
"Ay, aku males deh kalo harus baby moon. Aku ingin ke Malang aja. Aku kangen Bunda sama Mba Ara," ucap Niar sambil memainkan jarinya di dada bidang Dirga.
"Kamu tuh ceritanya lagi ngerayu aku," ejek Dirga yang kini merasakan desiran hebat di tubuhnya.
"Ngerayu gimana?" Niar mendongakkan kepalaku menghadap Dirga. Tanpa basa-basi Dirga segera mengecup lembut bibir Niar.
"Ay." Suara Niar sudah parau. Begitu pun dengan Dirga.
Dirga memberikan kode kepada Niar dan dengan cepat Niar mengangguk. Pertempuran pun berlangsung kembali. Sengit, itulah pertempuran mereka. Deru napas yang sudah tidak teratur tidak menyurutkan gelora yang sedang terjadi.
Setalah satu jam bertarung, akhirnya tubuh mereka terkapar lemah. Dirga mengecup kening Niar dan tak lupa mengucapkan terima kasih.
"Kapan kita berangkat?" tanya Dirga sambil menyeka keringat di kening Niar.
"Kamu bisanya kapan? Aku ingin lebih lama di sana, Ay." Hanya seulas senyum yang menjadi jawaban Dirga.
"Apapun akan aku lakukan untuk kamu, Yang."
__ADS_1
Keesokan paginya, mereka sudah berangkat menuju Bandara. Kenan terus saja menggerutu di dalam hatinya. Mengumpat kesal bosnya yang seenaknya. Menyerahkan tumpukan pekerjaan yang pastinya akan menyibukkan Kenan untuk beberapa hari ke depan.
"Urus pekerjaan yang benar, jangan sampai terbengkalai," titah Dirga. Kenan hanya mencebikkan bibirnya.
Dirga terus menggenggam erat tangan Niar dan tak melepaskannya. Apalagi tubuh Niar yang semakin berisi membuatnya semakin seksi. Banyak mata yang memandang Niar. Apalagi sekarang ini Niar hanya menggunakan dress selutut.
"Aku tuh benci kalo kaya gini," gerutu Dirga.
"Kenapa Ay?" Niar pun menghentikan langkahnya.
"Semua mata tertuju sama kamu. Padahal udah tahu, tanganku ini sedang menggenggam tangan kamu," geramnya.
Ketika di dalam pesawat pun, Dirga tak melepaskan genggaman tangannya terhadap Niar. Dengan nyamannya Niar bersandar di bahu sang suami. Pandangan berbeda dari salah satu pramugari membuat Niar berdecak kesal.
"Awas kamu, Ay, kalo nengok ke sebelah sana," ancam Niar sambil menunjuk ke arah samping Dirga dengan dagunya.
"Kenapa Yang?"
__ADS_1
"Ada yang lagi natap kamu dengan tatapan kagum. Gak tau apa, kamu udah sama wanita cantik. Masih tuh cewek aja lenjeh," sungut Niar.
Dirga terkekeh mendengar ocehan Niar. Dan dia pun membungkam bibir Niar dengan kecupan lembut. Membuat si pramugari memalingkan wajahnya malu. Dan dengan sengajanya Niar membalas pagutan bibir suaminya.
Setalah pagutan mereka terlepas, Niar tersenyum puas karena telah bisa mengusir pramugari tersebut. "Aku hanya milik kamu, Sayang." Kecupan hangat mendarat di kening Niar.
Sungguh bahagianya pasangan ini. Semakin hari semakin romantis. Perlakuan manis sang suami membuat Niar semakin jatuh cinta lagi dan lagi. Apalagi saat ini sudah ada calon anak mereka di dalam perut Niar. Anak itu akan menjadi penguat dalam hubungan rumah tangga mereka berdua.
"Jangan nakal ya, Nak. Sebentar lagi kita take off. Kita akan ke rumah Nenek," bisik Dirga di perut Niar.
Niar menjadi wanita yang sangat beruntung. Menikahi cinta pertamanya dan semoga menjadi cinta terakhirnya juga. Biarlah hanya maut yang akan memisahkan kisah cinta mereka berdua.
...----------------...
Maaf ya, cuma sedikit.
Aku gak bisa mikir banyak, badan aku lagi drop banget. Nulis dalam keadaan wajah panas dan kepala pusing sungguh butuh perjuangan.
__ADS_1
Happy reading ...