
Keesokan harinya Niar hanya mengurung diri di kamar. Semalaman dia mencari ponselnya namun, tak dia temukan. Hanya ponsel itu yang menjadi penghubung antara dirinya dan juga Dirga. Ada beberapa orang yang berjaga di depan rumahnya. Mereka adalah orang suruhan Jicko untuk mengawasi Niar agar Niar tidak keluar rumah.
"Niar." Suara sang bunda membuyarkan lamunannya. Mata Niar berkaca-kaca menatap Bu Sari.
"Bunda, aku tidak mencintai dia. Aku hanya mencintai Dirga."
"Niar ...."
"Bun, Bunda merasa kan hampir seminggu ini aku berubah. Itu semua berkat Dirga, Bun. Aku ketemu Dirga."
Bu Sari terdiam mendengar ucapan Niar. Dia memang sudah merasakan ada sesuatu hal yang aneh dari putrinya. Dia merasa Niar putrinya telah kembali.
"Bunda percaya, kan? Aku tidak depresi," terang Niar sambil menggenggam tangan sang bunda.
"Sekarang di mana Dirga?"
"Dia ke Jakarta, Bun. Karena perusahaannya sedang ada masalah."
"Bun, tolong aku," pinta Niar dengan air mata yang sudah terjatuh.
__ADS_1
"Tolong bantu aku, aku ingin pergi jauh dari sini. Aku ingin bahagia, Bun," lirihnya.
"Niar, ingat Nak. Dirga sudah memiliki istri," ujar sang bunda.
"Bunda dia sudah ber ...."
"Laki-laki itu pandai berdusta, Nak. Mereka akan mengaku bujang jika, mereka di luar kandang. Padahal aslinya mereka sudah memiliki istri bahkan anak. Lelaki itu tidak memiliki bekas dan bukti jika, dia lajang atau memiliki pasangan. Berbeda dengan kita wanita, kita memiliki bekas yang diketahui oleh lelaki jika kita masih tersegel rapi atau sudah dijamah orang lain," terang Bu Sari.
"Bun, aku percaya sama Dirga."
"Niar, bukalah hati kamu untuk pria lain. Masih ada yang tulus mencintai kamu selain Dirga," ucap Bu Sari.
"Bunda selalu bilang, cinta akan datang karena terbiasa. Nyatanya tidak seperti itu, Bun. Selama dua tahun aku bersama Jicko hatiku hambar dan tetap hampa. Ingin aku mengakhiri hubungan ini dari dulu. Tapi, aku tidak mau mengecewakan Bunda dan Ayah. Apa masih kurang pengorbananku selama ini? Pura-pura bahagia di depan kalian padahal hatiku menjerit dan menangis."
Niar mengungkapkan isi hatinya sebenarnya kepada sang bunda dengan air mata yang bercucuran. Begitu pun Bu Sari yang tak kuasa menahan tangisnya.
"Niar ...."
"Jika, Bunda dan Ayah tetap memaksa agar aku menikah dengan dia, akan aku turuti. Anggap saja ini tanda terimakasih ku kepada kalian yang telah merawat anak DEPRESi seperti ku ini."
__ADS_1
Mendengar kata depresi, ulu hati Bu Sari terasa nyeri. Bu Sari mencoba untuk menjelaskan kepada Niar namun, Niar tak mempedulikannya. Hati Niar sudah teramat sakit, ketika dia mulai bangkit tapi orang-orang yang berada didekatnya mencoba menghalanginya.
Seharian ini Niar tak banyak bicara dan tak keluar rumah. Dia hanya menatap kaca jendela kamarnya dengan sesekali air matanya menetes.
Aku harap kamu datang, Ay. Bawa aku pergi dari sini.
Pagi harinya Niar sudah dirias oleh penata rias terkenal. Wajahnya yang memang sudah cantik semakin cantik ketika diberi sentuhan bedak dan yang lainnya.
Niar menatap wajahnya di cermin besar. Tidak ada pancaran kebahagiaan di wajah Niar. Matanya kosong seakan tidak memiliki harapan lagi. Dan Niar pun dibawa ke lantai bawah di mana calon mempelai pria sudah berada di depan penghulu.
Bu Sari tak kuasa menahan tangisnya melihat putrinya yang sudah terlihat cantik namun, berwajah datar dan tidak menampakkan kebahagiaan. Begitu pun Ara, dia sangat tahu bagaimana adiknya ini. Berbeda dengan Jicko, kebahagiaan terlihat jelas di wajahnya. Sebentar lagi, Niar akan menjadi miliknya.
Acara pun dimulai, ketika penghulu mengatakan TUNAI dengan lantangnya Jicko menjawab, "saya terima nikah dan kawinnya Niara Aghestya binti Ahmad Khorun dengan mas kawin tersebut tu ...."
"Sayang ...."
***
Happy reading ...
__ADS_1