Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Berbicara


__ADS_3

Dirga masih fokus pada putranya, Arshen. Dia tidak menemui siapapun dulu. Perihal ibunya pun dia tunda dulu. Lagi pula Nindy juga tengah sakit. Sepertinya Nindy dan Arshen satu hati.


Hari pertama dan kedua di rumah sakit, Dirga sama sekali tak meninggalakan Niar barang sedikit pun. Dia benar-benar menjaga Niar juga Arshen. Masalah pekerjaan dia serahkan kepada Kenan.


"Pih, Mamih bisa kok sendiri," ujar Niar.


"Kita buat anaknya sama-sama, jadi tanggung jawabnya sama-sama," balas Dirga.


Di hari kedua, Arshen sudah mau dengan Dirga. Dia bisa bergantian dengan Niar untuk menjaga Arshen. Arshen pun terlihat nyaman dengan ayahnya. Niar bisa istirahat hingga dia terlelap dengan damainya.


"Lihatlah, Nak!" ucap pelan Dirga ke arah Arshen. "Mamih kamu sangat terlihat lelah sekali menjaga kami. Ketika kamu dewasa jangan pernah sakiti hati Mamih kamu ya, Nak. Harus jadi anak penurut dan selalu buat Mamih kami bahagia," lanjutnya lagi.


"Perjuangan kamu sangat besar ketika mengandung serta melahirkan kamu. Papih saja tidak sanggup melihat perjuangan Mamih yang sangat-sangat besar itu. Jangan nakal ya, Nak. Hargai perjuangan Mamih demi untuk melahirkan kamu," tukasnya sambil menatap wajah Arshen.


Anak itu seperti tengah mencerna ucapan dari Dirga. Dia menatap mata ayahnya Dnegan seksama.


Niar merasakan bahwa Dirga ini adalah suami yang tak ada duanya. Dia suami yang sangat hebat. Padahal Dirga hanya tidur dua jam semalam, tetapi dia mampu menjaga Arshen dengan sangat baik. Malah Niar yang puas tidur.


"Mamih udah bangun?" tanya Dirga seraya tersenyum ke arah istrinya. Arshen baru saja terlelap.


"Mamih tidur lama banget ya, Pih?" tanyanya. Hanya seulas senyum yang Dirga berikan.


"Tak apa, Mih. Mamih harus istirahat. Arshen sangat butuh Mamih," sahut Dirga.


"Sekarang, giliran Papih ya yang tidur," titah Niar. Dirga menggeleng dengan cepat.


"Papih gak ngantuk," dustanya.


Padahal sedari tadi mata Dirga sudah terlihat menyipit karena sangat mengantuk. Namun, selalu Dirga tahan. Niar tetap menyuruh Dirga untuk berbaring. Pada akhirnya, Dirga terlelap jua di sofa. Senyum Niar terukir dengan begitu manisnya. Tuhan telah mengirimkan anugerah terindah untuknya berupa suami yang sangat perhatian juga anak yang Soleh.


Dirga tertidur dengan sangat lelapnya hingga dia mendengkur cukup keras. Arshen yang sudah terjaga malah tertawa terbahak-bahak mendengar dengkuran sang papah.


"Lucu ya suaranya?" tanya Niar sambil menggendong Arshen. Putranya malah tertawa lagi dan lagi.


Hati Niar merasa sangat lega ketika Arshen benar-benar sudah sembuh. Dia lebih baik lelah karena mengasuh Arshen yang tak mau lepas darinya dalam keadaan sehat, dibandingkan Arshen yang ingin selalu digendong, tetapi dalam keadaan lemah tak berdaya. Sungguh sakit hatinya.


Ketika Arshen sakit, ingin sekali Niar menggantikan posisi Arshen. Lebih baik dia yang sakit dari pada harus putra kecilnya yang harus terkena suntikan jarum infus.


"Jangan sakit lagi ya, anak Mamih. Mamih gak sanggup melihat kamu menderita dan menangis keras menahan sakit. Hati Mamih sakit," ucapnya. Dia menciumi Arshen dengan penuh cinta. Terkadang dia berpikir, beginilah orang tuanya dulu terhadapnya? Tak menginginkan dia sakit walaupun hanya sebentar. Sedih ketika melihat dia kesakitan. Kini, Niar merasakan apa yang dirasakan oleh kedua orang tuanya.


Keesokan harinya, Arshen diperbolehkan pulang. Wajah bahagia Dirga juga Niar tak terbendung lagi. Arshen pun dijemput oleh sang kakek tercinta.


"Jagoan opa sudah sembuh, ya?" ujarnya. Arshen pun tertawa.


Selama Arshen sakit, Deri sellau menyempatkan diri untuk menjenguk Arshen di rumah sakit. Membawakan makanan serta minuman juga kopi untuk anak dan menantunya. Niar merasa sangat beruntung memiliki ayah mertua seperti Deri ini.


Setelah urusan administrasi selesai, mereka kembali ke rumah Dirga dan Niar. Arshen terlihat sangat bahagia sekali ketika mencium aroma kamarnya. Sama halnya Dnegan Niar. Lehernya terasa pegal karena harus tidur di sofa.


"Mamih mau dilihat? Biar Mbok Sum yang menyarikan tukang pijat," ujar Dirga.


Suaminya ini bagai cenayang. Apa yang diinginkan Niar dia pasti selalu tahu. Namun, Niar menggeleng.


"Kalau mau dipijat, pijat aja, Ni. Kamu gak boleh sakit, kalau kamu sakit siapa nanti yang akan menjaga Arshen," imbuh Dirga.

__ADS_1


Perkataan Deri benar adanya. Dia tidak boleh sakit. Dia tidak boleh lemah. Dia harus sehat juga kuat. Akhirnya, Niar menyetujui ucapan Dirga. Selama Niat dipijat, Arshen seakan mengerti penderitaan ibunya. Dia bahagia bermain dengan Papih serta opanya.


"Aku gak mau Arshen sakit lagi," ujar Dirga. "Lebih baik aku yang sakit, dari pada melihat Arshen yang terus menjerit kesakitan."


Deri hanya tersenyum dan menatap manik putranya. "Begitulah seorang ayah dan ibu. Tidak akan tega melihat anaknya kesakitan apalagi terluka," papar Deri.


Jika, melihat wajah papahnya yang sudah menua. Rasa sayang yang Dirga milik untuk Deri semakin banyak. Deri adalah pahlawan untuknya. Dia adalah penyelamat hidupnya.


Ketika sore tiba pun Arshen malah semakin menjadi anak yang soleh. Dia tidak rewel malah membiarkan ibunya beristirahat.


"Kamu adalah calon pelindung untuk Mamih kamu," tutur Dirga. Arshen tertawa mendengar ucapan sang ayah.


Maghrib menjelang, barulah Niar terbangun. Dia meregangkan ototnya yang sudah mulai terasa ringan. Niar terkejut karena dia teringat akan Arshen. Dia segera ke kamar Arshen. Namun, dia melihat pemandangan yang haru di mana Dirga dan Arshen terlelap dengan begitu damainya. Hatinya sangat terenyuh melihat putra dan juga suaminya.


"Maafkan Mamih ya, Nak. Tubuh Mamih perlu diservis," ucapnya pelan.


"Makasih Papih udah jagain Arshen," ucap Niar ke arah Dirga.


Terima kasih Tuhan, telah mengirimkan dua pelindung untukku. Terima kasih telah memberiku penjaga yang sangat luar biasa. Aku sangat bersyukur.


Arshen dan Dirga terlelap hingga pagi menjelang. Niar pun ikut tidru dunia ada snag putra. Luar biasanya, Arshen sama sekali tidak terbangun. Dia akan merengek ketika ingin mimi susu. Malam ini adalah malah yang sangat mengenakkan untuk Dirga dan juga Niar.


Pagi harinya Arshen sudah terjaga dan terus membangunkan Dirga. Dia ingin bermain dengan sang ayah yang masih terjaga. Tangisannya akhirnya membangunkan kedua orang tuanya.


"Ya ampun, anak Papih." Dirga mengusap lembut rambut Arshen dan akhirnya dia tertawa kembali. Niar tersenyum melihat tingkah lucu bayi yang baru berusia dua bulan ini.


"Mamih mandi dulu, ya. Sekalian siapkan sarapan untuk Papih," ucapnya.


Dirga mengangguk sambil bercanda dengan putranya. Tubuh Niar terasa bugar karena cukup istirahat. Dia segera masuk ke dalam kamar mandi. Kemudian, dia menuju dapur untuk menyiapkan sarapan untuk sang suami.


Selama dua hari Dirga meminta dokter untuk merawat Arshen. Dia tidak ingin terjadi apa-apa dengan putranya. Di hari yang sama pula Nindy terbaring lemah tak berdaya. Suhu badannya tinggi dan dia sama sekali tidak bangun dari tempat tidur. Arshen dan Nindy seperti memiliki ikatan batin yang kuat.


Dua pria dewasa ini tengah menikmati kopi di sebuah kedai kopi ternama. "Gimana kondisi Nindy?" tanya Dirga.


"Sudah baikan, Pak. Bagaimana dengan keponakan saya? Maaf, saya tidak bisa jenguk Arshen," sesal Kenan.


"Arshen sudah membaik, dia juga sudah pulang dari rumah sakit," jawab Dirga. Kenan mengangguk mengerti.


Mereka awalnya membicarakan masalah pekerjaan. Dirga lu. menyesap kopinya dan berkata, "Papah ijinin bertemu Mamah."


Kenan tersedak kopi yang baru dia sesap. Dia merasa tidak percaya dengan apa yang dia dengar.


"Bapak serius?" tanya Kenan. Dirga pun mengangguk.


Ada kelegaan di hati Kenan, senyumnya pun melengkung indah. Sudah pasti istrinya akan bahagia bisa bertemu dengan ibunya.


"Siapa yang akan berbicara kepada Nindy?" tanya Dirga.


Sejenak Kenan berpikir. Dia menatap ke arah Dirga. "Lebih baik Bapak saja, Nindy tidak terlalu terbuka perihal Mamah," terang Kenan. Dirga mengangguk setuju.


Dia tinggal atur waktu bertemu dengan Nindy. Akan tetapi. dia juga harus menunggu Nindy sembuh terlebih dahulu. Dirga sangat tahu bagaimana Nindy. Semakin Nindy dipaksa, dia semakin memberontak.


"Saya berbicaranya tidak sekarang. Ketika Nindy sudah sembuh total." Kenan pun setuju. Tubuh Nindy masih sangat lemah.

__ADS_1


Senyum Kenan terus mengembang. Ketika istrinya demam tinggi, Nindy terus memanggil nama mamahnya. Terlihat jelas bahwa dia sangat merindukan sosok seroang ibu. Kenan hanya bisa memeluknya dan merawatnya. Dia juga tidak ingin menanyakan perihal ibu mertuanya kepada Nindy. Istrinya belum terbuka perihal itu. Kebanyakan harus mengerti. Dia juga tidak ingin memaksa. Kenan percaya, ketika Nindy sudah siap cerita semuanya pasti dia juga akan terbuka.


Berbeda dengan Deri, setelah mendengar bahwa anak-anaknya sudah memaafkan Septi. Deri mengirimkan beberapa pakaian serta skincare yang biasa Septi pakai. Bukan Deri sendiri yang memberikannya, tetapi orang suruhannya. Dia tidak ingin terlihat, biarlah perhatiannya ini yang dia berikan. Jujur, sampai sekarang Deri masih menyayangi Septi.


"Bagaimana? Sudah?" tanya Deri.


Orang uang berpakaian petugas lapas pun mengangguk. "Ibu Septi sudah menduga itu dari Bapak," ujarnya.


"Biarkan saja," balas Deri dengan senyum yang mengembang.


Deri memberikan beberapa lembar uang berwarna merah kepada petugas lapas tersebut. Kemudian, dia melajukan kembali mobil yang dia bawa.


"Kamu tahu, aku bukan pria romantis. Aku hanya akan bertindak sesuai perasaanku," gumamnya.


Di dalam lapas, Septi tersenyum. Apalagi, setiap hari selalu ada banyak makanan untuknya. Dia tidak akan menikmatinya sendiri. Dia akan membaginya kepada teman dalam satu selnya. Septi dikenal sebagai penghuni lapas yang religius karena ke mana-mana selalu membawa tasbih di tangannya. Dia juga wanita yang sangat humble Dan bertutur kata sopan.


Septi tahu siapa yang mengirim ini semua. Tidak ada yang tahu perihal skincare yang dia pakai kecuali mantan suaminya. Lengkungan senyum terukir di wajah Septi.


"Ternyata kamu masih memperdulikanku, Mas," gumamnya.


Hati Septi sangat berbunga-bunga seperti anak remaja yang baru saja merasakan indahnya jatuh cinta. Kebahagiaan itu hanya sejenak, ketika ketiga lapas memanggil Septi kembali. Ternyata Bunga yang menemuinya.


"Mamah, aku gak bisa bayar uang kontrakan. Aku hanya punya uang dua ratus lima puluh ribu," lirih Bunga.


Septi sempat bingung, dia juga tidak memiliki uang sekarang. Tidak ada juga barang berharga yang dia miliki, kecuali anting. Tanpa berpikir panjang, Septi melepas antingnya dan dia berikan kepada Bunga.


"Jual lah ini, Nak. Harganya cukup untuk biaya kami sebulan. Kamu jangan pikirkan Mamah. Jangan bawakan Mamah makanan. Itu untuk kamu dan untuk kamu bertahan hidup. Mamah tidak memiliki apapun. lagi selain itu," ucapnya lemah.


Mata Bunga berkaca-kaca mendengar ucapan dari Septi. Mamahnya ini sangatlah luar biasa. Padahal mereka belum lama ini bertemu, tetapi Septi sudah banyak berkorban untuk Bunga.


"Mah, kalau aku udah kerja, uang ini pasti akan aku ganti," imbuh Bunga. Septi menggeleng dengan cepat. Dia menggenggam erat tangan Bunga.


"Mamah menolong kamu dengan sangat ikhlas. Jangan pernah mengganti apapun yang Mamah beri," jelas Septi dengan raut sendu.


Bunga menitikan air mata mendengar ucapan dari mamahnya. Kasih sayang Septi sangatlah luar biasa kepadanya. Dia sangat yakin, kasih sayang Septi kepada Dirga serta Nindy pun seperti ini. Malah bisa lebih dari ini.


"Makasih, Mah." Hanya kata itu yang mampu Septi ucapkan.


Septi baru saja di PHK. Dia juga tidak diberi pesangon, makanya dia berani berbicara kepada mamahnya. Dia bingung, jika dia diusir dari kontrakan dia akan tidur di mana. Ketika Mamahnya sudah bebas pun mereka akan hidup di mana.


Bunga merasa kasih sayang ibunya ini sangatlah tulus. Apapun yang anaknya minta pasti akan diberi. Meskipun, harus merelakan apa yang dia gunakan. Menjual barang yang sangat berharga ataupun barang kesayangan.


"Aku permisi dulu ya, Mah. Aku janji akan mencari pekerjaan dengan gigih. Agar aku tidak selalu merepotkan Mamah." Septi hanya mengangguk dengan seulas senyum yang mengembang di bibirnya.


Bunga adalah anak yang sangat penurut serta tidak banyak bicara. Dia benar-benar anak yang sangat mandiri dan memiliki daya juang yang sangat luar biasa. Tidak ada kata menyerah dalam melakukan hal apapun. Dia terus mencoba dan mencoba lagi. Itulah yang membuat Septi sangat sayang kepada Bunga. Sama halnya seperti kasih sayangnya kepada Dirga juga Nindy.


Namun, hari ini dia teringat akan putri bungsunya. Dia merasa putrinya sedang tidak baik-baik saja.


"Ndy, Mamah kangen. Apa kamu tidak ingin bertemu dengan Mamah?" gumamnya.


Septi memejamkan matanya dengan suasana hati yang sendu. Dia sudah bertemu dengan Dirga, Kenan serta Deri. Akan tetapi, dia belum bertemu dengan Nindy juga Niar. Ada rasa takut di hati Septi. Dia takut kalau anak dan menantunya itu membencinya. Meskipun dia.juga sadar diri, dia adalah wanita yang memang patut di benci. Bukan untuk dicintai apalagi dikasihani


"Maafkan mamah, Niar. Mamah sudah sangat jahat kepada kamu," sesal Septi.

__ADS_1


"Maafkan mamah Ndy, Mamah sudah buat kamu kecewa," tuturnya lagi.


__ADS_2