
Langkah mereka terhenti ketika seseorang memanggil Dirga. Dan langsung menghampiri Dirga dan menyentuh setiap bagian tubuh Dirga.
"Pak Dirga gak apa-apa, kan," ucapnya penuh khawatir.
Niar menatap ke arah wanita itu dengan tatapan jengah. Apalagi Dirga yang terlihat tidak menolak disentuh oleh wanita lain. Niar melangkahkan kakinya dan masuk ke dalam apartment milik Dirga yang dia sudah hafal sandinya.
"Yang," panggil Dirga.
Dirga meninggalkan wanita itu begitu saja dan mengejar Niar yang sedang merajuk kembali.
"Sayang." Dirga terus memanggil-manggil Niar yang tengah mengunci dirinya di kamar Dirga.
Dirga langsung menghubungi Kenan. Ketika Kenan masuk air muka Dirga berubah. "Ngapain lu kasih tau tuh sekretaris genit apartment gua," sarkas Dirga.
"Lah, siapa yang ngasih tau dia? Kapan lu ketemu?"
"Barusan, tuh si Niar ngambek pan," ucap Dirga.
"Ck, lagian kan udah gua bilang pecat aja. Lu yang batu, dia itu ada perasaan sama lu Dirga. Jadi orang gak peka banget sih," ujar Kenan.
"Dia layak untuk gua pertahankan soalnya dia ...."
"Ehem." Deheman Niar membuat Dirga mati kutuk.
Kenan menahan tawanya melihat wajah Dirga yang sudah pias. "Lanjut dah ya, gua mau istirahat." Kenan beranjak dari duduknya dan meninggalakan sepasang kekasih yang sudah pasti akan bertengkar.
"Yang, aku bisa jelasin," imbuh Dirga.
Niar tak mendengarkan ucapan Dirga dan melangkahkan kaki keluar dari apartment Dirga. Namun, dengan cepat Dirga menghadang Niar.
"Yang, tolong dengar dulu penjelasan aku," pinta Dirga.
__ADS_1
"Minggir," sentak Niar.
Dirga memeluk tubuh Niar dan Niar terus memberontak. Karena tidak tahan dengan amukan Niar, Dirga memanggul tubuh Niar layaknya karung beras dan menurunkannya di atas tempat tidur. Tak lupa, dia mengunci kamarnya.
Dirga langsung menindih tubuh Niar. "Kamu mau apa?" tanya Niar takut.
Dirga mencium bibir Niar dan tangannya sudah tidak mau diam. Bibir Dirga sudah mulai turun ke area leher membuat Niar memejamkan matanya.
"Ay, aku mohon jangan." Mendengar Niar memanggilnya dengan sebutan sayang seperti itu membuat Dirga menghentikan aktifitasnya.
Dirga melihat manik mata Niar yang sudah berkaca-kaca. Bibir Dirga menempel lagi ke leher Niar dan memberikan hisapan yang cukup kencang sehingga meninggalkan kissmark.
Niar pun menangis membuat Dirga menghentikan kegiatannya. Dia menjatuhkan diri di samping Niar dan memeluknya.
"Aku tidak ada hubungan apa-apa dengan dia, Sayang. Dia hanya sekretarisku," kata Dirga.
"Dia memang menyukaiku tapi aku sama sekali tidak menyukainya. Memecatnya pun aku tidak bisa, karena dia juga berkompeten. Aku tidak bisa memecat hanya karena alasan pribadi," jelasnya.
Dirga menghapus air mata yang sudah membanjiri wajah Niar. Lalu mengecup bibir Niar sekilas.
"Dia masih ada di bawah. Dan dia bukan tipe wanita yang pantang menyerah. Aku ingin dia melihat tanda cinta ini di lehermu. Dan hari ini aku akan memecatnya," ujar Dirga.
****
Kenan menghembuskan napas kasar ketika melihat Diva yang memang ada di loby. Ingin rasanya dia memaki wanita tak tahu malu ini.
"Dipanggil Pak Dirga ke unitnya," ujar Kenan dingin.
Bibir Diva tersenyum bahagia, akhirnya dia diperbolehkan masuk ke dalam apartment lelaki yang dia cintai.
Setelah masuk ke dalam apartment, Diva disuguhkan pemandangan yang membuat hatinya sakit. Dirga sedang memangku Niar dan merengkuh pinggangnya. Dia sedang mengecup dalam bibir Niar.
__ADS_1
Deheman Kenan membuat Dirga dan Niar melepaskan pagutan bibir mereka. "Duduk," titah Dirga kepada Diva.
Diva terus mematung di tempatnya, apalagi sekarang Niar sudah membenamkan kepalanya di dada bidang Dirga. Rambut Niar dicepol ke atas hingga memperlihatkan tanda merah di leher putihnya. Diva benar-benar dibuat kecewa oleh Dirga.
"Mulai besok, kamu tidak diperbolehkan lagi bekerja di perusahaan saya," tegasnya.
"Ke-kenapa?"
"Karena kamu telah mengganggu privasi saya. Kamu diam-diam membuntuti saya, dan kamu tau kan akibatnya jika ada karyawan yang kepo dengan urusan pribadi saya."
Tubuh Diva gemetar hebat, dia lupa Dirga bisa berbuat kejam kepada siapa saja.
"Ta-tapi, Pak ...."
"Pesangon kamu sudah saya transfer ke rekening kamu. Bisa kamu cek," ucap Kenan.
"Ayo Sayang, kita lanjutkan yang tadi," ucap Dirga dan langsung membawa Niar ala bridal style ke kamarnya.
Diva memandangnya dengan hati yang sakit berbeda dengan Kenan memandangnya dengan tatapan kesal.
Kenapa harus bikin adegan begituan sih?
Sedangkan di kamar Niar tertawa. "Udah puas?" tanya Dirga.
"Terbaik," ucap Niar sambil mencium bibir Dirga.
"Jangan marah lagi ya, mending kita fokus pada pernikahan kita." Niar pun mengangguk setuju.
***
Besok kita masuk ke part pernikahan Dirga dan Niar ya, setelah itu ada kemungkinan ceritanya aku gantung Karena aku akan istirahat sejenak di dunia kepenulisan.
__ADS_1
Happy reading ....