
Seminggu sudah Kenan menahan gejolak rasa di dalam jiwanya. Hari ini, dia mendapat kabar baik bahwa istrinya sudah selesai datang bulan. Sungguh dia sangat bersemangat untuk segera pulang ke rumah. Makan siang pun dia lewatkan karena bukan perutnya yang lapar. Melainkan si Imin.
Sayang seribu sayang, pekerjaan Kenan sungguh sangat banyak. Dia tidak bisa pulang cepat. Dia malah pulang jam sembilan malam. Ada rasa kecewa di hatinya, apalagi sang istri tak pernah memberikan kabar kepadanya.
Tangannya sudah membuka handle pintu. Keadaan kamar sudah temaram menandakan sang istri sudah terlelap. Namun, matanya melebar ketika melihat bayangan seorang wanita yang tengah menghampirinya. Sungguh sangat menggoda dengan menggunakan kain jaring berwarna putih.
Nindy merangkulkan tangannya di leher Kenan. "Aku menunggu kamu, Mas." Sungguh bulu kuduk Kenan meremang. Hasratnya bangkit kembali apalagi tangan nakal Nindy sudah membuka kancing kemeja Kenan. Sungguh sensasi yang luar biasa.
Berawal dari bisikan nakal turun ke leher jenjang, membuat Nindy mengeluarkan suara yang membuat Kenan tersenyum penuh kemenangan. Dia terus menelusuri jalan setapak yang membuat istrinya melengooh lagi dan lagi. Dia masih memberikan sensasi yang memabukkan tanpa melepas kain tipis yang terbalut pada tubuh istrinya. Kenan tersengum ketika melihat dot bayi alami yang tercetak nyata pada jaring tipis itu. Gigitan kecilnya membuat Nindy semakin tak karuhan.
"Mas ...."
Semua alat gerak Kenan dia gunakan dengan baik. Sungguh Nindy tidak bisa menandingi pemanasan suaminya. Tubuhnya dibuat lemas hanya dengan sentuhan lembut itu. Kenan menahan tubuh Nindy agar dia tidak terjatuh. Tubuh istrinya terlihat sudah tak berdaya.
Kenan membawa tubuh istrinya ke tempat tidur. Dia menarik paksa jaring tersebut hingga robek begitu saja. Pemandangan yang sangat indah yang tidak Keben sia-siakan. Jejak pendakian pun dua berikan di setiap jalan yang dia lewati. Apalagi ketika dia berada di puncak gunung. Kenan tidak mau turun. Dia ingin terus menjelajahi gunung itu sampai ke puncak teratas.
Pemilik gunung itu sudah mencengkeram rambut Kenan seperti memberi kode agar lebih cepat untuk mendaki puncak tertingginya.
"Aarrghh!"
Kenan tersenyum puas. Sudah dua kali istrinya berteriak manja. Kini bagian lereng gunung yang akan Kenan jelajahi. Dia sangat antusias. Baru juga sampai di sana, liukan manja sudah Nindy berikan. Sambutan yang sangat baik. Kemudian, dia membuka semak berduri agar bisa menjelajahinya. Perlahan tapi pasti lembutnya lidahnya menyusuri ladang yang sudah basah. Jeritan kecil sang istri membuat Kenan semakin semangat.
"Mas ...."
Kenan tidak berhenti meskipun Nindy sudah berteriak. Malah, dengan tidak sopannya wajah Dirga disembur oleh muntahan yang membuatnya malah menikmati muntahan tersebut. Kenan berbaring di samping sang istri. Kecupan hangat mendarat di kening Nindy. Sentuhan lembut lun dia berikan kembali sehingga Nindy membara kembali.
"Sekarang sudah boleh?" tanya Kenan. Nindy mengangguk pelan.
__ADS_1
Kenan sangat bersemangat, tangannya terus membuat Nindy melayang. Dia mulai melakukannya. Percobaan pertama, Nindy kesakitan. Kenan menghentikannya sejenak.
Percobaan kedua sudah mulai tembus sedikit, tetapi Nindy menitikkan air mata. Kenan tidak tega dan membiarkannya sejenak agar istrinya siap kembali.
Percobaan ketiga barulah mereka t berteriak kecil sambil merasakan rasa yang sangat hangat dan nikmat. Pacuan kuda lumping dimulai. Dari ritme rendah, berubah sedang dan kini kencang. Deru napas yang sudah bersahutan. Keringat yang sudah berjatuhan tak membuat mereka cepat sampai garis Finish.
Suara yang mengganggu telinga terdengar, apalagi Nindy pun aktif bergerak. Banyak film yang dia tonton dan kini dia peragakan. Ketika menjadi penonton hanya bukik kuduknya yang meremang. Ketika sekarang dia menjadi pemeran utama, dia terlihat senang.
Kenan merasa bahagia karena Nindy mampu mengimbangi permainannya. Malah Nindy yang meminta perubahan posisi membuat Kenan terkejut. Sekarang Kenan yang dibuat mengejang.
"Lagi, Sayang. Enak banget," ucap Kenan.
Senyum Nindy terukir di wajahnya. Servisnya ternyata membuat suaminya puas. Nindy semakin beringas, dia benar-benar seperti wanita nakal dan membuat Kenan tak berdaya. Apalagi kini Nindy sudah menjelajahi tubuh kekar Kenan. Meninggalakan jejak pendakian di sana.
Mereka berdua sama-sama menikmati karena mereka berimbang. Nindy yang terus aktif membuat Kenan mati gaya.
Nindy benar-benar membuat Kenan kewalahan. Goyangannya sangat memuaskan dan baru berjalan lima belas menit bendungan Katulampa itu akan jebol. Nindy merasakan kehangatan di dalam sana. Namun, dia belum merasakan apapun.
Nindy mengarahkan ladang basahnya agar digarap oleh benda lembut nan lentur.
"Kita pakai gaya ini, Mas. Biar sama-sama enak," suara Nindy sudah tak karuhan.
Mereka saling berlomba untuk mengeluarkan cairan kental manis. Liukan tubuh mereka sudah tak karuhan menandakan pertahanan mereka akan jebol.
Benar saja, mereka berdua sama-sama berteriak dan menelan habis cairan kental manis itu. Sungguh kegiatan yang sangat melelahkan, tetapi tidak membuat mereka puas dengan apa yang sudah mereka lakukan. First night yang dilakukan berkali-kali hingga cairan kental manis itu memenuhi sprei mereka. Berbagai macam gaya mereka coba dan semuanya sangat memabukkan. Malah membuat mereka ketagihan luar biasa.
"Puas?" tanya Kenan ketika Sang istri masih terengah-engah.
__ADS_1
"Belum, Mas. Tapi ... aku sudah lelah." Kenan pun tertawa dan mengecup lembut bibir sang istri yang terlihat menebal karena ulahnya.
Bercak-bercak merah kehitaman memenuhi leher Nindy. Kenan benar-benar sangat puas dengan keliaran Nindy di atas ranjang.
Stamina Kenan masih kuat. Ketika istrinya tengah terlelap, dia menerjangnya kembali. Nindy yang awalnya tidak siap malah menjadi ganas. Kenan yang dihajar berkali-kali hingga membuat tubuhnya lemas.
"Ampun, Sayang," ucapnya.
Nindy tersenyum, dia mencium pipi sang suami.
"Gimana Mas permainanku?" bisiknya.
"Tiada duanya, Sayang. Hanya kamu yang mampu membuat Mas K.O," terangnya.
Nindy tersenyum penuh kemenangan. Dia memeluk tubuh Kenan dengan tangan yang tak bisa diam.
"Hanya aku yang bisa memuaskanmu, Mas. Hanya aku yang bisa membuat bendungan katulampa kamu jebol, dan hanya aku yang bisa membuat kamu lemah bagai ikan kekeringan," batinnya.
Inilah yang Nindy inginkan. Nindy tidak ingin hanya dijadikan imajinasi liar oleh Kenan. Dia juga sengaja memberikan servis yang sangat spesial agar suaminya ingin mengulang semuanya hanya dengannya.
Ternyata cara Nindy berhasil. Walaupun tubuhnya seperti tualang ayam lunak. Bibir bawahnya membengkak tetap tak dia hiraukan. Terpenting suaminya puas dengan apa yang dilakukan olehnya di malam pertama mereka.
Nindy menatap wajah Kenan yang sudah terlelap dengan damainya. Dia mengusap lembut rahang tegas Sanah suami.
"Semoga kamu bisa menjadi imam yang baik untuk aku. Mampu membahagiakan aku dengan cara kamu. Aku mencintai kamu, Mas."
Nindy mengecup hangat kening Kenan. Kemudian, dia ikut terlelap dengan damainya bersama Kenan.
__ADS_1