Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Papan Bangunan


__ADS_3

"Saya calon suami Nindy."


Jawaban Kenan mampu membuat Nindy melebarkan mata dan tak percaya. Namun, bibirnya tak mampu untuk berkata dan dia pun ingin cepat pergi dari hadapan dua manusia tidak punya hati ini, Rico dan juga Fika.


"Ayo, kita pergi dari sini. Gak ada untungnya kamu bertegur sapa dengan mereka," imbuh Kenan.


Kenan mulai menautkan tangannya pada tangan Nindy. Mengajak Nindy pergi meninggalkan Fika dan Rico yang mematung. Jantung Nindy berdetak sangat cepat ketika Kenan terus menggenggam tangannya.


Sudah jauh dari kedua manusia tersebut, dengan kasar Kenan melepaskan genggaman tangannya. Membuat Nindy mengerang kesal.


Baru saja akan memujinya. Sudah kembali menyebalkan.


Nindy bersungut-sungut di dalam hati melihat sikap Kenan yang seperti bunglon. Berubah-ubah sesuai suasana hatinya.


Mereka tak mampu menemukan Dirga dan Niar dan memutuskan untuk masuk ke dalam kedai kopi. Wajah Kenan masih datar bak papan bangunan.


"Kenapa lu ngaku-ngaku calon suami gua?" Pertanyaan yang membuat Kenan melirik sekilas ke arah Nindy. Lalu, matanya kembali dia fokuskan kembali ke layar ponsel.


"Biar cepet. Saya tidak mau banyak drama," tukasnya


Ya Tuhan, ingin rasanya aku menenggelamkan pria yang satu ini ke Laut mati.

__ADS_1


"Lagi pula pria itu sudah berpacaran dengan sahabat kamu. Keputusan yang bijak jika kamu memilih mengakhirinya."


Nindy tercengang mendengar ucapan dari Kenan. Dahinya mengkerut mendengar semuanya.


"Saya tahu semua tentang kamu. Siapa pacar kamu dan mantan kamu pun saya tahu."


Mata Nindy semakin membola mendengar penuturan Kenan. Walaupun mata Kenan terfokus pada layar ponsel, tetapi dia mampu melihat raut wajah Nindy yang terkejut.


"Saya disuruh Pak Dirga. Jika. Pak Dirga tidak membayar saya mahal mana mungkin saya mau mencari tahu tentang adiknya yang sangat menyebalkan," tukasnya.


"Lu yang nyebelin!" seru Nindy seraya menggebrak meja.


"Wah, udah akur aja nih." Suara si ibu hamil yang sudah menggoda Nindy dan Kenan.


"Gak ada tuh akur-akuran," sungut Nindy.


Dirga menggeser kursi agar bisa istrinya duduki. "Makasih, Ay."


"Udah selesai?" tanya Dirga tiba-tiba.


"Apanya?" tanya balik Nindy pura-pura tidak tahu.

__ADS_1


"Hubungan kamu," jawab Dirga.


"Jangan bertanya tentang apa yang sudah Kakak ketahui jawabannya," sungut Nindy.


Dirga hanya tertawa dan mengusap lembut adiknya ini. Meskipun, bukan adik kandung, Nindy adalah adik tercintanya. Selamanya akan dia jaga. Sebelum ada laki-laki yang mampu menjaganya dengan segenap hati dan raga.


"Kakak hanya ingin yang terbaik untuk kamu. Memilih pendamping pun harus yang benar-benar baik. Mengerti kamu dan menerima segala kekurangan kamu." Mata Nindy berkaca-kaca mendengar ucapan dari sang kakak. Ingin sekali dia memeluk tubuh Dirga. Namun, ada si manusia papan bangunan di sana. Dia tidak ingin terlihat lemah. Bisa-bisa dia yang kena ejek.


Setelah asik berbincang dan makan, mereka memutuskan untuk pulang. Nindy menatap langit kamarnya. Tawa Kenan yang lepas terngiang di kepalanya.


"Sangat manis," gumamnya.


Tawa Kenan pecah tatkala menimpali ucapan receh yang Dirga lontarkan.


"Gua kira si papan bangunan gak bisa senyum. Ternyata ...."


Senyum melengkung indah di wajah Nindy. Tak sadar, dia menggulingkan badannya ke kanan dan ke kiri karena senangnya.


Tiba-tiba dahinya mengkerut, mengingat status yang disandang oleh Kenan.


"Bagaimana wajah mendiang istrinya, ya?"

__ADS_1


__ADS_2