
Niar duduk di samping Nindy yang tengah menahan tangisnya, sedangkan Arshen dia letakkan di pangkuan Nindy. Niar sudah menggenggam erat tangan Nindy. Dia juga menatap Nindy dengan begitu intens.
"Ada masalah apa? Jangan dipendam sendiri," ucap Niar.
Nindy masih terdiam, tetapi air matanya sudah berjatuhan. Mulutnya terasa kelu untuk bercerita. Hatinya ingin berkata, tetapi mulut tidak bisa.
"Ndy ...."
"Mas Kenan marah sama Ndy," lirihnya. "Sudah dua malam ini dia tidur di ruang kerja. Kemarin pagi dia malah pergi ke apartmentnya untuk berganti pakaian," lanjutnya dengan berurai air mata. Nindy terlihat begitu sedih karena diabaikan oleh suaminya.
Niar memeluk tubuh adiknya yang tengah bersedih. Dia merasakan kesedihan yang Nindy alami. Betapa tidak enaknya diabaikan oleh suami ketika kondisi sedang tidak sehat.
"Ndy yang salah. Ndy yang gak mau nurut sama dia. Ndy yang keras kepala," ucapnya menyalahkan diri sendiri. Niar sedikit tersentak mendengar ucapan Nindy yang penuh emosi dan air mata.
Arshen yang tidak mengerti apa-apa hanya menatap ibu dan juga tantenya bergantian. Tangan mungilnya mengusap lembut pipi Nindy yang sudah basah seakan tangan mungil itu tengah mencoba menguatkan sang Tante.
"Mungkin Kenan lagi banyak kerjaan makanya sensitif. Apalagi kamu masih keras kepala," imbuh Niar.
"Ingat ya, Ndy. Tidak selamanya orang sabar itu akan bersikap lembut terus kepada kita. Ada kalanya nanti dia akan bersikap tegas kepada kita supaya kita bisa menghargai kesabarannya," papar Niar. Dia mencoba berbicara dengan suara lembut agar Nindy tidak.emras tersinggung. Bagaimanapun dia hanya sekedar kakak ipar dari Nindy.
Nindy mengerti maksud Niar. Dia juga tidak merasa keberatan sang kakak ipar memarahinya karena sesungguhnya dia memang keras kepala dan susah diatur. Maka dariniyu dia mau berobat dan mencoba menyiapkan sarapan untuk suaminya untuk menebus kesalahannya. wmWalaupun badannya masih belum pulih betul dia tetap memaksakan.
"Iya. Kak. Sekarang, Mas Kenan semakin marah sama Ndy," lirihnya. "Pagi tadi saja dia berangkat kerja tanpa pamit kepada Ndy," tuturnya.
Niar menjadi pendengar setia keluh kesah adik iparnya ini. Dia menceritakan semuanya tanpa terkecuali sehingga Niar tahu bagaimana adik iparnya ini. Dia tidak mencela ucapan Nindy sama sekali. Niar membiarkan Nindy meluapkan semuanya. Tak terasa Nindy terus menceritakan semuanya kepada Niar. Dia seperti tengah bercerita kepada kakaknya sendiri. Sangat lepas dan tidak ada yang dia tutupi sama sekali.
Jam dua belas sudah, Niar memesan makanan via ojek online untuk mereka berdua makan. Nindy terlihat sangat tidak berselera padahal Niar memesan makan yang Nindy sukai. Maka dari ity Niar menegurnya, "pantas saja Kenan marah. Kamunya juga begitu."
Nindy menatap pilu ke arah Niar. Tatapan tajam Niar berikan.
"Ndy, kamu bukan anak kecil lagi," tegur Niar.
"Sekarang kamu makan, terus kamu minum obat dan istirahat. Kalau Kak Dirga tahu kamu begini pasti dia juga akan marah sama seperti Kenan," ujar Niar.
Nindy mengangguk patuh. Niar jika sudah marah seperti ibunya. Seketika dia rindu akan ibunya. Ibu yang telah merawatnya dan membesarkannya. Ketika sakit seperti ini dia selalu bermanja kepada sang ibu. Akan tetapi, sekarang sudah berbeda. Ibunya sudah tidak ada di samping Nindy.
Setelah selesai makan siang, Niar mengambilkan obat juga Aur putih untuk Nindy konsumsi. Ada sedikit kehangatan yang Niar rasakan. Dia merasa sikap Niar seperti ibunya. Selalu memberikan perhatian untuknya
"Makasih, Kak." Niar hanya tersenyum sambil meletakkan gelas bekas Nindy minum di atas nakas.
"Sama-sama. Cepat sembuh dan bantu Kakak untuk jaga Arshen," kelakar Niar. Nindy pun tertawa mendengar ucapan sang kakak. Meskipun hanya kakak ipar, Niar sudah seperti kakak kandung Nindy. Ketulusan Niar sangat Nindy rasakan.
Di kantor, Kenan benar-benar tidak fokus. Pikirannya masih tertuju pada Nindy. Dia merasa bersalah karena sudah menyuruh sopir untuk mengantarnya berobat. Belum lagi tadi Nindy menyempatkan diri membuat sarapan untuknya. Akan tetapi, Nindy tidak ingin makan bersama dengannya. Kenan benar-benar sangat menyesal. Dia terlalu mengedepankan emosi.
"Lebih baik kamu pulang," titah Dirga dengan sangat tegas.
Kenan sedikit tersentak dengan apa yang diucapkan oleh bosnya itu. Dia menatap intens ke arah Dirga.
"Pekerjaan kamu semuanya kacau. Lebih baik kamu selesaikan masalah kamu dengan istri kamu. Setelah itu, saya akan ke rumah kamu dan berbicara kepada istri kamu perihal Mamah." Kenan mengangguk mengerti
Dia segera membenahi pekerjaannya dan pergi meninggalakan kantor. Dia merasa bersyukur memiliki bos sekaligus kakak ipar yang luar biasa baiknya. Meskipun mulut Dirga terkadang menyakitkan, tetapi dia memiliki kelembutan hati yang luar biasa.
Kenan mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia ingin bertemu istrinya. Dahinya mengkerut ketika melihat mobil khusus dari ibu bosnya. Dia masuk ke dalam dan disapa hangat oleh Mbak yang bekerja di rumah Deri.
"Ada Kak Niar?" tanya Kenan.
"Iya, Mas. Non Niar sama Arshen lagi ada di kamar Non Nindy," ucap Mbak.
Kenan naik ke lantai atas dan membuka gagang pintu dengan pelan. Niar menoleh dan bertatapan langsung dengan Dirga. Telunjuk Niar berada di atas bibirnya menandakan jangan berisik. Nindy baru saja terlelap setelah usapan lembut di kepala Niar berikan.
Niar bangkit dari duduknya membiarkan Arshen juga Nindy tertidur. Dia menyuruh Kenan keluar dan Niar pun menutup pintu dengan pelan.
__ADS_1
"Saya mau bicara sama kamu," ucap Niar. Kenan mengangguk dan mengikuti langkah Niar.
"Saya tidak ingin ikut campur masalah rumah tangga kalian berdua. Lebih baik, kalian menyelesaikan masalah yang tengah kalian hadapi dengan cepat. Kasihan Nindy," ujar Niar. Wajah Niar terlihat sangat serius.
"Maafkan saya," sesal Kenan seraya menunduk. Niar menepuk lembut pundak sang adik ipar.
"Kamu tidak salah. Saya mengerti maksud dan tujuan kamu," balas Niar. Di sini Niar tidak akan berpihak kepada siapapun. Bersikap netral itu lebih baik. Mendengar setiap masalah dari kedua belah pihak.
Kenan menegakkan kepalanya kembali. Seulas senyum Niar berikan kepada Kenan. Tidak ada tatapan menyalahkan dari Niar. Tatapannya sangat hangat seperti tatapan seorang ibu.
"Kamu selesaikan masalah kamu dan Nindy. Saya akan pulang." Niar bangkit dari duduknya, tetapi Kenan mencegah tangannya hingga Niar menoleh kembali ke arah Kenan.
"Makasih," ucap tulus Kenan.
"Sama-sama." Seulas senyum pun Niar berikan kepada Kenan. "Saya hanya ingin rumah tangga kalian bahagia selalu. Bukan bermaksud menggurui, tetapi sebuah masalah kecil akan berubah besar jika kalian tidak saling menyelesaikan," lanjutnya lagi.
Pantas saja bosnya ini bisa tertarik pada Niar dan bersikukuh ingin terus mencari Niar walaupun kemuning dunia. Ternyata Niar adalah wanita yang sangat luar biasa berbeda dengan wanita yang lain. Bukan hanya parahnya yang cantik, hatinya pun sangat lembut dan penuh kehangatan.
Niar masuk ke kamar Nindy kembali. Dia menggendong Arshen dengan hati-hati yang tengah tertidur untuk dibawa pulang. Dia memberi ruang kepada Kenan untuk menyelesaikan masalahnya bersama Nindy. Tas bayi yang berisi keperluan Arshen pun Kenan bawakan keluar karena Niar snagat kerepotan. Kenan mengantar Niar dan juga Arshen hingga ke depan rumah.
"Hati-hati," ucap Kenan. Niar tersenyum dan masuk ke dalam mobil.
Sungguh beruntungnya dia memiliki kakak ipar sebaik Niar. Dia bisa menjadi ibu, teman dan kakak. Kenan segera masuk ke dalam rumah dan menuju kamar. Hembusan napas kasar keluar dari mulut Kenan. Perlahan dia naik ke tempat tidur. Dia tatap wajah Nindy yang terlihat sangat sayu.
"Maafkan, Mas," gumamnya kecil.
Tangan Kenan terus mengusap.lembut rambut Nindy. Hatinya sangat sakit ketika ada jejak air mata di wajah tirus istrinya. Selang satu jam, Nindy membuka mata dan dia terkejut ketika melihat Kenan sudah ada di depannya.
"M-mas ...."
Kenan tersenyum dan mencium kening istrinya sangat dalam. Dia menyesali semua perbuatannya terhadap Nindy.
Tangis Nindy pun pecah dan tangannya mulai melingkar di pinggang Dirga. Kenan tidak tega mendengar tangisan lirih yang keluar dari mulut Nindy. Hatinya sangat sakit.
"Mas minta maaf, Sayang." Hanya kata itu yang mampu Kenan ucapkan.
Kenan mengurai pelukannya dan dia menatap mata Nindy yang sudah merah. Tangannya mengusap lembut air mata yang berjatuhan di pipinya.
"Jangan menangis, hati Mas sangat sakit melihat kamu seperti ini." Nindy masih menitikan air mata dengan hidung yang sudah memerah. "Jangan pergi tinggalin aku," lirih Nindy.
Terlihat jelas wajah yang menyimpan ketakutan yang mendalam yang Nindy rasakan. Kenan memeluk erat tubuh Nindy. "Mas, tidak akan pergi meninggalkan kamu, Sayang." Sebuah kecupan Kenan berikan di kening istrinya.
Ketika malam datang, Kenan memanjakan istrinya. Memijat istrinya dengan sangat lembut hingga apapun yang istrinya inginkan akan Kenan belikan.
"Mau makan apa?" tanya Kenan. Nindy menggeleng. Dia malah memeluk erat tubuh suaminya. Kenapa sangat bahagia.
"Kamu 'kan belum minum obat, Sayang," ujar Kenan lagi.
"Bubur ayam aja, tapi pakai sate kulit yang banyak," pinta Nindy.
Kenan pun tertawa dan mengusap lembut rambut sang istri. Semua yang diminta Nindy akan Kenan belikan.
"Ya udah, kamu tunggu di sini." Nindy menggeleng. "Inginnya makan di tempatnya." Cengiran khasnya Nindy berikan ke arah Kenan.
"Tapi kamu ...."
"Pakai jaket dan celana panjang, Mas," potong Nindy sambil menunjukkan puppy eyesnya.
Kenan kalah jika Nindy sudah menunjukkan sorot mata tersebut. Kenan memakaikan jaket ke tubuh Nindy dan menjahili Nindy dengan mencium bibir Nindy.
"Mas ...."
__ADS_1
Kenan pun tertawa, kedua sejoli ini turun dari lantai atas dan berpapasan dengan Deri. "Udah akur?" ejek Dari.
Nindy mendelik kesal ke arah sang ayah, tetapi Kenan malah tersenyum tulus ke arah mertuanya.
"Papah mau bubur gak? Aku sama Nindy mau beli bubur," tawar Kenan.
"Papah ingin sate jeroannya aja. Beliin yang banyak sama minta sambalnya," sahut Deri.
"Kolesterol, Pah," larang Nindy.
"Sekali-kali mah gak apa-apa," balas Deri sambil menjauhi putrinya.
Mulut Nindy tak berhenti bersungut-sungut karena papahnya. Kenan hanya menggelengkan kepalanya.
"Gak apa-apa, Sayang. Kalau kolesterol Papah naik akan aku belikan obat kolesterol yang paling bagus," imbuh Kenan. Nindy tidak menjawab, dia tidak ingin memikirkan perihal ayahnya.
Mobil Kenan berhenti di pinggiran jalan. Bubur yang paling enak ada bukan berada di sebuah ruko, melainkan bubur gerobakan. Harga terjangkau, tetapi rasa luar biasa. Apalagi sate kulitnya yang membuat orang yang memakannya gak akan pernah mau berhenti.
"Mas, bubur dua ya. Satu komplit yang satu jangan pakai daun bawang sama kacang," ucap Kenan.
Nindy tersenyum ke arah suaminya. Kenan sudah tahu kebiasaan Nindy jika makan bubur.
"Sate kulitnya bawa semua ke meja," titah Kenan.
"Semua?" ulang penjual bubur bingung.
"Iya, semua. Kalau nanti gak habis akan saya bungkus bawa pulang." Penjual itu pun mengangguk sembari mengucap syukur kepada sang pencipta atas rezeki hari ini.
"Oh iya, tolong bungkus masing-masing lima belas tusuk sate jeroan. Usus, hati, ampela, jantung dan juga telur puyuh. Minta sambalnya juga." Sungguh rezeki yang tidak terduga bagi penjual bubur ini.
Nindy tersenyum ke arah suaminya yang mulai mendekat ke arahnya. Dia duduk di samping Nindy dan mengecup samping kepala Nindy.
Bubur yang merak pesan sudah tersedia. Nindy meminta kerupuk lebih banyak lagi karena dia paling suka jika makan bubur dengan banyak kerupuk juga kecap. Belum lagi sambal yang dia tuangkan tanpa takaran.
"Sayang, itu pedas banget loh." Kenan memberikan peringatan.
"Enakan begini, Mas."
Belum lagi lima tusuk sate kulit yang Nindy masukkan ke dalam mangkuk berisi bubur. Sepuluh tusuk lagi dia siram dengan sambal dan kecap. Kenan hanya menggelengkan kepala. Namun, dia juga bahagia akhirnya sang istri mau makan juga.
Nindy sangat menikmati makanan ini. Wajahnya berkeringat karena rasa pedas yang menggelegar. Akan tetapi, Nindy tidak menghiraukannya. Kenan memberikan air putih dingin kepada sang istri. Nindy segera meneguknya.
"Enak banget?" tanya Kenan dengan tangannya yang menyeka keringat Nindy.
"Banget, Mas." Kenan hanya tertawa.
Kenan masih setia menemani Nindy. Dia yang pria saja hanya menghabiskan satu mangkuk bubur dengan tiga tusuk sate. Berbeda dengan Nindy yang sudah menghabiskan hampir dua puluh tusuk sate kulit.
Kenan tidak akan pernah melarang istrinya untuk makan ini dan itu. Selagi istrinya sehat dan menyukainya Kenan akan oke-oke saja. Akhirnya, Nindy menyerah juga. Sisa sate yang ada dua puluh tusuk itu dibungkus. Belum lagi pesanan mertuanya.
Tibanya di rumah, Kenan menyuruh Indy untuk membersihkan tubuhnya, sedangkan dirinya menyiapakan pakaian untuk sang istri.
"Makasih, Mas." Kenan pun tersenyum dan mengecup kening Nindy.
"Sekarang kami minum obat dan istirahat, ya." Ternyata Kenan sudah membawa obat dan air putih untuk Nindy min. Sungguh kebahagiaan yang tiada terkira yang Nindy rasakan.
"Maafkan aku ya, Mas. Aku memang anak manja," sesalnya.
Kenan mengusap lembut kepala Nindy sambil menggeleng. "Wajar kalau kamu manja, tapi jangan sapi manjanya akan menyakiti diri kamu sendiri. Mas tidak suka. Mas selalu ingin kamu sehat yang terus mendampingi Mas."
Meleleh sudah hati Nindy dibuat Kenan. Dia memeluk tubuh Kenan dengan sangat erat. Apa yang dibilang kakak iparnya memang benar. Kenan tidak marah hanya dia memerlukan ruang untuk sendiri dan interospeksi.
__ADS_1