
Mendengar pengalaman Echa dan juga Nesha, Niar lebih semangat mengurus Arshen seorang diri. Dia harus membiasakan diri untuk mengurus putranya tanpa bantuan dan suami. Besok Dirga harus pergi ke luar kota seorang diri karena Nindy dan Kenan sedang berbulan madu ke Bandung.
"Sayang, beneran bisa ngurus Arshen sendiri? Kita sewa baby sitter aja ya, selama Papih pergi ke luar Kota." Niar menggeleng.
"Mamih bisa sendiri kok, Pih. Ada Mbok Sum kok yang akan bantu Mamih," jawab Niar.
Tetap saja Dirga tidak tenang. Dia bingung mau meminta bantuan kepada siapa. Seharusnya ada ibunya yang membantu Niar, tetapi ibunya malah mendekam di penjara.
Ketika Dirga tengah pusing, suara ketukan pintu terdengar. Dirga segera membukakan pintu dan lengkungan senyum terukir di wajahnya.
"Bunda."
Bu Sari tersenyum ke arah menantunya. Dirga mencium tangan Bu Sari dengan sopan.
"Di mana cucu, Bunda?" tanya Bu Sari.
"Ada di kamar, Bunda," jawabnya.
"Bunda di sini aja dulu. Gak boleh langsung ketemu anak bayi," terangnya.
Dirga mengangguk pelan dan mengambilkan minuman untuk sang ibu mertua.
"Ya ampun, kenapa repot banget begini?" ujar Bu Sari.
"Gak apa-apa, Bun. Aku malah bahagia banget, Bunda bisa datang ke sini." Bu Sari tersenyum ke arah menantunya.
"Maaf ya, Bunda baru bisa datang ke sini." Dirga menggeleng.
"Aku malah senang Bunda datang disaat yang tepat." Dahi Bu Sari mengkerut tidak mengerti.
"Besok aku harus ke luar Kota. Aku gak tega ninggalin Niar sendirian seorang diri. Nindy lagi berbulan madu ke Bandung."
Bu Sari sangat melihat ketulusan dari Dirga. Dia menepuk lembut pundak sang menantu.
"Makasih, udah jagain anak Bunda," ucapnya.
__ADS_1
Dirga sangat bersyukur karena ibu mertuanya datang ke sini di waktu yang tepat. Setengah jam berbincang dengan ibu mertuanya. Dirga membawa Bu Sari ke kamarnya.
"Assalamualaikum, Ni."
Mendengar suara yang tak asing, Niar segera menoleh dan matanya nanar.
"Bunda," panggilnya.
Bu Sari segera menghampiri putri bungsunya. Dia memeluk tubuh Niar dengan sangat erat.
"Maaf ya, Nak. Ketika kamu berjuang di antara hidup dan mati, Bunda tidak menemani kamu."
Niar sudah terisak, dia menggelengkan kepalanya.
"Enggak apa-apa, Bunda. Dopa Bunda sudah cukup untuk aku. Makasih, sudah memaafkan segala kesalahan aku hingga proses persalinan aku berjalan dengan lancar. Maafkan aku yang sudah membuat Bunda menangis dan sering marah-marah. Setelah aku melahirkan, aku tahu bagaimana sulitnya menjadi seorang ibu. Maafkan aku, Bun."
Suasana berubah menjadi hening. Dirga tersenyum dengan menahan tangisnya. Niar dan dirinya memang hidup di antara keluarga yang tidak sempurna. Mereka bertekad anaknya tidak boleh bernasib sama seperti mereka.
"Sebesar apapun kesalahan seorang anak. Seorang ibu pasti aka memaafkannya. Selalu mendoakan anaknya tanpa diminta," terang Bu Sari.
Dirga membiarkan istri dan mertuanya untuk melepas rindu. Dia memilih untuk pergi ke ruang kerja dan menyiapkan semuanya sendirian. Sekarang, dia harus belajar menyiapkan semuanya seorang diri karena Niar sudah repot dengan putra mereka.
"Akhirnya, kamu menemukan kebahagiaan kamu.yang sesungguhnya, Nak," batin Bu Niar.
Malam ini Dirga mengalah, dia tidur di kamar tamu. Dia membiarkan mertuanya tidur bersama
Niar dan juga Arshen. Setelah menyusui Arshen, Niar masuk ke kamar tamu. Suaminya sedang memandangi laptopnya.
"Papih." Suara sang istri membuyarkan kefokusannya. Dirga tersenyum ke arah Niar yang sudah mendekat.
"Maaf, ya."
Kalimat itulah yang keluar dari mulut Niar. Dirga mengerutkan dahinya tak mengerti. Kini, Niar malah memeluk tubuhnya.
"Mamih kenapa?" tanya Dirga.
__ADS_1
"Maaf, Mamih tidak bisa mengurus Papih," sesalnya.
Dirga pun tertawa, akhir-akhir ini istrinya sangat sensitif. Hal sekecil apapun mampu membuatnya menangis.
"Mamih Sayang, Papih tidak apa-apa. Papih mengerti bagaimana repotnya Mamih. Papih juga sudah banyak bertanya kepada Papah-papah muda seperti Radit dan juga Rindra. Mereka juga mengalami hal yang sama seperti Papih ini."
Awalnya Dirga merasa diabaikan, tetapi setelah banyak sharing hampir semua suami akan dinomor duakan ketika buah hati mereka lahir. Namun, percayalah istri masih mencoba mengutamakan suami.
"Jangan banyak pikiran ya, Mamih. Itu akan berimbas pada kelancaran ASI Mamih juga akan membuat putra kita rewel."
Niar mengangguk tanpa melepaskan pelukannya di pinggang Dirga.
"Papih hanya dua hari kok. Paling lama tiga hari." Dirga mengurai pelukannya. Dia menghapus jejak bulir bening di wajah cantik sang istri. Meskipun, lingkaran hitam menghiasi mata cantik istrinya.
"Cepat kembali. Mamih dan Arshen akan sangat merindukan Papih."
Dirga baru merasakan apa yang teman-temannya rasakan. Lebih berat meninggalakan anak dari pada meninggalakan istri untuk pekerjaan ke luar Kota.
Keesokan paginya, baby Arshen sudah tampan sekali. Dia akan mengantar papihnya meski hanya di depan rumah. Sebelum berangkat, Dirga menggendong Arshen terlebih dahulu. Dia mengajak bicara Arshen serta berlama-lama memandangi wajah Arshen.
"Jagoan Papih, jangan nakal ya, Nak. Jangan buat Mamih dan Nenek capek. Selama Papih pergi ke luar Kota. jangan bangun tengah malam ya, Nak. Kasihan Mamih dan nenek nantinya," ucap Dirga di telinga Arshen.
Niar tersenyum mendengar ucapan dari Dirga untuk Arshen. Putranya itu seolah mengerti. Dia menjelma menjadi anak yang anteng sekarang. Sesekali Arshen tersenyum dalam tidurnya.
"Kamu kok nurut banget sih sama Papih kamu," timpal Niar, seraya mengusap pipi Arshen dengan gemas.
"Bukan hanya kepada Papih ya, Nak, kamu harus nurutnya. Kamu juga harus nurut kepada Mamih, Oma, Nenek, Om dan juga anteu. Semua yang menyayangi kamu harus kamu patuhi dan sayangi. Tidak boleh menjadi anak pembangkang."
Niar tersenyum bahagia mendengar ucapan sang suami yang luar biasa.
"Makasih Papih, sudah menyayangi Mamih dan Arshen dengan sangat tulus. Sudah menjadi pahlawan untuk kami berdua. Terima kasih," ucap Niar tulus.
Dirga merengkuh pinggang Niar dengan satu tangannya karena tangannya yang satu lagu tengah menggendong Arshen.
"Kalian lah permata berharga yang Tuhan berikan untuk Papih. Kalian adalah kebahagiaan Papih sesungguhnya. Jangan tinggalkan Papih, dan tetaplah di samping Papih hingga kita menua dan maut memisahkan kita."
__ADS_1
Bulir bening pun menetes di pelupuk mata Niar. Dia sangat terharu sekaligus bahagia karena sang suami begitu tulus mencintainya.
Kebahagiaan Niar dan Dirga sudah lengkap sekarang ini. Kehadiran Arshen semakin menguatkan cinta mereka. Tidak ada alasan untuk mereka saling menjauh. Sudah cukup cinta mereka diuji enam tahun silam. Kini saatnya mereka memetik kebahagiaan.