
Ketika malam tiba, Kenan tiba di rumah sakit dengan pakaian santainya. Dia mengecup kening sang istri ketika kedua kakaknya terlelap.
"Mereka udah tidur?" tanya Kenan.
"Nanti malam mereka harus bergadang lagi, Mas. Makanya aku suruh mereka untuk tidur cepat. Biar Akau yang jaga Arshen." Kenan tersenyum, pilihannya tidak salah.
Kenan memandangi wajah Arshen yang sangat tampan. Jika, dilihat dengan seksama wajah Arshen memang mirip sekali dengan bosnya.
"Lucu banget sih." Nindy tersenyum mendengar ucapan sang suami.
Dia bangkit dari duduknya dan menghampiri sang suami yang tengah berdiri di pinggir boks bayi.
"Mas, suka anak-anak." Kenan hanya tersenyum.
Tangan Nindy melingkar di tangan Kenan. Kenan membalas dengan kecupan di kening sang istri.
"Semoga kita disegerakan memilikj yang seperti itu ya, Mas." Kenan pun tersenyum.
__ADS_1
Setiap kali Arshen bangun, Nindy dan Kenan akan bergantian menepuk-nepuk kaki atau pantat Arshen.
"Lucu banget sih, udah kayak boneka," ujar Nindy.
Namun, Arshen tidak mau menutup matanya kembali. Seolah dia ingin mengajak bercanda Nindy. Dia angkat tubuh Arshen dan menimangnya. Nindy membawa tubuh Arshen mendekat ke arah Kenan. Dia segera meletakan tubuh Arshen di tangan Kenan dan mampu membuat Kenan terkejut.
"Sayang, takut jatuh."
Nindy tertawa dan dia malah mengajarkan kepada Kemana bagaimana menimang bayi yang benar.
"Belajar ya, Mas. Ketika nanti kita dikasih momongan, Mas bisa bantuin aku jagain anak kita."
"Seperti boneka hidup," katanya.
Nindy ikut tertawa bahagia. Dia menggoda Arshen yang ada di tangan Kenan. Senyuman terus merekah di wajah mereka berdua. Arshen seperti anak mereka berdua.
Satu jam Nindy dan Kenan silih berganti bergantian untuk meminang Arshen hingga dia terlelap dengan damainya. Pintarnya anak itu dia tidak merengek meminta susu.
__ADS_1
Kedua orang tua Arshen malah semakin masuk ke dalam alam mimpi. Dirga yang tengah tertidur di kursi samping ranjang pesakitan dan Niar yang sedang terlelap di atas ranjang pesakitan. Suara sang putra yang terbangun pun tak mereka bangun. Saking lelahnya mereka tak mendengar apa-apa.
Tengah malam datang, Arshen menangis kembali. Dirga bangun dan segera menghampiri boks bayi.
"Kenapa tampannya Papih?" gumamnya seraya tersenyum.
Dirga mengangkat tubuh Arshen dan Arshen pun seketika terdiam. Dirga tersenyum bahagia melihatnya.
"Jangan manja dong, Nak. Kasihan nanti Mamihnya. Nanti Mamih juga akan marahin Papih," ujarnya.
Dirga duduk di kursi di samping ranjang pesakitan sang istri. Dia meletakkan Arshen di samping Niar. Arshen seolah mengerti akan kehadiran ibunya di sampingnya.
Dirga mengecup kening Arshen dan juga Niar bergantian. Dua manusia kesayangan Dirga.
Dirga ikut meletakkan kepalanya di atas ranjang dengan tubuh yang dia dudukkan di kursi. Setengah jam berlalu, Niar membuka mata. Dia sedikit terkejut melihat Arshen di sampingnya dan Dirga sudah terlelap dengan kepala yang diletakkan di atas ranjang pesakitan.
"Dua jagoan Mamih yang sangat Mamih sayangi," ucap Niar seraya tersenyum.
__ADS_1
Niar merasa sangat bahagia karena keluarganya sudah lengkap saat ini. Dirga yang sangat menyayanginya. Arshen yang lahir dari rahimnya dan juga Nindy serta Kenan yang selalu membantu dia dan menemaninya.
"Terima kasih Ya Allah. Meskipun, bunda jauh dan belum bisa ke sini. Namun, aku merasa bersyukur karena dikelilingi orang-orang yang sangat menyayangiku."