
Senyum Niar tersungging melihat suami dan sang papah mertua yang begitu saling menyayangi. Hatinya terasa sangat bahagia. Meskipun Dirga hanya anak angkat, kasih sayang Deri jangan diragukan lagi.
"Papah udah makan?" tanya Niar dengan senyuman hangat.
"Kita makan bareng, ya, Pah. Udah jarang banget kita makan bersama," imbuh Dirga. Deri tersenyum dan menyetujui ajakan Dirga.
Dirga dan Niar mengajak Deri untuk sarapan di luar. Sarapan di pinggir jalan di mana tukang makanan berjejer dengan ramainya. Mereka menyantap sarapan dengan penuh canda tawa. Beban Deri hilang seketika jika sudah bersama anak dan menantunya. Seperti tidak terjadi apa-apa dengan dirinya.
Ketika mereka selesai makan, dua orang wanita tiba-tiba bersujud di kaki Deri. Sontak mata Deri melebar. Apalagi ini di tempat umum, menjadikan Deri pusat perhatian.
"Apa-apaan sih!" bentak Dirga.
Wajah penuh kemurkaan terlihat jelas. Urat-urat kemarahan terpampang nyata di wajah Dirga.
"Bangun!" titah Dirga.
__ADS_1
Sedari tadi yang mengeluarkan suara hanya Dirga. Deri hanya terdiam dengan emosi yang tertahan.
Septi dan Bunga pun menuruti ucapan Dirga. Mereka berdua berdiri dan menghadirkan wajah pilu mereka.
"Maafkan Mamah, Pah." Mendengar ucapan Septi, Deri hanya tersenyum sinis. Kemudian, dia melangkahkan kakinya menuju mobil Dirga tanpa sepatah katapun. Meninggalkan dua wanita tersebut. Diikuti oleh Dirga yang terus menggenggam tangan Niar.
Deri sangat berpegang teguh kepada kepercayaan. Jika, dia sudah dikhianati jangan harap dia bisa percaya kembali. Seorang pengkhianat akan menjadi seorang pengkhianat. Berubahnya hanya karena ingin mengambil hati. Ketika diberi hati malah menyakiti kembali. Apa perlu diberi kesempatan untuk seorang pengkhianat? Tentu tidak. Itulah prinsip hidup Deri.
Di sepanjang perjalanan, Deri hanya terdiam membuat Dirga dan Niar saling pandang.
"Jika, Papah belum sanggup melepaskan Mamah. Kembalilah pada Mamah," ujar Dirga. Seketika Deri menatap ke arah Dirga yang tengah mengemudi.
"Kamu tahu 'kan ketika Papah memutuskan sesuatu tidak ada yang bisa mengubahnya." Sekarang Dirga mengangguk.
"Tidak perlu kamu menyuruh Papah untuk membatalkan rencana Papah. Semuanya sudah diurus oleh pengacara," tegas Deri.
__ADS_1
"Masalah bagaimana hati Papah kamu tidak perlu khawatir. Papah baik-baik saja. Sebentar lagi Papah akan memiliki cucu yang pastinya akan mengalihkan dunia Papah." Dirga dan Niar tersenyum mendengar penjelasan dari Deri. Sungguh Deri pria yang sangat tegas. Dan keputusannya tidak bisa diganggu gugat.
Ketika Dirga hendak melajukan mobilnya. Ketukan di kaca mobil membuat Dirga dan Niar menoleh. Tetapi, tidak dengan Deri. "Papah mau istirahat." Sebuah kalimat yang memiliki arti berbeda.
Dirga pun melajukan mobilnya tanpa memperdulikan dua orang yang terus mengejar mobilnya dari belakang. Niar mencoba melihat sang papah mertua dari kaca spion depan. Terlihat Deri baik-baik saja. Tetapi, tidak tahu dengan hatinya.
Tibanya di kediaman Deri, Mereka bertiga disambut oleh seorang perempuan cantik yang sudah berderai air mata. Dia berdiri dengan wajah yang basah. Menatap ke arah Deri dengan tatapan sangat pilu.
"Kenapa Papah gak bilang? Kenapa Ndy harus tahu dari orang lain?" cicitnya dengan suara bergetar.
Deri menghampiri putri satu-satunya lalu memeluknya. "Maafkan Papah, Ndy." Hanya Isak tangis yang menjadi jawaban dari Nindy.
Dirga pun mendekat ke arah Nindy. mengusap lembut punggung adiknya yang bergetar karena menangis. Dia menghela napas kasar. Dirga tahu, ini pasti ulah Kenan yang memberitahu Nindy. Hingga Nindy pulang ke Jakarta.
"Kenan, tunggu akibatnya karena tidak berdiskusi terlebih dahulu denganku," geram Dirga di dalam hati.
__ADS_1
...****************...
Komen ... komen ...