Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Maaf, Jika Aku Menyerah


__ADS_3

Setelah Bunga pergi tangan Niar melepaskan pisau itu hingga menimbulkan bunyi di lantai. Dia meninggalkan Septi dan Dirga yang masih membeku. Menutup pintu kamarnya dengan sangat keras dan menguncinya dari dalam.


Dia bersandar di belakang daun pintu, tubuhnya luruh seketika. Air matanya meluncur jua. Sakit, perih dan kecewa menjadi satu. Dia merasa dikhianati. Yang bisa Niar lakukan hanya memeluk perutnya. Seolah dia sedang memeluk anaknya. Penguat dirinya untuk saat ini.


"Maafkan Mamah, Nak. Jika, nanti Mamah menyerah," lirihnya.


Dirga menarik rambutnya frustasi sambil berteriak. "Kenapa wanita itu harus datang ketika aku sudah mendapat kebahagiaan?" geramnya.


Dirga meninggalkan Septi dan segera menyusul sang istri ke kamar. Ketika Dirga mencoba membuka handle pintu, ternyata pintu itu dikunci dari dalam. Berkali-kali pintu itu Dirga ketuk, tetapi tidak ada jawaban.


"Sayang, buka. Biar aku jelasin," kata Dirga dengan suara sedikit kerasa agar terdengar oleh Niar yang sedang berada di dalam kamar.


"Aku hanya mencintai kamu, Sayang. Hanya kamu," ucapnya lagi. Namun, masih tidak ada jawaban.


Membuat Dirga frustasi, tubuhnya bersandar di daun pintu luar sambil terduduk pilu. Dan Niar sedang menelungkupkan wajahnya di atas lututnya sambil terisak.

__ADS_1


Dirga terus mengetuk pintu kamarnya dan masih tidak ada jawaban dari Niar. Hingga asisten di rumahnya pun mencoba memanggil Niar dan lagi-lagi Niar tidak menjawab.


"Sayang, jangan siksa aku seperti ini. Kita bicara baik-baik dulu."


Malam sudah tiba, makanan yang Septi bawakan untuk Dirga sama sekali tidak dia sentuh. "Aku gak akan makan jika aku sendiri tidak tahu kondisi istriku di dalam kamar seperti apa." Septi seperti melihat anaknya lima tahun lalu, di mana dia ditinggalkan oleh Niar. Dan sekarang putranya sedang ketakutan. Dia takut hal itu terjadi lagi padanya dan Niar. Mungkin kali ini Dirga akan gila. Bukan hanya Niar yang pergi, anaknya pun pasti akan dibawa oleh Niar.


Papah Deri datang bersama Kenan. Dia terkejut ketika melihat putranya sudah kacau.


"Dari pagi Niar mengunci diri di dalam kamar," terang Septi.


"Jangan, aku tau Niar ada di belakang daun pintu ini," sahutnya lemah.


Deri menghela napas kasar. Kenan segera bertindak cepat. Menghubungi seseorang dan menyuruhnya segera datang. Lima belas menit berselang, seorang pria datang dengan semua peralatan yang dia bawa.


"Buka pintu ini, tanpa harus merusaknya." Pria itu pun mengangguk.

__ADS_1


Tidak perlu waktu lama pintu itu bisa terbuka, tetapi seperti ada yang menghalanginya. Mata Dirga melebar ketika melihat tubuh Niar yang tergeletak dari celah pintu.


"Jangan di dorong, istriku di belakang pintu itu," cegah Dirga.


Pria itu menatap ke arah Kenan lalu mereka mengangguk pelan. Mereka berdua pergi ke arah samping rumah. Tepatnya ke arah samping kamar Dirga. Pria itu mencoba membuka jendela kamar Niar. Namun, sayangnya ada teralis besi di sana.


Si pria itu mulai membuka sekup yang berada di teralis. Setelah semua sekup terbuka, teralis sudah tidak menempel pada daun jendela.


Mereka berdua segera masuk ke dalam kamar dan menemukan Niar sudah tidak sadarkan diri. Kenan dan pria itu membawa tubuh Niar ke atas tempat tidur. Diikuti Dirga yang sudah bisa membuka pintu kamar.


"Sayang, bangun Sayang," pinta Dirga dengan deraian air mata.


"Maafkan aku, Sayang. Maafkan aku," lirihnya. Mereka yang menyaksikan kepiluan Dirga tidak bisa bersuara. Ini semua salah Dirga. Andai jika Dirga tidak menjanjikan hal itu kepada Bunga. Mungkin mereka akan hidup bahagia tanpa ada penghalang lagi.


...****************...

__ADS_1


Komennya banyakin yuk, biar sehari up 2kali


__ADS_2