Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Bergadang


__ADS_3

Malam ini Dirga menjadi ayah yang siaga untuk putranya. Dia tidak mau mengganggu istrinya karena sudah pasti seharian ini Arshen membuat Niar lelah. Ketika Arshen menangis kecil, tangan Dirga menepuk-nepuk kaki Arshen agar terlelap kembali. Benar saja, mata Arshen mulai terpejam.


Ketika Arshen haus barulah Dirga membangunkan istrinya. Membantu istrinya duduk dan mengikat rambut Niar yang berantakan. Dirga akan terus menemani sang istri hingga Arshen benar-benar terlelap.


"Papih tidur aja, besok 'kan kerja." Dirga tersenyum dan menggelengkan kepalanya.


"Papih akan menemani Mamih."


Satu jam berselang, Arshen barulah tertidur nyenyak. Dirga meletakkan di boks bayinya. Dia Inging memiliki tubuh sang istri hingga pagi menjelang. Arshen seolah tahu dan tidak mengganggu. Kedua orang tuanya tertidur dengan saling memeluk satu sama lain.


Keesokan paginya, Niar sudah menggendong Arshen yang sudah tampan. Namun, papihnya masih terlelap dengan damainya.


"Bun, aku bangunan papihnya Arshen dulu, ya." Bu Sari mengangguk. Dia melanjutkan kegiatan memasaknya. Semenjak ada Bu Sari pola makan Niar benar-benar dijaga. Tidak boleh sembarang karena habis melahirkan.


Di kamar, Niar yang tengah menggendong Arshen membangunkan Dirga. Dirga hanya menggeliat tanpa membuka matanya.


"Papih, udah siang. Nanti telat, loh," ujarnya.


"Sebentar lagi, Mih."


Dirga malah menaikkan selimutnya lagu. Niar memaklumi karena malamnya sang suami harus bergadang menemaninya.


Suara dari arah tengah membuat Niar keluar dari kamarnya. Senyuman merekah di bibir Nindy. Dia mengecup pipi gembil Arshen dengan sangat gemas.


"Anteu kangen banget sama kamu," ujar Nindy.


Nindy mengambil alih Arshen dari tangan Niar.


"Kamu kapan sampai?" tanya Niar.


"Semalam Kak."


Niar mengangguk, dan tak lama Kenan masuk ke dalam rumahnya.


"Bos mana?" tanya Kenan.


"Masih tidur." Kenan hanya menggelengkan kepalanya.

__ADS_1


Nindy menyapa Bu Sari yang tenyata ada di rumah sang kakak. Begitu juga dengan Kenan.


"Ya ampun, Bunda gak nyangka jodoh kamu adalah teman kerja Dirga," kata Bu Sari.


"Sempit ya Bun, dunia ini," kelakar Nindy.


Mereka tertawa bersama. Di dalam kamar ada manusia yang merasa terganggu. Dia mendengkus kesal dan segera masuk ke dalam kamar mandi. Niar yang hendak membangunkan suaminya terkejut ketika melihat Dirga sudah tidak ada di atas tempat tidur. Dia menajamkan pendengarannya di pintu kamar mandi. Dia pun bisa bernapas lega.


Niar menyiapkan baju untuk suaminya pakai. Begitu juga dengan kopi panas yang sudah tersedia di atas nakas. Pelukan dari belakang tubuh Niar sedikit membuat Niar tersentak. Bibirnya melengkung dengan sempurna.


"Nindy dan Kenan udah ada di depan," ujarnya.


"Biarin aja."


Dirga malah menikmati aroma tubuh sang istri. Sudah lama.dia tidak bisa menghabiskan waktu berdua seperti ini. Dirga mulai mengecup bibir merah cherry Niar. Kegiatan yang sudah lama tidak mereka lakukan semenjak kehadiran Arshen. Mereka harus bisa menahan semuanya karena Niar masih dalam masa nifas.


Setelah puas, Dirga melepaskan pagutannya dan tersenyum ke arah sang istri. Dirga mencium kening Niar sangat dalam. Hati Niar benar-benar bahagia dibuatnya.


Dirga menyesap kopi terlebih dahulu sebelum dia memakai baju. Setelah selesa, dia akan meminta Niar untuk memasangkan dasi. Inilah hal yang paling ditahan sukai karena dia bisa melihat wajah istrinya dari dekat.


"Selesai." Dirga mencuri kecupan di bibir Niar.


Sudah ditinggalkan lebih dari seminggu berbulan madu, masih saja atasannya ini bermesraan dengan istrinya. Tidak ada berubahnya.


Nindy melihat ke arah makanan yang Niar konsumsi. Dia sedikit mengerutkan dahinya karena makanan itu hanya sayur bening dan tahu temperatur serta ayam. Padahal makanan yang tersaji lebih nikmat dari pada yang dimakan Niar.


"Setelah melahirkan itu harus banyak pantangan. Meskipun sekarang zaman modern tetap saja kita harus berjaga-jaga. Setelah melahirkan bukan hanya luka di luar yang kita terima, tetapi di dalam perut kita mengalami perubahan juga. Kalau makan jorok efeknya memang tidak sekarang, tetapi nanti setelah kita tua," terangnya.


Nindy mendengarkan dengan seksama ucapan dari bu Sari. Dia seperti sedang dinasihati oleh sang ibu tercinta.


"Beruntungnya Kak Niar."


Kenan yang melihat mimik muka Nindy yang berubah menggenggam tangannya. Nindy menoleh ke arah Kenan dengan seulas senyum.


Dirga dan Kenan berangkat ke kantor dengan menggunakan satu mobil. Lebih menguntungkan bagi Dirga karena dia bisa beristirahat sejenak selama di perjalanan.


"Habis ngapain emang, Pak?" Dirga tidak menggubrisnya. Dia malah memejamkan matanya dan tak lama terdengar dengkuran halus.

__ADS_1


Kenan hanya menggelengkan kepala. Atasannya ini memang terlihat sangat kelelahan.


Tibanya di kantor, mata Kenan masih terlihat merah. Dia segera memesan kopi espresso. Hari ini ada pertemuan penting. Kenan menurutinya saja.


Di rumah Niar, Nindy terus menjaga Arshen. Dia tengah melepas rindu dengan keponakan kesayangannya. Nindy menganggap Arshen seperti anaknya sendiri.


"Ndy, kapan ngasih sepupu untuk Arshen?" tanya Bu Sari.


"Doain aja ya, Bun," jawab Nindy seraya tersenyum.


Niar merasa bahagia ketika melihat Nindy yang sepertinya sudah siap untuk menjadi seorang ibu. Dari cara dia menggendong Arshen, menumpahkan kasih sayang terhadap Arshen itu sangat terlihat.


Niar sudah menyandarkan tubuhnya di kepala ranjang. Dia meminta sang ibu untuk memijat kakinya yang terasa pegal, dengan senang hati Bu Sari menuruti ucapan Niar.


Ada rasa iri di hati Nindy ketika melihat sang kakak diperlakukan seperti itu oleh ibunya. Nindy juga ingin. Namun, dia mengalihkan pandangannya kepada Arshen. Tak terasa bayang wajah sang ibu hinggap di kepalanya dan bulir bening pun menetes.


Mamah ... Ndy rindu Mamah.


Kalimat yang setiap malam Nindy katakan menjelang tidurnya. Tidak.da seorang anak yang benar-benar membenci orang tuanya. Di lubuk hatinya yang paling dalam pasti ada kerinduan yang menggunung.


Bu Sari yang mengerti akan perasan Nindy segera menghampiri Nindy.


"Kamu mau Bunda pijat juga?" tanya Bu Sari. Nindy sedikit tersentak mendengar penawaran dari ibu mertua kakaknya.


"Tidak usah, Bun," tolak Nindy.


Namun, kali ini Bu Sari memaksa. Dia menyuruh Niar untuk mengambil Arshen dalam gendongannya Nindy. Bu Sari juga menyuruh Nindy untuk tengkurap dan melepas pakaiannya.


Pijatan di kaki Nindy membuat tubuhnya yang menegang kembali relaks. Dia merasakan. ketenangan dan kenyamanan. Apalagi naik ke bagian punggung. Nindy merasa sangat nyaman. Pijatan Bu Sari benar-benar menenangkan dan membuat ketagihan.


"Gak pernah dipijat ya," tanya Bu Sari.


"Iya, Bun. Takut pegal-pegal setelah dipijat," tuturnya.


Bu Sari hanya tersenyum, dia terus melakukan pemijatan di punggung dan tak terasa Nindy pun terlelap karena saking nikmatnya.


Niar tertawa begitu juga dengan Bu Sari.

__ADS_1


"Dia merindukan ibunya, Ni," ujar Bu Sari. Niar pun mengangguk paham..


__ADS_2