
"Jangan lukai Kak Niar." Nindy melihat wajah Niar yang sudah menahan kesakitan.
Semakin Dirga mendekat, Septi semakin mendekatkan pisau ke arah perut Niar. Wajah Niar sudah terlihat pucat. Dirga tidak bisa menguasai dirinya. Dia tidak ingin istrinya kenapa-kenapa.
"Ay," panggil Niar lirih dengan keringat yang sudah mengucur deras di keningnya.
"Mendekat lagi, aku akan menusukkan pisau ini," ucap Septi. Ujung pisau itu sudah menyayat pakaian Niar. Menandakan ujung pisau itu sangat runcing.
"Mah, lepaskan Kak Niar," pinta Nindy.
"Tidak. Aku ingin anak dan wanita si alan ini mati," jawabnya.
"Ay, sakit," ucap Niar pelan.
Dirga benar-benar tidak bisa berbuat apa-apa. Satu langkah dia maju, pisau itu akan masuk ke dalam perut sang istri serta anaknya.
Melihat wajah kakak iparnya kesakitan. Ditambah wajah Dirga yang terlihat panik. Nindy tidak tega. Dengan cepat, Nindy meraih tangan ibunya yang tengah menggenggam pisau.
"Lepas, Mah," pinta Nindy yang berusaha rebutan pisau. Sedangkan Dirga segera mendekat ke arah istrinya dan mencoba menariknya hingga dia terbebas dari kukungan sang mamah.
Namun, tubuh Dirga lemas ketika Nindy sudah bersimbah darah di lantai dengan pisau yang menusuk perutnya.
__ADS_1
"Nindy!" teriak Dirga histeris.
Septi seperti orang kebingungan. Ingin rasanya dia menolong anaknya yang dipenuhi darah. Namun, dia juga ingin kabur. Sudah dipastikan dia akan membusuk di penjara.
Deri yang mendengar teriakan Dirga pun segera turun ke lantai bawah. Dia melihat tubuh Niar yang terkulai lemah serta tubuh Nindy yang bersimbah darah yang sedang diangkat oleh satpam dan juga asisten rumah.
"Nindy!" teriak Deri dan berlari menuju ke arah putrinya. Sedangkan tubuh Niar sudah dibawa oleh Dirga.
"Cepat!" titah Deri yang kini sudah memangku sang putri.
Dengan rasa khawatir yang membuncah, Deri terus merapalkan doa. Dia berharap Nindy tidak apa-apa. Pisau itu masih menancap di perut Nindy membuat harapan di hati Deri menipis.
"Bertahanlah, Ndy."
"Se-selamatkan Kak Niar." Deri semakin memeluk tubuh Nindy. Air matanya sudah tak tertahan.
"Papah akan menyelamtakan kamu serta kakak iparmu," jawab Deri dengan suara beratnya.
Tibanya di rumah sakit, dokter segera menangani Nindy. Disusul dengan kedatangan Dirga yang sudah membawa Niar di dalam gendongannya.
Dirga dan Deri hanya bisa menunggu di luar. Nindy dan Niar masih ditangani oleh dokter.
__ADS_1
"Pah. Nindy ...."
"Jangan khawatirkan adikmu. Khawatirkan istri dan anakmu," sambung Deri.
Deri sangat tahu, sekarang ini Dirga sangat ketakutan. Raut wajah Dirga tidak bisa membohongi Deri. Apalagi Deri tahu bahwa Dirga sangat menyayangi Niar dan menginginkan anak mereka hadir ke dunia.
Setengah jam berselang, dokter keluar dari ruang IGD. "Keluarga Ibu Niar." Dirga dan Deri segera menghampiri dokter tersebut.
"Kita harus melakukan USG. Takut anak dalam kandungan itu terguncang," ucap dokter.
"Lakukan apa saja yang terbaik untuk istri saya, dok," pinta Dirga.
"Bagaimana dengan Nindy?" Deri menanyakan putrinya.
"Pisaunya sudah kami lepaskan. Sekarang tinggal proses penutupan luka. Untung saja tusukan pisau itu tidak mengenai organ vital pasien." Deri dan Dirga pun merasa lega.
Sementara itu, Septi menggunakan kesempatan dalam kesempitan. Dia masuk ke ruang kerja Deri. Dis tahu semua surat-surat penting Deri simpan dalam brankas. Untung saja. Septi mengetahui kode dari brankas itu. Ketika pintu brankas terbuka, dia tersenyum bahagia dan penuh kemenangan.
"Semuanya akan aku ambil," gumam Septi.
...****************...
__ADS_1
Komennya mana?