
Dirga dan Deri tidak main-main dengan keputusan mereka. Deri telah menggugat cerai Septi serta Dirga telah melaporkan Septi atas tindakan kriminal. Kondisi Niar sudah mulai membaik, begitu juga dengan Nindy.
"Tinggal di rumah Papa aja, Ga," ujar Deri dengan sorot mata penuh permohonan.
"Iya, Kak. Kalo Kakak tinggal di rumah Papa, Ndy akan pindah kuliah ke Jakarta," sambung Nindy.
"Gimana, Yang?" tanya Dirga.
"Terserah kamu aja, Ay. Aku akan ikut ke mana pun kamu bawa."
Sungguh Deri tersenyum bahagia mendengar jawaban dari Niar. Wanita yang memang sangat pantas untuk mendampingi Dirga.
"Tidak sekarang ya, Pa. Kamar bawah harus direnovasi dulu. Sebentar lagi 'kan bayi aku lahir. Gak mungkin kamarnya sumpek begitu." Deri mengangguk setuju.
Setelah mertuanya masuk penjara. Hari-hari Niar terasa tentram dan damai. Namun, hari ini ketentraman itu harus terganggu karena kehadiran Nindy.
"Bosen di rumah," adunya pada Niar.
"Ke mall, yuk," ajak Nindy bersemangat.
"Malas, Ndy. Berat bawa-bawa perut buncit," sahut Niar sambil mengusap lembut perutnya.
"Kita nyalon aja, Kak. Sambil makan," imbuh Nindy.
Melihat Nindy yang sangat antusias, membuat Niar tidak tega. Akhirnya. Niar memutuskan untuk menuruti ajakan Nindy.
Ay, aku boleh ke mall? Diajak nyalon sama Nindy.
Biasanya Niar menghubungi Dirga via telepon. Namun, kali ini dia menghubungi Dirga hanya melalui pesan. Niar tahu, suaminya sedang meeting.
Lumayan lama menunggu pesan balasan dari Dirga.
Boleh, setelah selesai meeting aku jemput.
Selalu saja begitu. Dirga tidak akan memperluas gerakan Niar. Pergi keluar harus bersama Dirga. Begitulah peraturan yang Dirga buat.
__ADS_1
Tibanya di salon langganan Nindy. Mereka melakukan segala treatment rambut. Dari creambath dan segala macam. Pijatan-pijatan lembut di kepala membuat Niar betah berlama-lama. Tak terasa mereka sudah memanjakan diri selama dua jam.
Nindy dan Niar memutuskan untuk makan di restoran favorit mereka berdua. Restoran sejuta umat. Niar memesan berbagai macam menu makanan membuat Nindy menggelengkan kepalanya heran.
"Ini keponakanku yang mau, apa emang Kakak yang rakus?" Niar hanya tertawa.
Kehadiran Nindy mampu memberikan kehangatan untuknya. Sikap Nindy hampir sama seperti Tiara, kakak Niar yang berada di Malang.
Kecupan hangat di ujung kepala membuat Niar menoleh dan mengukirkan senyum.
"Miss you," ucapan manja Niar yang kini tengah memeluk pinggang Dirga.
"Miss you too, Sayang." Dirga mengecup kening Niar. Kemudian, mengusap lembut perut buncit sang istri.
"Anak Papi nakal gak?" Dirga tersenyum ketika dapat merasakan gerakan dari perut Niar.
Dirga membuka mulutnya, meminta disuapi oleh istrinya yang terlihat lebih segar dari biasanya.
"Ck, hargai jomblo dong, bos," keluh Kenan.
Nindy tertawa puas mendengar keluhan Kenan. Tangan kanan kakaknya yang sangat menyebalkan.
"Sesama jomblo jangan saling menghina," kelakar Dirga.
Setelah selesai makan, mereka berkeliling dengan tangan Niar yang terus melingkar di lengan kekar Dirga.
Seketika mata Nindy melebar ketika melihat Rico berada tak jauh dari dirinya. Lebih parah lagi, dia sedang bersama sahabatnya.
Kenapa mesra banget. Apa itu alasan putus dari gua?
Nindy terus membatin, dengan sengaja Nindy menghampiri dua orang tersebut dan menyapa mereka.
"Kok ... lu ada di sini?" tanya Fika, sahabat Nindy.
"Kaget banget sih perasaan," ucapnya heran.
__ADS_1
Sekarang, Nindy menatap tajam ke arah Rico. Mantan kekasih Nindy yang belum lama ini memutuskan hubungan mereka secara sepihak.
"Jadi, alasannya adalah sahabat gua sendiri?" Rico terdiam tidak bisa menjawab ucapan Nindy.
"Kenapa bawa-bawa gua? Harusnya lu sadar. LDR itu gak mudah." Fika sudah mengoceh kepada Nindy.
"Nan, urus Nindy," titah Dirga.
Sedari tadi Dirga sudah melihat gelagat Nindy yang tidak biasa. Pasti sudah terjadi apa-apa.
"Kenapa harus saya?" dengusnya.
"Nan!" Suara Dirga sudah mulai meninggi.
"Okay, saya ke sana." Dengan berat hati Kenan menghampiri Nindy. Melerai adu bicara antara Nindy dengan seorang wanita.
"Udah, jangan bertengkar." Kenan menarik tubuh Nindy hingga Nindy masuk ke dalam pelukan Kenan.
Wajah Rico nampak murka melihat kedekatan Nindy dan Kenan. Apalagi, mata Nindy dan Kenan sudah saling bertemu. Menatap satu sama lain dengan tatapan tak biasa.
"Lu nyalahin gua dalam hubungan lu yang kandas sama Rico. Ngaca dong! Lu aja main di belakang Rico," sergah Fika.
"Dasar murahan!"
Rahang Kenan mengeras mendengar ucapan dari Fika. Dia menghampiri Fika dengan wajah yang penuh amarah.
"Sekali lagi bicara kasar terhadap Nindy. Saya pastikan, mulut Anda tidak bisa berucap kembali."
"Cih, siapa lu? Pacarnya Nindy?" Bukan hanya Rico yang terkejut, Nindy pun ikut terkejut.
"Saya calon suaminya Nindy."
...****************...
Jumpa lagi ...
__ADS_1
Setelah sekian purnama kita tidak bertemu. Maaf ya, kalo updatenya jarang Pake banget. Belum bisa konsisten. Doakan saja, semoga bulan ini bisa konsisten lanjutin cerita Dirga-Niar.
Tinggalkan komen biar aku rajin up. Terima kasih yang udah menunggu cerita ini ....