Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Keinginan


__ADS_3

Mendengar istrinya berkata bahwa tubuhnya lemas, Dirga hanya tersenyum dan kemudian mengambil keputusan. "Hari ini Papih akan berada di rumah menjaga Arshen."


Niar yang baru saja hendak memejamkan mata kini membuka matanya kembali. Dia menatap ke arah suaminya tak percaya.


"Apa Papih bisa?" Niar seakan tidak percaya.


"Kenapa tidak? Papih bisa memandikan Arshen. Untuk menyusui Arshen pun bisa memakai botol susu. Tinggal memompa ASI Mamih saja," jawab Dirga dengan tak ada beban. "Papih akan membawa Arshen ke ruang kerja supaya tidak mengganggu waktu istirahat Mamih."


Apa Niar akan membiarkan suaminya mengurus Arshen begitu saja? Akan tetapi, tubuhnya pun tidak bisa berbuat apa-apa. Lemas dan tak berdaya.


"Ya udah, tapi Papih jaganya yabg benar, ya." Akhirnya, Niar menyerah. Sungguh ini seperti kali pertama dia merasakan diserang oleh suaminya yang gagah perkasa.


Dirga mengecup kening Niar dan menyuruhnya untuk beristirahat, sedangkan dia masuk ke kamar mandi untuk membersihkan tubuhnya. Dia takut Arshen keburu bangun. Dirga mandi dengan mode santai, dia juga tidak mendengar tangisan sang putra. Ketika dia selesai mandi dan membuka pintu, putranya sudah terjaga dengan melirik ke sana ke mari. Mengoceh pelan membuat Dirga sedikit terkejut. Namun, ada rasa bangga juga karena Arshen tidak menangis. Dia seperti mengerti kondisi ibunya. Kedatangan Dirga mampu membuat Arshen menatap dan tersenyum ke arahnya.


"Jangan berisik, ya. Nanti Mamih bangun," ucap pelatih Dirga kepada Arshen. Putranya hanya tertawa menunjukkan gusi-gusinya uang berwarna cerah.


"Sungguh menggemaskan." Dirga mengambil pakaiannya terlebih dahulu. Kemudian, dia mengatakan tubuh Arshen dengan sangat hati-hati agar dia tidak membangunkan istrinya.


"Berjemur dulu yuk," ajaknya pada sang putra.


Mbok Sum yang tengah sibuk di dapur menukikkan kedua alisnya ketika melihat Dirgalah yang membawa Arshen. Dirga juga tidak menggunakan pakaian kebesarannya.


"Tuan, Nyonya ke mana?" Pertanyaan yang terlontar dari mulut asisten rumah tangganya.


"Lagi gak enak badan, Mbok. Tolong siapakah sarapan untuk saya juga istri saya," titah Dirga. Mbok Sum mengangguk pelan.


Dirga membawa Arshen ke halaman depan rumahnya. Mereka berdua berjemur dan lucunya tubuh Arshen menggeliat-geliat. Dirga ingin. sekali dekat dengan putranya itu. Dia ingin seperti sang ayah yang mampu membesarkannya dengan penuh kasih sayang tanpa membedakan.


Setelah menjemput Arshen, Dirga membawa putranya kembali ke lantai atas dan akan. memandikannya. Tidak ada tangisan sama sekali. tidak ada drama yang tercipta. Arshen seakan menikmati waktu bersama sang ayah. Dirga juga seakan sudah terlatih dalam memakaikan pakaian Asehen. Setelah tampan dan juga wangi, Dirga mencoba membangunkan istrinya.


"Mih ... Arshen ingin Mimi," ucap Dirga pelan.


Niar yang mendengar segera membuka mata. Dia mencium aroma bayi yang sangat khas. Niar tersenyum dan Niar mengambil Arshen dari suaminya.


"Maafkan Mamih ya, Nak," ucap Niar.


Dirga tersenyum.dan dia duduk di tepian tempat tidur. Dia pun mengusap lembut kepala Niar dengan sangat lembut.


"Mau mompa asi atau menyusui langsung?" tanya Dirga kepada Niar.


"Langsung aja, Pih. Nanti kau Arshen mau mimi lagu, Papih bangunin Mamih aja," tutur Niar.


Dirga pun tersenyum dan mengecup kening istrinya penuh dengan cinta. Setelah perutnya terisi, sang putra pun terlelap dengan damainya. Niar dan Dirga tersenyum.


"Biarkan Arshen tidur di sini aja, Pih." Dirga pun mengangguk. Dua membawa laptopnya ke kamar.


Istri dan anaknya pun terlelap. Dirga sudah mengecek pekerjaannya. Dirga dan Niar melupakan sarapan mereka. Ketukan pintu membuat Dirga segera membukakan pintu agar tidak mengganggu istri juga anaknya.


"Tuan, sarapan dulu," ucap Mbok Sum.


"Tolong buatkan saya kopi dan bawa sarapan saya ke kamar." Mbok Sum pun mengangguk.


Dirga melanjutkan pekerjaannya kembali. Dia melihat Arshen yang sangat nyenyal tertidur. Begitu juga dengan istrinya. Sebagai kepala keluarga Dirga berkewajiban menjaga dan melindungi anak serta istrinya. Juga membahagiakan mereka berdua.


Di lain tempat, Deri yang tengah bekerja terus teringat akan cucu kesayangannya. Ingin sekali dia melihat cucunya. Akan tetapi, pekerjaannya sungguh sangat banyak.


"Jagoan Opa, sedang apa kamu?" gumamnya dalam hati..


Bukan hanya Deri yang merindukan Arshen. Nindy yang sedang berlibur pun teringat akan kepoankannya yang sangat menggemaskan. Dia terus mantap foto Arshen yang banyak tersimpan di galeri ponselnya.


"Lihat apa, Sayang?" tanya Kenan.


"Kangen Arshen." Kenan pun tersenyum mendengar ucapan dari sang istri. Nindy sudah menganggap Arshen sepeti anaknya sendiri.


"Sayang, bagaimana dengan keputusan kamu?" tanya Kenan.


Nindy tidak menjawab pertanyaan dari Kenan. Sesungguhnya dia masih bersikukuh pada keputusannya. Dia masih belum mau menemui ibunya. Dia belum siap. Tidak mendapat respon dari sang istri, Kenan pun tidak mendesak Nindy. Dia membiarkan istrinya tenang terlebih dahulu.


"Sayang, kalau keputusan kamu sudah berubah. Jangan sungkan untuk segera berbicara kepada Mas atau kepada Kak Dirga," tutur Kenan. Nindy hanya menatap Kenan, tanpa menyahuti ucapannya sama sekali.


"Mamah sangat merindukan kamu," tukas Kenan.


Kata rindu yang Kenan ucapkan seperti menusuk relung hatinya yang sangat dalam. Jujur, bukan hanya mamahnya yang rindu. dia juga sudah lama memendam rindu yang tak bisa dia lepas karena sebuah kekecewaan yang masih melekat.


"Sayang, surga ada di telapak kaki ibu. Kasih ibu itu sepanjang masa. Kamu harus mengingat pepatah itu," terang Kenan.


Hanya helaan napas yang keluar dari mulut Nindy. Bibirnya seakan tertutup rapat. Namun, Kenan melihat ada raut penuh penyesalan di wajah cantik sang istri. Kenan memeluk tubuh istrinya dan mengecup ujung kepala istrinya.


"Cobalah sedikit demi sedikit lembutkan hati kamu, Sayang.". Ucapan Kenan membuat Nindy memeluk erat tubuh sang suami dengan eratnya.


"Mas tahu, kamu adalah wanita yang sangat baik dan berhati lembut."


Keesokan harinya, Dirga uang tengah berada di kantor menghubungi Kenan untuk menanyakan kabar adiknya.


"Gimana?" tanya Dirga.


"Masih tetap sama," jawab Kenan.


Dirga menghela napas kasar. Ada kekecewaan yang dia rasakan. Namun, dia juga tidak ingin memaksakan. Dia tahu adiknya itu snagat keras kepala sekali.

__ADS_1


"Saya sudah mencoba untuk meyakinkan. Nindy masih saja terdiam," ungkap Kenan.


"Ya sudah, biarkan saja dulu. Jangan desak dia. Biarkan dia berpikir dengan tenang." Kenan pun mentujui keputusan Dirga. Dia tidak ingin melihat istrinya tertekan juga.


Lagi-lagi keinginan Dirga belum bisa terealisasikan kembali.


akhirnya Niar yang mengambil keputusan. Namun, dia mencari waktu yang pas untuk berbicara dengan sang suami.


Hari ini, tidak biasanya Dirga pulang cepat. Dirga segera memeluk tubuh istrinya karena sang putra tengah terlelap.


"Mandi dulu gih," titah Niar.


Dirga tersenyum dan mengecup bibir merah cherry milik istrinya. Dia pun mengikuti ucapan istrinya. Setelah selesai mandi, dia mengajak Niar untuk duduk di sofa kamarnya. Tak membiarkan Niar memasak makan malam untuknya.


"Kenapa Pih?" tanya Niar sambil mengusap lembut wajah sang suami.


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulut Dirga. Niar tersenyum dan mengecup lembut bibir suaminya. Di saat suamianya seperti ini, Niar harus mampu memberikan kehangatan juga kenyamanan untuk sang suami tercinta agar Dirga tidak mencari selimut tetangga.


"Nindy," jawabnya singkat.


"Biarkan Nindy berpikir dulu, Pih. Nindy bukan orang yang mudah terbuka, meskipun pada orang terdekatnya." Dirga mengerti itu, tetapi sampai kapan Nindy akan bersikap seperti ini kepada ibu kandungnya sendiri.


"Mamah sangat merindukan Nindy. Jika, berbicara perihal Nindy Mamah selalu menangis," tuturnya dengan nada yang lirih.


"Itulah seorang ibu, Pih. Ibu manapun pasti akan selalu merindukan anaknya, beliau juga pasti akan sedih jika berbicara perihal anak-anaknya karena mereka selalu merasa belum memberikan yang terbaik untuk anak-anaknya. Apalagi, Mamah memang telah membuat Nindy kecewa. Sudah pasti Nindy akan sulit menerimanya," terang Niar.


Dirga tidak menyahuti ucapan Niar. Dia hanya memejamkan matanya dan terus membayangkan wajah ibunya yang sudah terlihat kerutan di wajahnya. Wajah yang dulu selalu terlihat cantik, semakin hari semakin menua. Wajah sendunya pun terlihat sangat jelas. Apalagi jika melihat ibunya menangis, hati Dirga akan sangat teriris.


"Tidak semua orang bisa memaafkan kesalahan orang lain dengan cepat, walaupun kesalahan ibu kandung sendiri. Jadi, jangan samakan maaf kita dengan maafnya Nindy. Pasti berbeda, Pih."


Ucapan Niar membuka hati dan pikiran Dirga. Semua yang dikatakan oleh istrinya itu memang benar. Dia tidak boleh menyamakan dirinya dengan Nindy. Dirga tersenyum ke arah istrinya dan mengecup hangat kening sang istri.


"Makasih, sudah memberikan pencerahan kepada Papih," ujarnya.


Niar mengangguk dan memeluk tubuh suaminya. Inilah saat yang tepat untuknya berbicara kepada sang suami perihal keinginan Niar.


"Papih ...." Niar berucap sedikit ragu. Dirga masih menukikkan kedua alisnya. Menatap Niar dengan tatapan bingung. Apalagi raut wajah Niar yang terlihat berbeda.


"Ada apa, Mih?" tanya Dirga.


"Em ... kenapa gak Mamih dan Arshen duku yang ... bertemu dengan Mamah."


Ucapan Niar mampu membuat Dirga terkejut. Dia menatap istrinya tak percaya.


"Mamih serius?" tanya Dirga.


Niar mengangguk dengan cepat dan senyum pun melengkung di wajahnya.


Dirga tidak bisa berkata apa-apa mendengar ucapan istrinya. Sungguh istrinya adalah menantu yang sangat baik.


"Mamih ingin bertemu Mamah. Mamih ingin mengucapkan terima kasih karena telah merawat Papih dan membesarkan Papih dengan penuh cinta hingga Papih bisa seperti ini." Dirga tersenyum dan menarik tangan Niar agar masuk ke dalam pelukannya.


"Papih sangat beruntung memiliki istri seperti Mamih," ujarnya.


Mereka adalah sepasang suami istri yang saling melengkapi dan saling memahami. Saling mencintai tanpa syarat apapun. Tetap mempertahankan cinta mereka meskipun cobaan terjal menghadang mereka.


Hari ini Niar sudah bersiap untuk pergi menemui ibu mertuanya. Meskipun, ibu mertuanya sudah jahat kepadanya dia tidak membenci Septi. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah merawat suaminya hingga seperti sekarang ini.


Dia selalu diajarkan oleh ibunya untuk menjadi wanita yang selalu memaafkan kesalahan orang lain. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Pasti melilit khilaf dan juga kesalahan. Apalagi ketika Niar merasakan sendiri kekuatan memaafkan, Niar sudah tidak menyimpan marah ataupun dendam kepada ibu mertuanya. Dia malah ingin berterima kasih kepada Septi karena telah sangat tulus sekali merawat Dirga sedari kecil.


Kemarin, Niar dan Dirga sengaja berbelanja baju untuk mereka pakai ketika menjenguk Septi. Tak lupa mereka pun membelikan baju untuk Septi. Sengaja Niar memilihkan baju yang senada dengan Arshen agar ibu mertuanya ini selalu mengingat Arshen.


Niar marak ke arah putranya yang sedari tadi tertawa terus seperti tengah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


"Arshen senang, ya. Akan ketemu Oma," ucap Niar sambil mengajak bicara Arshen. Anak bayi itupun tersenyum dan kaki juga tangannya bergerak aktif.


"Oma pasti senang bisa bertemu kamu, Nak. Kamu adalah cucu pertama di keluar Papih," ucapnya lagi.


Niar menggendong Arshen sambil menunggu Dirga karena Arshen sudah mulai bosan. Ternyata Dirga pulang sedikit terlambat karena dia hari mengurus pekerjaan Kenan terlebih dahulu. Kenan dan Nindy belum kembali dari liburan mereka.


Jam tiga sore barulah Dirga pulang, dia melihat istri dan anaknya terlelap dengan posisi Niar yang bersandar di kepala sofa dan Arshen berada di dalam pelukannya.


"Maafkan Papih, Nak," ucapnya pelan sambil mengecup Arshen.


"Maafkan Papih, Mih." Kini Dirga mengecup kening istrinya.


Dirga mengambil alih Arshen dalam pelukan Niar hingga istrinya terkejut karena merasa ada yang merampas Arshen dari tangannya. Dirga memberi kode agar Niar tidak berisik. Ternyata Dirga memindahkan Arshen ke dalam boks bayi.


Niar menghembuskan napas lega dan dia ikut bangun dari duduknya dan beralih duduk di pinggiran ranjang.


"Kenapa telat?" sergah Niar.


Dirga menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. "Pekerjaaan Kenan sangat banyak. Jadi, Papih yang mengajarkan semuanya karena sudah dikejar deadline," terangnya.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Niar. Dia sudah tidak bisa berbicara apa-apa jika sudah menyangkut pekerjaan suaminya.


"Terus gak jadi?" tanya Niar dengan wajah sedikit frustasi.


"Tunggu Arshen bangun aja, ya. Kasihan 'kan kalau lagi tidur dibawa," jawab Dirga.

__ADS_1


Niar mengangguk mengerti. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya juga terasa lelah. Dirga memilih untuk membersihkan tubuhnya. Selang satu jam, Arshen tak kunjung bangun begitu juga dengan istrinya yang nampak nyenyak sekali. Dia tahu, istrinya ini kurang tidur karena setiap malam harus begadang. Arshen selalu meminta ditemani main jika tengah malam tiba.


Dirga mengusap lembut kepala Niar. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri cantik seperti Niar. Istri yang cantik luar dalam.


"Papih sangat beruntung memiliki Mamih. Papih juga sangat beruntung bisa menemukan Mamih kembali." Dirga mengecup lama kening Niar.


Dirga malah ikut terlelap dan rencana untuk bertemu denah Septi harus diundur karena hari sudah sore dan mereka bertiga malah terlelap dengan sangat lelap. Dirga, Niar dan Arshen adalah contoh keluarga kecil yang sangat sempurna.


Hari ini Niar sudah bersiap untuk pergi menemui ibu mertuanya. Meskipun, ibu mertuanya sudah jahat kepadanya dia tidak membenci Septi. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah merawat suaminya hingga seperti sekarang ini.


Dia selalu diajarkan oleh ibunya untuk menjadi wanita yang selalu memaafkan kesalahan orang lain. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Pasti melilit khilaf dan juga kesalahan. Apalagi ketika Niar merasakan sendiri kekuatan memaafkan, Niar sudah tidak menyimpan marah ataupun dendam kepada ibu mertuanya. Dia malah ingin berterima kasih kepada Septi karena telah sangat tulus sekali merawat Dirga sedari kecil.


Kemarin, Niar dan Dirga sengaja berbelanja baju untuk mereka pakai ketika menjenguk Septi. Tak lupa mereka pun membelikan baju untuk Septi. Sengaja Niar memilihkan baju yang senada dengan Arshen agar ibu mertuanya ini selalu mengingat Arshen.


Niar marak ke arah putranya yang sedari tadi tertawa terus seperti tengah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


"Arshen senang, ya. Akan ketemu Oma," ucap Niar sambil mengajak bicara Arshen. Anak bayi itupun tersenyum dan kaki juga tangannya bergerak aktif.


"Oma pasti senang bisa bertemu kamu, Nak. Kamu adalah cucu pertama di keluar Papih," ucapnya lagi.


Niar menggendong Arshen sambil menunggu Dirga karena Arshen sudah mulai bosan. Ternyata Dirga pulang sedikit terlambat karena dia hari mengurus pekerjaan Kenan terlebih dahulu. Kenan dan Nindy belum kembali dari liburan mereka.


Jam tiga sore barulah Dirga pulang, dia melihat istri dan anaknya terlelap dengan posisi Niar yang bersandar di kepala sofa dan Arshen berada di dalam pelukannya.


"Maafkan Papih, Nak," ucapnya pelan sambil mengecup Arshen.


"Maafkan Papih, Mih." Kini Dirga mengecup kening istrinya.


Dirga mengambil alih Arshen dalam pelukan Niar hingga istrinya terkejut karena merasa ada yang merampas Arshen dari tangannya. Dirga memberi kode agar Niar tidak berisik. Ternyata Dirga memindahkan Arshen ke dalam boks bayi.


Niar menghembuskan napas lega dan dia ikut bangun dari duduknya dan beralih duduk di pinggiran ranjang.


"Kenapa telat?" sergah Niar.


Dirga menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. "Pekerjaaan Kenan sangat banyak. Jadi, Papih yang mengajarkan semuanya karena sudah dikejar deadline," terangnya.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Niar. Dia sudah tidak bisa berbicara apa-apa jika sudah menyangkut pekerjaan suaminya.


"Terus gak jadi?" tanya Niar dengan wajah sedikit frustasi.


"Tunggu Arshen bangun aja, ya. Kasihan 'kan kalau lagi tidur dibawa," jawab Dirga.


Niar mengangguk mengerti. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya juga terasa lelah. Dirga memilih untuk membersihkan tubuhnya. Selang satu jam, Arshen tak kunjung bangun begitu juga dengan istrinya yang nampak nyenyak sekali. Dia tahu, istrinya ini kurang tidur karena setiap malam harus begadang. Arshen selalu meminta ditemani main jika tengah malam tiba.


Dirga mengusap lembut kepala Niar. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri cantik seperti Niar. Istri yang cantik luar dalam.


"Papih sangat beruntung memiliki Mamih. Papih juga sangat beruntung bisa menemukan Mamih kembali." Dirga mengecup lama kening Niar.


Dirga malah ikut terlelap dan rencana untuk bertemu denah Septi harus diundur karena hari sudah sore dan mereka bertiga malah terlelap dengan sangat lelap. Dirga, Niar dan Arshen adalah contoh keluarga kecil yang sangat sempurna.


Hari ini Niar sudah bersiap untuk pergi menemui ibu mertuanya. Meskipun, ibu mertuanya sudah jahat kepadanya dia tidak membenci Septi. Bagaimanapun dia adalah wanita yang telah merawat suaminya hingga seperti sekarang ini.


Dia selalu diajarkan oleh ibunya untuk menjadi wanita yang selalu memaafkan kesalahan orang lain. Di dunia ini tidak ada manusia yang sempurna. Pasti melilit khilaf dan juga kesalahan. Apalagi ketika Niar merasakan sendiri kekuatan memaafkan, Niar sudah tidak menyimpan marah ataupun dendam kepada ibu mertuanya. Dia malah ingin berterima kasih kepada Septi karena telah sangat tulus sekali merawat Dirga sedari kecil.


Kemarin, Niar dan Dirga sengaja berbelanja baju untuk mereka pakai ketika menjenguk Septi. Tak lupa mereka pun membelikan baju untuk Septi. Sengaja Niar memilihkan baju yang senada dengan Arshen agar ibu mertuanya ini selalu mengingat Arshen.


Niar marak ke arah putranya yang sedari tadi tertawa terus seperti tengah merasakan kebahagiaan yang luar biasa.


"Arshen senang, ya. Akan ketemu Oma," ucap Niar sambil mengajak bicara Arshen. Anak bayi itupun tersenyum dan kaki juga tangannya bergerak aktif.


"Oma pasti senang bisa bertemu kamu, Nak. Kamu adalah cucu pertama di keluar Papih," ucapnya lagi.


Niar menggendong Arshen sambil menunggu Dirga karena Arshen sudah mulai bosan. Ternyata Dirga pulang sedikit terlambat karena dia hari mengurus pekerjaan Kenan terlebih dahulu. Kenan dan Nindy belum kembali dari liburan mereka.


Jam tiga sore barulah Dirga pulang, dia melihat istri dan anaknya terlelap dengan posisi Niar yang bersandar di kepala sofa dan Arshen berada di dalam pelukannya.


"Maafkan Papih, Nak," ucapnya pelan sambil mengecup Arshen.


"Maafkan Papih, Mih." Kini Dirga mengecup kening istrinya.


Dirga mengambil alih Arshen dalam pelukan Niar hingga istrinya terkejut karena merasa ada yang merampas Arshen dari tangannya. Dirga memberi kode agar Niar tidak berisik. Ternyata Dirga memindahkan Arshen ke dalam boks bayi.


Niar menghembuskan napas lega dan dia ikut bangun dari duduknya dan beralih duduk di pinggiran ranjang.


"Kenapa telat?" sergah Niar.


Dirga menghampiri istrinya dan duduk di sampingnya. "Pekerjaaan Kenan sangat banyak. Jadi, Papih yang mengajarkan semuanya karena sudah dikejar deadline," terangnya.


Hembusan napas kasar keluar dari mulut Niar. Dia sudah tidak bisa berbicara apa-apa jika sudah menyangkut pekerjaan suaminya.


"Terus gak jadi?" tanya Niar dengan wajah sedikit frustasi.


"Tunggu Arshen bangun aja, ya. Kasihan 'kan kalau lagi tidur dibawa," jawab Dirga.


Niar mengangguk mengerti. Dia pun ikut merebahkan tubuhnya di tempat tidur. Tubuhnya juga terasa lelah. Dirga memilih untuk membersihkan tubuhnya. Selang satu jam, Arshen tak kunjung bangun begitu juga dengan istrinya yang nampak nyenyak sekali. Dia tahu, istrinya ini kurang tidur karena setiap malam harus begadang. Arshen selalu meminta ditemani main jika tengah malam tiba.


Dirga mengusap lembut kepala Niar. Dia merasa sangat beruntung memiliki istri cantik seperti Niar. Istri yang cantik luar dalam.


"Papih sangat beruntung memiliki Mamih. Papih juga sangat beruntung bisa menemukan Mamih kembali." Dirga mengecup lama kening Niar.

__ADS_1


Dirga malah ikut terlelap dan rencana untuk bertemu denah Septi harus diundur karena hari sudah sore dan mereka bertiga malah terlelap dengan sangat lelap. Dirga, Niar dan Arshen adalah contoh keluarga kecil yang sangat sempurna.


__ADS_2