Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Lamaran Dadakan


__ADS_3

"Apa yang kalian lakukan?"


Ucapan sang papah membuat Nindy menunduk dalam. Begitu juga dengan Kenan. Hati Kenan sudah bergemuruh. Kenan yang killer kini berubah menjadi anak kucing manis.


"Kenapa kalian diam? Apa kalian mau saya nikahkan?" Nindy dan Kenan menatap Deri secara bersamaan. Sedangkan Deri hanya memperlihatkan tatapan dingin.


"Papah ... Ndy ...."


"Kalau Nindy gak keberatan saya mau dinikahkan dengan anak Bapak." Sontak mata Dirga dan Deri melebar mendengar ucapan Kenan.


"Ndy gak mau, Pah," tolak Nindy.


"Sekarang kamu nolak saya? Tadi pas saya cium, kamu diem aja." Deri dan Dirga mengulum bibir mereka. Sedangkan Niar sudah tertawa.


"Kapan sih kamu manis sama pasangan?" tanya Niar.


Sedangkan Kenan mengangkat bahu serta mencebikkan bibirnya.


"Mumpung papah dan kakak kamu di sini. Mau gak nikah sama saya?" todong Kenan.


Mata Nindy membola mendengar ucapan Kenan. Wajahnya terlihat sangat serius.


"Saya serius dengan ucapan saya dan saya tidak akan mengulang untuk kedua kalinya."


Deri dan Dirga semakin mengulum senyum. Mereka berdua sangat tahu bagaimana sikap Kenan. Sedangkan Nindy wajahnya sudah terlihat syok.


"Papah ...."

__ADS_1


Deri mengangkat bahunya. Malah santai melihat anaknya syok seperti ini.


"Kamu mau terima gak lamaran Kenan?" tanya Deri.


Nindy terdiam, dia bingung dengan jalan pikiran papahnya. Tanpa Nindy sangka, Kenan mendekat dan bersimpuh di hadapannya.


"Will you marry me?"


Mata Nindy melebar, jantungnya berdegup sangat kencang. Apalagi sudah ada cincin manis yang Kena. persembahkan untuknya. Ingin rasanya Nindy mengangguk cepat, tetapi kepalanya teras berat.


"Aku tidak suka penolakan."


Kenan segera memasangkan cincin di jari manis Nindy. Kemudian menariknya ke dalam dekapan hangatnya.


"Makasih telah menerimaku." Senyum terukir di wajah Kenan.


Tawa Deri dan Dirga pun pecah. Sedangkan Kenan tak segan-segan mengecup ujung kepala Nindy di hadapan ayah dan juga kakak calon istrinya ini.


"Kapan kamu akan menikah?" Deri sudah menatap serius ke arah Kenan.


"Lusa."


Jawaban Kenan membuat mata Nindy melebar. Dia menatap tajam ke arah Kenan.


"Kenapa? Apa kelamaan?"


Bibir Nindy pun terbuka mendengar ucapan Kenan. Apa bisa menikah hanya dalam waktu kurang dua hari.

__ADS_1


"Kita adakan akad dulu, yang penting 'kan sah dulu. Baru kamu tentukan resepsi seperti apa yang kami mau."


Garis lengkung pun hadir di bibir Nindy. Pria kaku ternyata bisa bersikap manis juga.


Mereka setuju dengan apa yang dikatakan oleh Kenan. Ada uang semuanya lancar. Bukankah begitu?


Pulang kerja, Nindy sudah menunggu Kenan di parkiran. Begitulah yang Kenan perintahkan.


"Maaf ya. Aku gak mau kamu menjadi gunjingan karyawan lain." Kenan membawa tangan Nindy ke bibirnya. Bahagia sekali hatinya saat ini. Sepanjang perjalanan, Kebab terus menggenggam tangan sang calon istri dan bibirnya melengkung dengan sempurna.


Kenan mengantarkan Nindy Samapi ke rumahnya. Sebelum turun dari mobil, Kenan menarik tangan Nindy hingga wajahnya sudah tidak ada jarak dengan Kenan. Sapuan lembut bibir Kenan membuat Nindy terbuai.


"Besok jangan kerja ya." Kebab berucap setelah pagutan bibir mereka terlepas.


"Loh kenapa?"


"Kamu harus perawatan, Sayang."


Ya Tuhan, panggilan sayang begitu manis di telinga Nindy.


"Kamu yang antar, ya?"


Mode manja kini Nindy tunjukkan. Kenan hanya mengusap lembut kepala calon istrinya ini.


"Iya, tapi setelah jam makan siang."


Sebuah kecupan mendarat di bibir Kenan. Nindy kini yang memulai. Setan apa yang membawa Nindy melakukan ini.

__ADS_1


__ADS_2