
Pelukan tangan Dirga perlahan mengendur dan semua orang berteriak. Niar yang sedari tadi diam dengan air mata yang sudah membasahi pipinya menoleh ke arah belakang.
"Ay!" teriaknya.
Kenan langsung membawa tubuh bosnya ke mobil dan dibantu pihak keamanan di sana. Wajah Dirga terlihat sangat pucat.
"Ay, bangun, Ay. Jangan tinggalin aku," ucap Niar dengan air mata yang terus berjatuhan.
Kenan hanya menghela napas kasar, bosnya benar-benar banyak berkorban untuk mendapatkan cintanya. Nyawanya siap untuk dia pertaruhkan demi Niar.
Setelah sampai rumah sakit, Dirga langsung ditangani oleh dokter dan masuk ke IGD terlebih dahulu. Niar dan Kenan yang menunggu Dirga di luar ruangan. Mereka hanya dapat berharap yang terbaik.
Dokter keluar dari IGD, Niar dan Kenan pun menghampiri dokter. "Luka yang diderita pasien belum sepenuhnya sembuh, dan hari ini terlalu banyak gerakan-gerakan yang menyebabkan luka itu semakin parah."
"Tadi pasien menuruni anak tangga dok, dari lantai 17 hingga ke lantai 1."
Ucapan Kenan mampu membuat Niar terdiam, Dirga seperti ini karenanya. Karena mengejarnya, egois memang dirinya.
"Pantas saja, pasien harus istirahat total dan pengecekan luka secara berkala. Diluar lukanya memang sudah sembuh, tapi luka dalamnya masih belum sembuh sepenuhnya."
__ADS_1
"Baik, Dok. Berikan perawatan yang maksimal untuk pasien. Saya akan mengurus administrasinya dulu."
Setelah Kenan dan dokter pergi, Niar terduduk di lantai sambil bersandar di dinding. Penyesalan dan penyesalan yang Niar rasakan. Jika, Niar menanyakan terlebih dahulu kepada Dirga, ini semua tidak akan pernah terjadi.
Kenan menghampiri Niar, dia ikut duduk di lantai. Menunggu Dirga dipindahkan ke ruang rawat.
"Bahagiakan dia, terlalu banyak luka yang dia pendam sendiri. Terlalu lama pengorbanan yang dia lakukan untuk menemui kebahagiaannya. Kebahagiaannya cuma satu, yaitu kamu," imbuh Kenan yang berbicara layaknya teman.
"Lima tahun adalah waktu yang tidak sebentar. Dan banyak merubah Dirga dalam banyak hal. Hanya satu yang tidak berubah dari Dirga, yaitu cintanya untuk kamu."
"Hidup seorang diri, berjuang seorang diri hingga dia bisa besar seperti ini karena dia selalu berjuang. Dan menjadikan kamu tujuan hidupnya. Dia harus sukses dengan usahanya sendiri agar bisa meminang mu dan layak menjadi suami yang memiliki segalanya untuk mu."
"Maaf, Pak, Bu. Di sini ada yang bernama Niar?" tanya salah seorang perawat.
"Saya sus."
"Ikut saya, Bu. Pasien ingin bertemu dengan Anda."
Niar masuk ke dalam IGD, Dirga terbaring lemah di ranjang. Wajahnya masih pucat.
__ADS_1
"Ni-Niar."
Niar sangat melihat kesakitan yang Dirga rasakan, dia menghampiri Dirga dengan tetesan air mata. Matanya sudah sembab dan hidungnya sudah memerah.
"Jangan menangis lagi," ucapnya dengan menahan sakit.
Dirga mencoba menghapus air mata Niar namun, tangannya tak sanggup diangkat terlalu tinggi. Niar pun menggenggam tangan Dirga dan meletakkannya di pipinya yang sudah basah.
"Aku sayang kamu. Aku cinta kamu. Hanya kamu yang ada di hatiku. Hanya kamu yang ingin aku miliki," kata Dirga dengan menatap lekat manik mata Niar.
"Jangan pernah meragukan cintaku, Sayang. Cintaku sangat besar untuk kamu, hanya untuk kamu."
Niar mengangguk pelan, dan mencium punggung tangan Dirga. "Aku juga sangat mencintaimu."
****
Semoga terhibur ....
Jangan lupa like dan komen dan ❤️
__ADS_1