Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Menemanimu


__ADS_3

Niar mengusap lembut punggung tangan Dirga. Dia menatap Dirga dan menganggukkan kepala.


"Secepatnya Dirga akan bawa orangtuanya untuk melamar aku, Bun. Iya kan, Ay." Dirga hanya diam membisu tidak ada jawaban apapun dari mulutnya.


"Kami tunggu secepatnya, jika kurang dari dua minggu ini orangtuamu tak kunjung datang ke sini. Saya tidak akan merestui hubungan kamu dan putri saya," tutur Pak Khorun dengan penuh penekanan.


Dirga menghembuskan napas kasar, dia tidak mungkin meminta kepada orangtuanya untuk melamar Niar.


Di apartment.


Niar mendekat ke arah Dirga, merangkul manja lengan kekar Dirga. "Ay, kamu harus berbaikan dengan orangtuamu. Kamu harus meminta restu kepada orangtuamu tentang hubungan kita."


"Yang, hati aku masih sakit," imbuh Dirga yang masih menatap ke depan.


"Aku tahu itu, tapi kamu lahir dari rahim seorang ibu. Ibu yang telah mengandung mu selama 9 bulan lamanya. Membawa-bawa kamu di dalam perutnya. Dan selalu memberikan kasih sayang yang berlimpah untuk kamu. Hingga kamu tumbuh menjadi sosok seperti ini."


"Ay ... rasa sakitmu tidaklah sebanding dengan rasa sakit yang ibumu rasakan ketika melahirkan kamu. Dia bertarung nyawa untuk kamu. Dan ketika bayi mungil itu lahir, kesakitannya seakan hilang begitu saja. Kamu menjadi penawar segala rasa sakit untuk kedua orangtuamu, terutama ibumu."


"Semua orang pasti melakukan kesalahan. Begitu pun kedua orangtuamu. Disetiap kesalahan pasti akan ada penyesalan. Aku yakin, kedua orangtuamu sangat menyesal atas segala tindakannya dulu." Niar menangkup wajah Dirga, menatap manik mata Dirga dengan penuh kehangatan.


Cup.

__ADS_1


Kecupan singkat nan hangat Niar berikan untuk Dirga. "Aku akan menemani mu menemui kedua orangtuamu," ujar Niar.


Dirga mengecup kening Niar sangat dalam. Lalu beralih mengecup bibir mungil Niar.


"Aku tak akan pernah melepaskanmu lagi," kata Dirga.


"Dan aku tidak akan pernah pergi lagi darimu," balas Niar.


Bibir mereka sekarang berpagut, menikmati cinta yang pernah hilang dan kini kembali lagi. Hidup yang monokrom kini telah berwarna lagi.


Pagi hari, Dirga sudah rapi dengan pakaian casual-nya. Sedangkan Niar sibuk di dapur menyiapkan sarapan untuk Dirga dan juga dia. Niar sengaja mencepol rambutnya ke atas hingga terlihat lehernya yang jenjang dan juga sangat putih.


Tangan Dirga melingkar di perut Niar dan bibirnya mengecup tengkuk leher Niar. Membuat bulu kuduk Niar meremang.


"Aku ingin cepat menikah denganmu, aku ingin cepat-cepat memakanmu." Dagu Dirga diletakkan di bahu Niar dan tangannya terus memeluk erat Niar.


"Nih cobain." Niar menyuapkan sedikit capcay ke dalam mulut Dirga.


"Enak banget." Dirga mengecup pipi Niar membuat Niar tertawa. Niar mengecup bibir Dirga singkat, dan menyuruhnya untuk menunggu di meja makan.


Ketika masakannya sudah selesai, Niar membawanya ke meja makan. Namun, matanya memicing tajam ke arah Dirga.

__ADS_1


"Mau kemana?" Niar bertanya setelah meletakkan semua menu makanan di atas meja.


"Mau ketemu wanita cantik." Sontak Niar menusuk ayam goreng dengan emosi hingga menimbulkan suara.


Dirga menatap Niar lalu tertawa. Dia mencubit hidung mancung Niar, sejurus kemudian mengecup pipinya yang menggembung.


"Bercanda Sayangku, aku mau ketemu Nindy, adikku. Kamu mau ikut?"


"Adik kamu?" Dirga mengangguk pelan sambil menyantap sarapan yang tersaji. Sedangkan Niar sedang mengingat-ingat Nindy. Dan akhirnya, dia pun ingat.


"Aku mau ikut, Ay."


"Hm, habiskan dulu sarapan kamu," titah Driga.


Niar pun menuruti apa yang dikatakan Dirga. Setelah selesai sarapan, Niar yang hendak mencuci piring dicekal oleh Dirga.


"Biar aku aja yang cuci. Kamu sudah lelah menyiapkan sarapan untukku. Sekarang kamu mandi dan bersiap." Niar tersenyum ke arah Dirga dan perlakuan seperti ini lah yang membuat Niar semakin hati semakin cinta kepada Dirga.


Niar menuju ke kamarnya dan hendak masuk ke dalam kamar mandi. Namun, suara ponsel Dirga menghentikan langkahnya. Dia pun melihat siapa yang menelpon kekasihnya ini di pagi hari.


"Wulan ...."

__ADS_1


****


Happy reading ...


__ADS_2