
"Ay ... aku takut," kata Niar.
Dirga meraskan tangan kekasihnya ini dingin dan berkeringat. Dengan lembutnya Dirga menatap manik mata Niar. "Ada aku, Sayang," ucapnya. Lalu mengecup kening Niar.
Jicko menghampiri Niar dan juga Dirga dengan tatapan penuh marah. "Kamu masih calon istriku!" sentak Jicko dan ingin meraih tangan Niar. Namun, Jicko kalah cepat dengan kecepatan tangan Dirga yang kini telah mendekap erat tubuh Niar.
"Jangan pernah berani menyentuh kekasihku! Jika tanganmu masih ingin tetap utuh," bentak Dirga.
Dengan amarah yang tak tertahan Jicko ingin menghajar Dirga. Namun, berhasil dia tangkis dengan tangan satu. Tangan Dirga yang satunya memeluk erat tubuh Niar.
Kenan muncul dari belakang, Dirga menyerahkan Niar kepada Kenan agar menjaganya. Biarlah Jicko menjadi urusannya.
"Kembalikan calon istriku," teriak Jicko yang kini tengah maju ke arah Dirga dengan mengepalkan tangannya.
Perkelahian pun tak terelakan, pukulan Jicko mampu Dirga tangkis. Dengan murkanya Jicko mencoba untuk memukul Dirga dan kali ini Dirga tersungkur.
"Ay," teriaknya di dalam mobil.
__ADS_1
"Tenang saja, Nona. Bos akan baik-baik saja."
Air mata Niar luruh begitu saja. Melihat Dirga berkali-kali terkena pukulan membuat tangisnya semakin menjadi.
"Tolong bantu dia, Kenan."
Kenan tetap tidak bergeming, dia masih betah dibalik kursi kemudi. Tak lama polisi datang membawa Jicko dengan paksa. Setelah Jicko menghilang, Niar turun dari mobil dan berlari ke arah Dirga yang sedang mencoba berdiri.
"Ay," panggilnya sambil memeluk erat tubuh Dirga.
Seulas senyum terukir dari bibirnya. Dia pun membelai lembut rambut Niar. "Aku tidak apa-apa, Sayang."
Melihat darah di wajah Dirga membuat hati Niar sangat sakit terlebih semua itu Dirga lakukan untuk mempertahankannya.
"Mari Pak, saya antar ke atas," ucap Kenan.
Setelah sampai atas air mata Niar tak terbendung melihat kondisi wajah Dirga yang penuh dengan memar dan darah. Dirga memegang perutnya yang terasa sakit.
__ADS_1
Tak berapa lama, dokter datang dan memeriksa kondisi Dirga. Dokter menyarankan agar Dirga dirawat namun, dia menolaknya. Mau tidak mau Dirga hanya diberi resep obat oleh dokter. Dan dua hari sekali dokter akan memeriksa tubuh Dirga.
Setelah Kenan dan dokter pergi, Niar mendekap erat tubuh Dirga. "Jangan lakukan ini lagi, aku takut kehilangan kamu," lirih Niar.
"Aku lebih takut kehilangan kamu, makanya aku rela terluka untuk melindungi belahan jiwaku," balas Dirga.
Dirga memejamkan matanya menahan rasa sakit di perutnya. "Tunggu sebentar, biar aku kompres perutmu dengan air hangat," ucap Niar. Dia berlari ke dapur dan menyiapkan botol kaca yang diisi air hangat.
Niar menyingkapkan kaos yang dipakai Dirga, ada luka memar di perut Dirga. Dengan telaten Niar menggerakkan botol berisi air hangat. Dirga pun sedikit merasa nyaman seperti sedang dipijat lembut. Tubuhnya tak sanggup menahan lelah dan kantuk. Terlebih efek obat yang baru saja dia minum.
Niar tersenyum ketika melihat Dirga sudah terlelap. Niar menaikkan selimut hingga dada Dirga. Lalu mengecup kening Dirga sangat dalam.
"Terimakasih Ay, atas segala bentuk pengorbanan mu selama ini. I Love You."
Niar beranjak dari duduknya menuju dapur. Dia sedang ingin meminum susu cokelat. Baru saja menuangkan beberapa sendok susu bubuk, suara ketukan pintu terdengar. Membuatnya merasa takut sendiri. Niar takut itu adalah Jicko. Niar pun langsung naik ke atas tempat tidur dan memeluk tubuh Dirga.
****
__ADS_1
Happy Reading ....