
Setiap tengah malam, Niar akan memuntahkan semua yang telah dimakannya. Membuat Dirga kadang tidak tega melihat istrinya dengan tubuh yang semakin kurus.
"Yang, kalo kondisi kamu terus seperti ini. Lebih baik, kamu di infus, ya. Aku takut kamu dan bayi kita kenapa-kenapa." Niar mengangguk pasrah. Tubuhnya sudah sangat lemas. Dan tidak ada asupan makanan yang masuk ke dalam tubuhnya. Seakan semuanya ditolak oleh sang bayi.
"Ay, aku mau salad buah."
Dengan cepat Dirga membuatkannya. Permintaan istrinya akan selalu Dirga turuti. Tidak peduli tengah malam atau pagi hari. Dirga akan mengikuti keinginan Niar.
Niar akan terus menempel pada tubuh Dirga ketika Dirga membuatkan sesuatu untuknya. Semakin hari, Niar semakin enggan untuk berpisah dengan Dirga. Dia akan menangis, jika Dirga tidak ada di sisinya
Sungguh ibu hamil yang sangat manja.
"Sudah selesai." Dirga menunjukkan hasil karyanya kepada Niar dan lengkungan senyum terukir di wajah Niar.
"Mau makan di mana?"
"Di situ?" tunjuk Niar ke arah meja makan.
Sudah hampir sebulan Niar tidak pernah menemani suaminya untuk makan di meja makan. Bukan tanpa alasan, Niar tidak bisa mencium aroma masakan apapun. Seketika, perutnya langsung mual.
Dengan sabar Dirga menyuapi Niar. Niar hanya akan lahap makan ketika malah hari. Itupun makanan yang dibuatkan oleh Dirga, suaminya. Untung saja, Dirga memiliki tingkat kesabaran yang luar biasa. Mampu menghadapi sikap manja sekaligus cengeng Niar.
"Ay, aku mau nasi goreng. Telornya empat." Dirga tersenyum ke arah Niar karena merasa lucu ketika melihat istrinya manja seperti ini.
Lelah, penat yang Dirga rasakan, berubah menjadi kebahagiaan ketika melihat istrinya tersenyum bahagia. Selelah apapun Dirga, dia tidak akan pernah menolak permintaan Niar. Baginya, membuat istrinya bahagia adalah tanggung jawab utamanya.
Sebenarnya Dirga tidak bisa memasak. Karena permintaan dari istrinya lah akhirnya dia mencoba memasak. Masakan yang asin, hambar, selalu Niar habiskan. Bagi Niar, semua masakan Dirga enak. Padahal, di lidah Dirga rasanya sangat aneh dan membuat mual. Pernah Dirga menyuruh Niar untuk membuang hasil makanannya. Tapi, Niar malah menangis tersedu.
"Telornya matang apa setengah matang, Yang."
"Dua matang, dua setengah matang," sahut Niar yang sedang asyik mengunyah strawberry.
Lima belas menit kemudian, nasi goreng ala Dirga sudah ada di depan mata Niar. Dengan lahapnya Niar memakan nasi goreng buatan Dirga. Tidak sampai sepuluh menit, nasi goreng empat telor ceplok habis dilahap oleh Niar. Membuat Dirga menggeleng tak percaya.
__ADS_1
Sungguh bahagia melihat Niar seperti ini. Namun, keadaan Niar berubah jika pagi menjelang. Tubuhnya akan lemah dan penciumannya akan sangat sensitif. Tidak ada makanan yang mampu Niar makan. Dan air minum pun tidak boleh sembarangan. Dirga sudah mengganti beberapa merk air galon yang dia konsumsi. Tapi, Niar masih saja memuntahkannya. Dan setelah menemukan air mineral yang tidak membuat istrinya mual. Akhirnya, Dirga mengganti air mineral yang biasa dia konsumsi dengan merk lain.
"Mau tidur?" tawar Dirga. Niar pun mengangguk.
Perlahan Dirga membawa tubuh Niar ke kamarnya. Sekarang, kamar mereka berada di lantai bawah. Jadi, lebih leluasa Niar melakukan aktifitasnya. Meskipun, Niar tidak pernah suka keluar kamar.
Hari-hari berganti, kondisi Niar masih sama seperti itu. Dan kebetulan malam ini, Dirga pulang malam. Membuat Niar rindu setengah mati. Padahal, ada mamah mertuanya yang menemaninya. Tapi, Niar masih merasa enggan. Apalagi mengingat bagaimana perilaku mertuanya lima tahun lalu. Dengan sengaja memisahkannya dengan Dirga. Padahal mereka saling mencintai.
"Mbok, setiap hari Niar memang seperti itu?" tanya Mamah Septi kepada Mbok Sum.
"Iya, Bu. Nyonya jarang keluar kamar. Beliau lebih memilih menghabiskan waktunya di kamar. Lagi pula, jika Beliau keluar pun tidak ada teman untuk mengobrol."
"Selama hamil dia gimana?" tanya Mamah Septi lagi.
"Nyonya belum bisa makan Bu. Mencium aroma masakan saja dia tidak bisa. Makanya, setiap hari Tuan selalu makan sendirian."
"Kok makin ngelunjak, ya. Seharusnya, bagaimana pun kondisi Niar, dia harus tetap melayani suaminya. Jangan berlagak layaknya putri di rumah ini," geram Mamah Septi.
"Wajar Bu, ini kehamilan pertama untuk Nyonya. Dan Tuan pun terlihat senang-senang saja. Tidak pernah protes," urai Mbok Sum.
"Dia itu sebenarnya bukan mabok. Tapi, emang dasarnya aja manja."
Niar yang hendak keluar kamar pun mengurungkan niatnya. Sedari tadi, dia mendengar ocehan demi ocehan yang Mamah mertuanya layangkan. Setetes bulir bening, meluncur dari matanya.
"Bukan keinginanku seperti ini," gumamnya.
Sudah jam sepuluh malam, Dirga belum pulang juga. Dirga memang mengatakan jika, akan pulang terlambat. Karena ada meeting dadakan.
Di dapur, Mbok Sum terheran-heran karena tidak biasanya Niar tidak keluar. Biasanya, sehabis Maghrib, Niar akan mengambil buah strawberry ataupun anggur untuk dibawanya ke dalam kamar.
"Apa Nyonya baik-baik saja?"
Tak berapa lama, Dirga tiba di rumahnya. Sebelumnya, dia membersihkan diri di kamar mandi dapur. Karena, katanya pamali jika dari luaran tidak bebersih dulu. Apalagi, istrinya sedang mengandung.
__ADS_1
"Belum tidur, Mbok?" tanya Dirga.
"Belum, Tuan. Saya masih harus membereskan ini," jawab Mbok Sum sambil menunjuk ke arah perabotan dapur.
"Baiklah, setelah selesai segera tidur, ya."
"Iya, Tuan."
Dirga pun menjauhi Mbok Sum, lalu Mbok Sum teringat akan sesuatu. Dia mengambil strawberry serta anggur dari dalam kulkas. Dan mengejar majikannya.
"Tuan, maaf." Langkah Dirga terhenti ketika mendengar suara Mbok Sum.
"Ini Tuan, tadi Nyonya tidak keluar kamar. Biasanya Nyonya akan ambil buah ini lalu, dibawanya ke kamar." Dirga terdiam sejenak mendengar ucapan mbok Sum. Dirga pun menerima satu buah kotak buah dari tangan Mbok Sum.
Ketika Dirga akan membuka pintu kamarnya, sang mamah membuat Dirga mematung sejenak.
"Apa itu?" tunjuk Mamah Septi ke arah tangan Dirga yang membawa kotak makan.
"Buah untuk Niar."
"Kenapa kamu yang harus membawakannya? Memangnya dia ratu di rumah ini? Apa-apa harus dilayani," cerca Mamah Septi.
"Dari tadi juga istrimu gak pernah keluar kamar. Gak suka kali sama Mamah karena Mamah ada di sini," adunya pada Dirga.
"Udah ngocehnya? Aku capek, aku mau istirahat." Dirga pun masuk ke dalam kamarnya. Sama sekali tak mengindahkan ucapan Mamah Nina.
Dilihatnya, sang istri sudah terlelap. Dirga tersenyum, lalu menghampirinya. Namun, Dirga melihat ada jejak air mata di ujung mata Niar. Membuat Dirga menerka-nerka apa yang membuat istrinya menangis. Dan terdengar jelas, suara perut Niar yang berbunyi. Menandakan Niar tidak makan apapun. Dirga melihat ke arah nakas. Tak ada makanan di sana. Hanya gelas kosong.
"Apa kamu menangis karena Mamah?"
...----------------...
Adakah yang mengalami seperti Niar?
__ADS_1
Jangan lupa komen ...