
Hari masih gelap, Niar sudah turun dari tempat tidurnya. Berniat membuatkan sarapan untuk suaminya. Dia mengenakan masker untuk memasak masakan yang Dirga sukai. Bau bawang yang menyengat membuat Niar harus bolak- balik kamar mandi. Sudah 10 kali Niar ke kamar mandi karena tidak tahan dengan aroma bumbu. Mbok Sum merasa iba dan ingin membantunya. Tapi, ditolak oleh Niar. Dan Mbok Sum memilih untuk membersihkan rumah terlebih dahulu sambil menunggu majikannya selsai masak.
Niar bersandar di lemari pendingin dengan mengusap peluh yang mengucur di pelipisnya. Dia lupa akan sesuatu. Hingga aroma gosong menyeruak di hidungnya.
"Astaghfirullah," ucap Niar.
Baru saja Niar hendak mematikan kompor. Pekikan suara mamah mertuanya membuat Niar sedikit terkejut. Hingga tidak sengaja dia menyenggol teflon panas.
"Kalo gak becus masak jangan sok-sokan masak," sentak Mamah Septi.
Niar hanya diam, dia masih merasakan panas di punggung tangannya. Dilihatnya sekilas tangannya memerah dan cukup lebar.
"Kamu tuh bisanya apa sih? Hamil muda begitu aja manjanya kebangetan. Bikin sarapan hampir buat rumah ini kebakaran," serunya.
Ingin sekali Niar menimpali ucapan mamah mertuanya. Namun, dia masih ingat akan namanya dosa. Niar lebih memilih untuk diam dengan sesak yang ada di dada.
Mendengar keributan di dapur, Mbok Sum segera pergi ke dapur. "Nyonya tidak apa-apa?" Pertanyaan itu yang pertama kali Mbok Sum lontarkan.
"Tidak ada apa-apa, Mbok."
"Nyonya lebih baik tidur kembali. Nanti ketika Tuan bangun dan Nyonya tidak ada di sampingnya, sudah dipastikan Tuan akan marah besar," ujar Mbok Sum.
"Orang hamil itu harus rajin gerak, bukannya malas dipiara."
Kalimat yang lagi-lagi menusuk hati Niar. Malas, itulah dirinya di mata sang mertua. Padahal, aslinya Niar tidak seperti itu. Hanya istighfar dan terus beristighfar yang bisa Niar lakukan.
Mbok Sum memaksa Niar untuk kembali ke kamarnya. Niar menghela napas kasar ketika jam masih menunjukkan pukul 05.30. Dia melihat punggung tangannya yang melepuh. Cukup besar ternyata lukanya.
Niar segera masuk ke kamar mandi dan mengucurkan air dingin ke punggung tangannya. Berharap panasnya mereda. Hanya ketika terkena air, panasnya hilang. Ketika air dimatikan, panas itu semakin menjalar di punggung tangannya.
Dirga yang baru saja terjaga. Mencari sosok Niar yang sudah tidak ada di sampingnya. Namun, dia mendengar suara percikan air di dalam kamar mandi. Dengan pelan, Dirga masuk ke dalam kamar mandi dan memeluk tubuh Niar dari belakang. Hingga terdengar suara ringisan dari mulut Niar.
__ADS_1
"Kenapa Yang?" tanya Dirga.
Dirga segera melihat ke arah tangan yang Niar pegang. "Astaghfirullah."
Dirga segera mencari salep untuk luka bakar. Dia membawa istrinya duduk di tepian tempat tidur dan mengobati luka merah yang ada di punggung tangan Niar.
"Tahan, ya." Niar mengangguk pelan.
"Kenapa bisa kayak gini?" hardik Dirga.
"Aku mau nyiapin sarapan untuk kamu. Perut aku mual, gak bisa ditahan. Sampe harus bolak-balik kamar mandi. Dan aku lupa aku lagi bakar udang kesukaan kamu. Dan malah gosong. Karena terburu-buru mau matiin kompor. Gak sengaja nyenggol teflon panas." Dirga segera memeluk Niar.
"Kamu gak usah ngapa-ngapain. Kalo aku mau makanan apapun aku tinggal bilang ke Mbok Sum." Manis sekali perlakuan Dirga kepada Niar. Enggan rasanya pisah lagi dari suaminya.
"Kamu masih ke kantor?"
"Iya, maaf ya, Yang. Aku janji ini hari terakhir aku ke kantor. Setelah semuanya beres hari ini, aku kerja di rumah lagi bareng kamu sama bayi kita," tangan Dirga sudah mengusap lembut perut Niar.
Dirga mengusap lembut rambut istrinya dan kembali berbaring di samping Niar. Dengan eratnya Niar memeluk tubuh sang suami. Menelusupkan wajahnya ke dada bidang Dirga. Aroma tubuh Dirga menjadi candu tersendiri untuk Niar.
Setelah istrinya terlelap, Dirga perlahan turun dari tempat tidur dan masuk ke dalam kamar mandi. Lima belas menit berlalu, Dirga keluar dari kamar mandi dan melihat istrinya terlelap dengan nyamannya. Dia kecup kening Niar serta perut Niar yang masih rata.
"Jangan nakal ya, Nak. Jangan buat Mamih menderita. Papih dan Mamih sayang kamu." Sebuah kecupan mendarat di perut Niar.
"Sayang, aku berangkat kerja dulu, ya." Satu kecupan lagi mendarat di kening Niar.
"Hati-hati Ay," ucapnya dengan suara parau. Dirga pun tersenyum. Lalu mengecup bibir Niar dengan sangat lembut. Lima menit sudah bibir mereka berpagut. Akhirnya, mereka melepaskan pagutan mereka karena stok oksigen yang sudah menipis.
"Jangan lama-lama, nanti ada yang bangun," ujar Dirga seraya tertawa.
Niar mengecup pipi kiri dan kanan Dirga lalu, keningnya. "I will miss you."
__ADS_1
"Kalo semuanya sudah selesai pasti aku langsung pulang kok. Dan kita bisa menikmati waktu kita bertiga." Niar pun mengangguk.
Mamah Septi menatap Dirga dari atas sampai bawah. Dan wajah Dirga nampak berseri pagi ini.
"Mana istrimu? Jangan bilang dia tidur lagi," sergah Mamah Septi.
"Tidak usah menanyakan istriku. Biarkan istriku istirahat dan jangan pernah ganggu dia. Karena aku gak mau istriku stres setiap kali mendengar ucapan Mamah," tegasnya.
"Istrimu sudah hampir membakar rumahmu, Dirga."
"Jika, rumah ini terbakar tinggal beli lagi. Apa susahnya?"
Jawaban Dirga mampu membungkam mulut Mamah Septi. Rasa sayang Dirga terhadap Niar amatlah besar. Bukan Dirga tidak sayang kepada Mamahnya, tapi Dirga juga melihat kenyataannya. Tanpa mereka ketahui, rumah Dirga dipasang CCTV yang tersembunyi. Perilaku Mamahnya kepada Niar pun bisa Dirga lihat. Jadi, dia tahu mana yang benar dan mana yang salah.
"Mbok, nanti jam 10 antar jus jeruk tanpa gula sama buah-buahan ke kamar Nyonya, ya."
"Baik Tuan."
"Satu lagi, kalo ada yang mengusik kenyamanan Nyonya beritahu saya. Karena saya tidak ingin istri saya stres dikehamilannya."
"Kamu tuh terlalu memanjakan dia, Dirga. Lama kelamaan dia akan menjadi istri pembangkang," potong Mamah Septi.
"Maaf, Bu. Saya bukannya membela Nyonya. Tapi, Nyonya bukanlah tipe istri seperti itu. Nyonya adalah wanita rumahan yang tidak bisa keluar tanpa izin dari Tuan. Dan Nyonya juga adalah tipe istri yang hanya ingin jalan berdua bersama suaminya meskipun hanya ke minimarket."
Hampir setengah tahun bekerja di rumah Dirga. Mbok Sum sedikit banyak mengetahui kebiasaan Niar. Niar bukanlah wanita yang disebutkan oleh Mamah Nina. Wajar Niar seperti ini, dia sedang mengandung. Dan wajar juga sang suami memperlakukannya sangat protektif. Karena mereka telah menanti kehadiran penerus Dirga junior di rumahnya.
...----------------...
Maaf, baru sempat up lagi. Lagi dikejar deadline novel Bang Duda yang masih ngejar 60k kata. Insha Allah mulai Mei akan rutin UP.
Yang penting, setiap ada notif UP langsung baca ya jangan ditimbun ...
__ADS_1