Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
40 Hari


__ADS_3

Empat puluh hari sudah Niar, dia juga telah melewati masa nifasnya. Dia sudah bisa keluar rumah dengan membawa Arshen. Tempat yang Niar dan Arshen tuju adalah rumah Deri, papahnya. Dirga dan istri serta putranya datang tanpa memberi tahu.


Deri yang sedang berada di halaman belakang terlonjak ketika melihat Arshen sudah digendong oleh Nindy.


"Cucu Opa," ucapnya dengan raut sangat bahagia.


Deri menggendong Arshen yang sangat tampan itu. Dia mengajak bicara Arshen yang tersenyum ke arah Deri.


"Papah teringat akan kamu waktu bayi," tuturnya yang kini menatap ke arah Dirga.


Jika, dia mendengar ucapan sangat ayah seperti itu membuat hati Dirga sedikit sedih. Dia yang berharap menjadi anak kandung Deri malah dia yang ternyata anak angkat. Namun, itu tak membuat Dirga membenci ayahnya. Dia malah semakin sayang dan cinta kepada papah dan Mamahnya.


"Berarti aku ganteng dong, Pah."


"Tentu, kamu 'kan anak Papah," balas Deri seraya tersenyum.


Kasih sayang pria itu sangatlah tulus untuk Dirga. Dia benar-benar diberikan kasih sayang yang sangat sempurna oleh Dirga. Meskipun, adiknya pun sudah lahir. Deri tidak pernah membeda-bedakannya.


"Papah mau makan apa?" tanya Niar.


"Gak usah repot-repot, Ni," jawab Deri.


"Gak repot kok, Pah. Gimana kalau aku bikin nasi liwet dan masak masakan khas Sunda," tutur Niar.


"Ide bagus, Kak. Ndy pengen sambal buatan Kakak yang super enak," timpalnya.


Deri dan Dirga tersenyum mendengar ucapan Nindy. Niar segera menuju ke dapur. Dia ingin memasak untuk sang papah mertua.


"Suami kamu mana?" tanya Dirga.


"Lagi di ruang kerja."


Nindy mengambil Arshen dari tangan sang papah. Kemudian membawanya ke ruang kerja Kenan.


"Halo, Om," ucap Nindy menirukan suara anak kecil.


Suaminya yang tengah fokus pada berkas kini melihat ke arah istrinya yang tengah menggendong Arshen.


"Eh, ada ponakan tampan Om," balas Kenan. Dia segera bangkit dari tempat duduk dan menghampiri istrinya.


Kenan sangat senang jika melihat Arshen. Apalagi Arshen yang sepertinya akan tubuh menjadi anak laki-laki yang murah senyum.


Mereka berdua sangat bahagia jika Arshen ada di tengah-tengah mereka berdua. Arshen seperti anak mereka sendiri. Apalagi, Nindy yang ingin sekali cepat menyusul Niar untuk memiliki seorang anak yang lucu seperti Arshen.


"Kenapa kamu sangat menggemaskan?" ujar Nindy yang terus menciumi pipi gembul Arshen.


"Papah dan Mamahnya di mana?" tanya Kenan.


"Kak Dirga sedang bersama Papah. Kak Niar sedang memasak di dapur dibantu Mbak," jelasnya.


Kenan tersenyum dan mengusap lembut kepala Nindy. "Nanti kita akan punya yang seperti ini."


Nindy tersenyum dan mengangguk. Itulah yang dia inginkan dan selalu meminta kepada Tuhan untuk segera diberikan kepercayaan memiliki momongan.


Arshen seperti sudah mengenal tangan Nindy. Dia tidak akan menangis ataupun rewel. Dia akan menjadi anak yang manis dan pastinya akan terus terlelap.


"Gemes deh anteu," tuturnya.


"Sayang, jangan dicubit gitu. Kasihan ih," ujar Kenan.


Dia malah mengambil alih Arshen. Dia menimang-nimang Arshen yang kembali membuka mata. Satu menit kemudian, Arshen terlelap dalam gendongan Kenan.


Kenan meletakkan Arshen di sofa, Nindy menjaganya di bawah sofa sambil menatap Lamat wajah Arshen.


"Waktu bayi ternyata Kak Dirga sangat menggemaskan. Sama dengan Arshen," gumamnya.


"Sekarang juga masih menggemaskan. Gemas ingin menonjok wajahnya." Nindy tertawa mendengar ucapan. suaminya. Baru kali ini Kenan mengumpat kakaknya itu.


"Aku bilangin loh, Mas," ancam Nindy.


"Gak takut, Sayang. Kakak kamu itu tidak bisa hidup tanpa Mas mu ini," ucap Kenan percaya diri. Nindy hanya menatap suaminya dengan tatapan jengah.


Niar yang tengah sibuk di dapur, diganggu oleh sang suami. Dia memeluk pinggang Niar dari belakang.

__ADS_1


"Papih," tolaknya lembut.


"Gak apa-apa 'kan Mbak?" tanya Dirga.


"Gak apa-apa, Den. Saya malah sangat senang," jawab asisten rumah tangga Deri.


"Tuh dengar, Mamih sayang."


Niar tidak bisa berkata jika Dirga sudah seperti ini. Deri yang memperhatikannya dari belakang hanya tersenyum bahagia. Putranya sudah menemukan kebahagiaan yang sesungguhnya.


Setelah satu setengah jam berada di dapur, semua masakan yang dimasak oleh Niar sudah tersaji di meja makan. Nasi liwet, pepes ikan dan ayam, sambal, tahu, tempe dan tutug oncom.


"Ya ampun, banyak sekali," ucap Deri.


"Sekali-kali, Pah. Yuk kita makan!" Deri tersenyum seraya mengangguk.


"Lebih enak lagi jika makannya beralaskan daun, Pah."


Deri segera menghubungi penjaga rumahnya dan menyuruhnya untuk membeli daun pisang. Dia ingin mengikuti apa yang dikatakan oleh menantunya. Setelah daun pisang tiba, Niar membersihkannya terlebih dahulu. Kemudian dia Mambawa makanan ke halaman belakang. Nasi sudah berada di atas daun pisang yang sudah dipanjangkan. Sambal serta lauk pauknya pun sudah Nindy taruh di atas nasi.


Dirga bertugas untuk memanggil adiknya serta asistennya. Ketika dia membuka pintu ruang kerja Kenan, bibirnya melengkung sempurna melihat Nindy dan Kenan tengah mengajak bermain Arshen. Ada kehangatan di hatinya, apalagi wajah Nindy yang sangat berseri.


Lama Dirga menatap ke arah Nindy juga Kenan, hingga dia tersadar akan tujuannya ke sini untuk apa.


"Ndy, Nan ... makan dulu."


Suara Dirga mampu membuat Nindy dan Kenan menoleh. Dia menatap ke arah Dirga yang berada di ambang pintu.


"Udah siap semua?" tanya Nindy.


"Iya," jawab sang kakak..


Nindy segera mengangkat tubuh Arshen, tentunya dengan sangat hati-hati. Dia membawa Arshen menuju dapur. Namun, tidak ada siapa-siapa di sana. Makanannya pun tidak ada.


"Ke mana Mamihmu, Nak?" tanya Nindy.


Dirga dan Kenan yang baru sampai dapur pun menatap bingung ke arah meja makan. Tidak ada apa-apa di sana.


"Papih," panggil Niar.


"Kita makan di halaman belakang," ujar Niar.


Mereka pun mengikuti langkah Niar. Ternyata mereka akan makan lesehan dengan beralaskan daun pisang.


"Ini mah liwetan," ujar Nindy.


"Sepertinya nikmat banget," timpal Kenan.


"Papah juga udah ngiler," balas Deri. Niar hanya tertawa dan mengambil alih Arshen dari tangan Nindy.


Sekarang kalian makan dulu," titah Niar.


"Mamih juga makan dong," sahut Dirga.


"Nanti aja, Mamih mau kasih Mimi Arshen dulu," balasnya.


Namun, Dirga tidak ingin melihat istrinya kelaparan. Dia mulai menyuapi Niar.


Kenan, Nindy serta Deri sangat menikmati masakan Niar. Apalagi sambal buatan Niar yang sangat membuat ketagihan.


"Enak banget Kak sambalnya," puji Nindy.


"Iya, enak banget," timpal Deri.


Kenan tidak bicara. dia terus makanan buatan istri dari atasannya itu.


"Lapar Mas?" ledek Dirga.


Kenan hanya menatap Dirga dengan tatapan jengah dan malas, sedangkan Nindy dan Deri hanya tersenyum melihat tingkah dua pria dewasa itu.


Mereka semua makan dengan lahapnya hingga tidak ada nasi ataupun laik yang tersisa. Arshen pun sudah terlelap di gendongan sang ibu.


"Kak, sering-sering dong masakin. Enak banget loh masakannya," ucap Nindy.

__ADS_1


Seulas senyum Niar berikan kepada adik iparnya itu. "Nanti Kakak akan sering main ke sini, tengokin Papah dan manjain Papah dengan makanan yang Kakak buat."


Hati Deri sangat bahagia mendengar ucapan dari Niar. Menantunya yang satu ini sangatlah terbaik. Dirga snagat beruntung mendapatkan istri seperti Niar. Putranya juga tidak salah memilih Niar untuk menjadi istrinya.


"Arshennya taruh dulu, Mih. Nanti bau tangan loh," ujar Dirga.


Baru saja Niar hendak membawa Arshen, Nindy sudah mengambil Arshen dan membawa keponakannya itu ke kamarnya. Niar dana Dirga hanya menggelengkan kepala melihat tingkah laku Nindy.


"Arshen itu kebahagiaan untuk Papah juga tantenya," kata Deri.


Dirga menatap ke arah Niar, begitu. juga Niar yang sudah tersenyum ke arah Dirga.


"Dia itu merubah hidup Papah yang dulunya monokrom, kini seperti pelangi. Sangat berwarna," tuturnya lagi.


Tangan Dirga sudah merangkul pundak istrinya. "Bukan hanya untuk Papah, Arshen membawa kebahagiaan tak terkira untuk kita berdua, Pah. Rumah yang dulunya sepi, kini terasa ramai karena tangisan Arshen," jelas Dirga.


"Sama seperti kamu dulu. Anugerah terindah yang tidak Papah sangka. Kebahagiaan Papah yang tak terkira juga malaikat kecil pembawa berkah untuk hidup Papah." Dirga tersenyum, kemudiaan dia memeluk tubuh sang papa.


"Maaf ya, Pah. Kalau selama ini aku belum bisa bahagiain Papah. Selalu buat Papah marah dan juga belum bisa jadi anak yang membanggakan untuk Papah," sesal Dirga.


Deri menggeleng, tangannya mengusap lembut pundak Dirga. "Kamu sudah menjadi kebanggan untuk Papah. Kamu adalah putra terbaik Papah," balas Deri dengan suara yang bergetar.


Dirga merasa sangat beruntung karena sudah ditemukan oleh Deri. Jika, dia ditemukan oleh orang lain sudah pasti nasibnya akan berbeda.


"Jaga Arshen dengan baik, ya. Sayangi dan cintai istri kamu dengan tulus. Ketika kamu berjanji di hadapan Tuhan, di situlah kamu harus konsekuen dengan janji kamu." Nasihat Deri dengan senyum yang mengembang di wajahnya. Sudah pasti Dirga akan mengangguk dengan cepat.


Masuk ke dalam keluarga Dirga, Niar seperti menemukan sosok ayah baru. Dia yang tidak mendapatkan kasih sayang sepenuhnya dari sosok sang ayah, kini seperti merasakan kasih sayang yang tulus dari ayah mertuanya. Tutur kata Deri yang selalu menenangkan. Belaian lembut tangannya yang sangat menghangatkan mampu membuat hati Niar bahagia. Dia sangat beruntung dicintai dengan tulus layaknya anaknya sendiri oleh Deri.


"Ni, jaga Dirga, ya. Papah sangat yakin, senakal-nakalnya Dirga jika berhadapan dengan kamu dia pasti takluk." Niar pun terkekeh mendengar ucapan Deri.


Apa yang dikatakan oleh Deri benar adanya. Dirga akan menunduk jika kepadanya, sedangkan kepada orang lain dia akan terus menegakkan kepalanya. Seakan tidak ingin terkalahkan.


"Kamu adalah rem alami untuk Dirga. Dia tidak mempan Papah omeli, tetapi dengan hanya tatapan kami saja sudah pasti nyalinya kan ciut," lanjutnya lagi.


Niar tertawa lepas mendengar ucapan dari papah mertuanya. Dirga hanya menatap malas ke arah sang istri. Namun, tangan Niar kini melingkar di pinggang Dirga.


"Papih, kalau Mamih masih ngomel, ngoceh dan masih cerewet itu tandanya Mamih masih sayang dan perhatian kepada Papih. Harusnya Papih bersyukur," tukas Niar.


Sekarang Deri yang tertawa mendengar celetukan Niar. Putranya semakin mengerucutkan bibirnya serta menekuk wajahnya. Rumah yang biasanya sangat sepi kini terasa berpenghuni. Ada gelak tawa, teriakan manja serta perdebatan di dalam rumah ini. Bibir Deri melengkung dengan sempurna ketika merasakan kebahagiaan ini.


"Ya Tuhan, berikan aku kesehatan supaya aku bisa terus merasakan kebahagiaan bersama putra dan putriku," pintanya di dalam hati.


Suara tangisan Arshen terdengar, ternyata dia haus dan tidak ingin. meminum susu formula. Niar memberikannya asi langsung dari sumbernya. Dia tersenyum ketika Arshen mulai merapatkan matanya kembali.


"Kuat ya nyusunya," tanya sang papah mertua.


"Lumayan, Pah. Namanya juga anak cowok," jawab Niat yang tak henti menahan sakit karena daging lebihnya lecet karena ulah Arshen yang terus menghisapnya.


"Kita ke rumah sakit ya, Mih. Papih gak tega melihat Mamah meringis kayak gitu terus," tutur Dirga.


Niar menatap ke arah sang suami. Bibirnya dia angkat sedikit sehingga berbentuk seperti lengkungan.


"Ini sudah banyak terjadi pada ibu yang baru menyusui, Pih. Papih jangan parnoan begitu," balas Niar.


Nindy dan Deri tersenyum ketuka melihat Dirga menjelma menjadi pria yang sangat tulus menyayangi istrinya. Terbukti dari cara bicaranya saja sangat menunjukkan ketulusan yang sangat mendalam.


"Pah, bilang ke papihnya Arshen jangan terlalu panikan begitu. Aku gak apa-apa, Kok," adu sang menantu.


"Bukannya panikan, Mih. Papih cuma takut Mamih kenapa-kenapa. Atau terjadi sesuatu dengan benda kenyal bagai yupi itu," bela Dirga.


Bukannya melerai Deri malah tertawa melihat tingkah Dirga dalam kondisi cemas seperti itu.


"Semoga Mas seperti Kak Diragukan juga, ya. Selalu mencemaskan istrinya," ucap Nindy seraya menatap ke arah Kenan. "Jangan cuma mau enaknya doang," sungut Nindy sebagai kaliamat lanjutannya.


Dirga tertawa terbahak-bahak. Bukan hanya dia yang termasuk ke dalam kategori suami takut istri. Kenan pun bernasib sama seperti dirinya.


Hari ini Deri mendapatkan kebahagiaan yang sangat luar biasa. Menantunya memasak makanan yang sangat lazis untuknya. Kebersamaannya dengan kedua buah hatinya membuat Deri dapat tersenyum lega Momen yang jarang terjadi. Momen yang tidak direncakan terlebih dahulu. Berjalan begitu saja dan akhirnya membawa bahagia.


Dinar Arshen Anggara, cucu e


pertama Deri pun membawa kebahagiaan yang luar biasa untuknya. Bayi laki-laki yang sangat Dari sayangi seperti anaknya sendiri. Tangisan Arshen mampu membuat riuh suasana rumah. Arshen adalah pelengkap yang sangat sempurna. Dia adalah permata yang menjadi kado terindah untuk Deri. Kehadiran Arshen di bumi ini memberikan warna yang indah untuk hidup Deri. Penerang hidupnya yang sebelumnya mulai sedikit gelap.


Kehadiran Niar dan juga Kenan lu. menambah keceriaan di rumah ini. Kedua menantunya ini sangatlah baik. Masing-masing dari mereka pun sangat menyayangi suami istri mereka. Deri pun dapat melihat ketulusan yang ditunjukkan ielha para menantunya.

__ADS_1


"Anak-anak yang baik pasti mendapatkan jodoh yang baik pula. Papah sangat bahagia," gumamnya dalam hati.


Hanya sebuah lengkungan senyum menawan yang Deri tunjukkan. Kedua anaknya sudah berbahagia, hanya dia yang tengah meratapi nasibnya. Memilih bercerai karena sebuah pengkhianatan.


__ADS_2