
Setelah hari yang melelahkan, Kenan kembali ke apartment miliknya. Hal yang pertama kali dia lakukan ketika masuk ke apartment yaitu tersenyum ke arah figura yang ada di atas rak foto.
"Malam, Sayang."
Ucapan manis, tetapi memiliki arti lirih. Hembusan napas berat yang kemudian keluar dari mulutnya.
Kenan membawa foto itu dan dia mendudukkan diri di atas sofa. Mengusap figura di mana di dalamnya ada foto mendiang sang istri, Karina.
"Kenapa semakin hari wajah bocah tengil itu mirip denganmu?" gumamnya.
Kenan memejamkan matanya sejenak. Menyandarkan tubuhnya di sandaran sofa.
"Saya calon suaminya."
Kalimat itulah yang masih Kenan ingat. Dia merutuki kebodohannya karena telah mengatakan perihal itu. Namun, dia masih mampu berkilah ketika Nindy bertanya.
"Biar urusannya cepat selesai."
Kenan memukul kepalanya. Umpatan demi umpatan dia layangkan kepada dirinya sendiri.
"Bodoh! Bodoh!"
Kenan teringat akan sesuatu. Dia mengeluarkan benda pipih di dalam saku celananya. Sudut bibirnya terangkat melihat foto itu.
"Benar ya, senyumnya mirip kamu, Sayang," gumam Kenan.
__ADS_1
Selama ini Kenan sedikit risih jika harus berdekatan dengan Nindy. Bukan tanpa alasan, tetapi dia takut jika dia kebablasan. Wajah Nindy sangat mirip dengan mendiang istrinya. Begitu juga sikap manja Nindy jika bersama Dirga. Dalam diam dan datarnya seorang Kenan, dia sering mencuri gambar Nindy. Buktinya hari ini ketika di restoran. Senyum Nindy yang sangat lepas tak lupa Kenan abadikan.
Keesokan paginya, Kenan dikejutkan dengan kehadiran Nindy di kantor Dirga. Tatapannya datar seperti biasa.
"Nan, Nindy akan magang sebagai sekretaris saya. Perintah dari Nyonya Anggara," terangnya.
Kenan hanya menganggukkan kepala. Dia tidak memiliki wewenang apapun atas keputusan yang diambil Dirga. Apalah dirinya, hanya seorang bawahan yang harus mengikuti atasan.
"Tolong ajari dia, Nan." Dada Kenan berdegup kencang ketika Nindy menatapnya dengan senyum yang sangat manis.
Kenapa hari ini dia terlihat sangat cantik sekali.
"Nan," panggil Dirga lagi.
"Ba-baik, Pak."
Kenan menatap tajam ke arah Nindy. Sedangkan Nindy seolah tersenyum penuh kemenangan.
Ini anak sepertinya bisa baca hatiku.
"Saya harap otak Anda cerdas. Jadi, bisa cepat menangkap apa yang saya ajarkan." Kenan berlalu meninggalkan ruangan Dirga. Sedangkan Nindy mendengus kesal.
"Pria menyebalkan," gerutunya.
Dirga hanya tertawa melihat adiknya, Nindy sangat terlihat sedang meminta perhatian dari Kenan. Namun, Kenan tetaplah Kenan. Pria hangat yang berubah dingin setelah kepergian istrinya. Banyak dari kolega bisnis Dirga yang meminta Kenan untuk menjadikannya calon menantu. Akan tetapi, dengan terang-terangan Kenan menolak.
__ADS_1
Belum ada yang bisa menggantikan posisi istri saya.
Itulah yang selalu Kenan ucapkan. Meskipun, Dirga tidak pernah tahu bagaimana wajah istrinya. Untuk Masalah pribadi Kenan sangatlah tertutup.
Di meja sekretaris, Kenan memberitahukan apa saja yang harus Nindy lakukan. Dari mengatur jadwal Dirga dan segala macamnya. Nindy mengangguk patuh.
"Kalau ada yang tidak kamu pahami, hubungi saya," tukas Kenan.
Kenan membalikkan tubuhnya, tetapi tangan Kenan Nindy cekal. Kenan menatap ke arah tangannya.
"Boleh minta nomor ponselnya?" tanya Nindy dengan menunjukkan puppy eyes.
Oh God. Kenapa dia sangat imut begitu.
Ingin rasanya Kenan mengecup wajah Nindy yang terlihat menggemaskan. Namun, dia segera memulihkan kesadarannya.
"Untuk apa? Nomor saya bukan untuk hal tidak penting."
Ucapan Kenan membuat Nindy mendengus kesal. Dia mengibaskan tangannya hingga cekalan tangannya terlepas.
"Jangan ke-PD-an juga. Saya minta nomor Anda untuk menanyakan sesuatu perihal yang tidak saya ketahui. Saya gak mungkin bolak-balik masuk ke ruangan Kakak saya 'kan."
"Itupun jika ada yang tidak saya pahami. Jika, saya paham semuanya saya juga tidak akan menghubungi Anda. Nomor Anda pasti masuk ke dalam nomor yang tidak penting di dalam kontak saya," pungkasnya.
Kenapa hatiku sakit ya mendengar ucapannya.
__ADS_1
...****************...
Kalian rindukah?