Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Ingin Menikah


__ADS_3

Melihat kedua insan yang sedang saling melepas rindu dengan cinta yang menggebu, membuat Bu Sari dan Pak Khorun terharu. Tidak ada obat yang paling mujarab untuk depresi Niar kecuali Dirga. Niar yang telah lima tahun ini menghilang, kini telah kembali. Wajah ceria Niar terlihat jelas oleh kedua orangtuanya.


Dengan langkah pelan, Bu Sari menghampiri Dirga dan Niar. Diikuti oleh Pak Khorun dari belakang. "Dirga," panggil Bu Sari.


Dirga dan Niar melihat ke arah Bu Sari. Ketika mulut Bu Sari baru saja terbuka, Niar terlebih dahulu memotong ucapan yang belum sempat keluar dari mulut bundanya.


"Kita bicarakan nanti aja ya, Bun. Kasihan Dirga masih lemah dan ga boleh mikir yang berat-berat dulu," ucap Niar.


Bu Sari pun menganggukkan kepalanya begitu pun Pak Khorun. "Aku akan menjaga Dirga hingga dia benar-benar sembuh."


"Sebaiknya Bunda dan Ayah pulang. Selesaikan semua kekacauan yang ada. Aku belum mau pulang ke rumah dulu," ujarnya.


"Tapi, Niar ...."


"Bunda, kali ini tolong mengertilah aku," pinta Niar dengan nada lirih.


Akhirnya, Bu Sari mengalah dan membiarkan Niar untuk menjaga Dirga. Sebelum Kenan mengantarkan kedua orangtua Niar, Kenan menyerahkan paper bag kepada Niar.


"Apa ini?"


"Baju ganti Anda, Nona. Dan semua skincare Anda pun ada di situ," sahut Kenan.


"Ay, aku ganti baju dulu, ya." Dirga hanya mengangguk pelan dan tersenyum ke arah Niar.


Di dalam kamar mandi, senyum Niar melengkung dengan indahnya. "So sweet banget sih, Ay. Kamu masih ingat apa aja skincare aku," gumam Niar dengan lengkungan senyum yang sempurna.

__ADS_1


Di luaran sana sudah ada orang yang berjaga-jaga di depan kamar Dirga. Jicko bukanlah orang bodoh, dia manusia licik dan picik. Membuat Dirga harus membentengi Niar dengan pengawalan ketat.


"Ay, kok gak istirahat," ujar Niar yang sudah keluar dari kamar mandi.


"Lagi ngecek kerjaan, Sayang." Dengan kasar Niar mengambil alih ponsel Dirga dan mematikannya.


"Kamu harus istirahat. Jangan mikir yang berat-berat dulu. Kamu gak ngedenger diagnosa dokter tadi apa," sungut Niar.


"Iya, Sayang. Kangen deh diomelin kamu," goda Dirga sambil memeluk tubuh Niar.


"Ay, aku lapar."


"Mau makan apa?"


"Aku ke kantin aja, ya," ucap Niar.


"Dia gak bakal Nemu, Ay. Makanan yang aku pengen itu dijualnya di dalam gang sempit gitu."


"Udah kamu ketik aja apa yang kamu mau." Dirga menyerahkan ponselnya yang lain kepada Niar.


"Nanti tinggal kamu kirim aja ke nama kontak Asisten Gila," jelas Dirga.


"Kalo dia gak Nemu makanannya gimana?"


"Tinggal aku pecat."

__ADS_1


"Ternyata bukan hanya asisten gila, bosnya juga gila," celetuk Niar.


Dirga hanya tertawa dan memeluk pinggang Niar yang sedang duduk di ranjang pesakitan Dirga.


"Sayang, aku ingin cepat menikah dengan kamu," ucap Dirga.


"Sembuh dulu, ya. Nanti kamu boleh ngelamar aku."


"Aku mau langsung nikah, Yang. Gak mau tunang-tunangan dulu kayak anak-anak zaman sekarang. Padahal dikasih gampang malah sengaja dibuat ribet," jelasnya.


"Iya, Ay. Tapi, apa orangtua kamu setuju sama aku? Aku kan ...."


"Ssst." Dirga menutup mulut Niar dengan telunjuknya.


"Aku bukan anak mereka lagi, Yang. Jadi, kamu jangan khawatir," terang Dirga.


"Ay, gak baik bilang begitu. Bagaimana pun Mamah kamu sudah melahirkan dan merawat kamu sampai kamu besar. Kita harus meminta restu kepada orangtua kamu juga."


Dirga melepaskan tangannya yang melingkar di pinggang Niar. Wajah Dirga kali ini sangat tidak terbaca.


"Ay ...."


"Aku mau istirahat," ketus Dirga.


***

__ADS_1


Happy reading ...


__ADS_2