
Dari kejauhan Niar memicingkan matanya. Dia melihat suaminya sedang duduk bersama wanita di meja yang sama. Tampak, wanita itu mengoceh sedangkan suaminya asyik bermain ponsel.
Dengan langkah pelan, Niar menghampiri Dirga. Dan dia langsung duduk di samping Dirga. "Udah?" Niar pun mengangguk.
"Siapa?" tanya Niar.
"Dia ...."
"Andara, calon istrinya Pak Dirga." Niar pun tersenyum mendengar ucapan wanita di hadapannya ini. Dan Niar pun menyambut uluran tangan Dara.
"Niar, istri sahnya Dirga Anggara." Dirga pun tersenyum lalu mengecup ujung kepala istrinya di depan sekretaris tidak tahu malu itu.
"Pak Dir-ga sudah menikah?" Sepasang suami istri itu pun menunjukkan cincin di jari manis mereka masing-masing.
Tubuh Dara seperti tak bertulang. Lemah tak berdaya. Dara seperti nyamuk berada di meja itu. Dirga dan Niar asyik menyantap makanan yang sudah mereka pesan. Canda tawa mereka lakukan. Saling suap menyuapi pun mereka lakukan.
"Ay, aku ingin bakso Aci tapi yang khas Bandung," pinta Niar.
"Iya, abis ini kita cari bakso Aci ya."
Karena panas melihat kemesraan atasannya, Andara pun pamit pergi. Hatinya sangat sakit, apalagi melihat kemesraan mereka berdua. Serta rona bahagia yang mereka berdua pancarkan.
Setelah Dara pergi, kini giliran Niar menatap Dirga dengan tatapan membunuh. "Ay." Suara yang terdengar sangat menakutkan di telinga Dirga.
"Kamu liat kan, Sayang. Aku tidak meladeni dia," jelas Dirga.
"Itu kenapa dia duduk di depan kamu? Mentang-mentang kamu lagi sendiri," imbuhnya.
"Dia yang langsung duduk, tanpa izin dari aku," balas Dirga.
"Aku tuh gak suka, Ay."
"Iya, aku juga gak suka sama dia Yang. Dia aja yang kayak parasit ngikutin aku terus dari tadi." Sontak Dirga menutup mulutnya.
"Maksudnya dari tadi apa?" sentak Niar.
"Ya ... dari tadi dia ingin mencoba dekat dengan aku Yang, pas di kantor cabang. Tapi, aku sama sekali tidak tertarik," ungkapnya.
"Pecat dia!" Dirga pun tertawa dan mencubit hidung mancung istrinya.
"Dia sekretaris teman aku yang mengelola kantor cabang. Gak ada wewenang aku mecat dia."
Niar pun merengut kesal. Wajahnya ditekuk dan nampak sekali aura tidak sukanya.
"Udah dong, Yang. Kan aku gak ngapa-ngapain. Aku mah tetap jaga mata dan hati aku untuk kamu." Hanya ini jurus yang bisa Dirga keluarkan untuk istrinya.
Niar melirik Dirga dengan tatapan kesal dengan kedua tangan dilipat di atas dadanya.
__ADS_1
"Jelek tau merengut begitu." Dirga merangkul pundak Niar dan untungnya tidak ada penolakan.
"Aku mau belanja," ucapnya sambil meletakkan kepalanya di pundak Dirga.
"Ya udah, ayo," ajak Dirga.
Wajah Niar pun kembali ceria dan mereka berkeliling mall untuk membeli apa yang Niar inginkan. Dirga menggelengkan kepalanya ketika melihat Niar yang sangat antusias dalam memilih barang. Seperti bukan Niar yang dia kenal.
"Tumben kamu senang belanja?" Dirga menghampiri Niar dan merengkuh pinggangnya.
"Gak tau Ay, pengen aja. Dan ini buat aku happy. Gak apa-apa kan?"
"Gak apa-apa, Sayang."
Setelah Niar puas berbelanja dan lebih dari lima paper bag di tangannya dan juga Dirga. Sekarang, Niar merengek ingin makan lagi.
"Sejak kapan kamu doyan makan? Bukannya kamu itu jaga makan banget ya." Dirga merasa heran kepada Niar hari ini. Ini bukan seperti Niar yang dia kenal.
"Gak tau Ay, nyium wangi makanan bikin perut aku lapar lagi." Dirga akan menuruti apa yang diinginkan istrinya. Kebahagiaan istrinya itulah yang terpenting.
Setelah selesai makan, mereka pun keluar dari mall tersebut. Dirga menyalakan mesin mobil dan melajukan mobilnya.
"Ay, aku pengen batagor," pinta Niar melihat tukang batagor pinggir jalan.
"Ya udah aku cari parkiran dulu."
Setelah mobil Dirga terparkir aman, Niar dengan riangnya mendatangi gerobak batagor. Bukan hanya batagor yang dia beli, ada bakso, es podeng, cilok, cimol, aneka bakso seafood dan juga minuman greentea.
Dirga hanya menelan ludahnya ketika melihat Niar dengan lahapnya makan makanan yang dia beli.
"Ay, kamu mau?" Niar menyodorkan greentea ke arah Dirga. Dan Dirga pun meminumnya.
"Lama-lama kamu gendut loh," goda Dirga.
"Biarin ah Ay, punya suami kaya ini gendut sedikit bisa diet, bisa sedot lemak. Kamu gak perlu khawatir Ay," sahutnya dengan mulut yang sedang mengunyah cilok.
Dirga pun tertawa, mau Niar gendut atau cungkring sayang dan cintanya tidak akan pernah berubah.
Setibanya di hotel, tatapan kesal Kenan menyambut Dirga dan Niar. "Kita harus balik ke Jakarta," ucapnya penuh penekanan.
"Santai bro, satu jam lagi kita berangkat." Dirga dan Niar pun meninggalkan Kenan yang sedang berada di loby hotel.
"Gini nih kalo kerja bawa istri. Gak profesional," gerutu Kenan.
Jam 20.30 Dirga, Kenan dan Niar kembali ke Jakarta. Kenan terus saja berdecak kesal melihat kemesraan pasutri tak tahu tempat ini.
Berkali-kali Kenan tak sengaja melihat Dirga dan Niar berciuman melalui kaca spion depan. Ingin sekali Kenan menabrakkan mobil yang dikendarainya ini.
__ADS_1
Lama-lama suara bising di belakang mulai tidak ada. Kenan mulai mengarahkan spion belakang ke arah Dirga dan Niar. Ternyata mereka sudah terlelap, membuat Kenan menarik napas lega.
Pukul dua dini hari, mereka tiba di Jakarta. Dan kali ini Kenan bermalam di rumah Dirga. Karena lelah bagi Kenan jika paginya harus menjemput atasannya lagi ke rumah ini. Lebih baik bermalam di sini, lagi pula dia memiliki kamar khusus di rumah ini.
Niar sudah terlelap dengan nyenyaknya. Sedangkan Dirga membersihkan badannya terlebih dahulu sebelum dia memejamkan mata.
Pagi harinya, tidak biasanya Niar belum bangkit dari tempat tidur. Sedari tadi Niar sudah bangun, tapi Niar merasa malas untuk menggerakkan badannya.
"Sayang, kamu gak enak badan?" tanya Dirga yang baru selesai mandi.
"Males Ay," sahutnya.
Dirga pun hanya tersenyum dan masuk ke ruang ganti dan memakai kemejanya. Setelah rapi, dia menghampiri istrinya dan duduk di samping tempat tidur.
"Tumben sih, biasanya kamu udah nyiapin sarapan buat aku," imbuh Dirga Sambil mengusap lembut rambut istrinya.
"Gak tau, Ay. Gak apa-apa kan hari ini aku gak masakin buat kamu," ucapnya.
"Gak apa-apa." Dirga mengecup kening Niar sangat dalam lalu turun ke bibir merah cherry-nya.
"Temenin aku sarapan," pinta Dirga setelah melepaskan pagutan bibirnya.
Niar pun beranjak dari tidurnya dan masuk ke kamar mandi hanya untuk membasuh mukanya. Hanya menggunakan piyama tidur super pendek dan tanpa lengan Niar merangkul lengan Dirga.
Kenan tersedak ketika melihat Niar hanya memakai pakaian seksi. Dirga langsung menghalangi tubuh sang istri dengan tubuhnya. Dia lupa, ternyata Kenan menginap di rumahnya.
"Kenapa gak bilang ada Kenan, Ay?" bisik Niar.
"Lupa."
Kenan pun mengalah dan dia memilih untuk menghabiskan sarapannya di ruang depan. Dari pada pagi-pagi dibuat ngiler oleh kedua pasangan suami istri ini.
Setelah Kenan pergi, barulah Dirga dan Niar menuju meja makan. Sebelumnya Dirga menyuruh si Mbok untuk mengambil celana panjang dan cardigan untuk Niar.
Niar hanya menemani Dirga sarapan, sedangkan dia hanya bergelayut manja di lengan sang suami. Berkali-kali Dirga ingin menyuapinya, namun selalu Niar tolak.
"Mbok, ada jeruk gak di kulkas?" tanya Niar.
"Sepertinya ada Nyonya."
"Aku mau, Mbok. Tolong bawa sini." Tak lama si Mbok pun memberikan dua buah jeruk kepada Niar. Dengan mata yang berbinar Niar segera membuka kulit jeruk dan melahapnya dengan nikmat.
"Yang, masih pagi ah. Jangan banyak-banyak," tegur Dirga.
"Dua doang Ay."
Dirga hanya menggelengkan kepalanya melihat keanehan demi keanehan yang istrinya lakukan. Sedangkan di ruang depan, Kenan sedang bergelut dengan pikirannya sendiri.
__ADS_1
Gimana Pak Boss gak betah di rumah atuh. Bininya aja seksi banget pakaiannya, ditambah bodynya bikin mupeng.
****