Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Mengenang Masa Sekolah


__ADS_3

"JANGAN!" teriaknya.


Dirga segera menarik tubuh Niar dan menjauhi wanita itu. Ya, wanita itu adalah Mamah Nina.


"Kenapa Mamah ada di sini?" hardik Dirga. Tubuh Niar sudah bergetar hebat menandakan dia sedang ketakutan.


"Ay, pulang," ucapnya lirih.


"Iya, Sayang. Kita pulang." Mamah Nina tercengang mendengar ucapan putranya. Dia melihat, aura kemarahan masih terpancar di mata sang putra. Begitu juga, aura ketakutan yang Niar rasakan.


Di sepanjang perjalanan, Dirga terus menggenggam erat tangan Niar. Wajah Niar sudah sangat pucat. Dia teringat kejadian pada waktu. Di mana ketika Niar terjatuh Mamah Nina hanya menjadi penonton setia. Tanpa ada niat sedikit pun untuk membantunya. Betapa perihnya hati Niar, apalagi dia masih sadar dan merasakan ada darah yang mengalir di kakinya. Seakan, Mamah Nina ingin membunuh anak yang ada di dalam kandungannya.


"Sayang."


"Aku takut," lirih Niar. Dan air matanya tak bisa tertahan lagi. Dirga segera menepikan mobilnya dan mendekap hangat tubuh Niar.


"Ada aku di sini, Sayang." Dirga mengecup ujung kepala Niar seraya menenangkannya. Setelah Niar tenang dan terlelap. Dirga mulai melajukan mobilnya kembali menuju rumah mertuanya.


Tibanya di rumah, sang bunda menukikkan kedua alisnya menatap sepasang suami istri ini dengan tatapan heran. "Kok sudah pulang?"


"Niar sudah kelelahan, Bunda." Dirga berusaha tidak mengatakan hal yang sesungguhnya. Dia takut, bundanya akan semakin khawatir akan kondisi Niar.


"Pelan-pelan gendong Niarnya," imbuh sang bunda.


Dengan sangat hati-hati, Dirga membawa tubuh Niar menuju kamar mereka. Diletakkannya tubuh Niar di atas tempat tidur. Dirga menatap sendu ke arah Niar.


"Akan aku pastikan, jika Mamah tidak akan pernah menampakkan wajahnya lagi di depan kamu, Sayang." Dirga mengecup kening Niar sangat dalam.


Ketika Dirga membersihkan tubuhnya di dalam kamar mandi. Niar mulai membuka mata. Dia mengedarkan pandangannya dan mencari sosok Dirga.


"Ay," panggilnya.

__ADS_1


Namun, tidak ada sahutan dari Dirga. Membuat rasa takut menyelimuti hatinya. Selama hamil, kondisi Niar sangat amat sensitif. Mudah marah dan juga mudah menangis.


Dirga baru keluar dari kamar mandi hanya dengan menggunakan lilitan handuk di pinggangnya. Dia terkejut ketika melihat istrinya sedang menangis tersedu.


"Sayang, kamu kenapa?" Dirga benar-benar panik dibuatnya. Dia segera memeluk tubuh istrinya.


"Aku kira kamu pergi. Aku takut, jika nasibku dan anakku sama seperti film yang aku tonton."


Astaga! Dirga menjerit di dalam hati. Kehamilan Niar kali ini sangat menguji kesabaran Dirga.


"Suaminya ... meninggalkan istrinya ketika usia kandungannya dua bulan. Dan dia melahirkan seorang diri tanpa seorang suami. Aku takut. itu akan terjadi padaku, Ay." Dirga mengeratkan pelukannya. "Aku tidak akan pernah meninggalkanmu, Sayang. Cintaku hanya untuk kamu dan juga anak-anak kita."


Niar mengeratkan pelukannya. Dan di kehamilan ini Niar juga menyadari jika dia sering sekali bersikap aneh. Dan selalu membuat suaminya kewalahan. Ada rasa takut yang menyelimuti hatinya. Niar takut, jika Dirga akan berpaling darinya karena sikap anehnya sekarang ini.


"Kamu tidur ya, Sayang. Sudah malam. Aku ganti piyama dulu. Nanti aku peluk kamu sampai pagi." Niar pun mengangguk patuh. Mereka terlelap dengan saling berpelukan sampai pagi.


Hari ini adalah hari terakhir Niar dan Dirga di Malang. Niar tidak ingin pergi ke mana-mana. Dia hanya ingin menghabiskan waktunya di kamar kesayangannya.


"Serius gak ingin pergi?" Niar menggeleng.


"Ya ampun, aku tuh sampai diopname loh gara-gara kamu." Dirga menjawil hidung mancung Niar karena gemas akan keisengan Niar ketika di bangku sekolah.


#Flashback On.


"Ni, dari tadi anak kelas IPA dua ngeliatin lu terus," ucap Bila sambil menyenggol lengan Niar yang sedang asyik mengunyah.


"Biarin aja, sih."


Niar memang terbilang anak yang jutek dan tidak mau tahu tentang lingkungan sekitar. Dia tidak peduli dengan urusan orang lain. Begitu juga orang lain jangan pernah mengurusi kehidupan pribadinya.


"Susah emang si kepala batu mah," sungut Sisi. Niar tidak mendengarkan sungutan para sahabatnya. Pada nyatanya, Niar tidak percaya akan cinta. Cinta itu hanya kebohongan belaka. Orang yang sudah menikah lama pun masih rentan untuk bercerai. Buktinya bunda dan ayahnya.

__ADS_1


Sudah hampir sebulan Dirga memperhatikan Niar. Namun, yang diperhatikan seolah acuh kepadanya. Tidak pernah menoleh sedikit pun kepada Dirga. Hingga satu insiden terjadi. Niar terlambat datang ke sekolah karena dia bangun kesiangan sehabis nonton drama China. Dan hari ini adalah hari Senin, di mana upacara bendera berlangsung. Bagi siapa saja yang terlambat sudah pasti akan menerima hukuman yang setimpal.


"Mampoes gua," gumamnya karena pintu gerbang sudah terkunci. Dan upacara sudah berlangsung.


Tiba-tiba, ada tangan yang menariknya dan menyeret tubuh Niar dengan paksa. Niar hendak berteriak, tapi si laki-laki tersebut mendekatkan telunjuknya ke bibir Niar. Menandakan Niar tidak boleh berisik.


"Ikut aku," pinta laki-laki itu. Ternyata, Niar diajak ke belakang sekolah di mana ada pintu rahasia tempat anak-anak Badung bolos sekolah. Pintu itu bisa terbuka asal ada uang jatah buka pintu untuk si penjaga pintu neraka tersebut. Ya, pintu tersebut disebut pintu neraka oleh para siswa yang sering bolos melewati pintu itu.


"Makasih." Niar hendak meninggalkan Dirga, tapi lengan Niar dicekal oleh Dirga.


"Cuma itu?" Niar malah menyipitkan matanya.


"Dirga." Laki-laki itu pun mengulurkan tangannya ke hadapan Niar. Awalnya, Niar hanya menatap tangan Dirga. Sejurus kemudian dia menerima uluran tangan itu. "Niara." Niar menyebutkan namanya.


Setelah kejadian itu, Dirga mulai berani mendekati Niar hingga Niar risih. Dan muncullah ide gila di kepala Niar. Ketika Dirga bersikap sok manis kepadanya, Niar juga bersikap demikian. Dengan menanggalkan harga dirinya, dia mengajak Dirga untuk makan selepas pulang sekolah. Dengan cepat, Dirga pun menyetujuinya.


Niar mengajak Dirga makan bakso yang tak jauh dari sekolah mereka. Ternyata itu buka sembarang bakso. Bakso kuah merah dan juga bakso isi mercon. Setelah dua mangkuk dihidangkan di depan Niar dan Dirga. Seketika Dirga menelan ludahnya. Dia tidak bisa makan pedas. Tanpa basa-basi, Niar langsung melahap bakso pesanannya dengan begitu nikmat.


"Makan," titah Niar dengan mulut yang penuh.


Ingin rasanya Dirga berkata jujur, tapi dia takut Niar kecewa. Dan ini juga adalah kesempatan langka bisa berduaan dengan Niar. Biasanya ada para sahabat Niar yang berada di samping Niar.


Dengan penuh ketakutan, Dirga melahap bakso yang sudah ada di hadapannya. Matanya melebar ketika dia mengunyah cabe rawit yang menjadi isian di dalam bakso. Wajah Dirga merah padam karena rasa pedas. Segelas es teh manis pun tidak mampu menghilangkan rasa pedas nan panas di lidahnya. Dan Niar pun tertawa di dalam hati.


Keesokan harinya, Niar tidak melihat batang hidung Dirga. Dia mendengar dari para pengagum Dirga, jika Dirga sakit dan dirawat di rumah sakit karena salah makan. Niar dilanda ketakutan karena sebenarnya dia tahu Dirga tidak suka pedas. Tanpa banyak cerita, sepulang sekolah Niar menjenguk Dirga dengan rasa bersalah yang sudah membuncah.


"Maafkan aku." Niar tidak mau melihat wajah pucat Dirga dengan selang infus di tangannya. Karena itu semua karena ulah Niar.


"Kenapa kamu nangis? Aku gak apa-apa."


"Hua ...."

__ADS_1


Niar memeluk tubuh Dirga dengan eratnya dengan mulut yang terus mengucapkan ratusan bahkan ribuan kata maaf. Dari pedasnya cabe berubah menjadi manisnya cinta yang melebihi biang gula. Begitulah kisah awal mula Dirga dan Niar bersama dan masih tetap bersama hingga sekarang ini.


#Flashback off.


__ADS_2