Saya terima nikah dan kawinnya Niara Andhiny binti Akhmad Khorun dengan mas kawin tersebut TUNAI."
Beberapa saksi pernikahan Dirga dan Niar pun mengatakan SAH membuat semua orang mengucapakan Alhamdulillah. Dirga dan Niar tersenyum bahagia dan mata mereka sudah berkaca-kaca.
Sekarang, waktunya Niar mencium tangan Dirga. Dan kini, Dirga mencium kening Niar sangat dalam. Mereka merasakan kebahagiaan yang sangat nyata. Setelah lima tahun berpisah, akhirnya mereka disatukan kembali dengan ikatan pernikahan.
Dirga dan Niar menyambut para tamu undangan dari keluarga Niar. Wajah lelah Niar sudah terlihat karena terlalu lama berdiri dan menggunakan high heels.
"Kamu lelah?" Niar hanya mengangguk.
Dirga menggenggam tangan Niar dan mengecupnya dalam. "Hari ini aku sangat bahagia. Kamu telah seutuhnya menjadi milikku," ujar Dirga.
"Aku pun sama Ay, aku sangat beruntung bisa menjadi seorang istri dari Dirga Anggara." Mereka saling tatap dengan tangan yang saling menggenggam.
"Sempurna," ucap fotographer yang ternyata mengambil foto candid pasangan pengantin ini.
__ADS_1
Setelah hampir tiga jam menyambut tamu yang tak henti. Akhirnya, pasangan suami-istri ini bisa masuk ke kamar mereka untuk beristirahat.
"Ya ampun, sakit banget," imbuh Niar sambil melepas high heels yang dia gunakan.
"Uh, lecet," ujarnya.
Dirga langsung membawa tubuh Niar ala bridal style dan mendudukkan Niar di atas tempat tidur.
"Biar aku yang obati." Dirga mengambil kotak obat dan mengolesi salep diluka lecet Niar.
"Jangan pake sepatu dulu, nanti lecetnya makin parah." Niar mengangguk.
"Aku mandi dulu, ya." Dirga mengecup kening Niar sebelum ke kamar mandi.
Sambil menunggu suaminya keluar dari kamar mandi. Niar membersihkan make up yang menempel di wajahnya. Dan mencopot semua aksesoris yang berada di kepalanya.
Karena sibuk membongkar hiasan di kepalanya, Niar tidak menyadari jika Dirga sudah keluar dari kamar mandi. Dan perlahan mendekat ke arahnya memeluk Niar dari belakang.
"Ay."
"Sebentar saja, istriku," ucapnya.
"Kamu merasakannya Sayang?" Niar mengangguk.
Dirga membalikkan tubuh Niar, mencium bibir merah cherry milik istrinya. Ciuman yang menghangatkan berubah menghanyutkan. Lenguhan keluar dari bibir Niar. Dan milik Dirga pun sudah menegang.
Dirga melepaskan ciumannya, mengusap bibir Niar dengan ibu jarinya. "Kamu harus istirahat, dua jam lagi kita akan terbang ke Jakarta. Aku tidak ingin melihat kamu kelelahan," tutur Dirga.
Ada rasa kecewa di hati Niar karena Dirga tidak melanjutkan kegiatannya. Malah menahannya lagi dan lagi. Padahal mereka sudah sah menjadi sepasang suami-istri.
"Ya udah aku mandi, ya."
Dirga benar-benar tidak tahan, dia langsung meminum air putih yang berada di atas nakas. Dia tidak boleh egois. Jika, dia melakukannya sekarang maka resepsi terancam batal. Sudah dipastikan Niar tidak akan bisa berjalan.
Seperti biasa, Niar keluar hanya dengan menggunakan handuk kimono. Dirga sudah menyiapkan baju untuknya.
"Sini, Yang." Niar naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Dirga dari samping.
Mereka hanya berpelukan dan berciuman. Hanya itu yang mereka lakukan. "Ay, apa kamu tidak menginginkannya?" tanya Niar yang kini sudah melepaskan pagutan bibirnya.
"Aku sangat ingin, Sayang. Tapi, aku juga tidak boleh egois. Sebentar lagi kita harus berangkat ke Jakarta. Aku tidak ingin membuatmu kesakitan dan juga kelelahan," jawabnya seraya tersenyum.
__ADS_1
"Aku tidak ingin terburu-buru, Sayang. Kita nikmati perlahan. Hingga nanti tiba waktunya kita bisa menyatukan tubuh kita dengan cinta yang menggebu."
Niar semakin erat memeluk tubuh Dirga. Dirga menjadi suami yang sangat menjaga istrinya. Jutaan rasa syukur selalu Niar panjatkan karena telah diberi pendamping hidup seperti Dirga.
Jam 16.30 Dirga dan Niar sudah siap. Mereka tidak membawa apa-apa. Hanya mas kawin dan semua seserahan yang dibawa keluarga Dirga yang mereka bawa. Karena Dirga sudah menyiapkan semuanya di sana.
"Ay, masa pake sendal jepit," protesnya.
"Itu kaki kamu lecet, Yang. Belum besok malam pake heels lagi. Gak apa-apa gak bakal ada yang liat, Yang."
Niar mengikuti perintah Dirga, dia banyak mendapat wejangan dari sang bunda supaya menjadi istri yang baik dan menuruti perkataan suami.
Kenan dan Nindy hanya menggelengkan kepala mereka ketika melihat sepasang suami-istri di depan mereka ini seperti truk gandeng.
"Bikin iri," gumam Nindy.
"Kuliah dulu yang benar," ucap sang papa.
Banyak mata yang melihat ke arah Dirga dan Niar. Apalagi melihat Niar yang hanya menggunakan sandal jepit. Tapi, membawa tas bermerk mahal. Membuat jiwa miskin yang melihat meronta-ronta.
Di dalam pesawat, Niar dan Dirga terus saja saling mendekap. Dunia seperti milik mereka berdua. Semua orang hanya tersenyum ke arah pengantin baru itu.
Tibanya di Bandara, mereka dijemput bus. Kecuali, Dirga dan Niar dijemput mobil pribadi Dirga. Mereka semua menuju sebuah hotel mewah di Jakarta. Untuk kamar Dirga dan Niar adalah sweet room.
"Lelahnya," ucap Niar yang sudah mendudukkan diri di sofa.
"Mau makan apa?" tanya Dirga. Karena seharian ini dia maupun Niar belum makan apapun. Rasa lelah mereka membuat mereka tidak nafsu makan.
"Aku ingin Sei sapi, Ay." Dirga duduk disamping Niar dan meletakkan kepala Niar di bahunya.
"Pilihlah apa yang kamu mau," ujar Dirga sambil menyerahkan ponselnya kepada Niar.
Setelah semuanya dipesan, Dirga menatap Niar dengan tatapan nakal. Apalagi sekarang Niar sudah membuka blezernya. Dan hanya menggunakan tank top dan hot pants.
Dirga menarik dagu Niar, mencium hangat bibir Niar yang sekarang sudah menjadi candu untuknya. Melum*tnya, menghis*p dan juga mengabsen isi mulut Niar. Tangan Niar sudah melingkar di leher Dirga dan bibir Dirga sudah turun ke bawah. Menyusuri setiap inchi leher putih Niar, meninggalkan jejak kepemilikan di setiap langkah bibir yang Dirga jajaki.
Tangan Dirga sudah menjamahi area depan. Tangannya terhenti ketika suara ketukan pintu terdengar. Ya, kurir makanan telah tiba dan mengantarkan makanan yang dipesan oleh mereka.
****
Mau dilanjut MP-nya gak?
__ADS_1