Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Tanda Tangani


__ADS_3

Dengan wajah berbinar penuh kemenangan, Septi mengambil surat-surat penting di dalam brankas.


"Semuanya akan menjadi milikku," ucapnya.


Sedangkan Dirga dan Deri bisa bernapas lega ketika Niar dan juga Nindy selamat.


"Anak dalam kandungan istri Anda sangat kuat. Sepertinya akan menjadi pelindung untuk ibunya," imbuh dokter kandungan.


Dirga dan Niar tersenyum bahagia mendengarnya. Mereka berdua hanya bisa mengaminkan dengan serius apa yang diucapkan oleh sang dokter.


Kondisi Nindy sudah mulai stabil. Meskipun, dia belum sadar. Walau begitu, ucap syukur Deri panjatkan kepada Tuhan karena telah menyelamatkan putrinya.


Niar dan Nindy ditempatkan di ruangan yang sama agar mempermudah Dirga dan Deri untuk menjaganya.


"Apa Papah akan diam saja?" tanya Dirga yang sedang duduk di samping ranjang pesakitan istrinya sambil mengusap perut sang istri.


"Tidak," jawab singkat Deri.


"Mamah akan Papah jebloskan ke dalam penjara?"


"Lebih dari itu," sahut Deri lagi.

__ADS_1


Dirga hanya mengangguk mengerti. Dia tidak ingin bertanya lebih dalam lagi. Mendengar kata Mamah yang terlontar dari mulutnya membuat mood Deri berubah.


Biarlah semuanya menjadi urusan sang papah. Dirga tidak perlu ikut campur dalam urusan rumah tangga orang tua angkatnya.


"Pa." Suara lemah Nindy terdengar. Dirga dan Deri mendekat ke arah ranjang pesakitan Nindy dengan senyum penuh bahagia.


"Makasih sudah mampu bertahan, Ndy," ucap lemah Deri.


Hanya seulas senyum yang Nindy berikan. Ketika melihat wajah Dirga dia teringat kepada sang kakak ipar.


"Kak Niar ...."


"Aku baik-baik saja, Ndy." Suara Niar terdengar. Kemudian, Dirga menggeser tubuhnya.


"Makasih sudah menyelamatkanku serta anakku," ucap tulus Niar berkaca-kaca.


Dirga mendekat ke arah Niar dan mengusap lembut kepala sang istri. Sedangkan Nindy hanya tersenyum bahagia.


"Aku ingin melihat keponakanku lahir. Aku ingin mengajaknya bermain," imbuh Nindy.


"Kalian adalah dua wanita yang sangat berharga dalam hidupku," ujar Dirga yang merasa haru.

__ADS_1


Deri tersenyum bahagia melihat kedua anaknya serta menantunya saling menyayangi satu sama lain. Tidak ada kebahagiaan selain ini. Apalagi Dirga hanya anak angkat. Namun, Nindy sangat menyayanginya. Sudah menganggapnya seperti kakak kandungnya sendiri. Karena Dirga selalu menjaga serta melindungi Nindy.


Keharuan pun hilang ketika dua orang perempuan masuk ke dalam ruang perawatan. Senyum penuh kelicikan muncul di wajah Septi. Ketika melihat Nindy hatinya terasa teriris, tetapi keegoisan dan keserakahan masih menguasainya.


Septi seolah acuh pada putrinya sendiri apalagi kepada Dirga dan Niar. Seperti sedang melihat musuh bebuyutan. Bagaimana dengan Nindy? Tentu saja ada kesedihan di hatinya. Namun, dia tidak ingin menunjukkan. Dia sudah tahu bagaimana sifat asli ibu kandungnya karena kejadian semalam.


"Tanda tangani," titah Septi, sembari menyerahkan satu buah map ke arah Deri.


Deri menerimanya, dan membuka map tersebut. Matanya melebar ketika membaca isi sebuah map tersebut. Kemudian, dia menatap nyalang ke arah Septi.


"Dasar manusia sampah!" geram Deri.


"Ada ya, seorang ibu yang tega menumbalkan anak kandungnya sendiri demi mengeruk pundi-pundi keuntungan. Lebih parahnya lagi, menumbalkan anak kandungnya kepada anak angkatnya yang sudah memiliki harta berlimpah. Untung saja, anak angkatnya masih waras," ujar Deri dengan tatapan penuh kebencian.


"Tapi, Sayang, otakmu tidak lebih cerdas dariku dan putraku," ejek Deri.


Wajah Septi kini sudah mulai merah padam mendengar hinaan dari Deri.


"Cepat tanda tangan!" bentak Septi.


"Hahahaha, untuk apa aku menandatangani perjanjian itu? Toh, surat-surat asli semua asetku sudah aku amankan. Silahkan kamu nikmati surat bodong itu."

__ADS_1


...****************...


Maaf ya, gak bisa up tiap hari 🙏


__ADS_2