
Setelah mendengar bahwa hubungan Kenan dan Nindy membaik. Juga kondisi Nindy yang sudah pulih betul, Dirga memutuskan untuk mengatakan sesuatu yang penting kepada adiknya.
Hari ini adalah hari yang tepat untuk berbicara dengan Nindy. Dia tengah memikirkan cara di momen apa dia akan mengatakan semuanya kepada Nindy. Bukan tanpa alasan Dirga rahu. Dirga tahu bahwa adiknya itu sangatlah keras kepala. Banyak sekali pertimbangan yang harus Dirga pikirkan secara matang. Jangan sampai caranya ini gagal dan membuat Nindy membencinya.
Pada akhirnya, Dirga memutuskan untuk mengadakan makan malam di rumahnya, sambil berbicara kepada adiknya pelan-pelan. Dia berhadap adiknya akan menyetujuinya. Sesungguhnya Dirga ingin mengembalikan kembali keluarganya yang sudah hancur berantakan.
Kenan dan Nindy diundang oleh Dirga secara mendadak membuay Nindy bertanya-tanya dalam hati. Ada acara apa yang tengah dibuat oleh kakaknya. Padahal sedari tadi Nindy berada di rumah sang kakak, kakak iparnya tidak mengatakan apapun perihal makan malam ini.
"Mas, kok acaranya mendadak? Ada apa, ya?" Nindy sedikit takut, tetapi Kenan mencoba untuk santai dan tidak terlihat gugup.
"Mungkin Pak Dirga ingin berkumpul bersama kita," jawab Kenan. "Jarang 'kan kita menghabiskan waktu bersama," lanjut Kenan lagi.
Nindy manggut-manggut saja mendengar ucapan sang suami. Memang benar yang dikatakan oleh Kenan. Nindy hanya bertemu dengan kakak iparnya juga keponakannya. Jarang sekali bertemu Dirga apalagi berbicara dengannya secara langsung.
Mereka berdua sudah rapi mereka dan segera menuju rumah Dirga. Tibanya di sana, meja makan sudah dipenuhi makanan yang sangat lezat. Dahi Nindy mengkerut heran. Masakan yang tidak pernah Niar masak tersaji di atas meja seperti makanan yang sengaja Dirga dan Niar pesan.
"Ada acara apa ini, Kak?" tanya Nindy, sebelum mendudukkan bokongnya di kursi meja makan.
Menu makan malam ini sangatlah banyak dan juga spesial. Niar hanya tersenyum ke arah Nindy, sedangkan Dirga masih terdiam. Niar menyuruh sepasang suami istri ini untuk makan terlebih dahulu.
"Ingin kumpul aja, udah lama 'kan gak kayak gini," ujar Niar.
Nindy tidak menaruh curiga sedikit pun karena mereka makan dengan bercanda juga bercerita. Wajah Nindy pun terlihat biasa saja. Sesungguhnya Kenan belum berbicara apapun kepada Nindy perihal mertuanya. Dia menyerahkan semuanya kepada Dirga karena yang lebih berhak berbicara adalah Dirga sebagai seorang kakak. Dia hanya seorang menantu di kelurahan Septi dan juga Deri. Dia tidak ingin sok tahu. Ranah mereka tidak bisa dimasuki oleh orang luar.
Sedari tadi tidak ada hal yang mencurigakan. Dirga mampu menutupi rasa gugupnya. Dia bahagia melihat Nindy yang tertawa sangat lebar. Setelah makan, Nindy segera menggendong Arshen. Terlihat jelas bahwa dia sangat merindukan keponakannya itu. Dirga menatap ke arah istrinya, Niar pun mengangguk.
"Ndy, Kakak ingin berbicara berdua," ucap Dirga dengan nada yang sangat tegas.
Dahi Nindy mengkerut, kedua alisnya menukik sangat tajam mendengar ucapan kakaknya. Tidak biasanya sang kakak seperti ini. Dadanya berdegup sangat kencang. Dia merasa tidak melakukan kesalahan apapun.
"Bicara apa?" tanya Nindy bingung. "Jangan buat Ndy takut," lanjutnya lagi.
"Ikut Kakak!" titahnya.
Nindy menatap ke arah suami serta kakak iparnya. Namun, mereka berdua menggelengkan kepala menandakan tidak tahu. Terpaksa, Nindy menyerahkan Arshen kembali kepada Niar. Dia harus menyusul kakaknya ke ruangan atas. Melihat wajah sang kakak yang teramat serius menandakan bahwa ada hal penting yang ingin kakaknya utarakan.
Hatinya berdegup tak karuhan. Seumur hidupnya dia tidak pernah diminta Dirga untuk berbicara hanya empat mata. Tangannya sudah dingin dan dia menekan gagang pintu. Pintu ruangan kerja Dirga terbuka, Nindy melihat sang kakak sudah menunggunya di sofa. Dirga menepuk sofa kosong yang ada di sampingnya. Refleks Nindy mengikuti perintah sang kakak dengan hati yang tak karuhan. Wajah Kakaknya nampak sekali serius membuat rasa takut itu hadir lagi.
Nindy mendekat ke arah kakaknya dan duduk di samping Dirga. Dia menatap wajah sang kakak yang terlihat sangat serius. Sorot matanya nampak sekali ketakutan, sedangkan Dirga sudah menggenggam tangan adiknya.
"Ada apa, Kak? Jangan buat Ndy takut begini," tanyanya. Tangan Nindy pun sudah sangat dingin dan mampu Dirga rasakan. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Dirga.
"Ndy, Kakak ingin kamu jujur," ucap Dirga.
Nindy tidak mengerti dengan ucapan sang kakak. Otaknya benar-benar tidak bisa mencerna ucapan sang kakak.
"Kenapa sih, Kak? Jangan buat Ndy takut," rengeknya. Aslinya Nindy seperti ini. Masih kekanak-kanakan di hadapan sang kakak, tetapi ketika bersama suaminya dia menjelma menjadi wanita dewasa.
"Apa kamu merindukan Mamah?"
Deg.
Pertanyaaan Dirga membuat Nindy membungkam mulutnya. Dia tidak berani menatap ke arah sang kakak karena dia tidak bisa berbohong kepada kakaknya. Kini, matanya sudah melihat ke lain arah. Dia bingung, kenapa kakaknya harus bertanya seperti ini? Padahal dia sudah payah menghindari pertanyaan ini. Dia sangat enggan menjawab perihal itu. Apalagi, dia tahu mamahnya itu dijebloskan langsung ke penjara oleh Dirga. Jika, dia menjawab rindu, dia akan menyakiti kakaknya. Jika, dua menjawab tidak dia telah membohongi dirinya sendiri. Serba salah, itulah yang dia rasakan sekarang.
__ADS_1
"Jawab, Ndy," desak Dirga.
Nindy masih menutup mulutnya denga rapat. Lama mereka terdiam, akhirnya Dirga mengusap lembut pundak Nindy menandakan bahwa dia memerlukan kejujuran dari Nindy.
"Ndy ...."
"Kenapa Ndy harus jawab pertanyaan itu?" tanya Nindy balik dengan suara pilu. Namun, dia masih tidak berani menatap sang kakak.
"Kakak hanya ingin tahu perasaan kamu yang sesungguhnya Ndy," jawab Dirga.
Perlahan Nindy mulai menatap ke arah sang kakak. Sorot mata Dirga mengatakan bahwa dia tidak boleh berbohong. Kakaknya memerlukan kejujuran. Sorot mata kakaknya pun terlihat tengah memendam kepiluan.
"Ndy bingung jawabnya," ujar Nindy dengan menahan air matanya.
Nindy yang sudah menatap Dirga, kini menunduk kembali. Dia sudah meremas tangannya yang sudah dingin. Sulit sekali untuknya menjawab pertanyaan yang seperti buah simalakama.
"Bingung kenapa? Ungkapkan pada Kakak, Ndy. Jangan sungkan." Dirga terus mendesak Nindy agar membuka suara.
"Ndy bingung ... kalau Ndy bilang kangen sama Mamah, pasti Papah dan Kakak akan marah kepada Ndy," terangnya dengan kepala yang menunduk. Air matanya ingin sekali menerobos jatuh membasahi wajahnya.
"Ndy gak ingin buat kalian sedih. Ndy bisa kok pura-pura bahagia di depan kalian, yang terpenting Papah dan Kakak tidak marah. Ndy sangat sayang kalian."
Dirga segera memeluk tubuh Nindy. Dia sangat terharu dengan apa yang dikatakan oleh Nindy. Dia dan Nindy sama, tidak ingin terlihat rapuh di hadapan orang lain. Biarlah kerapuhannya mereka rasakan sendiri.
"Sudah cukup Ndy melihat Papah terluka. Sudah cukup Ndy melihat Kakak menderita. Ndy gak ingin egois, Ndy ingin melihat kalian bahagia. Biarlah Ndy menyimpannya seorang diri. Ndy gak mau kalian terluka dan marah kepada Ndy," terang Nindy dengan suara yang bergetar.
Hati Dirga sangat sakit mendengar ungkapan hati Nindy yang sebenarnya. Adiknya ini selalu bermain drama di depannya juga ayahnya. Padahal, pada nyatanya dia menjadi korban dalam Masalah ini.
"Ndy, kalau kamu rindu sama Mamah, ayo kita ketemu Mamah," ajak Dirga. Namun, Nindy menggeleng.
Dirga tidak sanggup membendung air matanya. Ucapan dari mulut Nindy sangat membuat hatinya mencelos.
"Ndy, Mamah adalah ibu kandung kamu, sedangkan kakak hanya ...."
"Jangan pernah ungkit siapa kakak di depan Ndy. Ndy gak akan peduli dan Ndy selalu menganggap Kakak sebagai kakak Ndy." Sungguh lirih suara Nindy. Tangisnya semakin keras dan air matanya semakin deras. Nindy sungguh membenci kalimat tersebut. Bagi Nindy Dirga tetaplah kakak kandungnya. Tidak dia pedulikan Dirga berasal dari mana dan laut dari rahim siapa.
Nindy teringat ketika kebenaran tentang Dirga diungkapkan oleh kedua orang tuanya.
"Dirga ... kamu bukan anak kandung Papah."
Perkataan papahnya membuat Dirga dan Nindy terkejut, sedangkan Septi sudah menunduk dalam.
"Kamu adalah bayi yang Papah temukan di depan jalan sana. Bayi mungil yang mampu membuat menemani hari-hari Papah yang sunyi."
Nindy masih ingat betul, ketika papahnya mengatakan hal seperti jtu Dirga dan Nindy menangis sangat keras. Mereka berdua sama-sama tidak menyangka. Apalagi, Dirga memutuskan untuk pergi dari rumah. Itulah hari di mana Nindy sering menangis seorang diri.
"Ndy gak ada yang lindungi lagi, Kak. Kakak pulang dong." Kalimat itulah yang Nindy ucapkan ketika seharian ini Dirga kabur dari rumah. Bukan hanya Nindy yang sedih, semua orang pun ikut sedih.
Apalagi papah dan Mamahnya yang nampak sudah frustasi. Mereka sudah mencari Dirga ke sana dan ke mari. Akan tetapi, Dirga belum juga ditemukan. Tidak ada kata iri di hati Nindy kecil ketika dia yang diabaikan. Dia tahu bahwa kedua orang tuanya sangat menyayangi Dirga juga dirinya. Nindy selalu menjadi orang pertama yang menyambut kedatangan papah dan juga mamahnya ketika mereka tiba di rumah setelah mencari Dirga. Namun, hanya kata belum ketemu membuat rasa kecewa dan sedih jadi satu. Bukan hanya kedua orang tuanya yang mengatakan itu, para pria berbadan kekar itu pun mengatakan hal yang sama kepada kedua orang tuanya. Di situlah Nindy merasa setengah nyawanya sudah hilang entah ke mana. Malaikat pelindungnya sudah pergi dan Nindy tidak akan pernah siap kehilangan sang kakak tercinta. Selama Dirga pergi, dia tidak pernah makan sedikit pun. Septi dan juga Deri terus memaksa Nindy untuk makan. Akan tetapi, dia selalu menolak.
Ketika Dirga dinyatakan ditemukan, Nindy baru mau makan karena dia ingin cepat bertemu dengan sang kakak tercinta. Setelah kejadian itu, dia tidak akan menjauhi kakaknya. Meskipun, Dirah tidak dilahirkan dari rahim yang sama seperti dirinya. Nindy tidak akan pernah mempermasalahkannya.
#off.
__ADS_1
"Kakak tetap kakak Ndy. Pelindung Ndy dari semuanya. Serta kakak yang sangat baik untuk Ndy. Ndy sayang Kakak," ucapnya sangat tulus.
Dirga tak kuasa menahan air matanya. Adiknya ini sungguh luar biasa. Mereka menangis dengan posisi saling berpelukan.
Tidak ada anak yang tidak merindukan orang tuanya. Sama halnya dengan orang tua. Akan tetapi, Nindy belum siap untuk bertemu. Dia terlalu sayang kepada papah juga kakaknya. Bukan berarti dia tidak sayang kepada Septi, ibu kandungnya. Hanya saja, dia masih kecewa dengan sikap sang ibu yang sudah terbilang jahat kepada papah dan juga kakaknya.
Nindy sudah dibuat kecewa oleh ibunya. Jika, seseorang sudah kecewa susah untuk mengembalikkan rasa yang sama seperti dulu lagi.
"Ndy rindu Mamah, tetapi Ndy belum siap bertemu dengannya. Ndy masih sangat kecewa. Sangat kecewa," tekannya.
Dirga tidak bisa menjawab apapun. Dia tidak bisa memaksa Nindy karena Nindy bukan anak kecil lagi yang bisa dia seret kalau tidak mau. Nindy sudah dewasa, dia bisa membedakan mana yang baik dan mana yang buruk.
Sebelum Dirga menemui Nindy, dia menemui sang mamah terlebih dahulu di lapas. Septi tersenyum ke arah sang putra. Padahal Septi dikelabuhi oleh Kenan karena Kenan mengatakan bahwa dirinya yang akan menjenguk Septi, supaya Septi mau keluar lapas. Ternyata Dirgalah yang datang.
Septi segera berhambur memeluk tubuh Dirga. Ada rasa rindu yang menggebu yang Septi rasakan. Mulutnya memang mengatakan bahwa dia tidak ingin bertemu dengan Dirga kembali. Pada nyatanya hatinya sangat-sangat merindukan Dirga.
"Aku kangen Mamah."
Suasana haru pun tercipta dengan cepat. Septi memeluk erat tubuh putranya dengan suara isakan yang menyayat hati.
"Mamah lebih merindukan kamu, Nak. Maafkan Mamah yang selalu berbohong kepada kamu," tutur Septi.
Dirga semakin mengeratkan pelukannya dan dia pun. tak kuasa menahan tangisnya. Dia tahu bahwa ibunya berbohong. Itu semua karena ibunya tidak ingin terlihat rapuh di hadapannya.
Dirga mengurai pelukannya dan mengajak ibunya untuk duduk. Tangan Dirga terus menggenggam tangan Septi.
"Mah, sebentar lagi Mamah akan bertemu dengan Nindy," ucap Dirga. Septi sedikit terkejut dengan apa yang didengarnya dia sedikit tidak percaya.
"Aku akan berusaha membujuk Nindy untuk bertemu Dnegan Mamah, " jelasnya lagi.
Septi tersenyum, tangannya mengusap lembut punggung tangan Dirga.
"Nak, kalau Nindy tidak mau bertemu dengan Mamah jangan dipaksa, ya. Mamah tidak ingin anak-anak Mamah menemui mamah karena paksaan. Mamah inginnya kalian ini dengan karena rindu sungguhan."
Diega mencoba tersenyum, dia tahu apa maksud dari ucapan ibunya ini.
"Nindy semakin dipaksa dia semakin keras kepala. Jangan sampai seperti itu, ya. Mamah gak mau anak-anak Mamah bersedih," tukasnya.
Dirga mengangguk mengerti. Banyak wejangan yang Septi berikan kepada Dirga. Benar kata teman-teman Septi yang berada di lapas. Septi sudah banyak berubah.
Ketika dia asyik berbincang, Bunga datang dengan membawa rantang berisi makanan. Bunga menunduk malu ketika melihat wajah Dirga di depannya.
"Mah, aku pulang, ya. Aku ingin makan siang bersama anak dan istriku." Pelafalan anak dan istri sangat Aska tekan agar Bunga mendengar.
Kepergian Dirga membuat Bunga sedikit kecewa. Akan tetapi, Septi menegur Bunga agar tidak terbawa perasaan.
"Jangan mencintai orang yang salah. Dia sudah bahagia dengan anak dan istrinya," tutur Septi.
Bunga tersadar akan perbuatannya. dia mengangguk cepat mendengar ucapan sang ibu. Dia tidak ingin seperti ibunya. Dia juga tidak ingin merusak rumah tangga kakak tak sekandung dengannya.
"Iya, Mah. Aku tahu."
"Lupakan Dirga!" hardik Septi kepada Bunga. "Dia sudah bahagia dengan istri dan juga anaknya. Jangan pernah jadi pelakor. Kamu wanita, istri pria itu pun wanita. Jangan pernah menyakiti sesama wanita." Nasihat sang ibu untuk Bunga.
__ADS_1
Bunga hanya bisa mengangguk. Dia juga tidak ingin menjadi wanita rendahan yang hanya bisa menghilangkan milik orang lain. Lebih baik bersama lelaki yang setia. Hanya dia yang pria itu cintai.