
Jicko dengan paksa dan buasnya melucuti pakaian yang dikenakan Niar. Dia pun tak segan untuk merobek baju Niar. Bagian atas sudah Jicko robek dan sekarang bagian bawahnya.
Sekuat tenaga Nair tidak membiarkan Jicko untuk membuka celananya. Tamparan demi tamparan Jicko layangkan agar Niar melepaskan pertahannya. Namun, Niar tetap meronta dan mempertahankannya.
Dengan emosi yang sudah memuncak, Jicko memukul tangan Niar dengan benda tumpul hingga Niar meringis kesakitannya.
Pertahanan Niar pun runtuh, tangannya sakit luar biasa. Hanya tetesan air mata yang menjadi saksi keganasan dan kebiadaban Jicko.
Jicko tersenyum penuh kemenangan karena sudah mendapatkan Niar. Sekarang, tubuh mulus Niar hanya menyisakan bra dan celana dalam saja.
"Jangan menangis, Sayang. Pasti nanti juga kamu ketagihan dengan permainanku," bisiknya.
"Cuih." Niar meludahi Jicko tepat mengenai wajahnya. Dan sekarang Jicko sudah sangat murka. Jicko menjambak rambut Niar hingga Niar berteriak. Diciuminya bibir Niar dengan sangat rakus dan kasar hingga gigitan-gigitan keras yang membuat bibir Niar berdarah-darah.
Brugh!
Suara pintu yang terbuka dengan sangat kerasnya. Dengan emosi yang sudah menggunung, Dirga menarik Jicko dan menghempaskan tubuh Jicko hingga membentur ujung meja yang tumpul.
Dengan cepat Dirga memakaikan kemejanya ke tubuh Niar. Dan menutupi bagian bawah tubuh Niar dengan taplak meja yang ada di atas meja.
Air mata Niar membuat darah Dirga mendidih. Serangan demi serangan, pukulan demi pukulan Dirga layangkan untuk Jicko.
__ADS_1
"Bhang Sat!" Kepalan tangan Dirga berhasil menonjok wajah Jicko hingga hidungnya mengeluarkan darah segar.
Dirga menghajar Jicko dengan sangat membabi buta. Dia tidak peduli jika tangannya pun sudah berdarah. Hingga pihak kepolisian datang dan mengamankan Jicko dan juga Wulan.
Niar terus menangis dan Dirga langsung memeluk tubuh Niar. "Maafkan aku, Sayang. Aku datang terlambat."
Isakan tangis semakin keras terdengar membuat Dirga mengutuk dirinya sendiri atas kebodohannya ini. Sedangkan karyawan yang menyaksikan Dirga dan Niar menyeka ujung mata mereka. Kenan pun mengusir para karyawan tadi. Dia membiarkan bosnya menenangkan kekasihnya.
Dirga menangkup wajah Niar, ada beberapa lebam di wajahnya. Bibirnya pun berdarah, diujung bibirnya pun ada darah yang sudah kering.
Tangan Dirga mengepal dengan kerasnya. "Kurang ajar," sentaknya.
Niar menggenggam tangan Dirga dan menggelengkan kepala. Air mata Dirga pun menetes. "Maafkan aku Sayang, maafkan aku."
"Apa yang dia lakukan, Sayang?"
Niar menatap sebuah benda tumpul berada di atas meja. Urat-urat kemarahan pun timbul lagi di wajah bersih Dirga. "Takkan aku biarkan kamu hidup, Jicko," geramnya.
Niar terus memeluk tubuh Dirga, dia tidak bicara apapun hanya air mata yang terus menetes membasahi pipinya.
"Bos, ini untuk Nona," ujar Kenan.
__ADS_1
Dirga mengambil paper bag yang diberikan oleh Kenan dan menyuruhnya untuk keluar.
"Aku bantu, ya. Setelah ini kita langsung ke rumah sakit," ucap Dirga sangat lembut.
Sudah berkali-kali Dirga melihat tubuh Niar, namun tidak terbesit nafsu dipikirannya. Sekarang, hanya amarah yang memenuhi hati dan pikirannya.
Dirga mengecup kening Niar, turun ke mata, pipi lalu ke bibir. Mengecupnya dengan penuh kesedihan.
"Aku akan selalu menjagamu, melindungi kamu. Aku janji, kejadian ini adalah yang pertama dan terakhir untuk kamu." Dirga mengecup kening Niar sangat dalam tak terasa air matanya pun menetes.
Dirga membopong tubuh Niar keluar dari cafe itu. Para karyawan melihat dengan mata mereka sendiri. Betapa baiknya dan juga sangat melindungi seorang Angga yang mereka kenal, yang tak lain adalah kekasih lama pemilik cafe ini.
Selama perjalanan menuju rumah sakit, Dirga memangku Niar. Mendekapnya erat seakan dia akan selalu melindungi kekasihnya. Tak henti-hentinya Dirga mengecup puncuk kepala Niar. Sedangkan Niar sudah terlelap di dalam dekapan Dirga.
Akan gau bikin hidup lu menderita, Jicko.
***
Udah 3 bab ya, jangan nagih lagi ya ....
Menguras emosi nulisnya 🤧
__ADS_1
Ayo dong, komen ... biar aku tau siapa aja yang sayang sama Dirga dan Niar. Biar gak aku bikin cepet End ceritanya ...
Happy reading ...