Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
CCTV


__ADS_3

"Saya mencintai kamu."


Ucapan yang terdengar serius di telinga Nindy. Langkahnya pun terhenti. Sedangkan Kenan sudah bangkit dari duduknya melangkah ke arah Nindy yang terdiam di depan pintu.


"Saya mencintai kamu," ulangnya lagi. Suara itu terdengar semakin dekat.


Nindy membalikkan tubuhnya dan Kenan sudah berada di depannya. Tatapan Kenan menunjukkan keseriusan yang mendalam. Dia meraih tangan Nindy dan mengusapnya lembut. Ditatapnya manik mata cantik Nindy.


"Aku benar-benar mencintai kamu, Nindy." Terdiam dan membisu, Nindy bagai patung saat ini.


Tangan kanan Kenan mulai menyentuh pipi Nindy. Menatap wajah Nindy dengan sangat dalam. Perlahan kepala Kenan semakin menunduk dan menunduk. Bibir itu mendarat di bibir Nindy. Refleks Nindy memejamkan matanya. Menikmati setiap sapuan yang sangat menghangatkan. Saling membalas dengan lembut seakan mereka sedang mengungkapkan isi hati mereka masing-masing.


Pagutan itu terlepas, tetapi wajah Kenan masih berada di depan wajah Nindy. Napas mereka pun masih saling memburu.


"I love you."


Bibir itu pun kembali menempel lagi dengan tangan Kenan merengkuh kuat pinggang Nindy. Sedangkan tangan Nindy sudah melingkar di leher Kenan. Meskipun pengutaraan isi hatinya belum mendapat jawaban, Kenan sangat yakin bahwa Nindy memiliki perasaan yang sama terhadapnya.


Semuanya harus terlepas ketika ponsel Kenan berdering. Kenan menjawab panggilan dari Dirga tanpa menjauhi Nindy. Sedangkan Nindy tengah menunduk mengusap bibirnya yang basah. Namun, tangannya dicekal, diganti oleh tangan Kenan yang kini mengusap bibir yang menjadi candu untuknya sambil dia berbicara kepada Dirga yang berada di balik sambungan telepon.


Tangan Kenan menarik tangan Nindy hingga tubuhnya menabrak dada bidang Kenan. Bibir Kenan tersenyum sangat manis ketika Nindy mendongak menatapnya. Untuk kedua kalinya bibir Kenan mendarat di kening Nindy.

__ADS_1


"Baik Pak, akan saya laksanakan."


Setelah meletakkan ponsel di saku, Kenan memeluk Nindy begitu erat.


"Aku pergi dulu, sebentar. Ada tugas dari kakak ipar," bisiknya.


Nindy masih mematung dan menatap wajah Kenan. Satu kecupan singkat di bibir Nindy membuat matanya kembali melebar.


"Kamu kembali kerja, ya." Kenan menggenggam tangan Nindy dan membawanya menuju meja khusus sekretaris.


"Aku pergi," ucap Kenan. Kemudian. mendaratkan bibirnya di ujung kepala Nindy.


Seperti manusia bodoh, begitulah Nindy. Sedari tadi dia hanya terdiam karena terlalu terbuai. Tak dia sadari, tangannya membelai lembut bibirnya. Ada jejak manis yang Kenan berikan di sana.


Kalimat yang masih terngiang-ngiang di kepala Nindy. Tatapan mata Kenan sangat memperlihatkan cinta yang begitu dalam. Tidak ada kebohongan, begitu juga dengan cara bicaranya yang sangat halus berbeda dengan Kenan yang dia kenal.


"Apa benar dia mencintaiku?" gumamnya.


Setelah memeriksa kandungan, Dirga mengajak sang istri untuk menemaninya ke kantor. Tidak lama, hanya sekitar dua jam saja. Tangan Dirga sangat posesif menggandeng tangan Niar. Apalagi perut Niar yang terlihat sangat membukit.


"Lain kali pakai baju yang agak longgaran, ya," ujar Dirga sambil mengusap perut sang istri.

__ADS_1


"Kenapa? Apa aku terlihat gendut?" Bibir Niar sudah mengerucut.


"Bukan begitu, Sayang. Bukan hanya perut kamu yang menonjol. Dua balon kamu terlihat sangat besar, aku tidak ingin orang lain melihatnya selain aku." Niar mencubit perut Dirga dengan gemas sedangkan Dirga sudah tertawa puas.


"Ini kantor, Ay. Jangan berbuat mesoem," omelnya.


"Kamu lupa, di ruangan aku ada kamarnya." Dirga menarik turunkan alisnya. Niar menatapnya dengan jengah.


Tibanya di lantai atas, Nindy menyapa hangat Niar dan kakaknya.


"Jangan ganggu kami dulu." Nindy pun mengerti. Apalagi suara pintu dikunci dari dalam terdengar. Nindy hanya mengedikkan bahunya.


"Sayang, kalau kamu lelah istirahat aja di kamar," ucap Dirga seraya mengecup kening Niar.


"Aku cek laporan dulu, ya." Niar mengangguk patuh.


Setelah mengantar sang istri masuk ke dalam kamar, Dirga menghidupkan kembali laptopnya yang sedari tadi belum dia matikan.


"Masih tersambung ke cctv," gumamnya.


Dirga mulai iseng memutar cctv setelah makan siang ada Kenan yang sedang duduk di sofa. Dirga hanya menggelengkan kepala. Namun, dia melihat Nindy masuk dan duduk di sana. Mata Dirga terus fokus pada layar laptopnya hingga matanya melebar.

__ADS_1


"Kenan!"


__ADS_2