
Baby moon mereka hanya berakhir dengan bercerita. Apalagi ketika Niar bertemu dengan seseorang yang mengganggu pikirannya. Siapa lagi jika bukan ibu mertuanya. Yang entah kenapa semakin hari semakin membencinya.
Niar teringat ketika dia jatuh di dapur. Ibu mertuanya hanya melihat tanpa membantu. Padahal ibu mertuanya itu melihat dengan jelas ada darah yang mengalir di kaki Niar.
"Mikirin apa siih, Yang?" tanya Dirga yang baru saja selesai mandi. Sedangkan Niar sedang membereskan barang bawaannya. Karena mereka akan pulang ke Jakarta besok pagi.
"Apa kurang baby moon-nya?" goda Dirga.
Niar hanya menggeleng sebagai jawabannya. "Kenapa Mamah kamu sangat membenciku?" tanya Niar tiba-tiba.
Dirga terdiam tidak menjawab pertanyaan Niar. Untuk hal ini Dirga tidak terus terang kepada Niar. Dia takut Niar akan marah kepadanya.
"Kenapa diam, Ay?"
"Lebih baik kita tidur. Jaang buat anak kita begadang," ujar Dirga dan segera naik ke tempat tidur dan memeluk tubuh istrinya.
Setelah dirasa istrinya tertidur. Dirga mengecup kening Niar sangat dalam. Dia tatap wajah damai sang istri ketika terlelap begini. Dirga teringat akan kejadian sebelum Niar terjatuh.
__ADS_1
Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Dirga. Harusnya dia menuruti ucapan Kenan agar semuanya tidak menjadi rumit.
Pagi harinya, Dirga dan NIar sudah bertolak ke Jakarta. Hati Niar merasa tidak karuhan. Membuatnya terus saja bergerak ketika duduk di dalam pesawat. Dirga dibuat heran olehnya.
"Kenapa, Yang? Apa perut kamu sakit?" tanya Dirga. Dengan cepat Niar menggeleng. Dirga menarik tangan NIar masuk ke dalam dekapannya. Memberikan kenyamanan, ketenangan, serta kehangatan
Tibanya di rumah, mereka disambut oleh ibu dari Dirga yang tak lain adalah mertua Niar. Namun, sang mamah datang tidak sendiri. Melainkan dengan seorang wanita cantik nan anggun. Mata Dirga melebar dengan sempurna. Begitu juga Niar.
"Mau apa Mamah datang ke sini?" sergah Dirga.
"Loh kamu lupa memangnya?" ucap sang mamah.
"Ay, ada apa ini?" desak Niar.
"Kamu belum bilang sama istri kamu?" Niar semakin bingung dan tidak mengerti dengan apa yang dikatakan oleh mertuanya.
"Apa ada yang kamu sembunyikan dari aku?" Niar mulai bertanya lebih dalam lagi terhadap Dirga. Namun, Dirga masih membisu.
__ADS_1
Niar menghela napas kasar. Kemudian, dia menatap mertuanya. Sorot matanya menginginkan penjelasan rinci.
Sang mamah mertua menatap ke arah wanita di sampingnya yang masih terdiam. Dan kini menunduk dalam.
"Dia adalah Bunga wanita malang yang ditabrak oleh seorang pria frustasi. Menyebabkan kedua orangtua Bunga meninggal," terang Septi.
Niar mengerutkan dahinya tak mengerti. Membuat Septi melanjutkan bicaranya.
"Dan dua tahun lalu, si pria berjanji akan menikahi Bunga ketika lulus sekolah karena pada waktu itu Bunga masih duduk di bangku sekolah menengah atas kelas dua. Tanpa sadar, pria itu memberikan kartu namanya kepada Bunga. Dan meminta Bunga untuk menemuinya di kantor tersebut ketika d
Bunga lulus. Tanpa sengaja atau kebetulan,Bunga melamar kerja di kantor pria itu sebagai office girl. Dan ketika melihat pemilik perusahaan tempat Bunga bekerja, Bunga ini teringat sesuatu. Dia memberanikan diri untuk menemui pria itu. Kemudian, menyerahkan kartu nama yang masih dia simpan. Karena pria itu tidak percaya, Bunga menyerahkan KTP-nya. Sekaligus menagih janjinya kepada pria tersebut," jelas Septi panjang lebar.
"Lalu apa hubungan Bunga dengan kami?" tanya Niar yang masih penasaran.
"Pria itu suami kamu."
...****************...
__ADS_1
Komen dong yang banyak, nanti aku up lagi. Tunjukkan diri kalian biar aku bisa tahu siapa saja yang menyukai kisah Dirga dan Niar. Sedih loh, nulis cape-cape tapi gak ada yang komen 🤧
Hiatus lagi nih.