Tak Kan Kulepas Lagi

Tak Kan Kulepas Lagi
Berbohong


__ADS_3

Bukan hanya Deri yang merasakan kehilangan Septi. Dirga pun merasakan hal yang sama. Bagian dari hatinya ada yang kosong setelah jauh dari ibunya. Ada rindu yang tidak bisa diutarakan. Ada cinta yang tak tersampaikan. DIrga sekuat tenaga menahannya. Meskipun, itu sangat sulit untuk dia lakukan.


Dirga tengah menatap foto dirinya yang tengah bersama sang ibu. Hatinya mencelos ketika melihat kecupan hangat yang Septi berikan untuknya. Ditambah senyuman Septi yang sangat menyejukkan.


"Mah, aku kangen Mamah," lirihnya. DIrga ingin merasakan kembali kecupan dan sentuhan hangat sang ibu di kening dan juga kepalanya. Dirga ingin memeluk tubuh ibunya.


Dirga adalah anak sebatang kara yang pertamakali mengenal kasih sayang seorang ibu dari tangan Septi. Dirga pun merasa hidupnya terasa hampa tanpa sang ibu di sisinya. Terkadang ada segelumit penyeselan di hati Dirga karena sudah memasukkan ibunya kedalam jeruji besi. Padahal ibunya adalah orang yang menyayanginya sangat tulus, walaupun dia tidak lahir dari rahim sang ibu. Namun, laporannya kepada pihak berwajib karena ibunya memang salah. Bukankah hukum harus ditegakkan?


Dirga pernah menjenguk ibunya di lapas, tetapi sang ibu menolak untuk dijenguk sering-sering oleh Dirga.


"Kenapa, Mah?" tanya Dirga dengan tatapan bingung. "Apa karena aku bukan anak kandung Mamah?" lanjutnya dengan suara yang sedikit bergetar. Kadang kala Dirga membahas perihal siapa dirinya.


"Kenapa kamu berbicara seperti itu, Nak? Kamu dan Nindy adalah anak Mamah. Mamah yang sudah merawat dan menjaga kalian. Jangan berbicara seperti itu," ujar Septi dengan tetesan air mata. Septi paling membenci ketika Dirga mengatakan hal seperti itu.


"Kamu anak Mamah. Kamu putra pertama Mamah," terangnya, sambil menangkup wajah Dirga.


Dirga memeluk tubuh mamahnya dengan sangat erat. Dia tak kuasa untuk membendung air matanya. Bibirnya keluar karena dia tidak mampu mengungkapkan semuanya.


"Jangan menangis, Nak. Kamu adalah anak laki-laki. Kamu harus kuat," imbuh Septi dengan tangan yang sudah mengusap lembut punggung Dirga.


"Aku akan menjadi anak cengeng jika sudah menyangkut Mamah. Aku sayang Mamah, aku tidak ingin melihat mamah menderita seperti ini," jelasnya.


Septi mengurai pelukannya. Dia menatap lembut Dirga. Tangan lembutnya menghapus jejak air mata yang membasahi pipi Dirga.


"Mamah tidak menderita, Nak. Malah di sini Mamah mendapat pelajaran hidup yang sangat berharga."


Septi sangat merasakan kasih sayang yang tulus dari putra angkatnya ini. Dari tatapan serta ucapan Dirga membuat hati Septi menghangat.


"Mamah ikut aku, ya. Aku janji akan mengeluarkan Mamah." Septi menggeleng dengan cepat. "TIdak usah, Nak. Mamah pantas mendapatkan ini semua," lanjutnya.


"Tapi, Mah ...."


"Orang yang bersalah itu harus dihukum, Nak. Mamah sudah ikhlas dengan hukuman ini. Mamah sudah jahat kepada istri kamu, wanita yang sangat kamu sayangi. Hukuman Mamah pun tidak sepadan dengan luka yang telah Mamah goreskan untuk istri kamu. Mamah minta maaf, Nak. Mamah adalah ibu yang sangat buruk," sesalnya, seraya menundukkan kepala.


Itulah kali terakhir Dirga bertemu dengan sang ibu. Dia hanya dapat memandangi sang ibu dari foto. Pernah sekali Dirga menjenguk sang ibu. Dia sudah membawa semua makanan kesukaan sang ibu. Dia juga sudah membawa banyak makanan. Akan tetapi, ibunya tidak mau menemuinya. Dirga merasa sangat sedih.


Dia harus kembali ke kantor dengan rasa kecewa. Ternyata ucapan sang mamah benar-benar direalisasikan.


Hanya helaan napas kasar yang keluar dari mulutnya. Rasa rindu kepada seorang ibu berbeda dengan rasa rindu kepada pasangan. Rindu ini tidak bisa diucapkan dengan kata-kata.


"Papih," panggil Niar.


Dirga segera merubah mimik wajahnya. Dia tidak ingin melihat istrinya melihat dia tengah bersedih. Dia tersenyum ke arah Niar yang kini mendekat ke arahnya,


"Arshen mana, Mih?" tanya Dirga.


"Lagi tidur," jawab Niar. Dia kini berada di belakang Dirga dan mengusap punggung Dirga.


"Papih kenapa?" tanya Niar. Suaminya itu tidak bisa menyembunyikan apapun dari dirinya.


"Kenapa apanya, Mih?" tanya balik Dirga.


Niar duduk di pangkuan sang suami dan menatap manik mata yang tajam milik suaminya.

__ADS_1


"Papih tahu 'kan satu hal yang tidak bisa Papih lakukan." Dahi Dirga mengkerut, dia menatap bingung ke arah sang istri.


"Berbohong kepada Mamih," tukas Niar.


Dirga terdiam mendengar sergahan dari Niar. Dia payah dalam urusan berbohong. Sentuhan lembut Niar berikan kepada Dirga.


"Ungkapan apa yang ingin Papih ungkapkan. Jangan ditahan seperti itu. Tidak baik, Pih," tutur Niar.


Hembusan napas panjang keluar dari mulut Dirga. Dia menatap Niar dengan tatapan sendu dan pilu. Istrinya tahu, Dirga tengah menahan rindu.


"Kenapa Papih tidak jenguk Mamah saja kalau begitu?" Dirga menggeleng dengan cepat. Perihal dia ditolak oleh sang mamah belum sempat Dirga ceritakan. Dahi Niar mengkerut mendengar ucapan dari Dirga.


"Mamah gak mau Papih menjenguk Mamah sering-sering." Suaranya terdengar sangat lemah.


Niar sedikit terkejut dengan apa yang diucapkan oleh sang suami. Namun, Niar tidak menyalahkan ibu mertuanya atau Dirga. Mamah Septi pasti memiliki alasan yang kuat untuk itu.


"Kenapa?" Rasa penasaran Niar sangat tinggi.


"Mamah malu sama aku karena hampir melukai kamu." Niar memeluk tubuh Dirga. Dia tahu suaminya ini sedang tidak baik-baik saja.


"Yang sabar ya, Pih. Nanti Pasti Mamah mau menemani Papih." Hanya kalimat itu yang keluar dari mulut Niar. Wajar, jika Septi tidak ingin. bertemu dengan Dirga karena malu. Ketika Dirga sudah memaafkan ibunya, Dirga selalu bersikap baik kepada Septi. Menjenguknya pun hampir setiap hari. Itu sebagai rasa sayangnya kepada sang ibunda.


Suara tangis Arshen terdengar. Mereka buru-buru keluar dari ruang kerja tersebut menuju kamar. Putra sudah terjaga dengan air mata yang sudah membanjiri wajahnya.


"Kenapa, Nak?" tanya Niar. Dia segera menggendong Arshen dan menimang-nimangnya.


"Jangan nakal dong jagoan Papih. Jadi anak yang anteng ya." Mendengar suara ayahnya Arshen yang hendak terlelap kembali kini mencari sosok ayahnya.


"Loh kok melek lagi?" ucap Niar bingung.


Dia mengambil alih Arshen dari tangan Niar. Dia menciumi pipi gembil Arshen hingga Arshen tertawa.


"Kenapa senyumnya sangat mirip Papih, ya?" Niar merasa bingung, sembilan puluh sembilan persen wajah Arshen sangat mirip dengan Dirga. Dia hanya kebagian satu persen, jatah rambutnya saja.


"Arshen 'kan anak Papih, masa iya Arshen mirip tetangga," canda Dirga.


Niar mendengkus kesal, tetapi Dirga malah tertawa keras. Hidupnya terasa sangat bahagia karena kehadiran Arshen ke muka bumi ini. Ditambah wanita yang telah mengandung Arshen selama sembilan bulan adalah Niar, perempuan yang sangat dia sayangi ketika masa putih abu-abu.


Cukup lama Arshen bermain bersama Dirga, kini dia mulai merengek. Sepertinya dia sudah kehausan.


"Mimi dulu ya, Nak," imbuh Dirga. Dia menyerahkan Arshen kepada Niar.


Niar yang hendak terpejam pun melebarkan matanya kembali.Dia meraih Arshen dan mulai menyusuinya. Tangan Dirga membelai lembut rambut sang istri. Di momen seperti ini Dirga merasakan jasa istrinya itu sangatlah penting.


Niar meletakkan Arshen di.temoag tidur mereka. Dirga hanya tersenyum melihat Arshen yang terlelap di tengah-tengah antara dia dan juga Niar. Dia kesayangannya ini sudah terlelap dengan damainya. Dirga mencium kening istri serta anaknya bergantian.


"Papih tidak akan menyia-nyiakan kalian."


Bagi Dirga Niar dan Arshen adalah hadiah terindah yang TUhan berikan kepadanya. Mereke berdua adalah pelipur lara Dirga untuk saat ini dan selamanya.


Bukannya tidur, DIrga malah asyik menatap istrinya yang tengah terlelap begitu juga Arshen. Lengkungan senyum hadir di wajah DIrga. Dia tidak menyangka bahwa akan diberi hadiah oleh Tuhan dengan cara cepat.


"Sehat-sehat ya dua jagoan, Mamih."

__ADS_1


Dirga tidakbisa memejamkan mata. Dia masih teringat akan ucapan sang mamah yang melarangnya untuk mengunjunginya. Wajah senja sang mamah sudah terlihat jelas, efek tidak pernah melakukan perawatan serta terlalu banyak beban yang dipikul ibunya.


Dirga turun dari tempat tidur, dia duduk di sofa dan menyandarkan tubuhnya di kepala sofa dengan mata yang terpejam. Bayang-bayang ketika pertama kali dia bersekolah menari-nari di kepalanya.


"Mah, jangan tinggalin aku, ya," rengek Dirga kecil yang berusia lima tahun.


Senyum lembut serta usapan tangan Septi membuat Dirga sedikit merasa tenang. Septi mensejajarkan tubuhnya dengan tubuh sang putra.


"Jangan takut, Nak. Di dalam sekolah dan nanti kamu akan punya banyak teman, bisa bernyanyi bersama guru-guru di sana juga bermain. Sekolah itu tidak menakutkan malah menyenangkan." Perlahan Septi menjelaskan kepada Dirga . Dia mengerti kenapa Dirga takut karena dia tidak terbiasa dengan keramaian. Di rumah, dia selalu bermain bersama asisten rumah tangganya saja tanpa dan orang lain lagi di sana.


Septi meraih tanah mungil putranya. Dia meletakan tangan Dirga di atas perut Septi yang sedikit membesar.


"Kamu harus menjadi anak yang pemberani, sebentar lagi 'kan kamu akan menjadi kakak untuk Dedek yang ada di dalam perut Mamah. Kakak itu tidak boleh takut. Harus berani dan mampu menjaga adeknya. Kalau kakaknya penakut, bagaimana dengan nasib adeknya?" Septi berjarak dengan senyum yang terukir di wajahnya. Dia Snagit tahu putranya ini adalah anak yang cerdas dan mampu menangkap apa yang dijelaskan oleh orang lain dengan singkat.


Dirga kecil pun akhirnya mengangguk dengan mata yang sudah nanar. "A-aku harus berani. Aku ingin jadi pelindung Mamah dan juga adik."


Sebuah janji yang masih Dirga ingat sampai sekarang ini. Air matanya menetes begitu saja ketika mengingat hal tersebut. Dia seperti memiliki kesalahan yang besar kepada ibu yang telah merawatnya dengan tulus. Dia telah menjadi anak yang durhaka karena sudah memasukkan ibunya sendiri ke dalam penjara.


Di balik ketegarannya, Dirga memliki sisi rapuh yang tidak banyak orang tahu. Dia akan merasa rapuh jika menyangkut keluarganya. Mendengar Isak tangis kecil, Niar membuka matanya secara perlahan. Dia takut Arshen terbangun. Namun, Putranya masih terlelap dengan sangat nyenyak di sampingnya. Matanya sedikit memicing ketika dia tidak melihat suaminya di tempat tidur besar itu. Keadaan memang temaram, hanya lampu tidur yang menyala.


Ketika dia hendak bangkit droid tempat tidur, dia melihat bayangan seseorang tengah duduk di sofa denah kepala yang tertunduk. Niar turun dari ranjang tanpa suara. Dia sangat yakin jika orang itu adalah suaminya. Langkahnya semakin mendekati sofa, tubuhnya menegang seketika ketika mendengar ucapan yang sangat menyayat hati.


"Maafkan aku, Mah. Aku sangat menyayangi Mamah."


Dada Niar sangat sesak mendengarnya. Dia tak kuasa menahan air matanya karena baru pertama kali dia melihat suaminya serapuh ini. Rasanya sangat tidak tega melihat suaminya menangis seperti itu. Dirga seperti banyak memikul beban berat dipundaknya.


"Pih," panggil Niar dengan suara beratnya.


Dirga yang tengah menunduk,kini menegakkan kepalanya dan mencari asli suara istrinya. Dirga menatap sendu ke arah Niar begitu juga dengan Niar.


"Mamih kok ...." Niar sedikit berlari dan memeluk tubuh suaminya dengan sangat erat.


"Jangan simpan duka dan sedih Papih sendirian. Mamih akan menjadi pendengar yang baik untuk semua keluh kesah Papih. Papih bisa berbagi cerita kepada Mamih. Siapa tahu Mamih bisa bantu," ucap Niar dengan sangat lirih.


DIrga membalas pelukan Niar dengan sangat erat. Dia sangat beruntung memilik istri seperti Niar. Dia selalu ada di saat Dirga membutuhkannya.


"Tidak baik memendam semuanya sendirian. Ketika Papih merasa sudah tidak sanggup lagi, utarakanlah!"


Dirga pun kita terisak mendengar ucapan dari Niar. Kemudian, dia mengurai pelukannya dengan air mata yang membanjiri wajahnya.


"Maafkan Papih yang telah berbohong kepada Mamih, Maafkan Papih Yang tidak berterus terang tentang perasaan Papih selama ini." Niar pun menggeleng mendengar penuturan dari sang suami. Tangan Niar mengusap lembut air mata yang membasahi wajahnya Dirga.


"Rindu anak terhadap ibunya itu sangat wajar. Lagi pula Mamih sudah memaafkan Mamah. Tidak perlu lagi Papih sungkan untuk berbicara perihal Mamah kepada Mamih. Mamah adalah ibu untuk Mamih juga," ujar Niar.


Niar tidak menyangka bahwa suaminya ini bisa menangis. Terlihat sekali kerapuhannya. Dia juga sangat melihat betapa tulusnya cinta Dirga untuk sang ibu.


"Sekarang, Papih tidur, ya. Besok kan Papih harus kerja," imbuh NIar.


DIrga bagai kucing kecil yang penurut. Namun, kali ini Dirga tidur tepat di samping sang istri. Dia membutuhkan ketenangan, dia membutuhkan kehangatan dan istrinyalah yang mampu memberikan semua itu. Niar tidak mempermasalahkannya karena Dirga memang tengah membutuhkannya. Jual, mengingat kisah Dirga kecil hatinya sangat teriris. Dia juga malah Snagit bersyukur karena mamah mertuanya mau merawat Dirga dan membesarkan Dirga dengan sangat tulus. Ketika darah daging Septi dan Deri hadir ke dunia pun mereka berdua masih tetap menyayangi dan merawat Dirga tanpa membedakan.


Dirga memeluk tubuh Niar dari balakang dengan tangganya yang melingkar di perut Niar. Tangan Niar pun menggenggam tangan Dirga dengan begitu eratnya,


"Papih adalah pria yang sangat hebat dan kuat. Tidak semua orang. bisa melalui semuanya seperti Papih. Tidak semua orang juga mampu sukses seperti Papih tanpa bantuan dari keluarga. Jangan menangis lagi, Pih. Hati Mamih sangat sakit melihatnya." Niar bergumam dalam hati seraya mengusap lembut rambut suaminya.

__ADS_1


"Mamih dan Arshen akan menyayangi Papih dengan tulus."


__ADS_2