
Bukan hanya Nindy dan Kenan yang tengah merasakan kenikmatan surga dunia. Niar dan Dirga pun sedang melakukan hal yang sama. Hanya beda tujuan saja, mereka menyebutnya membuka jalan untuk bayi mereka.
Peluh sudah membasahi tubuh mereka, Dirga sudah mengecup kening Niar dengan penuh cinta. Kemudian turun ke Perut buncit sang istri.
"Papih gak sabar ketemu kamu, Nak."
Niar tersenyum dan mengusap lembut rambut Dirga. Suaminya menjadi suami yang sangat siaga. Sedikit saja Niar meringis, Dirga akan kalangan kabut sendiri.
"Gak sakit 'kan?" Niar menggeleng.
Dirga menarik Niar ke dalam pelukannya. Kecupan hangat Dirga berikan di puncak kepala sang istri.
"Ay, habis lahiran pasti aku makin gendut. Kamu pasti gak suka sama aku," lirih Niar.
Dirga malah tertawa mendengar ucapan sang istri. Dia memeluk tubuh istrinya yang masih polos dengan sangat erat.
"Aku gak mempermasalahkan tubuh kamu, Sayang. Rasa cinta aku gak akan pernah berubah untuk kamu, yang penting kamu dan anak kita nanti sehat," jawab Dirga.
"Beneran kamu gak akan berpaling dari aku?" tanya Niar. Kini dia sudah mendongakkan kepalanya ke arah Dirga.
"Enggak akan, Sayang. Kamu adalah wanita yang aku perjuangkan. Tidak mungkin aku mengkhianati kamu," terangnya.
"Kalau kamu bohong?" sergah Niar.
"Kamu boleh usir aku dari sini. Ini 'kan rumah kamu. Semua aset yang aku miliki atas nama kamu dan juga anak kita nanti." Niar tersenyum dan mencium bibir Dirga sekilas.
"Aku gak mau kita pisah lagi," tuturnya.
"Apalagi aku, Sayang."
Malam ini adalah malam yang membahagiakan untuk dua pasang manusia yang berbeda tempat. Mereka tidur dengan saling memeluk pasangan mereka satu sama lain. Terlebih Kenan yang merasakan malam pertama untuk kedua kalinya. Rasanya sungguh sangat berbeda.
Pukul empat Kenan terbangun. Dia tersenyum dan mengecup kening Nindy sangat dalam. "Makasih, Sayang."
Kenan menatap leher sang istri yang dipenuhi mawar merah yang bertebaran karena ulahnya.
"Mas, udah dulu, ya. Sakit."
Itulah yang Nindy katakan ketika dia hendak memainkan game yang kesekian kalinya. Kenan juga sangat tidak tega melihat istrinya kelelahan seperti ini.
Apalagi dia melihat susu kental manis sudah berceceran di atas tempat tidur. Dia juga menatap ke arah dadanya. Ada tiga mawar merah hasil karya Nindy. Sungguh mampu membuat hati Kenan berbunga. Istrinya ini sangat membuat Kenan puas. Seperti sudah profesional. Gaya apapun sudah tidak kikuk dan malah mampu mengimbangi.
Pagi harinya, tubuh Nindy terasa tak bertulang. Dia masih betah berada di bawah selimut.
"Sayang, bangun dong." Kenan sudah rapi dengan baju kerjanya, sedangkan Nindy masih menyelimuti tubuhnya.
"Pada sakit, Mas," ujar Nindy.
Kenan tersenyum, dia duduk di samping tempat tidur. Mengecup kening Nindy dengan sangat dalam.
"Kamu istirahat aja, ya. Mas berangkat dulu." Nindy mengangguk.
"Jangan pulang malam-malam," ucap Nindy.
"Iya, Sayang." Kecupan hangat Kenan berikan di bibir Nindy.
"Kalau siang masih sakit, hubungi Mas, ya." Hanya sebuah anggukan yang Nindy berikan.
__ADS_1
Wajah cerah Kenan melebih cahaya mentari pagi ini. Kenan sedikit terkejut ketika melihat mertuanya sudah ada di meja makan.
"Papah udah pulang?"
"Baru sampai. Nindy mana?" tanya Deri.
"Masih tidur, Pah. Masih kecapek-an," jawab Kenan.
"Habis ngapain emang?" tanya Deri.
Kenan terdiam mendengar pertanyaan Deri. Dia menggaruk kepalanya yang tidak gatal.
"Jangan kikuk gitu, Nan. Papah juga tahu," kelakar Deri. Kenan hanya bisa tertawa sumbang. Sungguh sangat malu.
Bukan hanya di rumah, di kantor pun dia menjadi bahan bulan-bulannya dari bosnya. Namun, telinga Kenan sudah kebal.
"Wajarlah, Pak. Wong pengantin baru. Bapak aja yang pengantin lama pasti hampir setiap hari 'kan," balas Kenan.
Dirga menatap jengah ke arah asistennya ini. Ingin sekali dia menenggelamkan asisten laknatnya tersebut.
Jam dua belas siang bukan hanya Dirga yang pulang ke rumah. Kenan pun memutuskan untuk pulang. Apalagi Nindy meminta nasi Padang.
Tibanya di rumah, Kenan disambut oleh asisten rumah tangga Deri.
"Mas, Neng Nindy kenapa ya, sedari pagi gak keluar kamar?" tanya asisten rumah tangga tersebut.
"Lagi kurang enak badan, Mbak. makanya saya bawa makanan untuk istri saya," sahut Kenan.
Tidak ingin berlama-lama, Kenan segera menuju ke kamarnya. Dilihatnya Nindy masih terduduk dan bersandar di kepala ranjang.
Nindy tersenyum ke arah suaminya. Namun, dia tidak menghampiri Kenan.
"Masih sakit?" Nindy mengangguk.
"Perih," jawab Nindy.
Kenan menarik Nindy ke dalam pelukannya. Dia mengecup ujung kepala Nindy.
"Maaf, ya."
"Enggak apa-apa, Mas." Nindy pun membalas pelukan Kenan.
Mereka menikmati makan siang bersama. Namun, Kenan memperlakukan Nindy layaknya orang sakit. Dia menyuapi istrinya dengan sangat sabar.
"Mas makan dulu. Nanti 'kan ke kantor lagi," ujar Nindy.
"Iya, Sayang."
Setelah selesai makan siang, Kenan kembali ke kantor.
"Nanti malam mau makan apa?" tanya Kenan.
"Belum kepikiran, Mas. Nanti aku chat aja, ya." Kenan tersenyum.
"Jangan sungkan meminta apapun. sama Mas, ya." Tangan Nindy sudah melingkar di pinggang Kenan.
"Aku cuma minta, cukup lihat aku, Mas. Hanya aku." Kenan mengusap lembut rambut Nindy. Dia tahu arah bicara Nindy itu ke mana.
__ADS_1
"Hanya kamu, Sayang. Cuma kamu," ucap Kenan.
Sore pun tiba, tetapi Nindy tidak meminta dibawakan apapun. Kenan mencoba menghubungi Nindy, tetapi tidak ada jawaban. Rasa cemas dan khawtir jadi satu. Dia ingin segera pulang, tetapi pekerjaannya masih sangat banyak.
Wanita yang dipikirkan Kenan ternyata sudah terlelap. Dia baru saja meminta obat pereda nyeri kepada sang kakak ipar. Ternyata bukan hanya Nindy yang merasakan perih di bagian bawahnya. Niar pun merasakan hal yang sama karena suaminya yang semakin ketagihan.
Ketika maghrib tiba, Nindy baru saja bangun dari tidurnya. Dia segera membersihkan tubuhnya. Ponselnya bergetar menandakan bahwa ada panggilan telepon. Namun, Nindy tidak mendengar ponselnya berdering.
Nindy memilih untuk berendam air hangat agar bagian bawahnya terasa lebih nyaman. Benar saja, perlahan rasa perih itu menghilang. Tanpa Nindy sadari, dia sudah satu jam berendam. Ketika dia keluar dari kamar mandi, suaminya segera berhambur memeluk tubuhnya.
"Loh?" Sungguh Nindy sangat terkejut.
"Kenapa gak angkat panggilan dari Mas?" Nada bicara Kenan terdengar penuh kecemasan.
"Aku baru bangun, Mas. Terus langsung berendam," jelas Nindy.
Kenan seperti menyimpan trauma. Wajah ketakutannya sangat kentara. Kenan takut kehilangan untuk kedua kalinya.
"Maafkan aku, Mas. Kalau aku sudah membuat kamu khawatir," sesal Nindy.
"Jangan diulang lagi ya, Sayang."
Nindy mengangguk patuh. Nindy merasakan ada trauma tak terlihat yang suaminya rasakan. Namun, Nindy belum berani menanyakannya. Biarlah nanti Kenan yang bercerita sendiri kepadanya.
#Flashback.
Lima tahun lalu ...
Rumah tangga Kenan dengan Kinanti berjalan sangat harmonis. Apalagi mereka masih pengantin baru yang baru lima bulan menikah. Romantisme mereka sangat terasa. Apalagi Kinanti yang selalu bertutur lembut dan mengikuti kemauannya. Itulah yang membuat Kenan sangat mencintai Kinanti.
Rumah tangga yang manis harus berujung tragis ketika Kenan harus pergi untuk bekerja. Dulu, dia hanya hidup di kontrakan kecil. Tanpa Kenan ketahui, tetangga samping kontrakannya adalah pemabuk. Kebetulan pada hari itu Kenan harus lembur. Dia juga tidak bisa menghubungi istrinya karena tidak ada pulsa. Pada waktu itu bertepatan dengan tanggal tua.
Kinanti sama sekali tidak menaruh curiga terhadap siapapun. Dia selalu berbaik sangka. Pada malam hari, Kinanti yang biasa memakai pakaian tertutup, sudah memakan pakaian seksi yang membuat pria yang awalnya hendak meminjam gunting malah bernapsu melihat kemolekan tubuh Kinanti.
Kinanti berusaha mendorong tubuh pria itu. Namun, dia lebih kekar dan kuat sehingga Kinantilah yang tersungkur. Pria itu mendekat, dengan satu tangannya dia mengendong Kinanti dan menjatuhkannya di tempat tidur. Takut mengundang kebisingan, mulut Kinanti dia bungkam dengan lakban hitam. Dia juga mengajak ketiga teman kosannya untuk menggarap tubuh Kinanti beramai-ramai.
Naasnya, pada malam itu Kenan harus lembur sampai pagi. Dia menyanggupi karena besoknya dia akan menikmati waktu libur bersama istri tercinta.
Subuh menjelang, Kenan pulang dengan lengkungan senyum manisnya. Ketika dia membuka pintu, lampu dimatikan. Kenan menyangka istrinya masih terlelap. Padahal tidak biasanya Kinanti bangun siang. Sakelar lampu dia hidupkan dan dia menuju tempat tidur.
Seketika mata Kenan melebar ketika melihat tubuh istrinya sudah penuh dengan tanda merah. Susu kental manis sudah berserakan di tubuh Kinanti yang tak tertutup sehelai benang pun. Mulut Kinanti ditutup lakban hingga Kenan berteriak histeris. Kenan membungkus tubuh istrinya hanya dengan selimut dan membawanya ke klinik terdekat. Namun, klinik tersebut tidak mau menerima Kinanti dan dia dibawa ke rumah sakit besar.
"Istri bapak telah menerima pelecehan yang sangat ganas. Apalagi bagian belakangnya pun robek."
Urat-urat kemarahan muncul di wajah Kenan. Istrinya belum sadar juga, maka dari itu dia tidak bisa menanyakan siapa pelakunya.
Baru dokter selesai menjelaskan, dokter jaga di dalam berteriak histeris. Dokter dan juga Kenan masuk ke dalam. Layar monitor sudah menunjukkan garis horizontal. Beberapa perawat sedang berusaha, tetapi tidak ada perubahan juga.
Tubuh Kenan luruh ke bawah. Dia menangis meraung-raung. Dia belum siap kehilangan istrinya.
"Bangun, Sayang. Bangun!"
Dari situlah Kenan menjelma menjadi manusia bertangan jahat. Dia tidak segan-segan menghabisi para penjahat wanita karena dengan cara seperti itu dia bisa membalaskan dendam istrinya.
#flashbak off.
Dari situlah rasa trauma itu hadir. Kenan melarang Nindy berpakaian mini jika keluar. Kenan juga akan merasa khawatir jika istrinya tidak menjawab panggilan teleponnya. Rasa trauma itu masih ada dan masih membekas di hati Kenan. Itulah alasannya kenapa dia sangat mencintai Kinanti dan tidak bisa beroaling dari mendiang istrinya. Kenan benar-benar takut. Dia takut jika dia menikah dengan wanita lain hal serupa terjadi lagi.
__ADS_1